Tips Motivasi

Focusing on Happiness

Tag: motivasi

Teori Motivasi dari Hati

Dari jaman dahulu kala, banyak filsuf, penulis, psikolog, dan guru-guru bisnis mencoba menemukan teori motivasi yang valid.

Teori motivasi terus berevolusi dan berusaha untuk memodel secara akurat apa yang mendorong manusia untuk berperilaku.

Dan di jaman modern ini kita bisa melihat dualisme motivasi: eksternal dan internal, yang sebenarnya secara ilmiah tidak valid.

Secara teoritis, motivasi eksternal adalah dorongan dari luar. Contoh motivasi eksternal adalah uang.

Dan motivasi internal adalah dorongan dari dalam diri, kebutuhan untuk berkeluarga misalnya.

Tapi kalau kita pikirkan secara lebih mendalam, semua motivasi akan bersumber dari dalam. Dari hati.

Tidak ada itu yang namanya motivasi eksternal. Apa yang ada di luar diri kita adalah stimulus dan sarana. Mari kita lihat perumpamaannya.

Umpamanya seseorang ingin punya uang agar bisa membeli makanan. Disini, uang bisa disangka sebagai motivasi eksternal, namun sumber utama pendorong mengapa orang dalam kisah ini membeli makanan adalah rasa lapar dari dalam dirinya.

Sebagai perumpamaan kedua, orang di kisah pertama juga bekerja untuk mencari uang. Tapi sekali lagi kita bisa katakan, uang hanyalah stimulus dan sarana dia untuk memenuhi kebutuhannya, demi keamanan/bertahan hidup misalnya, yang timbul secara internal.

Maka dari itu, dualisme motivasi eksternal-internal tidaklah pas, yang benar adalah semua motivasi bersifat intrinsik.

Pendorong perilaku manusia, semuanya bersumber dari dalam diri. Saya berjalan karena saya lapar dan mau ke restoran. Saya berjalan karena ingin berolahraga.

Aktivitas berjalan itu tidak akan saya lakukan tanpa adanya sebuah motivasi yang timbul dari dalam diri.

Motivasi selalu bersifat intrinsik, jadi tidak ada itu yang namanya piramida Maslow atau Drive-nya Daniel Pink.

Setelah meriset puluhan ribu orang selama berpuluh-puluh tahun, Steven Reiss, seorang profesor psikologi, memvalidasi 16 kebutuhan dasar manusiawi. Motivasi yang berasal dari hati dan berbeda-beda variasinya sesuai kepribadian masing-masing orang.

Setiap kriteria dari 16 yang ada, setiap individu mempunyai prioritas yang tidak sama: ada yang tinggi di kriteria tertentu, ada yang netral, dan ada yang rendah. Setiap orang memiliki profil motivasi intrinsiknya masing-masing.

Maka dari itu, miskomunikasi dan konflik di antara manusia yang satu dengan yang lainnya bisa terjadi. Bisa dibilang, beda hatinya.

Model motivasi intrinsik ini memiliki 16 kebutuhan dasar psikologis atau motivasi intrinsik yang dikembangkan oleh Reiss. Masing-masing disebut:

1. Kekuasaan: kebutuhan mempengaruhi sesuai kemauan.

2. Kemandirian: kebutuhan individualistis.

3. Keingintahuan: kebutuhan untuk berpikir.

4. Penerimaan: kebutuhan untuk mendapat persetujuan.

5. Keteraturan: kebutuhan untuk kestabilan, kerapihan, kepastian.

6. Simpan: kebutuhan untuk mengumpulkan.

7. Kehormatan: kebutuhan untuk setia pada nilai-nilai tradisional/adat.

8. Idealisme: kebutuhan untuk keadilan sosial.

9. Kontak sosial: kebutuhan untuk berteman/berkelompok.

10. Keluarga: kebutuhan untuk berketurunan dan merawat anak.

11. Status: kebutuhan untuk dianggap penting.

12. Dendam: kebutuhan untuk membalas.

13. Romansa: kebutuhan untuk berpasangan/sex.

14. Makan: kebutuhan akan makanan.

15. Aktivitas Fisik: kebutuhan untuk bergerak/berolahraga.

16. Ketentraman: kebutuhan untuk merasa aman.

Teori motivasi terus berkembang. Dari kombinasi daftar diatas saja bisa tercipta ribuan, bahkan jutaan profil motivasi.

