Tips Motivasi

Focusing on Happiness

Tag: motivator

Manajer Motivator

Perusahaan yang ingin memotivasi karyawannya perlu melihat ilmu motivasi dari dua sisi. Sisi yang menunjukkan cara-cara untuk meningkatkan motivasi.

Satu sisi yang lain menunjukkan demotivasi. Atau ketidakpuasan yang menurunkan motivasi kerja.

Anehnya, hal-hal yang menyebabkan ketidakpuasan di tempat kerja, atau yang disebut sebagai faktor-faktor yang menurunkan motivasi (demotivasi) tidak sama dengan faktor-faktor yang meningkatkan motivasi. Inilah yang membingungkan banyak perusahaan.

Sebagai contoh: seorang karyawan merasa tidak puas dan turun tingkat motivasinya bisa disebabkan oleh faktor-faktor eksternal seperti: bayaran yang tidak memadai, fasilitas dan infrastruktur kerjanya yang kurang mendukung, peraturan yang terlalu mengekang, dll.

Lalu jika perusahaan membenahi faktor-faktor yang menurunkan tingkat motivasi dan kepuasan karyawan tersebut dengan memberikan gaji dan prasarana yang mendukung, membuat aturan dan sistem yang fleksibel tanpa terlalu membatasi.

Maka, tetap saja motivasi sang karyawan tidak meningkat.

Hal-hal yang menyebabkan menurunnya tingkat motivasi ternyata tidak selalu sama dengan hal-hal yang membuat motivasi meningkat. Ternyata, meningkatkan motivasi karyawan harus dipahami dari beberapa aspek.

Penelitian terbaru di bidang perilaku pekerja dan otak manusia (neuroscience) menunjukkan bahwa motivasi lebih bisa meningkat karena faktor-faktor psikologis dari dalam diri. Termotivasi secara internal.

Disinilah para manajer berperan penting sebagai motivator para karyawan.

Para manajer motivator ini harus melihat banyak aspek dalam ilmu motivasi karyawan.

Beberapa faktor yang bisa dipertimbangkan adalah: emosi personal dan hubungan sosial karyawan, keinginan untuk meraih dan mempertahankan sesuatu di dalam diri masing-masing karyawan, dll.

Perusahaan yang baik memberikan upah yang layak dan sarana yang menunjang. Lalu, adalah tugas manajer untuk menilai dan memberikan penghargaan yang pantas sesuai kinerja atau prestasi dari para karyawannya.

Sebelumnya, manajer harus mendapatkan kepercayaan dengan bersikap terbuka.

Sikap terbuka para manajer yang mewakili perusahaan harusnya dimulai dari transparansi semua proses pekerjaan. Para manajer harus memastikan keadilan dalam pemberian tugas dan imbalannya.

Semua karyawan harus bisa mengerti secara jelas tujuan serta kontribusinya kepada perusahaan dan orang-orang lain.

Selain itu, budaya perusahaan yang mendorong interaksi sosial antar rekan kerja yang bersahabat, kerjasama yang saling menguntungkan, aliansi strategis, dan kolaborasi yang baik antar sesama karyawan.

Para manajer harus mampu merekatkan tim karyawan yang dipimpinnya agar bersinergi dan tetap harmonis. Sebab kalau tidak, tingkat motivasi karyawan bisa menurun jika suasana di tempatnya bekerjanya tidak kondusif dan kurang harmonis.

Para manajer motivator ini sebaiknya tidak terlalu mendikte dan memberikan keleluasaan untuk bawahannya atau para karyawan. Manajer motivator yang ingin memotivasi karyawan juga mesti membuat para karyawan mengerti secara jelas makna atau arti yang lebih besar dari sekedar deskripsi pekerjaannya.

Para karyawan juga harus diberikan peluang untuk belajar dan lebih maju lagi, menjadi lebih ahli dalam bidang pekerjaannya.

Sungguh, ilmu memotivasi karyawan ini sangat kompleks. Motivasi tidak sesederhana dengan memberikan kompensasi atau sanksi.

Para manajer juga harus mempelajari teori motivasi secara menyeluruh.

