Pengembangan Model Motivasi Karyawan

by @rezawismail

Prestasi berkaitan langsung dengan aksi. Orang-orang yang sukses adalah mereka yang gigih bergerak, meski pernah melakukan kesalahan, mereka tidak pernah berhenti berusaha. -Conrad Hilton

Sejak era revolusi industri dimulai, cara-cara meningkatkan motivasi pekerja telah berkembang seiring dengan modernisasi tingkat kerumitan pekerjaan yang dilakukan oleh para karyawan dalam suatu perusahaan di masa kini.

Model motivasi kerja pertama yang paling sederhana adalah dengan menekankan hubungan pemberian insentif dengan kinerja. Motivasi karyawan dipengaruhi agar mereka meningkatkan kinerjanya dengan memberikan materi sebagai kompensasi dari prestasi kerjanya. Semakin baik prestasinya, insentif yang didapatkan akan semakin banyak atau sering.

Selanjutnya model tradisional tersebut di atas berkembang bersama kemajuan ilmu psikologi dan sosial khususnya dalam bidang sumber daya manusia di dunia bisnis. Model motivasi karyawan menjadi lebih manusiawi dan berorientasi kepada pengakuan kebutuhan sosial manusia disamping kebutuhan materi. Kepuasan kerja karyawan menjadi salah satu faktor terpenting yang harus diperhatikan oleh perusahaan.

Perusahaan lewat manajemen sumber daya manusianya memberikan suatu sistem dan budaya organisasi yang memperhatikan kebutuhan sosial karyawan dan menekankan kebebasan karyawan untuk berpendapat, berkreasi, dan berorganisasi. Para karyawan dipandang sebagai bagian penting yang berguna dan bermakna bagi kemajuan perusahaan.

Dan akhirnya, dengan semakin banyaknya peneliti yang meriset dan membuat teori-teori terkini dalam bidang manajemen sumber daya manusia, model dan prinsip motivasi karyawan berkembang menjadi semakin berdampak dalam meningkatkan kinerjanya di dalam perusahaan.

Model motivasi karyawan terkini menyatakan bahwa ada banyak hal yang mempengaruhi tingkat motivasi pekerja disamping materi dan kepuasan kerja. Menurut model ini, semua orang cenderung menginginkan untuk sukses atau berhasil bekerja dengan baik jika diberikan tanggung jawab.

Sesuai dengan teori motivasi dari McClelland bahwa setiap manusia memiliki dorongan di dalam dirinya untuk mencapai hasil kerja yang maksimal. Seseorang yang bekerja secara naluri ingin menjadi lebih baik dari orang lain atau hasil kerja dirinya di masa lalu. Hal ini disebut kebutuhan untuk berprestasi.

Oleh sebab itu, untuk meningkatkan motivasi karyawan, manajemen perusahaan perlu memberikan kesempatan kepada para pekerjanya untuk memiliki tanggung jawab dan diberikan kepercayaan untuk membuktikan kemampuannya. Orientasi pada prestasi menjadi arahan pokok dalam pengelolaan motivasi sumber daya manusia di dalam organisasi.

Disini, peran pimpinan dibutuhkan sebagai wakil perusahaan dalam memotivasi karyawan lewat penguatan yang positif seperti reward dan penguatan yang negatif seperti ancaman serta hukuman. Penguatan motivasi secara positif diberikan lewat penghargaan atau pengakuan akan prestasi karyawan yang tinggi, bonus, komisi, hadiah, piagam atau sekedar pujian.

Penguatan motivasi semangat kerja selanjutnya adalah dengan menggunakan ancaman dan teguran bahkan hukuman agar karyawan menjadi takut dimutasi, diturunkan pangkatnya, sampai dipecat; teknik motivasi ini bisa menjadi sangat efektif khususnya pada karyawan yang sudah berkeluarga agar lebih rajin bekerja dan bersemangat untuk berprestasi.

Namun perlu diingat, teguran kepada bawahan yang kurang berprestasi atau berkinerja rendah ini hanya bersifat sementara. Efek psikologisnya akan semakin tumpul dan lama-kelamaan karyawan menjadi kebal ancaman serta tidak takut lagi bahkan bisa berdampak sebaliknya jika karyawan malah mengembangkan perasaan benci dan dendam.

Pemimpin organisasi atau atasan pada sebuah perusahaan harus mampu memberikan metode motivasi yang tepat dan seimbang untuk meningkatkan semangat kerja karyawan atau bawahannya. Penguatan positif yang dapat meningkatkan motivasi karyawan dalam jangka panjang perlu lebih diutamakan. Hal ini bisa dilakukan dengan kepemimpinan yang positif yang memperhatikan kebutuhan karyawan untuk bertanggung jawab, berprestasi, dan berafiliasi (dengan menguatkan hubungan sosial yang harmonis di kantor).

Baca juga:
Teknik Motivasi: Teori Kebutuhan McClelland
Teori Motivasi: Hirarki Kebutuhan Abraham Maslow
Tehnik Motivasi Douglas McGregor: Teori X, Y, dan Z
Meningkatkan Kepuasan Kerja untuk Motivasi Karyawan

About these ads