Dan daftar kriterianya bisa menjadi 17 atau 20 kebutuhan dasar, siapa yang tahu?

Manusia memang mahluk yang kompleks, tidak sesederhana keledai (yang diimingi wortel dan terancam dicambuk).

Saya sekarang saja sedang meriset dan memvalidasi kebutuhan dasar ke-17. Sementara itu, saya akan berikan informasi perkembangan teori motivasi secara runut:

1. Teori Insting: inilah teori motivasi tertua yang pernah ditulis, tapi disini manusia dibuat sesederhana binatang. Berperilaku sesuai insting sebagai sebuah organisme.

2. Teori Reduksi Dorongan: teori yang ribet, yang menyatakan semua organisme membutuhkan kesetimbangan, sehingga dorongan-dorongan pikiran perlu dikurangi agar tetap seimbang.

3. Teori Pembangkit: teori yang justru menyatakan bahwa kita harus mencapai level optimum dari dorongan-dorongan psikologis untuk mendapatkan kekuatan berperilaku.

4. Teori Insentif: teori yang menyatakan bahwa perilaku kita ditentukan oleh dorongan-dorongan (sesuatu : – ) seperti ilmu marketing yang menjual produk yang sebenarnya tidak dibutuhkan tapi bisa menimbulkan keinginan untuk konsumsi dengan insentif tertentu.

5. Teori Kognitif: inilah asal mula kelahiran dualisme motivasi, eksternal-internal. Teori ini juga memberikan paradoks motivasi, bahwa motivasi eksternal bisa menggerogoti motivasi internal, yang sebenarnya tidak valid untuk jangka panjang.

Ed Deci dan Richard Ryan, penggagas awal teori ini, akhirnya merevisi penemuan mereka.

6. Teori Determinasi Diri: teori ini mencoba menyempurnakan kelemahan teori sebelumnya dengan mencari kombinasi yang pas antara motivasi eksternal dan motivasi internal, sehingga memuaskan secara psikologis dengan memberikan perasaan otonomi kepada seseorang.

Teori ini banyak dikutip oleh Daniel Pink dalam bukunya: Drive, yang sangat disayangkan memiliki pandangan yang terbatas dan kurang valid.

7. Teori Aktualisasi Diri: inilah teori yang paling terkenal dihirarkikan oleh Maslow. Pada akhirnya, kita semua menginginkan aktualisasi diri, di atas kebutuhan lainnya.

Aktualisasi diri adalah realisasi sejati dari potensi diri manusia, sayangnya istilah ini masih kurang jelas. Dan piramidanya tidak berlaku secara teratur sesuai tingkatannya serta terlalu sederhana.

Kesemua teori di atas memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kita bisa melihat hasil evolusinya sebagai teori motivasi dari hati; teori yang tak sesederhana namanya.

Setiap orang itu unik, dan memiliki motivasi intrinsik sesuai kepribadian masing-masing. Adalah tugas kita untuk menyesuaikan hati dengan panggilan kehidupan kita…

Motivasi dari Hati (Tanpa Teriak2)

Pernah mengikuti suatu seminar motivasi yang mirip-mirip konser musik?

Dengan audio yang keras, kita mengepalkan tangan, berteriak, melompat dan terus mendengarkan paparan sang motivator yang gegap gempita.

Dengan trik-trik motivasinya, kita merasakan sesuatu yang akan meledak dari dalam diri kita. Kita begitu bersemangat, dan memiliki perasaan yang sangat optimis. Kadang sampai tidak bisa tidur rasanya.

Begitu termotivasinya, segalanya positif, dan kita yakin bisa meraih segalanya.