Dan perusahaan dituntut untuk menyediakan sistem remunerasi serta prangkat kerja yang mencukupi. Setelah mencukupi dan tidak ada keluhan serta ketidakpuasan kerja (demotivasi), maka adalah tugas manajer untuk menjadi motivator para karyawan di perusahaannya.

Oleh karenanya, manajer sebagai motivator harus mempertimbangkan banyak faktor dalam meningkatkan motivasi karyawan, khususnya faktor-faktor internal. Motivasi dari hati.

Perusahaan Demotivator

Menurut survey terbaru terhadap puluhan ribu karyawan di belasan negara, menunjukkan 30-50% karyawan ingin meninggalkan perusahaannya yang sekarang. (Polling oleh Gallup dan Mercer)

Alasan kurangnya loyalitas karyawan kepada perusahaan ini sangat beragam. Namun yang terutama adalah masalah penghargaan dan stres.

Seorang pakar bisnis global yang ternama; Jim C. Collins, meneliti beberapa perusahaan yang sukses dalam mengelola motivasi karyawannya. Dalam risetnya, ditemukan bahwa perusahaan-perusahaan yang sukses tersebut memiliki pemimpin yang terbaik.

Pemimpin yang terbaik adalah pemimpin yang sanggup memotivasi bawahannya. Perusahaan tidak perlu merisaukan masalah memotivasi karyawan jika memiliki pemimpin yang terbaik.

Perusahaan justru perlu waspada terhadap beberapa demotivator, pelemahan motivasi karyawannya. Demotivator sistemik yang bisa terjadi di dalam sistem perusahaan itu sendiri.

Demotivator sistemik ini ada tiga: pertama adalah kurangnya antisipasi perusahaan dalam menghadapi permasalahan yang ada. Banyak perusahaan menjadi lambat dan kurang responsif terhadap isu-isu yang berkembang dengan cepat. Ini bisa membuat gelisah dan mendemotivasi karyawan.

Demotivator yang kedua di dalam sistem perusahaan adalah visi perusahaan yang terlalu mengawang-awang. Tujuan yang ditetapkan terlalu jauh di depan dan melupakan fokus pada masa kini. Sasaran yang tidak tampak realistis ini akan melemahkan semangat karyawan.

Selanjutnya, demotivator sistemik ketiga di perusahaan adalah demokrasi yang palsu. Karyawan didorong untuk memberikan input tapi pimpinan perusahaan membuat keputusan tanpa menghiraukan input tersebut. Karyawan merasa tidak diperhatikan pendapatnya dan kombinasi ketiga demotivator sistemik ini akan membunuh motivasi karyawan.

Hati-hatilah dengan demotivator yang hadir di dalam sistem perusahaan. Percuma mendatangkan motivator bagi para karyawan kalau secara sistem perusahaan memiliki ketiga demotivator yang telah saya sebutkan di atas.

Perusahaan demotivator sesungguhnya adalah perusahaan yang akan merugi..

Guru Motivasi Sejati

Kepada siapakah kita mesti belajar ilmu motivasi?

Siapakah guru motivasi yang sejati?

Beberapa dari kita mempelajari ilmu motivasi dari para motivator terkenal. Kita ingin sesukses dan sekaya mereka.

Tapi mereka sukses karena berjualan seminar dan buku. Mereka kaya karena memotivasi bukan termotivasi bekerja.

Banyak dari para motivator yang tadinya pekerja. Namun mereka berhenti termotivasi bekerja dan ingin kaya dari memotivasi orang lain. Sukses setelah menjadi motivator.

Mustahil kalau kita semua harus mengikuti mereka menjadi motivator untuk bisa sukses. Dan tidak semua orang mau menjadi motivator.

Kebanyakan dari kita ingin mempelajari ilmu motivasi. Agar termotivasi dalam bekerja. Supaya bersemangat dalam berusaha.

Maka, sebaiknya kita mulai mencari sang guru motivasi sejati.

Siapakah mereka?
Mereka adalah orang-orang yang tetap rajin bekerja meski tidak punya banyak uang. Lihatlah sekitar kamu. Cari dan perhatikan mereka.

