Tehnik Motivasi Intrinsik: Teori Drive, Daniel Pink dan Edward Deci

by @rezawismail

Usaha yang gigih, bukan kecerdasan atau kekuatan, adalah kunci untuk membuka potensi diri kita. -Winston Churcill

Pada tahun 1949, sebuah eksperimen untuk meneliti teori motivasi dilakukan oleh seorang peneliti bernama Harry F. Harlow. Riset tersebut mengungkapkan suatu motivasi yang mendorong primata yang sedang diteliti untuk menyelesaikan sebuah puzzle sederhana.

Dalam obervasi ini, para primata semakin bersemangat menyelesaikan puzzle walau tanpa imbalan seperti makanan, minuman, stimulasi seksual, atau kebutuhan lainnya. Mereka termotivasi sendiri secara intrinsik untuk menjadi lebih ahli dalam menyelesaikan puzzle walau tanpa insentif eksternal. Teori motivasi intrinsik mulai diperkenalkan.

Sayangnya pada waktu itu, teori ini sangatlah kontroversial dan diabaikan sampai tahun 1969. Di tahun tersebut, Edward Deci tertarik untuk mengadakan penelitian lanjutan di Universitas Carnegie-Mellon dan menguji-cobakan teori motivasi intrinsik ini kepada manusia.

Dalam penelitiannya, dua kelompok partisipan diberikan puzzle dengan beragam instruksi yang harus dikerjakan sebanyak 3 sesi selama satu jam dan memakan waktu hingga 3 hari. Pada hari pertama, kedua kelompok memiliki tingkat motivasi yang relatif sama. Di hari kedua, satu kelompok diinformasikan akan diberikan insentif uang dan kelompok ini menjadi lebih termotivasi daripada kelompok yang tidak dibayar.

Namun, ketika di hari ketiga diinformasikan bahwa tidak akan ada pemberian imbalan, kelompok yang sebelumnya menerima imbalan tersebut menjadi terdemotivasi, kurang semangat untuk menyelesaikan puzzle-nya. Dan kelompok yang tidak menerima uang sejak hari pertama malah semakin termotivasi, bersemangat dalam mengerjakan puzzle-nya secara lebih cepat dan lebih baik.

Ternyata, reward eksternal seperti uang hanya memberikan motivasi dalam jangka pendek selama insentifnya dibayarkan. Imbalan berupa uang seperti gaji dan upah hanya memotivasi sejauh apa yang diminta. Insentif eksternal memang menciptakan kepatuhan tapi tidak mendorong kontribusi yang lebih bernilai. Para pekerja bayaran tidak termotivasi untuk memberikan hasil yang terbaik. Orang menjadi kurang kreatif dan inovatif dalam jangka panjang.

Imbalan moneter bisa menjadi senjata makan tuan, berbalik menjadi demotivator, jika pekerja tersebut merasa bahwa uang yang diterimanya dinilai kurang. Uang hanya memotivasi orang untuk mengerjakan aktivitas yang rutin dan tanpa perlu pengembangan dengan kreativitas serta inovasi yang baru. Inisiatif karyawan menjadi sangat tergantung pada tingkat kepuasannya terhadap gajinya dan motivasinya menjadi semakin menurun seiring waktu.

Dalam kisah fiktif Tom Saywer, ditemukan istilah Saywer Effect; yaitu ketika satu pekerjaan (dalam cerita tersebut: mengecat) dilakukan atas dasar imbalan semata, maka pekerjaan itu terasa membebani dan sulit untuk termotivasi secara konstan. Lalu beberapa karakter di dalam kisah fiksi tersebut membuat pekerjaan mengecat menjadi sebuah permainan untuk menjadi jago dalam mengecat. Dan akhirnya pekerjaan mengecat diselesaikan dengan semangat.

Mereka yang berfokus pada penguasaan keahlian daripada imbalan akan lebih bersemangat dalam pekerjaannya. Fokus pada perbaikan diri dan pengembangan kecakapan ini akan membuat motivasi tetap tinggi dalam jangka panjang. Penguasaan keahlian atau Mastery adalah salah satu faktor motivasi yang berasal dari dalam diri sendiri. Motivasi intrinsik.