Namun, ketika pulang dari seminar tersebut dan kembali ke kegiatan sehari-hari: kenyataan menghantam. Momen penuh kobaran semangat itu pun sirna. Motivasi yang penuh emosi itu mereda.

Ide dahsyat yang tadinya bersemangat untuk dikerjakan dianggap tidak praktis lagi. Seminggu kemudian, kita kembali ke level semangat yang biasa, tidak luar biasa lagi. Bagaimana caranya agar motivasi itu tidak hilang dan terus bertahan?

Banyak motivator memiliki keahlian untuk memanfaatkan emosi menjadi motivasi yang mendorong kinerja. Para partisipan seminarnya diberi tehnik-tehnik seperti pengkondisian tubuh dan jangkar emosi (anchoring).

Ada yang mengajarkan untuk bersikap tegap, menggebuk dada sendiri, dll. Memang emosi yang intens bisa dipancing seperti itu, namun tidak bisa tahan lama. Beberapa melatih pengkondisian pavlov, melonjak-lonjak, dan memvisualisasikan imbalan yang sangat indah atau konsekuensi yang sangat mengerikan.

Kita bisa menjadi begitu bersemangat dan motivasi kita berkobar-kobar. Sayangnya, emosi tidak bisa terus-menerus menyala. Kadang ia meredup, datang dan pergi. Mungkin cukup untuk memulai suatu tindakan, tapi tak bisa awet untuk melakukan aksi yang berkelanjutan.

Dan kita berpikir untuk menghidupkan lagi motivasi emosional itu dengan mengikuti seminar motivasi. Lagi dan lagi. Pada akhirnya kita bisa kecanduan materi motivator, tanpa pernah benar-benar berubah. Bagaimana cara meningkatkan emosi dan tetap mempertahankannya?

Motivasi yang tahan lama adalah motivasi yang didasari prinsip-prinsip abadi yang tidak pernah berubah. Prinsip yang berasal dari suara hati yang jernih. Prinsip yang berdasarkan akal sehat dan logika yang rasional.

Cukup sudah motivasi yang didasari oleh emosi dan cobalah pembangkit motivasi yang lebih cerdas. Gunakan intelektualitas kita.

Jika kita tidak terlalu termotivasi dengan tujuan tertentu, mungkin ada yang salah dengan tujuan itu. Tapi kalau saya merasa begitu benarnya alasan saya secara logis, maka biasanya saya akan termotivasi secara otomatis.

Contohnya, kita otomatis termotivasi untuk menjaga kesehatan, seperti berolahraga. Saya tidak perlu memancing emosi untuk termotivasi berolahraga.

Dan kalau saya tidak terlalu bersemangat terhadap suatu tujuan, mungkin tujuan tersebut tidak sesuai dengan logika (sadar dan bawah-sadar) atau tidak sejalan dengan kata hati.

Bisa saja seseorang yang kerja di bagian sales memiliki tujuan untuk meningkatkan penjualan sebanyak 25 % tapi dia tidak termotivasi. Padahal target tersebut tampak rasional dan masuk akal.

Masalahnya, pada tingkat yang lebih dalam; pikiran (bawah-sadar) sales tersebut tidak menginginkan bekerja di bagian sales. Kata hatinya mengungkapkan kalau sebenarnya dia ingin menjadi seniman.

Maka, seberapapun dia mencoba sekuat tenaga di bidang penjualan, dia tidak akan termotivasi tinggi.

Ada juga orang yang menetapkan tujuan yang terlalu mudah dan kurang menantang. Secara pikiran (bawah-sadar)/dari hati, tujuan yang tidak menantang tidak akan mengobarkan semangat yang membara.

Diri kita akan termotivasi pada tujuan yang selaras dengan kata hati, passion, impian sejati. Yaitu impian yang cukup besar untuk menginspirasi namun tidak terlalu mustahil untuk diraih.

Kata hati kita akan memberikan tujuan yang mungkin saja di luar zona nyaman kita, tapi kita akan tetap termotivasi untuk mengejarnya. Inilah motivasi yang cerdas.

