Tips Motivasi

Focusing on Happiness

Tag: motivasi karyawan

Tehnik Motivasi Intrinsik: Teori Drive, Daniel Pink dan Edward Deci

Usaha yang gigih, bukan kecerdasan atau kekuatan, adalah kunci untuk membuka potensi diri kita. -Winston Churcill

Pada tahun 1949, sebuah eksperimen untuk meneliti teori motivasi dilakukan oleh seorang peneliti bernama Harry F. Harlow. Riset tersebut mengungkapkan suatu motivasi yang mendorong primata yang sedang diteliti untuk menyelesaikan sebuah puzzle sederhana.

Dalam obervasi ini, para primata semakin bersemangat menyelesaikan puzzle walau tanpa imbalan seperti makanan, minuman, stimulasi seksual, atau kebutuhan lainnya. Mereka termotivasi sendiri secara intrinsik untuk menjadi lebih ahli dalam menyelesaikan puzzle walau tanpa insentif eksternal. Teori motivasi intrinsik mulai diperkenalkan.

Sayangnya pada waktu itu, teori ini sangatlah kontroversial dan diabaikan sampai tahun 1969. Di tahun tersebut, Edward Deci tertarik untuk mengadakan penelitian lanjutan di Universitas Carnegie-Mellon dan menguji-cobakan teori motivasi intrinsik ini kepada manusia.

Dalam penelitiannya, dua kelompok partisipan diberikan puzzle dengan beragam instruksi yang harus dikerjakan sebanyak 3 sesi selama satu jam dan memakan waktu hingga 3 hari. Pada hari pertama, kedua kelompok memiliki tingkat motivasi yang relatif sama. Di hari kedua, satu kelompok diinformasikan akan diberikan insentif uang dan kelompok ini menjadi lebih termotivasi daripada kelompok yang tidak dibayar.

Namun, ketika di hari ketiga diinformasikan bahwa tidak akan ada pemberian imbalan, kelompok yang sebelumnya menerima imbalan tersebut menjadi terdemotivasi, kurang semangat untuk menyelesaikan puzzle-nya. Dan kelompok yang tidak menerima uang sejak hari pertama malah semakin termotivasi, bersemangat dalam mengerjakan puzzle-nya secara lebih cepat dan lebih baik.

Ternyata, reward eksternal seperti uang hanya memberikan motivasi dalam jangka pendek selama insentifnya dibayarkan. Imbalan berupa uang seperti gaji dan upah hanya memotivasi sejauh apa yang diminta. Insentif eksternal memang menciptakan kepatuhan tapi tidak mendorong kontribusi yang lebih bernilai. Para pekerja bayaran tidak termotivasi untuk memberikan hasil yang terbaik. Orang menjadi kurang kreatif dan inovatif dalam jangka panjang.

Imbalan moneter bisa menjadi senjata makan tuan, berbalik menjadi demotivator, jika pekerja tersebut merasa bahwa uang yang diterimanya dinilai kurang. Uang hanya memotivasi orang untuk mengerjakan aktivitas yang rutin dan tanpa perlu pengembangan dengan kreativitas serta inovasi yang baru. Inisiatif karyawan menjadi sangat tergantung pada tingkat kepuasannya terhadap gajinya dan motivasinya menjadi semakin menurun seiring waktu.

Dalam kisah fiktif Tom Saywer, ditemukan istilah Saywer Effect; yaitu ketika satu pekerjaan (dalam cerita tersebut: mengecat) dilakukan atas dasar imbalan semata, maka pekerjaan itu terasa membebani dan sulit untuk termotivasi secara konstan. Lalu beberapa karakter di dalam kisah fiksi tersebut membuat pekerjaan mengecat menjadi sebuah permainan untuk menjadi jago dalam mengecat. Dan akhirnya pekerjaan mengecat diselesaikan dengan semangat.

Mereka yang berfokus pada penguasaan keahlian daripada imbalan akan lebih bersemangat dalam pekerjaannya. Fokus pada perbaikan diri dan pengembangan kecakapan ini akan membuat motivasi tetap tinggi dalam jangka panjang. Penguasaan keahlian atau Mastery adalah salah satu faktor motivasi yang berasal dari dalam diri sendiri. Motivasi intrinsik.

Daniel Pink dalam bukunya; Drive, memaparkan tiga faktor dalam teori motivasi intrinsik. Ketiganya adalah: Mastery atau penguasaan keahlian, Autonomy atau kemandirian, dan Purpose atau tujuan yang bermakna. Ketiganya harus dimiliki oleh seseorang yang ingin bekerja dengan semangat konstan dan motivasi tinggi.

