Tips Motivasi

Focusing on Happiness

Kategori: kesehatan tubuh & pikiran

LIBAS: Inspirasi Spiritual


Semua orang mencari kedamaian jiwa, ketenangan batin. 

Yang mencari kebahagiaan sebenarnya menginginkan kebebasan dari kesusahan, kedamaian. Yang menginginkan obyek atau pengalaman seperti harta dan pasangan sebenarnya mengingnikan ketenangan, tidak perlu kuatir akan masa depan. Yang mendambakan kekuasaan sebenarnya ingin keleluasaan, lepas dari tekanan. 

Jadi, sesungguhnya yang ingin dicapai ada di dalam diri sendiri. Kedamaian dari dalam jiwa dan ketenangan di dalam batin.  

Sulitnya, bahkan dalam sepi pikiran kita sangatlah berisik. Sehari bisa puluhan ribu pikiran berseliweran di dalam kepala. Kebanyakan pikiran tidak penting dan mengganggu kedamaian, ketenangan. 

Banyak pikiran hanya berputar-putar tanpa solusi. Hanya beberapa pikiran yang penting dan praktis terkait dengan apa yang ada di depan mata dan harus dikerjakan. Beberapa pikiran berguna untuk perencanaan dan menjalankan fungsi beraktivitas. 

Namun, sisanya, mayoritas pikiran kebanyakan hanya kebisingan. Memori dari masa lalu, penyesalan, kegalauan, kenangan buruk, kecemasan, ketakutan akan sesuatu yang belum pasti terjadi, prasangka buruk, khayalan-khayalan, pesimisme, dan sebagainya. 

Bahkan sekedar pikiran akan hal-hal remeh saja ada banyak sekali dan terus berulang-ulang disuarakan setiap hari di dalam hati, sehingga membuat ketenangan batin hanya impian belaka. 

Atau banyak cerita-cerita fiksi, pemikiran yang muncul dengan isi yang tak sepenuhnya benar menyeret diri kepada penderitaan, keputusasaan yang menghambat terciptanya kedamaian jiwa. 

Stop, berhenti sejenak. 

Lupakan dulu suara-suara pikiran yang belum tentu nyata 100%. 

Caranya salah dengan LIBAS:

  • LOOK. Coba buka mata dan lihatlah sekeliling tanpa menilai. Pandangi bentuk-bentuk dan warna tanpa melabeli dan menganalisa. Selanjutnya lihat ke dalam diri, perhatikan siapa yang sedang memandang di balik mata, biarkan pikiran datang dan pergi tidak usah diikuti. Pandang saja kesadaran yang menjadi latar belakang, yang hening tanpa suara. 
  • INNER BODY. Selanjutnya tutup mata dan rasakan seluruh tubuh tanpa melihat dan menyentuh. Sadari tangan, kaki, semuanya, seluruh badan dengan penginderaan enterosepsi. Rasakan energi yang melingkupi diri dari balik kulit dan meluas kesemua arah. Rasakan kesadaran yang hening tanpa suara ini. 
  • ACCEPTANCE. Katakan ‘Ya’ kepada masa kini, momen di saat sekarang. Apapun yang terjadi, terima saja dulu jangan dilawan, ditentang, ditekan, dialihkan perhatiannya, lepaskan segala pemikiran: seharusnya, semestinya, sebaiknya. Saat ini sudah sempurna hadir utuhlah dalam kekinian. Biarkan skenario kehidupan berjalan dan diri ini bereaksi sesuai intuisi, tapi untuk masa sekarang dengarkan dulu semuanya baru ambil respon tindakan yang sesuai. Jangan terburu-buru menilai, tapi terima dulu. Sadari momen yang sedang terjadi supaya bisa pasrah. Ikhlaskan semuanya di masa sekarang supaya batin tenang, lepaskan dulu segala penghakiman dan pengharapan, serta akhirnya mencapai kedamaian jiwa saat ini juga. 
  • SILENCE. Dengarkan semuanya, termasuk keheningan di balik semua suara. Jeda di antara nada, perhatikan spasi yang diisi oleh segala jenis bunyi. Maka, kesadaran yang berdiam dalam kesunyian terdengar. Menyanyikan lagu kedamaian, membawa ketenangan. 