Tetapkanlah tujuan dari hati. Tujuan yang berasal dari mimpi dan cukup menantang.

Kita tidak perlu memompa motivasi dengan trik-trik emosional. Kita akan bisa berpikir secara jernih; strategi apa yang harus dieksekusi untuk meraih tujuan tersebut.

Tanpa perlu teriak-teriak.

Cara Memotivasi Karyawan

Ada beragam taktik untuk memotivasi karyawan supaya produktif. Khususnya karyawan yang berada pada lini bisnis perusahaan. Tapi tidak berarti perusahaan bisa lengah mengawasi karyawan yang berada pada lini operasional.

Oleh karena, jika motivasi karyawan pada lini operasional ini kendur, bisa menimbulkan bahaya operasional dan menurunkan kecepatan perusahaan untuk maju.

Akan tetapi, yang lebih menentukan langkah maju sebuah perusahaan adalah para karyawannya yang berada di lini bisnis, yaitu para pegawai yang bekerja dengan memberikan peluang kepada perusahaan dengan bersentuhan langsung kepada prospek, pelanggan, pasar/lingkungan, bahkan pesaing.

Mereka adalah para pegawai di departemen marketing, business development, sales dan customer service. Mereka perlu motivasi tingkat tinggi untuk memajukan perusahaan. Selain itu, mereka juga harus dibekali ilmu yang mumpuni yang akan saya bahas di tulisan-tulisan selanjutnya.

Namun, pentingnya training dan pendidikan bagi para karyawan ini sangatlah penting. Apalagi di tengah-tengah kondisi lingkungan, pasar yang berubah disertai persaingan yang sengit.

Jangan sampai karyawan malah termotivasi untuk pindah ke perusahaan lain. Atau malah mengundurkan diri ingin berusaha sendiri atau berbisnis karena terinspirasi motivator lain 😉

Strategi memotivasi karyawan tidak terbatas pada sistem gaji/remunerasi yang adil, komisi untuk bagian sales yang sesuai prestasi, bonus, insentif, dll. Perusahaan harus menjalankan beberapa taktik untuk meningkatkan motivasi kerja para karyawannya.

Motivasi kerja yang tinggi akan meningkatkan produktivitas dan efisiensi perusahaan dalam kegiatan bisnisnya. Tehnik motivasi yang efektif bukan hanya mencakup sistem imbalan yang lebih dari cukup tapi juga mempertimbangkan aspek psikologis seperti sosial, spiritual, dan emosional.

Beberapa taktik dari segi psikologi yang dapat meningkatkan motivasi seorang pegawai adalah:

1. Karyawan perlu diberikan pernyataan secara rutin dan berkala akan kontribusinya kepada perusahaan. Peran dan fungsi masing-masing karyawan harus diingatkan dan dihargai agar tercipta ikatan moral yang kuat dengan perusahaan.

Seorang karyawan harus diberitahu seberapa penting pekerjaannya oleh para atasannya, khususnya yang merupakan atasan langsungnya (satu level di atasnya).

2. Target dan tantangan di masa depan perlu digambarkan secara efektif kepada para karyawan. Perasaan antisipasi akan masa-masa yang akan datang ini akan membuat karyawan lebih siap dan lebih rajin.

Apalagi jika mereka tahu apa yang harus dilakukan untuk meraih target dan mengatasi tantangan yang akan dihadapi perusahaan di masa mendatang. Karyawan tidak perlu terlalu didikte akan apa-apa saja yang mesti dilakukan, sedikit otonomi akan memicu inovasi yang bisa memajukan perusahaan.

Dukung kreativitas dan penciptaan ide sepanjang koridor regulasi di dalam perusahaan. Aktualisasi diri dan kemandirian ini akan semakin membuat betah karyawan untuk bekerja di perusahaannya.

3. Taktik lain yang telah teruji dan terbukti adalah menjalin rasa kekeluargaan dan kebersamaan karyawan. Berikan sarana agar hubungan antar karyawan terjalin dengan baik. Lingkungan kerja yang harmonis akan semakin menguatkan motivasi karyawan.