Di rumah saya ada seorang buruh cuci yang bersemangat bangun pagi-pagi buta. Setia mengabdi pada keluarga kami selama berpuluh-puluh tahun.

Bisakah kita serajin itu dalam usaha kita? Mampukah kita seloyal itu pada perusahaan kita? Kepada para shareholders dan stakeholders kita?

Di kantor saya ada seorang tenaga outsource yang terus termotivasi bekerja meski gaji selalu terlambat diberikan. Berupaya memberikan pelayanan yang terbaik setiap hari kepada orang-orang di kantor.

Bisakah kita memiliki motivasi yang setinggi itu dan seikhlas itu? Terus produktif dan berkinerja dengan baik dari hati tanpa perlu diiming-imingi?

Dan saya ingat di sekolah saya dulu, ada seorang guru honorer yang memberikan pengajaran berkualitas. Dia mendidik dengan telaten dan sangat sabar. Dia rela memberikan pelajaran tambahan tanpa mengenakan biaya atau mengadakan les privat. Walaupun gajinya tidak seberapa dibanding guru-guru lain yang sudah diangkat.

Mempukah kita memberikan kontribusi maksimal melebihi orang-orang yang mendapatkan remunerasi melebihi kita?

Inilah yang saya anggap guru-guru motivasi sejati. Motivator yang memberikan ilmunya lewat teladan perbuatan, dengan praktek langsung yang terlihat. Bukan hanya berkoar-koar, berteori, dan terus berjualan seminar demi seminar. Motivator sejati ada di sekitar kita. Mereka yang tidak terbuai oleh materi. Cari inspirasi yang terpuji.

Jangan hanya membaca buku saja. Marilah belajar ilmu motivasi dari para guru-guru kehidupan ini. Menggali wawasan dari mereka yang bersahaja. Motivator sejati yang mendidik kita dengan semangat yang setia.

Motivasi secara sederhana. Dari hati.

Motivasi Kerja Karyawan dan Tipe Motivator

Kebanyakan motivator top di Indonesia mengukur kesuksesan dari nilai uang atau kekayaan. Hal ini tidaklah salah, namun jadinya mereka berfokus pada strategi-strategi untuk meningkatkan penghasilan.

Tentunya penghasilan yang diharapkan berasal dari kegiatan bisnis dan investasi agar lebih memaksimalkan pendapatan.

Pada umumnya, ilmu motivasi memang mendorong kita agar sukses dalam berusaha secara maksimal. Kalau karyawan membutuhkan motivasi kerja yang optimal, tapi untuk usaha seseorang bisa maksimal dia harus menjadi pebisnis atau investor.

Untuk bisa berhasil dalam bisnis dan investasi, seseorang harus belajar banyak dan berani gagal.

Inilah yang banyak diajarkan oleh para pakar motivasi di Indonesia. Berani mencoba berbisnis dan belajar berinvestasi dengan beragam ilmu yang tidak sederhana. Berwirausaha dan mengubah mindset untuk menjadi investor atau pengusaha.

Sayangnya, tips-tips motivasi sang motivator tipe ini kurang cocok diterapkan untuk meningkatkan kinerja karyawan di sebuah perusahaan.

Jika karyawan perusahaan diberikan materi motivasi yang mengukur kesuksesan dari uang, maka mereka bisa jadi malah ingin berhenti bekerja dan keluar untuk berusaha atau berinvestasi sendiri.

Hal ini bukan berarti para karyawan tidak bisa berbisnis atau berinvestasi disamping tetap bekerja di perusahaannya yang sekarang. Saya akan membahas beberapa tips berinvestasi yang aman, mudah, dan menguntungkan bagi karyawan di tulisan yang selanjutnya.

Nah, motivator yang sesuai untuk meningkatkan kinerja para karyawan di sebuah perusahaan memiliki strategi motivasi yang berbeda. Motivator untuk karyawan akan lebih menekankan tentang kepuasan kerja dan produktivitas karyawan.

