Tips Motivasi

Tips-Tips Motivasi dari dan untuk Reza Wahyu

pain is inevitable suffering is optional (Cara Melepaskan ‘Diri’ dari Stres)

Stres adalah terlalu memikirkan hal-hal di luar kendali diri; seperti perilaku orang lain, kejadian yang di luar kontrol.

Fokuslah hanya pada hal-hal yang bisa dilakukan; berusaha yang terbaik, bertindak optimal yang bisa diperbuat.

Itu adalah filosofi stoikisme tentang dikotomi kendali, kontrol dualistis.

Tapi bebas stres belum tentu bahagia Nirvana, untuk itu harus pelajari filosofi Anatta (No Self) dan Advaita atau non-dualisme.

Bahwa sesungguhnya dalam kebenaran sejati selain hidup ini ada sakit dan duka juga semuanya serba tak pasti serta tak ada yang permanen, adalah: tanpa diri.

Yang berarti justru semuanya ada di luar kontrol diri, segalanya akan berubah di luar kendali dan tidak ada pengendali.

Sekali lagi: tidak ada sang diri yang mengontrol atau menjadi pengendali.

Sehingga tidak perlu terlalu memikirkan semuanya, bebas dari stres, pasrah total mengikuti kisah ini, dan enjoy the movie!

Ingat: “Pain is inevitable, suffering is optional…” renungkanlah kalimat ini.

Alami semua pengalaman tanpa perlu ada yang mengalami, rasakan segala sensasi tanpa ada ilusi ego diri di dalam pikiran.

Pikiran itu nyata, sama seperti semua yang bisa disentuh, dilihat, didengar, di-inderai, namun isi pikirannya adalah fiksi.

Lepaskan segala paradigma berpikir kecuali yang nyata yang bisa diinderai.

Jika persepsi sudah bertransformasi, tandanya gerbang maya telah dilewati.

Anima Sola

Ego adalah ilusi ciptaan pikiran, yang kadang berguna, namun seringkali membawa derita yang tak perlu.

Kebebasan dimulai dari melihat kebenaran bahwa semua cerita diri adalah fiksi, sama seperti menyadari tokoh fiksi dalam film.

Keajaiban kehidupan ini bisa langsung dialami sekarang juga, lepas dari ingatan dari masa lalu dan bayangan masa depan.

Memori dan prediksi itu semu, fana sama kayak isi pikiran, bebaskan diri dari segala konsep bahkan dari konsep diri itu sendiri.

Rilekslah dan nikmati pemandangan yang ada di depan mata, panorama dan aroma, suara juga rasa dalam pelukan momen ini.

Realitanya sederhana, seperti menonton drama di panggung sandiwara, tapi tanpa penonton, dan Anda bukan juga aktornya.

Semua terjadi begitu saja, bermain dalam arena keberadaan, pikiran ada tapi tanpa pemikir, datang-ada & pergi-tiada gitu aja.

Melangkahlah dengan ringan seakan-akan otomatis, karena memang begitulah keadaannya, humor dari semesta.

Kita ini tak terpisahkan, tubuh dan roh, itu semuanya milik siapa? Siapa yang tersisa, setelah ditelusuri, tunjukkan dengan jelas;

Dimana ego itu? Dia hanya ilusi tak nyata, lihatlah pikiran tanpa berpikir, ketahuilah:

Peta bukanlah dunia nyata, pikiran nyata sebagai alat tapi isi pikiran cuma konsep.

Lihat saja sendiri, dirinya tak nyata, ego itu tak ada ditemukan dimana-mana tapi hanya sebagai cerita, ingatan, pemikiran.

Faktanya tidak ada yang pasti, segalanya berubah, tidak ada inti diri/ego yang tetap permanen, karena semua pasti berubah.

Penderitaan adalah melekat pada sesuatu padahal semuanya pasti akan berlalu, jika ada rasa sakit tapi tak perlu ada ego yang melekat, maka tak akan ada subyek yang menderita. Pahamilah ini secara langsung.

Praktikkan tanpa ego, bukan sekedar teori dan pemahaman intelektual, namun alami dan mengerti kebenaran secara langsung;

Seperti bedanya melihat dan mendengar langsung dengan membayangkannya aja.

Ego-diri itu hanya bayangan dan khayalan.

Tanyakan: apakah Anda nyata? Tunjukkan ada dimana! Benarkah isi pikiran itu? Ini!

#painisinevitablesufferingisoptional #TM #anattabasedcognitivetherapy #ABCT #radicalrealization #enlightenment #noseparateself #awakening

Pikiran adalah Notifikasi

Banyak orang menganalogikan otak seperti komputer.

Saya akan coba analogi yang berbeda sebagai sarana berbagi paradigma baru.

Yaitu, otak seperti smartphone.

Dan pikiran-pikiran yang muncul adalah seperti notifikasi-notifikasi.

Tidak semua pemikiran atau suara batin yang muncul ditindaklanjuti.

Tindakan atau perbuatan; termasuk omongan atau kata-kata verbal adalah keputusan yang dipilih pengguna otak.

Jadi, sebelum berbicara atau melakukan sesuatu, nilai lah dulu pikiran-pikiran itu,

Apakah memang perlu ditindaklanjuti atau diucapkan, atau cukup dalam hati saja bahkan tak usah dipedulikan lagi.

Sama seperti semua notifikasi di HP tidak semuanya ditindaklanjuti bahkan beberapa hanya diketahui lalu disingkirkan atau silent.

Kita butuh juga momen berdiam itu, aktivasi mode ‘do not disturb’ misal meditasi atau rileksasi seperti tidur saja, tak terpengaruh pikiran-pikiran yang hadir.

Dan dengan RAM memori yang lega, batin yang lapang dapat mengambil keputusan bertindak atau berbicara yang tepat tak impulsif terburu-buru.

Jadi, amati saja pemikiran, itu hanya notifikasi yang bisa berguna bisa juga ngga terlalu urgent!