Ikatan emosi antara atasan dan bawahan perlu dipupuk agar karyawan tidak merasa hanya dijadikan aset seperti mesin/robot namun sebagai rekan dan individu yang penting (VIP). Banyak karyawan yang pindah atau keluar oleh karena hubungan yang tidak harmonis di tempat kerja.

Dan biasanya dimulai dari turunnya produktivitas karyawan yang bersangkutan. Perusahaan harus mampu mengasimilasi budaya perusahaan yang tidak feodal tapi demokratis dan penuh keakraban.

4. Motivasi internal akan lebih menguatkan loyalitas daripada motivasi eksternal.

Karena, bisa saja karyawan malah lebih termotivasi untuk pindah ke perusahaan lain yang memberikan kompensasi (contoh motivasi eksternal) yang lebih besar. Perusahaan harus mampu menyediakan prasarana untuk menumbuhkembangkan motivasi internal ini.

Karyawan yang termotivasi secara internal berarti diberikan tugas yang cukup menantang, wewenang dan tanggung jawab yang mampu memunculkan perasaan bangga, serta penghargaan berkelanjutan atas pencapaian-pencapaiannya.

Para karyawan juga harus diberikan kesempatan untuk mengembangkan diri, menguasai suatu keahlian, dan memiliki perasaan bermakna bahwa pekerjaannya itu bernilai lebih di mata masyarakat atau kelompoknya.

Kerja sama dan kolaborasi yang sinergis harus menjadi motivator tak terlihat bagi para karyawan.

5. Karyawan harus mampu memahami secara jelas dan eksplisit apa yang dituntut perusahaaan kepadanya. Seorang karyawan mesti diberikan informasi yang detail dan fasilitas yang mendukung untuk keberhasilan kerjanya.

Masalah klasik perusahaan di hampir semua industri adalah masalah komunikasi. Bagaimana mengkomunikasikan visi dan misi perusahaan dari sebuah konsep menjadi tindakan yang kongkrit dan berkesinambungan.

Jelaskan dengan gamblang bagaimana karyawan bisa melakukan pekerjaannya dengan baik. Kinerja mereka mesti terukur dan itu harus diterangkan dengan komunikatif agar karyawan juga bisa memberikan umpan balik dan masukan yang berarti.

Saluran komunikasi pendukung juga perlu dibuka sebanyak-banyaknya. Memo pribadi, pertemuan informal, penyampaian pendapat dan penghargaan secara publik, corong teknologi seperti email, sms, bbm, adalah beberapa jalan komunikasi yang dapat memberikan akses untuk meningkatkan motivasi kerja karyawan.

Motivasi adalah ilmu pengetahuan yang terus berkembang. Banyak penemuan baru di bidang psikologi, ilmu saraf dan otak membuat wawasan para ilmuwan sebelumnya menjadi tidak relevan lagi.

Asumsi-asumsi yang ditemukan para peneliti 10 tahun yang lalu kini terbukti salah hampir 80 %. Teknologi seperti fMRI telah memberikan gambaran tentang aktivitas otak yang lebih akurat.

Dan pengembangan teknologi fMRI ini baru dilakukan hanya dalam waktu 5 tahun terakhir ini, khususnya di bidang motivasi. Motivasi berkaitan erat dengan aktivitas otak yang menjalankan fungsi-fungsi kimia dan elektrik dari hormon-hormon, emosi, serta kognisi.

Maka, perusahaan-perusahaan di jaman teknologi canggih ini mesti memiliki bekal ilmu motivasi karyawan yang terbaru agar tidak kalah bersaing. Era baru telah tiba, banyak penemuan baru, persaingan serta tantangan semakin menyulitkan. Tidak berubah berarti akan tergilas oleh perubahan.

Maukah kita berubah?

Cara Mudah untuk Berubah

Untuk maju, kita perlu berubah. Untuk bertahan kita perlu beradaptasi dari perubahan. Perubahan itu pasti. Segalanya berubah. Kita tinggal pilih; ikut berubah atau expired/punah.