Inilah motivator tipe kedua: motivator kantor.

Ukuran kesuksesan yang digunakan motivator tipe kedua ini adalah pencapaian target pekerjaan karyawan, efektivitas dan efisiensi dalam menyelesaikan pekerjaan, serta peningkatan motivasi, produktivitas, dan kepuasan karyawan.

Pada akhirnya, keberhasilan yang didapat adalah naiknya profit perusahaan dan turunnya tingkat kepindahan atau karyawan yang berhenti/resign. Namun, ilmu memotivasi karyawan lebih rumit daripada ilmu motivasi yang umum.

Motivasi kepada karyawan menjadi rumit karena sang motivator mesti bisa membangkitkan semangat bekerja tapi tidak terlalu bersemangat untuk mau berusaha sendiri. Motivator kantor harus mampu membuat perubahan dengan perbaikan pikiran karyawan agar lebih produktif, efektif, dan inovatif tapi tidak berubah menjadi mindset pengusaha atau investor.

Motivator tipe kedua ini juga diwajibkan memiliki wawasan sebagai konsultan manajemen yang mengerti ilmu manajemen, budaya perusahaan dan dinamika sosial kantor, serta psikologi korporasi.

Dan akhirnya; motivasi untuk karyawan membutuhkan motivator yang juga berpengalaman menjadi karyawan dalam jangka waktu yang lama agar bisa memahami dengan empatik bagaimana jiwa & jalan pikiran karyawan.

Tipe yang ketiga adalah motivator spesialis. Motivator ini mengkhususkan diri untuk berbagi tips-tips motivasi yang dikhususkan untuk bagian-bagian pekerjaan tertentu.

Contohnya seperti sales trainer, marketing consultant, service-oriented coach, atau bagian spesifik lainnya.

Motivator tipe ini mengajarkan beragam tips-tips motivasi yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing bagian perusahaan dan kegiatan. Tehnik-tehnik untuk bagian penjualan, customer service, pelatihan pengawasan supervisor, manajemen gudang, kelas kepemimpinan, dll.

Strategi yang digunakan diukur dengan kebaruan dan kedalaman dari taktik yang dipaparkan oleh sang motivator jenis ini.

Sebenarnya, saya bisa memecah lagi menjadi beberapa tipe dari motivator ini. Namun, intinya adalah: kita bisa membagi kedua sisi keilmuan motivasi. Motivasi untuk berwirausaha dan motivasi kerja karyawan.

Keduanya tidak bisa digabungkan walau terdapat beberapa trik yang serupa. Cara mencapai tujuan misalnya. Tapi bedanya, motivasi untuk karyawan ditujukan untuk mencapai atau melebihi target yang telah ditentukan perusahaan.

Jangan sampai karyawan malah menetapkan tujuan sendirian dan keluar dari pekerjaannya.

Maka, jika suatu perusahaan menginginkan kelas/training motivasi untuk karyawannya, perusahaan tersebut harus mencari motivator berdasarkan kebutuhannya: untuk meningkatkan kinerja karyawan bukan membuatnya karyawannya berinisiatif dan bersemangat untuk berbisnis sendiri!

Motivasi dari Hati (Tanpa Teriak2)

Pernah mengikuti suatu seminar motivasi yang mirip-mirip konser musik?

Dengan audio yang keras, kita mengepalkan tangan, berteriak, melompat dan terus mendengarkan paparan sang motivator yang gegap gempita.

Dengan trik-trik motivasinya, kita merasakan sesuatu yang akan meledak dari dalam diri kita. Kita begitu bersemangat, dan memiliki perasaan yang sangat optimis. Kadang sampai tidak bisa tidur rasanya.

Begitu termotivasinya, segalanya positif, dan kita yakin bisa meraih segalanya.

Namun, ketika pulang dari seminar tersebut dan kembali ke kegiatan sehari-hari: kenyataan menghantam. Momen penuh kobaran semangat itu pun sirna. Motivasi yang penuh emosi itu mereda.

