Tips Motivasi

Focusing on Happiness

Month: Januari, 2012

Motivasi ‘Just Do It’ – The 1st Step (Zeigarnik Effect)

Pertanyaan: bagaimana caranya agar termotivasi untuk bertindak?

Jawaban: yaa.. Bertindak saja!

Banyak orang menunggu termotivasi dulu baru bertindak. Namun, sesungguhnya dengan bertindak, dengan melakukan langkah pertama kita bisa lebih termotivasi untuk terus melakukan langkah kedua, ketiga, dan seterusnya.

Dengan syarat; tujuan yang ingin dicapai cukup menarik dan menantang untuk diraih.

Seorang psikolog dari Rusia bernama Bluma Wulfovna Zeigarnik menemukan efek dari ingatan jangka pendek dalam proses penyelesaian tindakan.

Secara ringkasnya, ‘Zeigarnik Effect’ bisa diartikan dengan; ketika seseorang sudah mulai melakukan sesuatu, ia akan cenderung terpikir untuk menyelesaikannya.

Zeigarnik Effect menerangkan mengapa pikiran akan merasa tidak nyaman dan selalu ingat untuk menyelesaikan rangkaian tindakan yang belum selesai.

Hal ini diperkuat penelitian oleh Graist-Bousquet & Schiffman (1992) dan beberapa riset oleh para peneliti lainnya.

Hal ini bisa kita manfaatkan jika kita ingin memotivasi diri atau orang lain yang memiliki keengganan untuk memulai suatu pekerjaan/tugas. Banyak alasan untuk perasaan enggan; bisa memang hanya cenderung ingin menunda, kemalasan, ketakutan, atau perfeksionisme, dll.

Zeigarnik Effect memberikan solusi akan kurangnya motivasi dengan beraksi. Memulai satu langkah mudah dan memanfaatkan perasaan penasaran manusiawi untuk termotivasi menyelesaikan tugas yang dikerjakan.

Jadi, kita bisa mendorong motivasi seseorang dengan memanfaatkan momentum pergerakan dari langkah pertama.

Contohnya: saya lebih termotivasi untuk menulis dan menyelesaikan tulisan ini setelah saya mulai mengerjakan satu paragraf pertama.

Tadinya, saya hanya berkutat pada judul dan terus menunda-nunda menyelesaikan draft tulisan ini. Kita bisa sebut ini sebagai langkah pertama.

Segala pencapaian tujuan bisa dibuatkan langkah pertamanya. Seperti kata Lao Tze: perjalanan seribu mil dimulai dari satu langkah pertama. Kita bisa membuat langkah pertama ini sebagai satu paragraf awal, satu menit pertama, setengah jam pertama, satu hal yang bisa dilakukan sekarang juga.

Misalnya seorang murid ingin mengerjakan PR dari sekolahnya, dia bisa memulai dengan menjawab satu pertanyaan pertama saja dan tunggu momentum motivasi untuk menyelesaikan tugas sekolahnya itu.

Kita tak perlu membayangkan hasil akhir pencapaian kita saat tujuan yang diinginkan sudah diselesaikan. Kita cukup memikirkan satu proses ke depan, mencoba menyelesaikan cukup satu langkah pertama saja.

Seluruh energi kita fokuskan untuk mengalahkan keengganan dan mengerjakan satu hal yang bisa dikerjaan sekarang juga.

Kita juga bisa memanfaatkan trik yang serupa untuk menyemangati diri atau orang lain yang sedang rendah kadar motivasinya.

Ketika merasa malas mengerjakan satu tugas besar. Saat tujuan terasa terlalu tinggi, kita bisa mencoba mengerjakan (dan menyelesaikan) satu tugas kecil dengan tujuan yang mudah tercapai.

Seseorang yang sedang kurang termotivasi untuk menyelesaikan proyek besarnya dan sudah berhari-hari tidak mengerjakan apa-apa, bisa mencoba menyelesaikan hal lain yang lebih sederhana.