Kesuksesan membutuhkan perubahan. Dan kesuksesan yang tahan lama membutuhkan perubahan yang tahan lama juga. Kita bisa berubah untuk sesaat atau untuk selamanya. Silahkan pilih!

Namun terkadang, perubahan itu sulit. Otak primitif kita takut pada perubahan. Oleh karena, perubahan itu tidak nyaman. Bisa berbahaya, kata otak primitif kita.

Namun, otak modern kita (neo-cortex) bisa bekerja maksimal dengan menciptakan perubahan. Ide-ide brilian, inovasi dan kreativitas datang dari pikiran modern kita (otak depan/prefrontal cortex).

Sayangnya, otak modern ini bisa lumpuh, kalah diambil alih oleh insting otak primitif kita. Amygdala adalah bagian otak primitif yang mengendalikan emosi seperti amarah dan rasa takut. Istilah ilmiah seperti pembajakan amygdala berarti perasaan emosional secara spontan menutup pemikiran kreatif. Ketakutan akan perubahan melumpuhkan kita.

Sebenarnya, ada dua cara untuk berubah. Secara radikal dan secara bertahap. Seperti alam mengajarkan kita, ada evolusi dan mutasi. Breakthrough atau terobosan yang inovatif kadang diperlukan, namun perubahan yang perlahan tapi pasti (kaizen) lebih memudahkan.

Mencapai kesuksesan untuk berubah bisa dianalogikan seperti memanjat gunung.

Kita bisa mencapai puncak gunung (kesuksesan) dengan melompat tinggi, berlari menanjak lurus ke atas, dengan jarak tersingkat. Namun resikonya, kita bisa terjatuh dan tidak sanggup melanjutkan pendakian.

Kita bisa kehabisan tenaga sebelum sampai di puncak gunung tersebut. Ada cara yang lebih mudah:

Berjalan perlahan mengitari gunung tersebut, sedikit demi sedikit mengarah ke puncak. Kita tidak akan kehilangan tenaga, karena tidak berjalan lurus mengarah ke atas melawan gravitasi secara frontal.

Kita melangkah secara landai mengitari gunung, memutar seperti spiral yang perlahan mengarah ke atas. Berjalan mengelilingi semua sisi gunung, menikmati pemandangan, dan tak terasa semakin ke atas. Pelan namun pasti, kita akan sampai di puncak (kesuksesan).

Bagaimana caranya mengimplementasikan langkah-langkah mudah untuk berubah ini? Berikut ringkasannya:

1. Tetapkan satu tujuan saja. Kita hanya bisa mencapai satu puncak gunung saja, kita tidak bisa menggapai dua atau lebih puncak gunung dalam waktu yang sama. Bidik sasaran kamu ke satu arah dahulu, jika sudah mulai ada kemajuan barulah coba bidang lainnya.

Prioritaskan mana yang mau dirubah terlebih dahulu: keuangan, masalah hutang, berat badan & diet, olah raga, dll. Berkonsentrasi pada satu hal yang ingin dirubah akan meningkatkan peluang kesuksesannya dengan menggunakan tenaga dan energi mental secara efektif. Fokus!

2. Rencanakan pencapaian tujuan dalam beberapa aktivitas yang mudah.

Buat daftar tugas dan kerjakan mulai dari yang paling kecil. Nikmati prosesnya dan jangan pikirkan hasil selama mengerjakan satu langkah mudah tersebut. Kerjakanlah tanpa gagal minimal 1 bulan atau 30 kali (menjadikannya kebiasaan). Caranya? Buatlah menjadi sangat mudah dikerjakan.

Bila merasakan keengganan dalam mengerjakannya; kurangi ukurannya, waktu, kuantitas, dll. Yang penting konsisten dan berkesinambungan. Contoh: ingin berubah menjadi rajin berolahraga? Tetapkan saja jadwal olahraga 1 (SATU) menit saja asalkan bisa teratur/rutin daripada 30 menit tapi akhirnya ditunda-tunda dan gagal.

