Tips Motivasi

Tips-Tips Motivasi dari dan untuk Reza Wahyu

Motivasi dari Hati (Tanpa Teriak2)

Pernah mengikuti suatu seminar motivasi yang mirip-mirip konser musik?

Dengan audio yang keras, kita mengepalkan tangan, berteriak, melompat dan terus mendengarkan paparan sang motivator yang gegap gempita.

Dengan trik-trik motivasinya, kita merasakan sesuatu yang akan meledak dari dalam diri kita. Kita begitu bersemangat, dan memiliki perasaan yang sangat optimis. Kadang sampai tidak bisa tidur rasanya.

Begitu termotivasinya, segalanya positif, dan kita yakin bisa meraih segalanya.

Namun, ketika pulang dari seminar tersebut dan kembali ke kegiatan sehari-hari: kenyataan menghantam. Momen penuh kobaran semangat itu pun sirna. Motivasi yang penuh emosi itu mereda.

Ide dahsyat yang tadinya bersemangat untuk dikerjakan dianggap tidak praktis lagi. Seminggu kemudian, kita kembali ke level semangat yang biasa, tidak luar biasa lagi. Bagaimana caranya agar motivasi itu tidak hilang dan terus bertahan?

Banyak motivator memiliki keahlian untuk memanfaatkan emosi menjadi motivasi yang mendorong kinerja. Para partisipan seminarnya diberi tehnik-tehnik seperti pengkondisian tubuh dan jangkar emosi (anchoring).

Ada yang mengajarkan untuk bersikap tegap, menggebuk dada sendiri, dll. Memang emosi yang intens bisa dipancing seperti itu, namun tidak bisa tahan lama. Beberapa melatih pengkondisian pavlov, melonjak-lonjak, dan memvisualisasikan imbalan yang sangat indah atau konsekuensi yang sangat mengerikan.

Kita bisa menjadi begitu bersemangat dan motivasi kita berkobar-kobar. Sayangnya, emosi tidak bisa terus-menerus menyala. Kadang ia meredup, datang dan pergi. Mungkin cukup untuk memulai suatu tindakan, tapi tak bisa awet untuk melakukan aksi yang berkelanjutan.

Dan kita berpikir untuk menghidupkan lagi motivasi emosional itu dengan mengikuti seminar motivasi. Lagi dan lagi. Pada akhirnya kita bisa kecanduan materi motivator, tanpa pernah benar-benar berubah. Bagaimana cara meningkatkan emosi dan tetap mempertahankannya?

Motivasi yang tahan lama adalah motivasi yang didasari prinsip-prinsip abadi yang tidak pernah berubah. Prinsip yang berasal dari suara hati yang jernih. Prinsip yang berdasarkan akal sehat dan logika yang rasional.

Cukup sudah motivasi yang didasari oleh emosi dan cobalah pembangkit motivasi yang lebih cerdas. Gunakan intelektualitas kita.

Jika kita tidak terlalu termotivasi dengan tujuan tertentu, mungkin ada yang salah dengan tujuan itu. Tapi kalau saya merasa begitu benarnya alasan saya secara logis, maka biasanya saya akan termotivasi secara otomatis.

Contohnya, kita otomatis termotivasi untuk menjaga kesehatan, seperti berolahraga. Saya tidak perlu memancing emosi untuk termotivasi berolahraga.

Dan kalau saya tidak terlalu bersemangat terhadap suatu tujuan, mungkin tujuan tersebut tidak sesuai dengan logika (sadar dan bawah-sadar) atau tidak sejalan dengan kata hati.

Bisa saja seseorang yang kerja di bagian sales memiliki tujuan untuk meningkatkan penjualan sebanyak 25 % tapi dia tidak termotivasi. Padahal target tersebut tampak rasional dan masuk akal.

Masalahnya, pada tingkat yang lebih dalam; pikiran (bawah-sadar) sales tersebut tidak menginginkan bekerja di bagian sales. Kata hatinya mengungkapkan kalau sebenarnya dia ingin menjadi seniman.

Maka, seberapapun dia mencoba sekuat tenaga di bidang penjualan, dia tidak akan termotivasi tinggi.

Ada juga orang yang menetapkan tujuan yang terlalu mudah dan kurang menantang. Secara pikiran (bawah-sadar)/dari hati, tujuan yang tidak menantang tidak akan mengobarkan semangat yang membara.

Diri kita akan termotivasi pada tujuan yang selaras dengan kata hati, passion, impian sejati. Yaitu impian yang cukup besar untuk menginspirasi namun tidak terlalu mustahil untuk diraih.

Kata hati kita akan memberikan tujuan yang mungkin saja di luar zona nyaman kita, tapi kita akan tetap termotivasi untuk mengejarnya. Inilah motivasi yang cerdas.

Tetapkanlah tujuan dari hati. Tujuan yang berasal dari mimpi dan cukup menantang.

Kita tidak perlu memompa motivasi dengan trik-trik emosional. Kita akan bisa berpikir secara jernih; strategi apa yang harus dieksekusi untuk meraih tujuan tersebut.

Tanpa perlu teriak-teriak.

Kepemimpinan yang Menginspirasi

Kepemimpinan yang inspiratif memberikan pertumbuhan positif kepada para anggota yang dipimpin.

Proses memimpin adalah proses belajar-mengajar yang berkesinambungan. Memimpin berarti membagikan pengetahuan, keteladanan, dan proaktif memberdayakan orang lain.

Namun begitu, seorang pemimpin tidak sombong dan terus mau belajar.

Pemimpin tidak boleh merasa lebih hebat dari orang lain dan mesti terus mengembangkan dirinya. Kesuksesannya tergantung dari sukses masing-masing individu yang dipimpinnya.