Manajemen perusahaan mesti mengelola ketiga faktor ini agar dapat secara optimal memotivasi karyawannya selain dengan gaji dan tunjangan. Individu juga bisa mengatur dirinya agar menjadi pribadi yang produktif dengan memperhatikan ketiga faktor motivasi intrinsik ini dalam aktivitasnya.

Mastery atau penguasaan keahlian berarti para karyawan diberikan peluang untuk mengembangkan dirinya. Pekerjaan yang diberikan harus cukup menantang namun tidak terlalu mustahil. Tugas-tugas yang terlalu mudah akan menciptakan kebosanan dan tidak membuat keahlian seorang pekerja meningkat. Sedangkan tugas-tugas yang sedikit lebih sulit akan memacu pengembangan keahlian dan memicu suatu kondisi yang disebut Flow.

Flow adalah keadaan dimana kita bisa bekerja dengan menggunakan segala potensi dan keahlian kita secara maksimal sehingga waktu mengalir tanpa terasa. Mental seeorang yang sedang dalam status Flow akan sangat terfokus dalam aktivitas yang sedang dikerjakannya.

Kesuksesan kegiatan yang dilakukan dalam momen Flow diraih secara alami karena energi, emosi, dan pikiran menjadi lebih positif. Studi oleh psikolog Mihaly Csikzentmihalyi telah membuktikan teori Flow ini. Dengan Flow, kinerja puncak akan mudah didapatkan yang akan memberikan tingkat produktivitas tinggi.

Selain Flow, Mastery didapatkan dengan mindset yang tidak kaku. Paradigma berpikir yang berkembang dan menginginkan kemajuan. Jangan pernah menganggap bahwa kemampuan kita terbatas secara genetik dan tidak memiliki potensi untuk berkembang. Pengembangan kepakaran suatu keahlian harus dipersepsikan sebagai sebuah kemungkinan yang bisa dicapai.

Penguasaan keahlian atau Mastery secara faktual diperoleh dengan berlatih. Secara statistik, suatu keahlian akan dikuasai dengan optimal jika telah dilatih atau dikerjakan selama 10 ribu jam. Faktanya: peningkatan jam terbang dan hasrat untuk menjadi ahli adalah elemen penting dalam memotivasi diri.

Autonomy atau kemandirian diberikan perusahaan kepada para karyawannya dalam bentuk kebijakan yang flekibel. Prosedur kerja yang tidak terlalu mengekang dan memberikan kebebasan untuk berinovasi serta menjadi kreatif. Perasaan tertekan karena tidak memiliki kendali akan mendemotivasi seseorang.

Pemberian wewenang dan kontrol akan meningkatkan motivasi secara intrinsik. Pembatasan yang ketat dan larangan-larangan justru akan menimbulkan perlawanan dan membuat pekerjaan menjadi tidak produktif. Solusi yang kreatif dan inovasi untuk bekerja secara lebih efektif serta efisien akan didapatkan dengan kemandirian pekerja yang diberikan kebebasan yang bertanggung jawab.

Purpose atau penetapan tujuan yang bermakna akan saya bahas dalam tulisan yang lain agar pemaparannya lebih detail. Namun, inilah faktor terpenting dalam teori motivasi intrinsik. Perusahaan yang memprioritaskan penanaman tujuan yang utama kepada para karyawannya akan mendapatkan tingkat produktivitas serta loyalitas yang tinggi.

Individu yang memiliki Purpose atau tujuan yang bermakna bagi dirinya akan secara otomatis termotivasi. Purpose memberikan arti penting dalam suatu aktivitas menjadi layak diperjuangkan. Semangat juang inilah yang akan memotivasi seseorang dalam bekerja. Purpose adalah bahan bakar utama dalam mengobarkan api motivasi.