Daniel Pink dalam bukunya; Drive, memaparkan tiga faktor dalam teori motivasi intrinsik. Ketiganya adalah: Mastery atau penguasaan keahlian, Autonomy atau kemandirian, dan Purpose atau tujuan yang bermakna. Ketiganya harus dimiliki oleh seseorang yang ingin bekerja dengan semangat konstan dan motivasi tinggi.

Manajemen perusahaan mesti mengelola ketiga faktor ini agar dapat secara optimal memotivasi karyawannya selain dengan gaji dan tunjangan. Individu juga bisa mengatur dirinya agar menjadi pribadi yang produktif dengan memperhatikan ketiga faktor motivasi intrinsik ini dalam aktivitasnya.

Mastery atau penguasaan keahlian berarti para karyawan diberikan peluang untuk mengembangkan dirinya. Pekerjaan yang diberikan harus cukup menantang namun tidak terlalu mustahil. Tugas-tugas yang terlalu mudah akan menciptakan kebosanan dan tidak membuat keahlian seorang pekerja meningkat. Sedangkan tugas-tugas yang sedikit lebih sulit akan memacu pengembangan keahlian dan memicu suatu kondisi yang disebut Flow.

Flow adalah keadaan dimana kita bisa bekerja dengan menggunakan segala potensi dan keahlian kita secara maksimal sehingga waktu mengalir tanpa terasa. Mental seeorang yang sedang dalam status Flow akan sangat terfokus dalam aktivitas yang sedang dikerjakannya.

Kesuksesan kegiatan yang dilakukan dalam momen Flow diraih secara alami karena energi, emosi, dan pikiran menjadi lebih positif. Studi oleh psikolog Mihaly Csikzentmihalyi telah membuktikan teori Flow ini. Dengan Flow, kinerja puncak akan mudah didapatkan yang akan memberikan tingkat produktivitas tinggi.

Selain Flow, Mastery didapatkan dengan mindset yang tidak kaku. Paradigma berpikir yang berkembang dan menginginkan kemajuan. Jangan pernah menganggap bahwa kemampuan kita terbatas secara genetik dan tidak memiliki potensi untuk berkembang. Pengembangan kepakaran suatu keahlian harus dipersepsikan sebagai sebuah kemungkinan yang bisa dicapai.

Penguasaan keahlian atau Mastery secara faktual diperoleh dengan berlatih. Secara statistik, suatu keahlian akan dikuasai dengan optimal jika telah dilatih atau dikerjakan selama 10 ribu jam. Faktanya: peningkatan jam terbang dan hasrat untuk menjadi ahli adalah elemen penting dalam memotivasi diri.

Autonomy atau kemandirian diberikan perusahaan kepada para karyawannya dalam bentuk kebijakan yang flekibel. Prosedur kerja yang tidak terlalu mengekang dan memberikan kebebasan untuk berinovasi serta menjadi kreatif. Perasaan tertekan karena tidak memiliki kendali akan mendemotivasi seseorang.

Pemberian wewenang dan kontrol akan meningkatkan motivasi secara intrinsik. Pembatasan yang ketat dan larangan-larangan justru akan menimbulkan perlawanan dan membuat pekerjaan menjadi tidak produktif. Solusi yang kreatif dan inovasi untuk bekerja secara lebih efektif serta efisien akan didapatkan dengan kemandirian pekerja yang diberikan kebebasan yang bertanggung jawab.

Purpose atau penetapan tujuan yang bermakna akan saya bahas dalam tulisan yang lain agar pemaparannya lebih detail. Namun, inilah faktor terpenting dalam teori motivasi intrinsik. Perusahaan yang memprioritaskan penanaman tujuan yang utama kepada para karyawannya akan mendapatkan tingkat produktivitas serta loyalitas yang tinggi.

Individu yang memiliki Purpose atau tujuan yang bermakna bagi dirinya akan secara otomatis termotivasi. Purpose memberikan arti penting dalam suatu aktivitas menjadi layak diperjuangkan. Semangat juang inilah yang akan memotivasi seseorang dalam bekerja. Purpose adalah bahan bakar utama dalam mengobarkan api motivasi.

Baca juga:
Teori Motivasi dari Hati
2 Faktor Motivasi
Tehnik Motivasi Douglas McGregor: Teori X, Y, dan Z
Motivasi Karyawan: Pendekatan Tradisional dan Modern