Membersihkan ruangan kerjanya, contohnya. Atau membereskan berkas-berkas di meja dan komputernya. Tapi trik ini tidak bisa disebut sebagai Zeigarnik Effect lagi šŸ˜‰

Intinya adalah: yang membedakan antara kegagalan dan kesuksesan adalah aksi. Dan bisa jadi aksi yang dibutuhkan adalah mulai dengan satu langkah pertama. Tidak perlu berpikir lama-lama dan terlalu jauh.

Tidak perlu menunggu kobaran motivasi timbul di dalam diri. Just do it!

5 Tehnik Pencapaian Tujuan yang Efektif dan 5 Tehnik yang Tidak Efektif

Ada beragam tehnik yang diajarkan oleh banyak guru motivator untuk mencapai tujuan. Di jaman modern ini, kesuksesan diukur dari pencapaian tujuan kita. Kita memerlukan lebih dari sekedar otot yang yang bertenaga, ketajaman mata, dan refleks yang terlatih untuk mendapatkan sesuatu.

Kita perlu tehnik-tehnik khusus untuk mencapai sasaran-sasaran kita. Namun, manakah dari sekian banyak tehnik pencapaian tujuan yang efektif?

Seorang psikolog, Richard Wiseman (2010), melakukan penelitian dengan ribuan partisipan selama sekitar setahun, untuk mengetahui manakah dari sekian tehnik pencapaian tujuan yang memberikan hasil. Banyak dari partisipan yang gagal dan hanya sekitar 10 % saja yang sukses mencapai tujuannya.

Berikut adalah strategi pencapaian tujuan yang umum digunakan, namun kurang sukses memberikan hasil:

1. Memotivasi diri dengan meneladani orang lain yang sudah sukses.
2. Memikirkan konsekuensi negatif jika tidak mencapai tujuan.
3. Mencoba menekan pikiran negatif yang tidak membantu pencapaian tujuan.
4. Bergantung pada kekuatan kehendak/tekad dai dalam diri sendiri saja.
5. Membayangkan/berfantasi betapa hebatnya hidup setelah berhasil mencapai tujuan.

Ingat, daftar di atas adalah tehnik-tehnik yang sepertinya memang masuk akal namun ternyata kurang efektif. Pada riset yang sama, terdapat beberapa tehnik yang digunakan oleh orang-orang yang sukses mencapai tujuannya.

Tehnik-tehnik yang membawa keberhasilan tersebut adalah:

1. Membuat rencana pencapaian tujuan langkah demi langkah.

Pecahlah tujuan menjadi beberapa sasaran yang kongkrit, terukur dan terjadwal.

2. Memberitahukan orang lain tentang tujuan yang ingin dicapai.

Membuat deklarasi secara publik akan meningkatkan motivasi untuk mencapai tujuan dan menghindari perasaan malu.

3. Memikirkan hal-hal yang positif yang akan terjadi jika tujuan telah tercapai.

Namun hindari berfantasi/membayangkan rasa hebat/hebohnya. Boleh juga dikombinasikan dengan memikirkan konsekuensi negatif yang akan terjadi jika tujuan tidak tercapai (jangan berpikir terpisah, digabungkan dengan memikirkan kekontrasan antara pemikiran positif dan negatifnya).

4. Memberikan reward/imbalan sederhana jika mencapai kemajuan dalam proses pencapaian tujuan.

Imbalan yang kecil di setiap kemajuan dalam proses pencapaian tujuan akan mendorong lebih cepat untuk meraih kesuksesan yang besar.

5. Mencatat kemajuan dalam proses pencapaian tujuan tersebut.

Buatlah jurnal, grafik, atau penggambaran secara tertulis yang mengukur perkembangan yang terjadi selama proses pencapaian tujuan.

Inilah beberapa tehnik pencapaian tujuan yang teruji dan terbukti efektif. Tujuannya sendiri harus ditetapkan secara terfokus. Jangan membuat banyak tujuan dalam waktu yang sama. Juga, buatlah tujuan dalam jangka waktu yang tidak terlalu pendek.

