Tips Motivasi

Focusing on Happiness

Kategori: sukses & kekayaan

Langkah Sales Menjadi Sukses

Sebelumnya, saya menuliskan satu cara memotivasi tenaga penjual atau sales disini. Namun, ini adalah solusi jangka pendek. Kita tidak bisa selalu mengobarkan semangat menjual dengan emosi saja. Tapi tips ini sangatlah berguna untuk seorang sales untuk mencapai suatu prestasi.

Seorang sales yang telah berprestasi baru bisa disebut sukses jika ia bisa mempertahankan prestasi penjualannya. Dan biasanya, para wiraniaga (sales) ini akan mampu memotivasi dirinya sendiri jika sudah meraih suatu prestasi. Prestasi yang ada akan menjadi pemicu, pendorong semangat untuk berprestasi kembali.

Masalahnya, bagaimana caranya mempertahankan bahkan meningkatkan prestasi penjualan dari seorang sales yang pernah berprestasi menjual tersebut? Untuk meningkatkan prestasi penjualannya, ia harus meningkatkan level para pembelinya.

Berikut urutan dari tingkatan atau level pengembangan dari pembeli:

1. Pembeli
2. Konsumen
3. Pelanggan
4. Klien
5. Partner

Seorang sales yang ingin meningkatkan kesuksesannya harus mengembangkan para pembelinya menjadi konsumen, yaitu pembeli yang sadar akan fitur-fitur dari produk yang dijual. Konsumen adalah pembeli yang peduli pada produk yang mampu memenuhi keinginan atau kebutuhannya.

Selanjutnya, seorang konsumen perlu dikembangkan agar menjadi seorang pelanggan. Yaitu, konsumen yang melakukan pembelian berulang serta memahami keuntungan dalam menjadi pelanggan. Pada tahap ini, penjual juga harus berperan sebagai customer service yang memberikan pelayanan yang memuaskan pelanggan.

Selanjutnya, pelanggan tidak hanya dipuaskan namun juga dipedulikan agar meningkatkan keterikatannya pada sang sales. Levelnya dikembangkan menjadi klien yang merupakan pelanggan setia yang juga membeli beberapa produk lain dari sang penjual. Di tahap ini, seorang tenaga penjual bisa mendapatkan keuntungan dari cross-selling.

Dan pada akhirnya, klien harus dikembangkan menjadi partner yaitu sebagai mitra penjual yang turut membantu penjualan lewat advokasi. Memberikan referal serta mengajak orang lain untuk membeli produk-produk sang penjual, bahkan akan membela sales dari serangan kompetitor atau komplain dari prospek/pembeli lainnya.

Peningkatan level pembeli menjadi partner ini membutuhkan kemampuan berkomunikasi yang handal dari seorang sales. Seorang sales adalah pemelihara hubungan antara perusahaan dengan pelanggannya. Menjadi customer-care, yang berfokus pada pelanggan. Maka dari itu, sales harus menjaga integritasnya. Jangan over-promise namun harus over-deliver.

Berikan lebih dari yang dijanjikan…

Cara Disiplin dalam Bekerja

Setiap keunggulan sumber daya manusia berasal dari: ilmu pengetahuan, sikap, dan disiplin.

Ilmu pengetahuan memberikan keunggulan dengan inovasi dan efisiensi. Sikap memberikan keunggulan dalam kompetensi dan kepemimpinan. Disiplin memberikan keunggulan yang konsisten dan tahan lama.

Ilmu pengetahuan di era informasi ini relatif lebih mudah dicari dan dipelajari. Sikap biasanya sulit diubah karena sudah tercetak dalam karakter yang ditentukan oleh genetika dan faktor lingkungan pembentuk kepribadian seseorang.

Sedangkan, yang sulit dibentuk pada awalnya namun menjadi mudah dan menguntungkan pada akhirnya adalah kedisiplinan. Disiplin yang sukses akan menjadi kebiasaan seseorang atau budaya di dalam perusahaan bahkan negara.

Jika ilmu pengetahuan berarti meningkatkan kapasitas otak dan sikap adalah kecerdasan emosi seseorang, maka kebiasaan dari disiplin berasal dari pembentukan jalan saraf.

Semakin sering dilakukan dan dipraktekkan, suatu perbuatan akan menjadi semakin mudah. Jalan sarafnya akan semakin terbentuk kuat dan cepat untuk dilakukan.

Contohnya seperti belajar bersepeda atau mengemudi. Awalnya terasa sangat sulit namun lama-kelamaan akan menjadi mudah. Disiplin yang berhasil adalah disiplin yang menjadi kebiasaan.