Baca juga:
Teori Motivasi dari Hati
2 Faktor Motivasi
Tehnik Motivasi Douglas McGregor: Teori X, Y, dan Z
Motivasi Karyawan: Pendekatan Tradisional dan Modern

Tehnik Motivasi Douglas McGregor: Teori X, Y, dan Z

Di dunia ini tidak ada yang bisa menggantikan keutamaan dari kegigihan; bukan bakat karena sudah banyak orang berbakat yang tidak sukses, bukan pula kejeniusan karena orang jenius yang gagal sudah biasa, juga bukan pendidikan karena kini pengangguran yang berpendidikan sudah menjadi peristiwa yang umum. Kegigihan dan kesungguhan hati sungguh tak tergantikan. -Calvin Coolidge

Douglas McGregor adalah seorang psikolog sosial dari Amerika yang mengemukakan teori XY dalam bidang motivasi yang menjadi prinsip dasar dalam mengembangkan pengelolaan SDM (sumber daya manusia) modern, menentukan pola komunikasi organisasi, menyusun panduan manajemen perilaku, mengelola interaksi sosial karyawan dan dalam menciptakan budaya perusahaan.

Teori X dan Teori Y menjabarkan dua model motivasi yang saling berkebalikan, sedangkan teori Z adalah pengembangan dari teori hirarki motivasi oleh Abraham Maslow dan ilmu manajemen oleh Dr. W. Edwards Demming. Teori Z ini dikembangkan oleh Dr. William Ouchi.

Ketiga teori ini penting diketahui oleh bagian HRD (human resources management) di setiap perusahaan untuk mengoptimalkan pengelolaan motivasi SDM atau pola komunikasi dari manajemen kepada para karyawannya.

Ketiga teori ini menciptakan kerangka untuk paradigma berpikir para manajer dalam mempersepsikan bagaimana para karyawan berperilaku dan bagaimana cara meningkatkan motivasi karyawan yang mendorong perilaku tersebut.

Perspektif yang diperoleh dari penerapan teori-teori ini akan memberikan pemahaman yang secara signifikan akan mempengaruhi pendekatan manajemen perusahaan kepada para karyawannya secara lebih efektif.

Aplikasi dari teori XYZ akan menentukan gaya kepemimpinan yang seperti apa yang cocok dengan kondisi mental karyawan. Indikasi dari kesesuaian cara pemimpin dalam memotivasi karyawannya akan terlihat sebagai peningkatan kinerja dan produktivitas.

Maka dari itu, teori XY dan Z menjadi pondasi penting dalam menentukan tehnik motivasi yang tepat bagi para karyawan.

Teori X

McGregor memaparkan teori X dengan asumsi awal bahwa karyawan itu secara alamiah bersifat malas atau tidak menyukai pekerjaannya dan harus dimotivasi dengan gaya kepemimpinan yang otoriter.

Manajemen harus terus aktif dan otoritatif dalam mengendalikan karyawan. Asumsi selain karyawan tidak suka bekerja adalah karyawan tidak punya ambisi sehingga ingin selalu menghindari tanggung jawab maka dari itu perlu diarahkan, dipaksa, bahkan diancam dengan hukuman, dan dikontrol dalam pengawasan yang ketat.

Biasanya teori X ini kurang efektif dalam praktek manajemen modern, namun hirarki kewenangan yang tersentralisasi tak bisa dihindari jika perusahaannya memiliki karyawan yang sangat banyak dengan skala produksi yang besar dan pekerjaan yang berulang-ulang tanpa keahlian tinggi seperti di pabrik-pabrik.

Tapi teori X ini tetap harus digunakan khususnya pada beberapa jenis karyawan yang memiliki karakter yang lebih termotivasi secara efektif dan memberikan hasil kinerja yang lebih baik dengan gaya kepemimpinan yang otoritatif.

Para pemimpin dan manajer perusahaan yang ingin mempraktekkan teori X harus menyatakan dengan tegas aturan, arahan, ultimatum dengan pemberian imbalan dan hukuman untuk para karyawannya. Teori ini mengutamakan kepatuhan sebagai faktor pendorong kinerja karyawan.

Teori X berfokus pada pengawasan dalam pelaksanaan prosedur standar kerja, pengendalian aktivitas, delegasi tugas dan perintah dengan deadline serta memastikan hasil akhir yang diberikan karyawan harus sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.

Teori Y

McGregor menyatakan dalam teori Y, para karyawan diasumsikan sebagai orang yang berambisi, mau menerima tanggung jawab bahkan mencari wewenang agar bisa bekerja secara optimal dengan potensi diri yang dimiliki. Para karyawan dianggap secara alamiah menikmati pekerjaan serta termotivasi sendiri berprestasi.

Gaya kepemimpinan dalam teori Y adalah manajemen parsitipatif yang mengundang diskusi dan keterlibatan karyawan dalam membuat keputusan dan memberikan peluang untuk mengembangkan keahlian serta karir sang karyawan atau promosi.