Terakhir, buatlah tujuan yang menginspirasi, tidak terlalu spesifik, namun harus fleksibel serta cukup menantang. Kalau sudah dipecah menjadi beberapa sasaran yang terukur barulah boleh lebih detail, dengan jangka waktu yang pendek, dan realistis untuk dicapai.

Dan untuk mencapai tujuan, seseorang harus menggunakan beberapa perangkat mental seperti komitmen, disiplin-diri, segera memulai satu langkah pertama (Zeigarnik effect), memvisualisasikan prosesnya (bukan hasilnya), menghindari penundaan, fokus/konsentrasi yang kuat tidak terpecah dan terurai, dan membuat rencana antisipasi jika ada halangan-rintangan yang bisa muncul di dalam proses pencapaian tujuan tersebut.

Sampai jumpa di tulisan selanjutnya…

Kesadaran: Kunci Perubahan

Salah satu kunci sukses untuk melakukan perubahan dari diri seseorang adalah dengan meningkatkan dan memanfaatkan kesadarannya.

Kesadaran ibarat cahaya senter yang menerangi, untuk bisa dengan jelas melihat apa-apa yang perlu dirubah.

Kita tidak bisa merubah sesuatu tanpa kita tahu apakah sesuatu itu ada dan memang layak untuk diubah.

Kalau kita menyadari ada sesuatu yang salah atau yang bisa diperbaiki, maka kita bisa melakukan perubahan yang sesuai.

Perubahan memang bisa terasa sulit dan membutuhkan kerja keras.

Merubah kebiasaan yang negatif menjadi disiplin diri yang positif memang membutuhkan kerja keras, namun awal dari inisiatif tersebut dimulai dari kesadaran.

Dan kesadaran adalah kemampuan otak untuk menyingkirkan segala distraksi, seperti emosi, untuk bisa mengamati secara obyektif dan berpikir secara jernih. Inilah yang disebut kesadaran.

Psikolog terkenal yang menginspirasi Stephen Covey sang guru manajemen efektif, adalah Victor Frankl yang pernah mengajarkan bahwa antara stimulus dan respon terdapat kebebasan manusia.

Dalam bukunya: The 7 Habits of Highly Effective People, Covey mengembangkan prinsip ini agar kita menjadi pribadi yang proaktif.

Pribadi proaktif berarti berinisiatif dengan kesadaran untuk merespon stimulus/kejadian apapun dengan aktif sesuai prinsip-prinsip universal. Proaktif bermakna tidak reaktif ataupun pasif.

Apapun bisa terjadi di dalam kehidupan ini, tapi kita bisa memaknainya dengan persepsi yang jernih. Dengan kesadaran tinggi.

Manusia memang bisa menjadi korban takdir yang kejam. Manusia tidak selalu bisa memilih kejadian eksternal namun ia bisa memilih bagaimana menyikapi kejadian eksternal ini. Inilah yang disebut kebebasan manusia untuk memaknai kehidupannya oleh sang psikolog besar, Frankl.

Victor Frankl mengamati dengan mata kepalanya sendiri, saat dia ikut ditangkap dan ditahan oleh Nazi, bagaimana para tahanan berperilaku menghadapi takdir yang kejam. Dengan keadaan tersiksa, beberapa orang berkelakuan seperti babi dan beberapa lainnya bisa seperti nabi.

Ada yang yang ditunjuk menjadi ‘capo’ dan bertindak kejam kepada sesama manusia dan ada yang sukarela membantu sesama tanpa pamrih. Ada yang putus asa lalu menyerah pada nasib dan ada yang terus semangat bertahan sampai akhir. Frankl bisa bertahan sampai dia bebas dari kamp konsentrasi Auschwitz Nazi yang seperti neraka dunia tersebut.

Victor Frankl bisa bertahan hidup dan selamat dari pembantaian massal dengan menyadari bahwa dia memiliki pilihan untuk bereaksi menghadapi stimulus eksternalnya. Stimulus berupa lingkungan yang kejam dan menjatuhkan.