Memang, seringkali untuk berdiplin itu pertama-tama memang susah. Dan pada awalnya untuk berdisiplin seseorang harus dipaksa dulu dan merasa terpaksa barulah bisa serta terbiasa. Inilah fase disiplin yang sulit, lalu setelah bisa dan terbiasa: disiplin menjadi mudah. Disiplin telah bertransformasi menjadi kebiasaan, bahkan budaya.

Pemerintah Singapura menerapkan denda yang tinggi jika membuang sampah sembarangan. Pada awalnya, warga Singapura merasa terpaksa untuk hidup bersih. Kini, mereka telah terbiasa dan menjaga kebersihan sudah menjadi budaya negara.

Disiplin harus diterapkan karyawan dalam beberapa aspek: disiplin waktu agar selalu tepat, disiplin kerja untuk menjalankan proses yang konsisten, disiplin menjaga kualitas, disiplin dalam berkomunikasi dan mempererat hubungan di kantor, dan akhirnya disiplin untuk memberikan hasil yang terbaik.

Perusahaan manufaktur Jepang menerapkan budaya disiplin dengan sangat keras, tapi hasilnya bisa sukses mengalahkan perusahaan-perusahaan Amerika dalam waktu yang tidak lama. Kini, kerja keras telah menjadi budaya bagi orang Jepang.

Disiplin memang harus dipaksakan pada awalnya. Maka dari itu, disiplin membutuhkan kekuatan untuk berinisiatif. Motivasi dari tindakan berdisiplin. Alasan untuk melakukan suatu perbuatan secara terus-menerus. Ini adalah soal penanaman nilai.

Contohnya; jika seorang anak ingin dilatih agar terbiasa menggosok gigi maka tehnik pertama dalam disiplin adalah penanaman nilai kesehatan gigi. Dengan adanya alasan untuk menjaga kesehatan gigi, fase pertama disiplin bisa dimulai.

Paksa, bisa, lalu terbiasa. Mungkin pada awalnya anak ini akan merasa susah, kesulitan menggosok gigi. Lalu, setelah bisa dia harus mengulang-ulang kegiatan menggosok gigi ini sampai menjadi suatu ritual. Akhirnya, anak ini setelah dewasa akan terbiasa menggosok gigi sebagai ritual, budaya hidupnya. Tanpa merasa sulit lagi seperti waktu awalnya dipaksa menggosok gigi. Menggosok gigi menjadi suatu kegiatan yang otomatis tanpa kesulitan yang berarti.

Jadi, untuk berdisplin itu awalnya memang sulit. Tapi seiring waktu akan menjadi mudah karena terbiasa. Jalan sarafnya akan terbentuk dan semakin kuat serta cepat. Tips-nya adalah paksakan saja! Perusahaan yang ingin memiliki karyawan yang disiplin harus berani memaksa. Tapi jangan lupa, tanamkan nilai serta beri motivasi/alasan kuat untuk berdisiplin.

Selanjutnya, silahkan baca tulisan saya sebelumnya tentang meng-install kedisiplinan lewat membangun kebiasaan yang sukses dalam 21 hari.

Afirmasi yang Berhasil

Satu kata yang lebih baik daripada ribuan kata-kata hampa; adalah yang membawa ketentraman. – Buddha

Ada beberapa motivator yang mengajarkan tehnik afirmasi untuk meraih kesuksesan. Afirmasi adalah suatu pernyataan sugestif yang diulang-ulang. Harapannya, afirmasi dapat memprogram pikiran bahkan mendatangkan keajaiban dalam kehidupan.

Namun, apakah afirmasi bisa benar-benar merubah kehidupan seseorang?

Jawaban singkatnya, afirmasi bisa berguna jika diaplikasikan secara tepat. Tapi kalau afirmasi hanya sekedar diulang-ulang saja sepanjang hari, tidak akan terlalu berpengaruh kepada kesuksesan.

Afirmasi, seperti juga doa dan hipnotis, bisa bekerja ketika pikiran sedang tenang dan terfokus. Bahasa spiritualnya; khusyu’ sedangkan bahasa ilmiahnya: otak sedang dalam keadaan alpha-theta.

Baca entri selengkapnya »

Tanpa Kegagalan Tidak Ada Kesuksesan

Banyak orang hanya menginginkan kesuksesan. Jarang yang menginginkan kegagalan juga. Padahal kegagalan adalah bagian dari kisah sukses seseorang.

Hambatan terbesar seseorang untuk berusaha, mengupayakan kesuksesan dirinya adalah perasaan takut mengalami kegagalan.