Kreativitas, intelektualitas, otonomi, dan keahlian yang dimiliki karyawan diapresiasi oleh manajemen yang menggunakan teori Y dalam tehnik motivasinya. Walaupun begitu, teori Y tetap memanfaatkan penilaian untuk remunerasi, insentif, dan pemberian sanksi jika diperlukan.

Teori Y mendorong perluasan wawasan karyawan dan perbaikan kualitas SDM yang berkelanjutan. Penerapan teori Y terbukti lebih menguntungkan daripada teori X khususnya dalam perusahaan-perusahaan yang membutuhkan para profesional berkeahlian tinggi.

Pengembangan teori Y ini terus diupayakan oleh para peneliti dan pakar manajemen di masa kini. Misalnya seperti teori determinasi diri dan motivasi intrinsik oleh Deci dan Ryan, teori kebutuhan McClelland, teori motivasi internal oleh Profesor Reiss, serta teori Z yang kesemuanya memiliki fokus kepada kekuatan semangat bekerja dari dalam diri manusia.

Teori Z

Teori Z ini bukanlah ide dari McGregor dan merupakan pengembangan teori manajemen yang meneliti kesuksesan perusahaan-perusahaan di Jepang yang ditulis oleh William Ouchi seorang profesor terkemuka di bidang manajemen dan bisnis.

Namun teori Z mengkombinasikan teori XY dengan gaya kepemimpinan bisnis ala Jepang dan mengharapkan karyawan selalu loyal atau memiliki kesetiaan yang tinggi kepada organisasi. Teori Z bisa juga dibilang sebagai penyempurnaan dari teori Y dalam memotivasi karyawan.

Negara Jepang terkenal sebagai negara yang produktivitasnya tergolong tinggi di dunia, dengan perekonomian yang sangat kuat. Kesuksesan banyak perusahan di Jepang dalam mengelola para pekerja menjadi dasar dalam menyusun teori Z untuk memotivasi para karyawan di sebuah perusahaan untuk lebih produktif dan juga berkomitmen tinggi.

Teori Z ini memandang kebutuhan karyawan sebagai faktor pendorong motivasi kerjanya tidak hanya sebatas pada kebutuhan fisik dan keamanan/kepastian saja. Kepedulian perusahaan terhadap kesejahteraan dan pemenuhan kebutuhan mental-emosional-sosial-spiritual karyawan sangat diperhatikan dalam mengaplikasikan teori Z ini.

Sesuai struktur yang lebih tinggi dalam hirarki kebutuhan Maslow, teori Z memperhatikan pemenuhan kebutuhan karyawan untuk bersosialisasi, berkelompok, mempererat hubungan dengan sesama rekan kerja dan perusahaan, serta menguatkan kepercayaan diri yang akhirnya mendukung aktualisasi diri sang karyawan.

Menurut Ouchi, penerapan dari teori Z dalam perusahaan akan memberikan stabilitas SDM (para karyawannya jarang yang berhenti, pindah kerja, atau berulah minta dipecat), meningkatkan produktivitas dengan menaikkan level kepuasan kerja dan moral dari para karyawan.

Karyawan menjadi sangat setia dan termotivasi untuk memberikan yang terbaik bagi perusahaannya. Kedisiplinan dan kerja keras menjadi nilai-nilai yang membudaya di dalam perusahaan selama manajemen dipercaya untuk selalu mendukung dan memberikan kesejahteraan.

Teori Z juga meningkatkan kompetensi karyawan dengan rotasi pekerjaan dan pelatihan-pelatihan yang intensif. Hal ini dilakukan agar karyawan yang promosi menjadi pemimpin memiliki pengetahuan yang menyeluruh terhadap semua operasional perusahaan dan akan mampu menggunakan teori Z untuk memotivasi semua bawahannya khususnya para karyawan yang masih baru.

Kesimpulan

Memahami karakteristik dari para karyawan dan sifat pekerjaannya, serta jenis bisnis yang dijalankan oleh perusahaan akan memberikan asumsi-asumsi sebagai dasar keputusan untuk menggunakan teori motivasi yang tepat-guna. Khususnya jika ingin menggunakan motivasi intriksik untuk para karyawan.

Pengamatan yang baik dan observasi yang teliti perlu dilakukan jika manajemen ingin berhasil dalam memanfaatkan teori mana yang sesuai dengan tantangan yang ada dalam pengelolaan SDM. Penentuan gaya kepemimpinan yang cocok dengan penerapan masing-masing teori harus diputuskan jika perusahaan ingin memperoleh keuntungan yang maksimal.