Frankl memilih untuk menyadari potensi besar yang dimiliki manusia. Kekuatan untuk bertahan dari penderitaan. Kekuatan untuk memilih tindakan yang penuh kesadaran. Victor Frankl malah membuat mahakaryanya di tengah-tengah musibah yang dialaminya.

Bukunya yang berjudul Man’s Search for Meaning menjadi salah satu dari 10 buku yang paling berpengaruh menurut Library of Congress di Amerika dan menyumbangkan pencerahan dalam bidang psikologi serta filsafat eksistensialisme.

Ketika ditanya apa resepnya bisa tetap optimis untuk bertahan, Frankl mengungkapkan kecintaannya pada istrinya yang juga ditangkap namun ditempatkan di kamp yang terpisah.

Dia mempertahankan harapan untuk suatu saat di masa depan dia bisa bertemu kembali dengan istrinya. Frankl memaknai arti keberadaannya dengan cinta. Inilah kekuatan cinta.

Apa yang kita bisa pelajari dari kisah Victor Frankl ini? Kita bisa memilih untuk menyerah pada nasib atau terus bertahan dengan memberikan alasan yang berarti dalam perjuangan kita.

Selanjutnya, kita memiliki kekuatan sejati sebagai manusia: mahluk yang berkesadaran.

Kita harus menyadari bahwa kita memiliki kebebasan berperilaku, memilih respon dengan berkesadaran. Kita bisa saja otomatis marah pada orang yang menjatuhkan kita, otomatis depresi pada kegagalan kita, otomatis takut pada tantangan yang ada.

Otomatis disini berarti alamiah, insting, reaksi yang pasif. Namun, kita juga mampu menyadari keotomatisan ini dan berubah. Inilah yang dimaksud sebagai kesadaran sebagai kunci dari perubahan.

Kita harus sadari respon-respon instingtif kita dan merubahnya menjadi respon-respon proaktif penuh pemikiran yang positif. Kita akan dapat berkata dan bertindak terpuji, dengan menyadari pikiran-pikiran kita.

Kita akan bisa memilih perkataan dan tindakan yang paling optimal untuk kesuksesan dan kebahagiaan kita dalam jangka panjang. Kita akan mampu menguasai emosi daripada diperbudaknya. Semua diawali dengan kesadaran.

Bagaimana cara kita bisa melatih dan meningkatkan kesadaran ini? Caranya dengan mulai menyadari nafas. Mulailah sadari nafas yang tadinya otomatis, ternyata bisa dikontrol. Lalu, setelah terbiasa menyadari nafas, kita bisa mulai mencoba menyadari pikiran-pikiran yang melintas di otak kita.

Tidak perlu larut terbawa dan banyak menganalisa setiap pikiran yang hadir, cukup sadari dan amati. Pada akhirnya kita akan bisa menyadari emosi yang biasanya otomatis dan mengendalikannya untuk kesuksesan.

Emosi adalah energi pendorong. Emosi merupakan elemen dasar dari motivasi.

Dan motivasi dimulai dari kesadaran…

Mengasah Gergaji

Kebiasaan nomer 7 dalam buku The 7 Habits of Highly Effective People (Tujuh Kebiasaan Orang-Orang yang Sangat Efektif) karangan Stephen Covey adalah “Mengasah Gergaji.”

Buku ini amatlah bagus, dan seminarnya luar biasa dahsyat! Bacalah atau ikuti seminarnya jika ada kesempatan.

Saya sangat merekomendasikan ketujuh kebiasaan ini untuk menjadi seseorang yang sangat produktif, termotivasi dan efektif dalam pekerjaan. Stephen Covey adalah gurunya para motivator cerdas, dan ketujuh kebiasaan ini telah digunakan secara global di banyak perusahaan.

Sayangnya, banyak perusahaan salah dalam mengartikan istilah ‘Mengasah Gergaji’ ini.