Jika sudah bisa berubah (walau kecil-kecilan) barulah tingkatkan ukurannya. Lakukan perbaikan yang juga kecil-kecilan tapi terus-menerus. Kerjakanlah selalu satu langkah kecil yang amat sangat mudah. Biar kecil yang penting konsisten.

3. Cari teman dalam perjuangan ini. Seperti mendaki gunung lebih baik jangan sendirian, begitu juga dalam melaksanakan perubahan. Jika kita punya teman seperjalanan maka perjalanannya menjadi tidak terlalu berat/sulit.

Carilah partner atau grup/kelompok pendukung. Berkomitmenlah untuk saling mendukung dalam mencapai tujuan. Minimal, milikilah seseorang yang bisa mengingatkan untuk terus melangkah dan jangan menyerah.

Berbagilah rasa syukur jika telah mencapai beberapa sasaran kecil, jalani perubahan dengan perlahan. Rekan kita juga harus bisa memberikan penghargaan sederhana atau pujian yang positif untuk mendorong kemajuan kita.

Lagipula, tidak ada orang bisa sukses tanpa bantuan orang lain. Kesuksesan lebih mudah diraih lewat kerjasama yang sinergis dan harmonis. Selain orang lain, diri kita sendiri juga bisa menjadi pendorong dan juga sekaligus sebagai rekan yang dapat mengingatkan diri kita sendiri untuk selalu fokus.

Buatlah catatan kecil berisi tujuan yang ingin dicapai dan alasannya di selembar kartu pengingat dan bacalah kartu tersebut beberapa kali sehari. Semangatilah diri dengan selalu mengingat tujuan dan alasan yang bermakna sepanjang hari.

Cara ini sudah teruji dan terbukti keampuhannya. Coba saja dan buktikan!

Sekian sharing pengetahuan dari saya. Nanti disambung lagi di lain tulisan.

Semoga kita semua dilimpahi berkah dan kekuatan agar bisa menunggangi perubahan, serta maju terus mengembangkan diri kita. Tetap semangat dan pantang menyerah 🙂

Baca juga:
5 Tehnik Pencapaian Tujuan yang Efektif dan 5 Tehnik yang Tidak Efektif
Motivasi ‘Just Do It’ – The 1st Step (Zeigarnik Effect)
Manajemen Energi untuk Kesuksesan
4 Kunci Keberhasilan Perubahan

5 Tips Meningkatkan Motivasi bag. 1

Berikut adalah beberapa tips motivasi yang umum dan akan saya bahas secara lebih detail pada tulisan-tulisan berikutnya:

1. Tetapkan tujuan yang jelas untuk setiap jangka waktu; harian, mingguan, dan bulanan.

Minimal buat sasaran secara mingguan dan tulis daftar tugas/aktivitas apa yang akan diselesaikan besok.

2. Pecahkan beberapa sasaran menjadi tugas-tugas kecil yang penyelesaiannya lebih terukur dan yang bisa dikerjakan dalam waktu dekat.

Buat juga sistem reward kecil/sederhana jika telah menyelesaikan satu tugas kecil.

3.Berkomitmen. Cari teman, partner, grup/kelompok pendukung dan umumkan ke publik tujuan yang ingin dicapai.

Kalau perlu buat sanksi dan bersiap menerima hukuman publik jika terus menunda-nunda/gagal termotivasi.

4. Berpikir positif. Jangan mudah menyerah dan tetap optimis.

Cari sudut pandang yang setengah penuh daripada setengah kosong. Perbanyak bersyukur daripada mengeluh. Awasi pikiran dengan seksama dan jagalah hati 🙂

5. Ingatlah selalu alasan utama dalam melakukan pekerjaan apapun. Luangkan waktu untuk memikirkannya, menuliskannya, menggambarkannya diposter dan mencetak kartunya untuk dikantongi dan dilihat sepanjang hari.

Bersambung ke bagian 2