Ketakutan akan kegagalan akan menyebabkan ketakutan untuk bertindak. Padahal melakukan suatu tindakan yang ditakutkan itu malah bisa membawa kepada kesuksesan.

Kegagalan sungguh melumpuhkan. Dan bayangannya saja; membuat orang beralasan agar tidak melakukan sesuatu yang ditakutkan bisa membawa kegagalan.

Akhirnya, dengan menunda-nunda berbuat sesuatu, seseorang menjadi tidak berusaha sama sekali.

Dengan tidak berusaha maka dijamin tidak akan ada kegagalan, tapi sayangnya; kesuksesan juga menjadi suatu hal yang mustahil.

Oleh karena, untuk sukses seseorang mesti melakukan sesuatu yang bisa membuatnya mampu meraih kesuksesan itu.

Penelitian membuktikan bahwa 80 persen penyesalan datang dari tindakan yang tidak dilakukan daripada yang pernah dilakukan.

Jadi, melakukan kesalahan atau gagal setelah mencoba sesuatu bukan berarti tidak akan pernah sukses. Justru kunci dari kesuksesan adalah eksekusi, bertindak!

Justru jika takut dan tidak mencoba bertindak sama sekali akan membawa kegagalan absolut dan kesuksesan menjadi jauh dari kenyataan.

Dengan adanya kegagalan, kita bisa belajar dari kesalahan kita dan mengubah pendekatan dalam upaya-upaya yang kita lakukan dalam meraih kesuksesan.

Kita bisa membuat kegagalan itu bersifat hanya sementara dan menjadikannya sebagai anak tangga dalam perjalanan kita menuju puncak kesuksesan.

Kita harus ubah paradigma berpikir kita dalam melihat suatu ancaman kegagalan menjadi suatu peluang pembelajaran.

Perasaan takut akan kegagalan mesti dikalahkan oleh hasrat untuk mengatasi tantangan dan menangkap potensi keberhasilan.

Dan kalaupun gagal, kita bisa gunakan emosi seperti amarah untuk memotivasi kita agar bangkit dan mencoba kembali.

Lebih baik merasa marah daripada takut. Kemarahan bisa menjadi emosi yang membangun sedangkan ketakutan merupakan emosi yang melumpuhkan.

Perasaan marah yang bisa dikelola dengan baik, akan menjadi suatu kekuatan motivasi yang besar. Amarah bisa dimanfaatkan sebagai tenaga pendorong untuk terus bersemangat dalam mengejar kesuksesan.

Amarah yang diekspresikan secara asertif, bukan agresif, akan menegaskan karisma seseorang. Seseorang menjadi amat karismatik jika ia berhasil menaklukan perasaan amarahnya.

Dalam riset terbaru, emosi marah malah bisa membawa optimisme selain motivasi yang tinggi. Suatu hubungan bisa menjadi lebih baik dengan saling memahami jika kemarahan diekspresikan dengan jelas.

Amarah juga membuat seseorang menjadi lebih bijaksana, lebih strategis dalam bernegosiasi, dan malah mengurangi potensi kekerasan jika diungkapkan dengan semangat mencari solusi daripada hanya sekedar menyalurkan kemarahan yang ada.

Mari kita ubah paradigma berpikir kita, daripada merasa takut gagal lebih baik merasa marah terhadap kegagalan. Marah terhadap ketakutan akan kegagalan. Marah agar termotivasi untuk sukses.

Salam sukses!

Kunci Sukses

Apakah kunci dari kesuksesan itu?

Apakah berasal dari gen yang kita miliki? Faktor keturunan dan keluarga? Warisan atau modal uang? Jaringan bisnis atau lingkungan usaha? Ide inovatif dan pemikiran yang kreatif? Ilham dari ilahi atau intuisi yang tajam?

Ataukah perilaku kita yang bisa menentukan kesuksesan, keberhasilan kita? Apakah sukses dipengaruhi oleh sikap kita? Bagaimana kita bertindak? Seperti apa paradigma kita? Dan apa yang kita lakukan? Strategi dan taktik apakah yang mesti dijalankan?

Bisa jadi sukses malah hanya soal keberuntungan. Nasib baik saja. Hoki.

Atau mungkin kombinasi dari kesemuanya yang saya tuliskan di atas?

Memang kesemuanya ini adalah faktor-faktor yang menentukan kesuksesan seseorang. Namun kunci sukses yang terutama bukanlah itu semua.

Untuk meraih kesuksesan, kita harus melakukan perubahan. Perubahan dari keadaan yang sekarang menjadi kondisi yang diinginkan. Kondisi keberhasilan. Sukses.