Bagi yang belum tahu atau bahkan belum pernah membaca bukunya, tidak apa-apa. Ketujuh kebiasaan tersebut adalah:

1. Jadilah pribadi yang proaktif
2. Tetapkan target yang jelas di awal
3. Kerjakan sesuai prioritas
4. Selalu memikirkan cara yang saling menguntungkan
5. Berusaha memahami lebih dahulu, baru dimengerti
6. Wujudkan sinergi
7. Selalu menyediakan waktu untuk meningkatkan kemampuan (Mengasah gergaji)

Saya akan menerangkan tujuh kebiasaan ini di tulisan-tulisan mendatang. (Sebenarnya ada satu lagi kebiasaan kedelapan/8th Habit), namun itu ada di bukunya Covey yang lain.

Sekarang, saya ingin menjelaskan banyak kesalahpahaman yang terjadi di dalam menerjemahkan kebiasaan ketujuh ini. Yaitu; Mengasah Gergaji.

Stephen Covey menggunakan analogi seorang penebang pohon yang menggergaji kayu selama beberapa hari secara terus-menerus dan menjadi kurang produktif. Proses memotong yang tanpa henti-hentinya membuat mata gergajinya menjadi semakin tumpul.

Gergaji yang tumpul tidaklah efektif dan produktivitasnya kalah dibandingkan ketika gergajinya masih tajam. Maka dari itu, sang penebang kayu mesti mengasah gergaji.

Dalam prakteknya, banyak orang yang salah dalam memahami analogi ini. Mereka mengartikannya bahwa kita jangan bekerja terlalu keras kalau tidak mau produktivitas kita menurun.

Bahkan, pada umumnya orang dinasehati untuk mengambil istirahat, bahkan pergi berlibur. Memang ada benarnya. Namun, ini bukanlah arti dari istilah: Mengasah Gergaji.

Kalau beristirahat berarti sama saja dengan meletakkan gergajinya. Ketika kita menaruh gergaji yang sudah tumpul untuk beberapa waktu, gergaji itu tetaplah tumpul saat kita ingin memakainya kembali.

Jadi beristirahat tidak membuat kita menjadi lebih produktif, gergajinya tetap tumpul karena tidak diasah. Orang yang efektif dan ingin tetap produktif harus menajamkan mata gergajinya secara berkala. Mengasah gergaji.

Mengasah gergaji sebenarnya adalah sebuah pekerjaan juga; yaitu mengasah. Pikirkanlah bagaimana caranya untuk menajamkan gergaji kehidupanmu. Berikut adalah beberapa ide untuk mengasah gergaji:

1. Berolahraga
2. Memperbaiki diet
3. Mengembangkan diri
4. Membaca, belajar, ikut seminar
5. Mempelajari suatu keahlian baru
6. Me-review dan meng-update tujuan
7. Membaca blog ini šŸ™‚

Memang untuk memotong kayu tidak hanya soal menggergaji dan mengasah gergajinya. Waktu istirahat juga perlu, tapi itu bukanlah arti dari istilah mengasah gergaji.

Sang penebang pohon bisa menjadi lebih produktif dengan mengasah gergaji, mempelajari tehnik menggergaji, berlatih agar lebih kuat, dan belajar bersama pemotong kayu lainnya. Atau meminta orang lain untuk mengasah gergaji.

Lupa untuk mengasah gergaji bisa memberikan perasaan kelelahan. Jika kita hanya menggergaji dan menyelinginya dengan istirahat, produktivitas tetap akan menurun. Kita tetap bekerja keras, namun tidak akan seproduktif dengan yang diperkirakan dengan keadaan gergaji yang sudah mulai tumpul.

Jika kita mengasah gergajinya dengan rutin, kita bisa bekerja secara produktif tanpa merasa kelelahan (karena jika menggunakan gergaji yang tumpul kita bisa merasa sangat kelelahan dalam memotong, gergajinya menjadi tidak efektif). Maka dari itu, adalah penting untuk tidak lupa mengasah gergaji.

Beristirahat dari pekerjaan sehari-dua hari memang bisa membantu, sedikit. Akan tetapi, mengikuti seminar, membaca buku yang inspirasional, atau berdiskusi aktif dengan seorang motivator mampu memberikan keuntungan yang lebih besar.