Ide dahsyat yang tadinya bersemangat untuk dikerjakan dianggap tidak praktis lagi. Seminggu kemudian, kita kembali ke level semangat yang biasa, tidak luar biasa lagi. Bagaimana caranya agar motivasi itu tidak hilang dan terus bertahan?

Banyak motivator memiliki keahlian untuk memanfaatkan emosi menjadi motivasi yang mendorong kinerja. Para partisipan seminarnya diberi tehnik-tehnik seperti pengkondisian tubuh dan jangkar emosi (anchoring).

Ada yang mengajarkan untuk bersikap tegap, menggebuk dada sendiri, dll. Memang emosi yang intens bisa dipancing seperti itu, namun tidak bisa tahan lama. Beberapa melatih pengkondisian pavlov, melonjak-lonjak, dan memvisualisasikan imbalan yang sangat indah atau konsekuensi yang sangat mengerikan.

Kita bisa menjadi begitu bersemangat dan motivasi kita berkobar-kobar. Sayangnya, emosi tidak bisa terus-menerus menyala. Kadang ia meredup, datang dan pergi. Mungkin cukup untuk memulai suatu tindakan, tapi tak bisa awet untuk melakukan aksi yang berkelanjutan.

Dan kita berpikir untuk menghidupkan lagi motivasi emosional itu dengan mengikuti seminar motivasi. Lagi dan lagi. Pada akhirnya kita bisa kecanduan materi motivator, tanpa pernah benar-benar berubah. Bagaimana cara meningkatkan emosi dan tetap mempertahankannya?

Motivasi yang tahan lama adalah motivasi yang didasari prinsip-prinsip abadi yang tidak pernah berubah. Prinsip yang berasal dari suara hati yang jernih. Prinsip yang berdasarkan akal sehat dan logika yang rasional.

Cukup sudah motivasi yang didasari oleh emosi dan cobalah pembangkit motivasi yang lebih cerdas. Gunakan intelektualitas kita.

Jika kita tidak terlalu termotivasi dengan tujuan tertentu, mungkin ada yang salah dengan tujuan itu. Tapi kalau saya merasa begitu benarnya alasan saya secara logis, maka biasanya saya akan termotivasi secara otomatis.

Contohnya, kita otomatis termotivasi untuk menjaga kesehatan, seperti berolahraga. Saya tidak perlu memancing emosi untuk termotivasi berolahraga.

Dan kalau saya tidak terlalu bersemangat terhadap suatu tujuan, mungkin tujuan tersebut tidak sesuai dengan logika (sadar dan bawah-sadar) atau tidak sejalan dengan kata hati.

Bisa saja seseorang yang kerja di bagian sales memiliki tujuan untuk meningkatkan penjualan sebanyak 25 % tapi dia tidak termotivasi. Padahal target tersebut tampak rasional dan masuk akal.

Masalahnya, pada tingkat yang lebih dalam; pikiran (bawah-sadar) sales tersebut tidak menginginkan bekerja di bagian sales. Kata hatinya mengungkapkan kalau sebenarnya dia ingin menjadi seniman.

Maka, seberapapun dia mencoba sekuat tenaga di bidang penjualan, dia tidak akan termotivasi tinggi.

Ada juga orang yang menetapkan tujuan yang terlalu mudah dan kurang menantang. Secara pikiran (bawah-sadar)/dari hati, tujuan yang tidak menantang tidak akan mengobarkan semangat yang membara.

Diri kita akan termotivasi pada tujuan yang selaras dengan kata hati, passion, impian sejati. Yaitu impian yang cukup besar untuk menginspirasi namun tidak terlalu mustahil untuk diraih.

Kata hati kita akan memberikan tujuan yang mungkin saja di luar zona nyaman kita, tapi kita akan tetap termotivasi untuk mengejarnya. Inilah motivasi yang cerdas.

Tetapkanlah tujuan dari hati. Tujuan yang berasal dari mimpi dan cukup menantang.

Kita tidak perlu memompa motivasi dengan trik-trik emosional. Kita akan bisa berpikir secara jernih; strategi apa yang harus dieksekusi untuk meraih tujuan tersebut.

Tanpa perlu teriak-teriak.