Kunci sukses untuk melakukan perubahan yang berhasil adalah:

“Keputusan untuk berubah.”

Perubahan apapun baru bisa dilakukan secara efektif jika diawali dari keputusan yang tegas untuk berubah. Tentunya didukung juga oleh faktor-faktor yang saya tuliskan sebelumnya.

Keputusan ini sebagai garis tegas penanda awal dari perubahan. Pembatas yang tegas antara masa lalu dan masa depan. Masa depan dimana kesuksesan kita berada.

Kita mulai memisahkan dari masa lalu dan mengarahkan langkah sukses ke masa depan, dimulai dari satu keputusan yang solid. Sebuah janji yang kuat. Satu komitmen untuk keberhasilan. Suatu resolusi.

Sukses dalam berubah 10 kali lebih berhasil pada orang yang membuat suatu resolusi yang spesifik daripada hanya sekedar memiliki keinginan namun tidak membuat suatu resolusi (penelitian psikolog John Norcross).

Setelah kita membuat suatu keputusan, berkomitmen pada suatu resolusi yang spesifik, maka: pintu perubahan sudah terbuka. Tidak terkunci lagi. Dan kita harus mendorong pintu itu, melangkah memasuki masa depan yang sukses.

Kita tidak perlu sendirian dalam melakukan perubahan ini. Kita tak perlu hanya menggantungkan resolusi kita pada kekuatan kehendak diri semata. Kita sebaiknya mencari teman seperjalanan.

Lalu, kita bisa mencari rekan yang mendukung, kelompok yang suportif, lingkungan yang sehat untuk kesuksesan, sistem yang bagus, dan sebagainya.

Akan tetapi, kita tetaplah direktur utama dari perubahan yang ingin kita jalankan. Kita adalah CEO dari langkah kesuksesan kita sendiri. Kitalah pembuat keputusan yang utama.

Tidak ada yang bisa mengawasi diri kita sendiri selama 24 jam penuh. Jika kita belum memutuskan untuk berubah, maka kita tidak akan pernah berubah. Keputusan untuk berubah adalah kuncinya.

Ngomong-ngomong soal direktur utama atau CEO, di perusahaan saya ada pesan CEO yang bagus, yaitu: “Ekseskusi! Eksekusi! Eksekusi!”

Diulang sampai tiga kali. keberhasilan suatu komitmen sampai bisa mencapai kesuksesan ditentukan oleh eksekusinya. Banyak perusahaan yang gagal bukan karena tidak memiliki rencana yang bagus, namun karena kurangnya eksekusi yang proaktif.

Setelah membuka pintu sukses dengan kuncinya: keputusan untuk berubah, maka selanjutnya kita harus beraksi: membuka pintunya dan melangkah masuk. Eksekusi!

Last but not least, kadangkala komitmen kita seiring waktu bisa kendor. Motivasi kita bisa turun-naik sepanjang perjalanan kita untuk berubah. Disini saya akan berikan satu tips khusus.

Ingat-ingatlah satu kalimat yang bisa memberikan inspirasi, membakar motivasi. Sebuah slogan, motto pribadi. Kalimat bisa seperti apapun, kata-kata indah atau kutipan dari seorang tokoh yang dikagumi.

Satu syaratnya, harus bisa menggugah hati kita. Dan ini bersifat pribadi, personal, tergantung masing-masing karakter orang.

Kalimat ini harus bisa menjadi pengingat, sebuah anchor dalam istilah psikologi atau NLP yang mampu memicu reaksi emosional tertentu; dalam hal ini yang kita harapkan membuat kita termotivasi.

Seperti yang pernah saya dengar dalam satu film: Negeri 5 Menara. Disitu tokohnya selalu mengulang-ulang kalimat: Man Jadda Wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan berhasil.

Keputusan yang dibuat harus dengan sungguh-sungguh dan eksekusinya juga harus bersungguh-sungguh. Konsisten. Untuk mengobarkan semangat, tokoh utama dalam film Negeri 5 Menara mengulang-ulang kalimat: Man Jadda Wajada setiap membutuhkan pembangkit motivasi.

Pilihlah satu kalimat inspirasi. Kalau perlu catatlah dalam sebuah kartu. Kantongi kartu tersebut. Lihat tulisannya setiap membutuhkan dorongan motivasi, lihat setiap ada waktu dan kesempatan. Baca beberapa kali sepanjang hari agar harimu penuh dengan semangat.

Coba saja dan buktikan sendiri kehebatan tips ini. Silahkan ikuti twitter saya untuk mendapatkan inspirasi.

(Terinspirasi oleh tulisan Meg Selig di blog Psychology Today dan film Negeri 5 Menara)