Pada umumnya, orang-orang akan tampak sangat termotivasi selama beberapa minggu setelah mengikuti seminar motivasi. Seminar memang bukan sarana untuk beristirahat yang pasif, itu adalah sebuah kegiatan yang aktif, tapi bisa memberikan peningkatan energi dan motivasi.

Inilah yang disebut dengan mengasah gergaji.

Bagaimana dengan mata gergaji kamu? Keahlian, wawasan, pikiran, kesehatan tubuh, hubungan sosial, motivasi, komitmen, emosi, intuisi, dll. Kesemuanya masih tajam? Jika tidak, manakah yang tumpul, dan apa yang bisa dilakukan untuk mengasahnya?

(Hubungi saya untuk informasi lebih lanjut di email: brandneweja@gmail.com)

*Tulisan ini terinspirasi oleh situs: www.stevepavlina.com

Teori Motivasi dari Hati

Dari jaman dahulu kala, banyak filsuf, penulis, psikolog, dan guru-guru bisnis mencoba menemukan teori motivasi yang valid.

Teori motivasi terus berevolusi dan berusaha untuk memodel secara akurat apa yang mendorong manusia untuk berperilaku.

Dan di jaman modern ini kita bisa melihat dualisme motivasi: eksternal dan internal, yang sebenarnya secara ilmiah tidak valid.

Secara teoritis, motivasi eksternal adalah dorongan dari luar. Contoh motivasi eksternal adalah uang.

Dan motivasi internal adalah dorongan dari dalam diri, kebutuhan untuk berkeluarga misalnya.

Tapi kalau kita pikirkan secara lebih mendalam, semua motivasi akan bersumber dari dalam. Dari hati.

Tidak ada itu yang namanya motivasi eksternal. Apa yang ada di luar diri kita adalah stimulus dan sarana. Mari kita lihat perumpamaannya.

Umpamanya seseorang ingin punya uang agar bisa membeli makanan. Disini, uang bisa disangka sebagai motivasi eksternal, namun sumber utama pendorong mengapa orang dalam kisah ini membeli makanan adalah rasa lapar dari dalam dirinya.

Sebagai perumpamaan kedua, orang di kisah pertama juga bekerja untuk mencari uang. Tapi sekali lagi kita bisa katakan, uang hanyalah stimulus dan sarana dia untuk memenuhi kebutuhannya, demi keamanan/bertahan hidup misalnya, yang timbul secara internal.

Maka dari itu, dualisme motivasi eksternal-internal tidaklah pas, yang benar adalah semua motivasi bersifat intrinsik.

Pendorong perilaku manusia, semuanya bersumber dari dalam diri. Saya berjalan karena saya lapar dan mau ke restoran. Saya berjalan karena ingin berolahraga.

Aktivitas berjalan itu tidak akan saya lakukan tanpa adanya sebuah motivasi yang timbul dari dalam diri.

Motivasi selalu bersifat intrinsik, jadi tidak ada itu yang namanya piramida Maslow atau Drive-nya Daniel Pink.

Setelah meriset puluhan ribu orang selama berpuluh-puluh tahun, Steven Reiss, seorang profesor psikologi, memvalidasi 16 kebutuhan dasar manusiawi. Motivasi yang berasal dari hati dan berbeda-beda variasinya sesuai kepribadian masing-masing orang.

Setiap kriteria dari 16 yang ada, setiap individu mempunyai prioritas yang tidak sama: ada yang tinggi di kriteria tertentu, ada yang netral, dan ada yang rendah. Setiap orang memiliki profil motivasi intrinsiknya masing-masing.

Maka dari itu, miskomunikasi dan konflik di antara manusia yang satu dengan yang lainnya bisa terjadi. Bisa dibilang, beda hatinya.