Baca juga:
Tips Memotivasi Orang Lain
Manajer Motivator
Kaizen: Pelajaran Manajemen dari Edwards Deming
Kiat Sukses Manajemen Zappos
Kunci Sukses Manajemen dari Steve Jobs

Tips Singkat Memotivasi Karyawan

Memotivasi karyawan adalah perjuangan yang harus dilakukan atasan setiap waktu. Tekanan pekerjaan, pikiran negatif, demotivasi antara sesama pegawai, dan banyak hal lainnya dapat menurunkan tingkat motivasi karyawan.

Tidak ada solusi yang sederhana dalam mengatasi isu motivasi ini. Beragam permasalahan akan terus muncul sebagai tantangan bagi perusahaan dalam memotivasi para karyawannya. Namun, berikut adalah beberapa tips singkat untuk perusahaan agar dapat memotivasi karyawannya.

Pertama; atasan harus memberikan arahan yang jelas sehingga karyawan tidak akan kebingungan. Jika karyawan tidak tahu apa saja yang harus dikerjakan, maka bagaimana karyawan tersebut bisa termotivasi?

Taktik harian perlu diarahkan oleh atasan untuk karyawan bisa bekerja sesuai dengan strategi perusahaan. Atasan harus mampu menyusun dan mengelola aktivitas yang harus dilakukan karyawan untuk memenuhi tujuan perusahaan.

Jika arahan dari sang atasan kurang jelas, karyawan akan menunda-nunda pekerjaan karena bingung dalam melaksanakan tugas apa yang selanjutnya mesti dilaksanakan dengan segera. Seorang karyawan yang bingung akan tidak termotivasi untuk bekerja.

Maka dari itu, seorang atasan yang baik adalah atasan yang tegas dalam memberikan arahan, mengingatkan prioritas, dan menetapkan tujuan dengan urutan prosedur kerja yang jelas bagi para karyawannya.

Tips yang kedua; karyawan harus mengetahui secara kongkrit apa target yang diharapkan perusahaan kepadanya. Karyawan mesti berfokus pada apa yang bisa diraihnya daripada ketakutan-ketakutannya.

Misalnya, jika perusahaan memberikan target penjualan yang tinggi kepada seorang sales person, maka dia harus fokus pada apa yang dia bisa lakukan semaksimal mungkin untuk mencapai target tersebut. Dan jangan berfokus pada ketakutan akan kegagalan dalam mencapai target tersebut atau ketakutan akan penolakan oleh prospek.

Sales person tersebut akan lebih termotivasi jika dia berfokus pada berapa banyak telpon dan presentasi kepada prospek yang dia bisa lakukan. Tentunya sebanyak-banyaknya yang dia bisa dalam sehari.

Jika dalam sehari maksimal dia bisa menelpon atau presentasi kepada 10 orang maka dia harus lakukan itu tanpa perlu memikirkan kegagalan atau penolakan. Setiap hari 10 kali (dalam contoh ini). Tidak lupa juga untuk selalu memperbaiki kualitas pembicaraan di telpon dan mutu presentasinya semaksimal mungkin.

Dengan selalu memikirkan tujuan yang positif seperti jumlah pasti yang bisa diusahakan/dikerjakan daripada ketakutan akan hal yang tak pasti seperti kegagalan, maka semangat bekerja karyawan akan selalu berkobar. Karyawan menjadi termotivasi tinggi.

Tips ketiga adalah; menjaga tingkat motivasi karyawan dengan menjaga tingkat keyakinannya dalam menyelesaikan pekerjaannya sesuai arahan dan target yang telah diberikan atasan.

Hal ini dilakukan dengan memberikan fasilitas, sarana dan prasarana yang mendukung pekerjaan sang karyawan. Perusahaan harus mempersenjatai karyawan dengan perangkat dan peralatan yang memadai. Motivasi karyawan akan terjun bebas jika karyawan merasa terhambat dengan dukungan yang kurang dari perusahaan.

Keyakinan karyawan juga dijaga dengan memberikan tugas-tugas yang sesuai dengan keahliannya. Tugas-tugas yang cukup menantang sehingga tidak membosankan tapi juga tidak terlalu sulit sehingga mustahil dikerjakan dengan tingkat keahlian yang dimiliki oleh karyawan.