Silahkan LIBAS pikiran-pikiran yang tak berguna itu. Nikmati kedamaian jiwa, ketenangan batin. Kehidupan yang lebih bernilai, karena semuanya menjadi ekspresi hati yang jatuh cinta pada momen kekinian, apa adanya. 

Cara Rileks Sekarang Juga!


Seringkali pikiran kita membuat banyak cerita. 

Entah itu berupa memori dari masa lalu, atau bayangan akan masa depan. 

Kebanyakan malah penyesalan atas kesalahan atau pilihan yang tidak diambil, atau sekedar kesedihan karena masa lalu yang dikenang sudah tidak terjadi lagi. 

Beberapa kekhawatiran bisa juga berasal dari ketakutan akan kemungkinan-kemungkinan yang buruk yang akan terjadi, atau malah yang hal-hal dianggap mustahil untuk didapatkan di masa depan. 

Sekedar berpikir dengan beragam kisah dan skenario yang berbelit-belit, melompat-lompat, pikiran ini sungguh tidak bisa diam. Menyeret kesadaran kesana kemari, menambah kelelahan saja. 

Stop. 

Berhenti berpikir, lepaskan dulu segalanya untuk momen sejenak. 

Lupakan semuanya, beristirahatlah sekarang tanpa perlu memikirkan yang sudah berlalu atau yang akan datang. Atau bayangan, khayalan, dan segala bentuk pemikiran. 

Alihkan pikiran ke badan untuk sesaat. 

Rasakan ketegangan di beragam bagian tubuh, lalu lepaskan saja. 

Biarkan pikiran datang dan pergi, sadari saja kalau pikiran memang nyata tapi isinya bisa jadi hanya cerita. 

Coba tutup mata untuk sejenak dan bernafas dalam.

Beristirahatlah dengan menerima segalanya apa adanya. 

Sadari saja nafas, suara-suara yang ada, perasaan dari dalam diri yang muncul dan disadari. 

Sadari yang terjadi tanpa menilai atau beropini. Biarkan semuanya lewat, santai saja dulu. 

Nikmati masa kini. Apapun yang dialami saat ini. Terima apapun yang hadir lalu lupakan. Perhatikan saja perhatian itu sendiri, menyadari kesadaran. Kesadaran yang mencakup segalanya, yang luas dan tanpa batas. 

Menyadari luasnya kesadaran tanpa keterbatasan pikiran akan membawa rasa damai.

Silahkan rileksasi dalam kedamaian tanpa batas itu.

Rileks..

Tips Menyingkirkan Bad Mood atau Perasaan Bete

Ketika saya merasa merana, bad mood alias bete saya coba berbuat baik pada orang lain. 

Ternyata, saya malah merasa bahagia.

Mengapa bisa begitu?

Ketika kita buat kebaikan kita akan melupakan diri kita sendiri. Apalagi kalau berbuat baiknya dengan ikhlas, maka ego yang merasakan bete itu akan terlupakan.

Coba saja sendiri, berbuat baiklah seikhlasnya dan sebanyak-banyaknya. Jangan terlalu memikirkan diri sendiri.

Mulailah dengan senyum, berikan pujian yang tulus. Kasihanilah orang-orang yang sebenarnya juga memiliki penderitaan dan kesusahan masing-masing. Pandanglah kalau setiap orang itu memiliki kesusahan, atau sakit yang kita tidak tahu.

Berilah sedikit waktu, tenaga, uang, bantuan, atau sekedar perhatian.

Dengan memberi, kita akan menerima.

Berpikir dan Bertindak

Ada saatnya berpikir, ada saatnya bertindak.