Seorang pemimpin sejati bisa diukur kemampuannya dari seberapa berhasilnya orang-orang di sekitarnya. Pekerjaan apapun di sebuah organisasi/perusahaan adalah kerja sama kolektif.

Kebersamaan ini bisa menciptakan pencapaian yang lebih cepat namun juga bisa merugikan jika terpecah-belah.

Pemimpin tidak hanya dituntut untuk menjaga kekompakan, tapi juga membimbing semua elemen untuk bersatu-padu menggabungkan kekuatan.

Pemimpin ibarat dirigen dalam sebuah orkestra, yang menjadikan pemusik dengan beragam instrumen berpadu membuat melodi yang harmonis.

Keharmonisan dari para anggota yang dipimpin dimulai dari toleransi akan perbedaan lalu memaanfaatkan keragaman tersebut.

Pemimpin yang baik adalah ia yang mampu membuat sinergi yang optimal dari perbedaan-perbedaan yang ada.

Keragaman malah menjadi kekuatan yang saling mengisi kelemahan individu menjadi kesempurnaan kelompok. Maka dari itu, pemilihan seorang pemimpin adalah masalah yang sangat krusial.

Pemimpin harus diangkat dari kompetensi inti, bukan sekedar keahlian teknis saja. Seorang pemimpin baru bisa dikatakan kompeten jika dia telah memenuhi beberapa syarat dan kriteria universal.

Syarat universal utama seorang pemimpin di atas hal lainnya adalah; seorang pemimpin memandang dirinya sebagai pelayan dari orang-orang di dalam organisasi.

Dari perpepsi inilah seorang pemimpin bisa dengan rendah hati membawa semua anggota kelompoknya menjadi berkembang dan dia akan mampu memaksimalkan potensi seluruh sumber daya yang ada di kelompoknya.

Pemimpin yang melayani adalah pemimpin yang berdedikasi tinggi serta berbudi.

Kriteria selanjutnya yang mutlak harus dimiliki seorang pemimpin adalah integritas. Seorang pemimpin harus bisa dipercaya dan membawa nilai-nilai prinsip ke dalam dirinya dahulu sebagai teladan.

Maka dari itu, integritas pemimpin harus nampak dengan bersikap terbuka dan mau berinteraksi penuh dengan orang-orang yang dipimpin. Bersedia mendengarkan dan menjaga kepercayaan para anggotanya.

Kepercayaan adalah tali pengikat dan kekuatan besar dari suatu kelompok.

Tidak ada kelompok/organisasi/perusahaan yang maju tanpa dilandasi kepercayaan kepada para pemimpinnya dan kepada sesama anggota/karyawan.

Dan yang terakhir adalah yang paling umum diketahui, seorang pemimpin adalah orang yang kreatif. Yang mampu menciptakan ide, visi, dan antisipasi jauh ke masa depan.

Pemimpin yang hebat adalah dia yang mengetahui bagaimana dia akan membawa kelompoknya di masa yang akan datang.

Visi dari seorang pemimpin akan tercipta dengan baik jika dia mampu melihat jauh ke depan, mengantisipasi setiap peluang ataupun tantangan yang akan muncul.

Sehingga kelompoknya dapat terus bertahan, selamat, dan sejahtera…

Kebosanan = Musuh Motivasi Karyawan

Kebosanan adalah musuh motivasi karyawan di sebuah perusahaan yang ingin produktif.

Kebosanan akan melemahkan tekad dan keuletan seorang karyawan. Tidak ada satu orang karyawan yang sanggup melakukan pekerjaan yang sama, yang menuntut tugas-tugas yang sama, berulang-ulang, dengan semangat yang tetap.

Semangat pasti akan meredup menghadapi pekerjaan yang membosankan dan tidak bermakna tinggi.

Berikanlah keragaman dalam pekerjaan, ciptakan banyak peluang untuk melakukan tugas-tugas yang berbeda-beda. Karyawan yang melakukan pekerjaan yang kurang bervariasi cenderung memikirkan pindah pekerjaan dan menggerogoti kepuasan kerja serta kehidupannya.

Sedangkan karyawan yang puas dengan karirnya akan memberikan kinerja yang produktif dan bersemangat tinggi.

Karir yang menjanjikan pengembangan diri lebih lanjut, memberikan makna atau arti di luar materi, dan menaruh perasaan bertanggung jawab kepada seorang karyawan; adalah karir yang lebih memotivasi daripada hanya sekedar karir yang menjanjikan gaji semata tapi dengan pekerjaan yang membosankan.

Memotivasi emosi pegawai adalah proses bisnis yang tidak bisa diacuhkan setiap perusahaan.

Khususnya jika perusahaan yang memiliki tim marketing yang menentukan perkembangan bisnis perusahaan. Tim marketing ini seringkali lebih emosional daripada pegawai operasional. Mereka lebih sering berinteraksi dengan pelanggan, klien, nasabah, dan prospek.

Namun yang perlu diwaspadai adalah karyawan di bagian operasional yang lebih mungkin mengalami perasaan bosan dibandingkan jenis emosi lain. Perasaan bosan bisa sangat melumpuhkan dibandingkan dengan emosi negatif lainnya seperi marah, takut, atau sedih. Tapi semua jenis emosi karyawan mesti disadari oleh perusahaan.

Emosi seperti rasa bosan, takut, marah pada karyawan mesti dikelola oleh perusahaan. Lebih baik memiliki karyawan yang marah namun tetap loyal daripada punya karyawan yang bosan dan ingin keluar dari perusahaan.

Perasaan takut sang pegawai pun bisa dimanfaatkan lebih baik daripada perasaan bosan dan merasa tidak diperhatikan. Karyawan yang bosan adalah karyawan yang tidak termotivasi.

Padahal, motivasi karyawan adalah kunci produktivitas perusahaan…