Praktik pengelolaan SDM perusahaan yang terbaik adalah dengan menempatkan karyawan sesuai dengan tingkat keahliannya. Selanjutnya setelah menempatkan karyawan pada posisi kerja atau jabatan yang tepat, tetapkanlah sasaran-sasaran kerja yang tidak terlalu mudah tetapi akan mengembangkan penguasaan keahlian sang karyawan.

Pekerjaan yang membosankan akan menurunkan tingkat motivasi karyawan. Sedangkan pekerjaan yang terkesan terlalu sulit akan meniadakan motivasi karyawan tersebut. Tingkat tantangan yang optimal sesuai dengan keahlian yang dimiliki akan menciptakan suatu kondisi ideal dalam bekerja yang disebut dengan teori flow.

Maka, sesuaikanlah pekerjaan karyawan agar selalu menantang bagi keahliannya namun tidak berat membebani mentalnya. Sehingga karyawan akan memasuki kondisi flow, dimana waktu tidak terasa karena karyawan menjadi termotivasi dan berkonsentrasi penuh pada pekerjaannya. Dalam kondisi ini, kinerja yang dihasilkan akan menjadi sangat produktif.

Dan, terakhir; jangan lupa agar membuat karyawan bersyukur dan bangga bekerja di dalam perusahaan yang selalu memberikan pengakuan serta penghargaan. Ciptakan sistem remunerasi yang adil, bonus yang proporsional, kemajuan karir yang bagus berkat pelatihan yang memadai. Jangan lupa juga untuk mencukupi kebutuhan asuransi, pensiun, serta fasilitas pinjaman untuk karyawan.

Sebagai tambahan; buatlah keadaan yang menyenangkan di kantor, adakan acara yang bersifat kekeluargaan serta menyehatkan, kegiatan yang membuat karyawan merasa bermakna bagi lingkungan, dan yang terpenting adalah membangun hubungan kerja yang harmonis antara bawahan dengan atasan. Tanamkan kepedulian pribadi yang personal karena mayoritas karyawan merasa jatuh motivasinya dan ingin pindah pekerjaan, akibat relasi yang kurang baik dengan atasannya. Istilahnya: benci sama bos 🙂

Baca juga:
Motivasi Kerja Karyawan dan Tipe Motivator
Kebosanan = Musuh Motivasi Karyawan
Faktor ‘X’ pada Motivasi Pegawai
Cara Memberi Motivasi Pegawai

Siasat Motivasi Karyawan: Hawthorne Effect

Hawthorne Works adalah kawasan industri di Cicero, Illinois yang dibangun oleh perusahaan manufaktur besar; Western Electric, di tahun 1905 dan beroperasi hingga 1983 di area sekitar Chicago, Amerika Serikat. Di tempat inilah beberapa studi industri diadakan untuk meneliti para pekerja dalam jangka waktu yang lama.

Satu riset yang terkenal dilakukan kepada 20 ribu karyawan Western Electric selama 10 tahun oleh seratusan pakar dan ilmuwan dari Universitas Harvard. Beragam variabel diteliti untuk menemukan faktor yang menentukan motivasi karyawan dan tingkat produktivitas perusahaan.

Efek Hawthorne ditemukan ketika para karyawan yang diberikan berbagai variabel mengalami tingkat produktivitas yang serupa dengan kelompok kontrol yang tidak dirubah variabel dan input baru dalam bekerja. Perubahan pada faktor eksternal diluar faktor sosial tidak terlalu berpengaruh secara signifikan pada produktivitas kedua jenis kelompok.

Efek Hawthorne menemukan bahwa para pekerja tidak terlalu melonjak motivasinya dengan faktor-faktor eksternal seperti perbaikan lingkungan kerja. Pada penelitian selanjutnya diukur pengaruh skema insentif seperti kenaikan gaji terhadap kinerja pribadi. Hasilnya, produktivitas malah menurun akibat tekanan sosial dan ketakutan karyawan bahwa manajemen akan menurunkan insentif jika standar produktivitas secara umum meningkat.

Ini merupakan sebuah fenomena manajemen yang tak terduga…

Hawthorne effect menyatakan bahwa motivasi karyawan lebih ditentukan oleh emosi dan interaksi sosial daripada perbaikan kondisi kerja dan insentif berupa uang tambahan. Riset hasil inisiatif Elton Mayo ini menjadi pondasi dari studi psikologi industri selanjutnya.

Hawthorne effect memang masih diragukan oleh segelintir peneliti, namun hasil studi yang ditemukan dalam efek ini terus dikembangkan oleh beragam riset selanjutnya. Teori-teori motivasi modern selanjutnya terinspirasi berdasarkan efek Hawthorne ini seperti Hersberg, Maslow dengan piramidanya, McGregor (Teori XY), Peters & Waterman, dan seterusnya.