Melakukan kedua-duanya secara bersamaan akan sangat rentan gagal fokus dan mudah terpengaruh yang lain. Jangan sampai menyesal karena tidak optimal dalam berencana dan bertindak.

Pisahkan keduanya.

  • Berpikir sebaik-baiknya secara matang dengan mengantisipasi segala kemungkinan.
  • Bertindak sesuai rencana secara konsisten dengan energi serta konsentrasi maksimal.

Setelah bertindak barulah membuat evaluasi tindakan dan membuat perbaikan rencana jika diperlukan. Setelah membuat rencana yang lebih baik barulah bertindak mengikuti rencana jangan pusing-pusing berpikir lagi.

Namun dari semula, pastikan berpikir dahulu sebelum bertindak.

Cobalah dari hal-hal kecil, seperti membuat daftar belanja sebelum pergi berbelanja agar jangan sampai menyesal karena tidak ada daftar jadi berbelanja mengikuti impulsif pikiran atau pengaruh dari orang lain.

Setiap malam atau pagi, rencanakan hari dengan menuliskan prioritas sebanyak tiga sampai lima hal yang ingin dikerjakan hari itu.

Siapkan skenario yang setiap interaksi yang penting. Susun prosedur dari setiap kegiatan. Semua aktivitas kalau bisa ada protokolnya.

Sehingga di saat kita akan mengeksekusi rencana, kita tidak ragu sampai labil atau bingung dan tak termotivasi karena sudah tinggal menjalankan rencana tanpa perlu susah-susah lagi berpikir.

Kalau kita masih malas bertindak dan mengaplikasikan rencana, itu berarti kita masih dalam mode berpikir. Energinya masih banyak ada di dalam pikiran belum tersalurkan kepada otot-otot tindakan.

Terdapat masa transisi dari mode berpikir ke mode bertindak. Tips motivasi untuk mengerjakan apapun sesuai rencana semula adalah: 

  1. Pertama-tama, kita harus membuat rencana tindakan langkah demi langkah yang jelas secara urut walaupun juga bisa membuat beberapa rencana cadangan atau alternatif tapi tetap tertib dan mendetail.
  2. Kemudian setelah berpikir keras dan menghasilkan rencana yang brilian, mulailah berhenti berpikir jika sudah mau memulai tindakan dari rencana tersebut sesuai dengan waktu tenggat (dead line) yang telah ditetapkan.
  3. Salurkan perhatian dari pikiran kepada sensasi fisik pernafasan. Rasakan gerakan dada atau perut, jalannya udara di hidung, dan atur pernafasan dengan sengaja.
  4. Kalau perlu tahan nafas sebisa mungkin dan mulai bertindak. Jika masih sulit bertindak, mulailah dari satu tindakan sederhana. Gerakkan satu jari, telunjuk misalnya.
  5. Setelah itu, gerakkan semua jari lalu seluruh tangan, kedua tangan, selanjutnya  tubuh dan kepala mulai bergerak. Lanjutkan gerakan kecil menjadi satu aktivitas seluruh tubuh.
  6. Gerakan seluruh tubuh ini memulai mode bertindak dan menghentikan mode berpikir, maka jangan kembali ke mode berpikir lagi.
  7. Segera lakukan langkah pertama dari rencana yang telah disusun di langkah kesatu dan ikuti urutannya untuk bertindak sesuai rencana.

(Saya mendapatkan ide transisi ini saat mengalami sleep paralysis yaitu kelumpuhan otot di saat otak terjaga dan sadar, namun tubuh masih dalam keadaan tidur dan otot-otot tidak ada yang bisa digerakkan kecuali ada sedikit pergerakan badan saat bernafas, kemudian saya mencoba bangun dari tidur tersebut)

 

 

Kutipan

People tend to dwell more on negative things than on good things.

So the mind then becomes obsessed with negative things, with judgments, guilt and anxiety produced by thoughts about the future and so on.

~Eckhart Tolle