Model motivasi intrinsik ini memiliki 16 kebutuhan dasar psikologis atau motivasi intrinsik yang dikembangkan oleh Reiss. Masing-masing disebut:

1. Kekuasaan: kebutuhan mempengaruhi sesuai kemauan.

2. Kemandirian: kebutuhan individualistis.

3. Keingintahuan: kebutuhan untuk berpikir.

4. Penerimaan: kebutuhan untuk mendapat persetujuan.

5. Keteraturan: kebutuhan untuk kestabilan, kerapihan, kepastian.

6. Simpan: kebutuhan untuk mengumpulkan.

7. Kehormatan: kebutuhan untuk setia pada nilai-nilai tradisional/adat.

8. Idealisme: kebutuhan untuk keadilan sosial.

9. Kontak sosial: kebutuhan untuk berteman/berkelompok.

10. Keluarga: kebutuhan untuk berketurunan dan merawat anak.

11. Status: kebutuhan untuk dianggap penting.

12. Dendam: kebutuhan untuk membalas.

13. Romansa: kebutuhan untuk berpasangan/sex.

14. Makan: kebutuhan akan makanan.

15. Aktivitas Fisik: kebutuhan untuk bergerak/berolahraga.

16. Ketentraman: kebutuhan untuk merasa aman.

Teori motivasi terus berkembang. Dari kombinasi daftar diatas saja bisa tercipta ribuan, bahkan jutaan profil motivasi.

Dan daftar kriterianya bisa menjadi 17 atau 20 kebutuhan dasar, siapa yang tahu?

Manusia memang mahluk yang kompleks, tidak sesederhana keledai (yang diimingi wortel dan terancam dicambuk).

Saya sekarang saja sedang meriset dan memvalidasi kebutuhan dasar ke-17. Sementara itu, saya akan berikan informasi perkembangan teori motivasi secara runut:

1. Teori Insting: inilah teori motivasi tertua yang pernah ditulis, tapi disini manusia dibuat sesederhana binatang. Berperilaku sesuai insting sebagai sebuah organisme.

2. Teori Reduksi Dorongan: teori yang ribet, yang menyatakan semua organisme membutuhkan kesetimbangan, sehingga dorongan-dorongan pikiran perlu dikurangi agar tetap seimbang.

3. Teori Pembangkit: teori yang justru menyatakan bahwa kita harus mencapai level optimum dari dorongan-dorongan psikologis untuk mendapatkan kekuatan berperilaku.

4. Teori Insentif: teori yang menyatakan bahwa perilaku kita ditentukan oleh dorongan-dorongan (sesuatu : – ) seperti ilmu marketing yang menjual produk yang sebenarnya tidak dibutuhkan tapi bisa menimbulkan keinginan untuk konsumsi dengan insentif tertentu.

5. Teori Kognitif: inilah asal mula kelahiran dualisme motivasi, eksternal-internal. Teori ini juga memberikan paradoks motivasi, bahwa motivasi eksternal bisa menggerogoti motivasi internal, yang sebenarnya tidak valid untuk jangka panjang.

Ed Deci dan Richard Ryan, penggagas awal teori ini, akhirnya merevisi penemuan mereka.

6. Teori Determinasi Diri: teori ini mencoba menyempurnakan kelemahan teori sebelumnya dengan mencari kombinasi yang pas antara motivasi eksternal dan motivasi internal, sehingga memuaskan secara psikologis dengan memberikan perasaan otonomi kepada seseorang.

Teori ini banyak dikutip oleh Daniel Pink dalam bukunya: Drive, yang sangat disayangkan memiliki pandangan yang terbatas dan kurang valid.

7. Teori Aktualisasi Diri: inilah teori yang paling terkenal dihirarkikan oleh Maslow. Pada akhirnya, kita semua menginginkan aktualisasi diri, di atas kebutuhan lainnya.

Aktualisasi diri adalah realisasi sejati dari potensi diri manusia, sayangnya istilah ini masih kurang jelas. Dan piramidanya tidak berlaku secara teratur sesuai tingkatannya serta terlalu sederhana.

Kesemua teori di atas memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kita bisa melihat hasil evolusinya sebagai teori motivasi dari hati; teori yang tak sesederhana namanya.

Setiap orang itu unik, dan memiliki motivasi intrinsik sesuai kepribadian masing-masing. Adalah tugas kita untuk menyesuaikan hati dengan panggilan kehidupan kita…