Perubahan paradigma harus dilaksanakan jika perusahaan ingin memahami dan bisa memaksimalkan motivasi karyawan menjadi pendorong produktivitasnya. Manajemen mesti mengerti bahwa karyawan tidak bisa dikendalikan dengan kompensasi serta fasilitas semata, namun pemberdayaan karyawan menjadi faktor penting untuk peningkatan kinerja.

Budaya kerja yang mengedepankan nilai-nilai manusiawi, bahwa karyawan bukan sekedar mesin produksi semata sebaiknya diterapkan oleh perusahaan manapun yang mengejar laba/keuntungan. Interaksi dalam kelompok, komunikasi dan pengaruh sosial, serta faktor-faktor internal yang menghargai emosi karyawan adalah elemen-elemen inti dalam menyusun kebijakan perusahaan.

Pemberdayaan dan pengembangan karyawan adalah kata kunci yang sakral dalam manajemen sumber daya manusia. Pengakuan, employee engagement, dan perbaikan kualitas serta kompetensi karyawan adalah siasat utama dalam meningkatkan motivasi karyawan.

Baca juga:
2 Faktor Motivasi
Teori Motivasi dari Hati
7 Faktor Kunci Motivasi Karyawan
Motivasi Karyawan: Pendekatan Tradisional dan Modern
Meningkatkan Kepuasan Kerja untuk Motivasi Karyawan

Motivasi Karyawan: Pendekatan Tradisional dan Modern

Pendekatan tradisional untuk motivasi karyawan dimulai dengan asumsi bahwa karyawan bersifat pasif-reaktif. Karyawan dianggap tidak memiliki keinginan untuk berinisiatif dan perlu pegarahan dalam pekerjaan mereka. Maka dari itu, perusahaan menggunakan insentif dan ancaman untuk memotivasi karyawannya.

Dan dalam pendekatan tradisional ini, antara perencanaan kerja dan eksekusi pekerjaannya terdapat batas yang tegas. Para eksekutif atau karyawan di level manajemen adalah para perencananya. Sedangkan para karyawan yang berada di bawah manajemen adalah pelaksana. Mereka mencapai tujuan manajerial dengan cara yang sudah direncanakan terlebih dahulu.

Hal inilah yang memudarkan perasaan bertanggung jawab karyawan sehingga menurunkan tingkat produktivitas. Perasaan bertanggung jawab ini menentukan determinasi diri karyawan dalam melakukan pekerjaannya.

Dengan kata lain, semangat kerja atau motivasi diperkuat oleh perasaan bertanggung jawab, serta rasa kepemilikan karyawan terhadap pekerjaannya. Dan determinasi diri dengan rasa kepemilikan saling terkait, biasa disebut dengan istilah keterlibatan karyawan, atau: employee engagement.

Banyak penelitian dari dampak pendekatan tradisional ini menunjukkan bahwa karyawan merasa dikendalikan, kehilangan keterlibatan yang mendalam pada pekerjaannya. Akibatnya, karyawan merasa kurang puas dan stres.

Perusahaan dapat memotivasi kinerja karyawan menggunakan pendekatan tradisional ini, tetapi produktivitas menjadi rendah tanpa adanya perasaan keterlibatan. Insentif, penghargaan, ancaman, dan pengawasan yang ketat kurang memadai bagi karyawan untuk merasakan employee engagement dan bekerja secara proaktif.

Teori employee engagement ini menjadi teori motivasi karyawan dengan pendekatan yang modern yang banyak digunakan di beberapa perusahaan maju dan yang sedang berkembang. Teori ini berfokus pada determinasi diri, emosi kepribadian, dan psikologi perilaku karyawan.

Pada intinya ada tiga kebutuhan psikologis karyawan: otonomi, kompetensi, dan koneksi dengan orang lain. Jadi dengan menggunakan tiga kebutuhan psikologis karyawan, perusahaan bisa memotivasi karyawan dengan mendorong inisiatif  dan determinasi diri dalam pekerjaannya.

Pendekatan modern ini bukan berarti membuang metode  yang ada di dalam pendekatan tradisional. Perusahaan harus memenuhi kebutuhan finansial yang cukup yang sesuai sebagai imbalan kerja, infrastruktur berupa saran dan fasilitas yang mendukung pekerjaan, serta peraturan yang jelas bagi para karyawannya. Perusahaan juga tetap menetapkan tujuan, tenggat waktu, kebijakan, dan prosedur kerja yang standar.

Namun komunikasi kepada karyawan harus menggunakan cara-cara yang mendukung rasa determinasi diri dan employee engagement demi produktivitas yang tinggi. Selain itu, karyawan juga mesti dilibatkan dalam pencarian ide dan diberikan fleksibilitas dalam memikirkan apa yang harus dilakukan bagi karyawan untuk memenuhi tujuan yang telah ditetapkan oleh perusahaannya.

Manajer tetap perlu mengarahkan tentang apa yang harus dikerjakan dan diraih oleh para karyawannya tapi bukan tentang bagaimana cara mengerjakannya secara kaku.

Karyawan perlu berperan secara lebih partisipatif dalam tahap perencanaan dan lebih proaktif dalam tahap eksekusi yang mengimplementasi rencana kerja manajemen pada perusahaannya.

Dengan begini, perusahaan bisa mendapatkan keunggulan lebih dari beragam perspektif yang disumbangkan oleh para karyawannya serta dapat mengeksplorasi nilai-nilai yang dianut oleh para karyawannya. Hubungan industrial akan terjalin secara lebih mendalamdengan mengakui nilai-nilai serta menciptakan suatu budaya yang menghargai inisiatif dan determinasi diri.

Manajemen perlu meminimalisir tekanan dan kendali yang mengekang karyawan secara ketat. Karyawan membutuhkan otonomi terhadap pekerjaannya sehingga bisa meningkatkan rasa kepemilikan yang pada akhirnya akan menaikkan tingkat produktivitas kerjanya.

Selain kebutuhan otonomi karyawan, perusahaan harus memperhatikan kebutuhan kompetensi dan keterkaitan karyawan dengan mengidentifikasi tantangan yang dihadapi karyawan dalam mencapai tujuannya dan membantu peningkatan kompetensi karyawan dengan pelatihan atau pendidikan.

Perusahaan juga perlu mendukung kebutuhan akan keterkaitan dengan mendorong koneksi interpersonal yang positif antar karyawan. Perusahaan bersama jajaran manajernya bisa secara rutin menyiapkan kesempatan yang mendukung kebersamaan dan hubungan yang dekat di antara para karyawannya.

Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa saat karyawan merasa didukung untuk memenuhi kebutuhan psikologinya, karyawan jadi lebih produktif, lebih semangat dan kecemasannya berkurang, lebih optimis dan bersemangat, dsb. Kesehatan psikologis, fisik, dan sosial karyawan juga menjadi lebih baik dan terjaga.

Perusahaan yang mendukung otonomi karyawan, membantu peningkatan kompetensi kerja, dan membina koneksi yang erat, akan memiliki karyawan yang loyal, rajin, dan termotivasi tinggi. Karyawan akan memandang perusahaan tempatnya bekerja sebagai satu bagian penting dari kehidupannya.

Sudah banyak riset yang menguji dan membuktikan konsep-konsep motivasi dengan pendekatan modern ini. Edward L. Deci dan Richard M. Ryan adalah beberapa peneliti yang menemukan bahwa; jika perusahaan mendukung dalam memenuhi kebutuhan dasar dan psikologis para karyawannya, maka kinerja akan semakin meningkat. Mereka menyebut konsep ini dengan istilah teori determinasi diri.

Teori determinasi diri ini memberikan dampak positif pada produktivitas perusahaan dengan cara meningkatkan rasa kepuasan kerja dan kesejahteraan karyawan, serta menurunkan kecemasan dan keluhan fisik. Perusahaan yang memenuhi kebutuhan psikologis para karyawannya ini terbukti dapat meningkatkan rasa kepercayaan diri dan keterlibatan dalam pekerjaan.

Karyawan yang merasa puas dan terlibat; melaporkan tingkat depresi dan kecemasan yang lebih rendah sehingga karyawan tersebut bisa berkonstribusi dengan motivasi yang maksimal. Dan perusahaan akan diuntungkan dengan produktivitas berkinerja tinggi dari para karyawannya yang terpuaskan ini.

Ini adalah keuntungan bersama; a win-win solution.

Baca juga:
Tehnik Motivasi Intrinsik: Teori Drive, Daniel Pink dan Edward Deci
Beberapa Ide Motivasi Karyawan
Cara Memotivasi Karyawan
Cara Memberi Motivasi Pegawai