Tips Motivasi

Tips-Tips Motivasi dari dan untuk Reza Wahyu

Tips Motivasi Saat Gagal

Kegagalan adalah salah satu penyebab stres. Saat stres, banyak orang berusaha bangkit kembali dan mencari motivasi agar tidak berputus asa akibat kegagalannya.

Reaksi yang umum yang sering dilakukan orang ketika gagal adalah: menjadi emosional seperti menyalahkan diri sendiri, pengalihan pikiran atau pelarian, penolakan atau pengingkaran diri, penggunaan alkohol atau obat-obatan, pelampiasan amarah dan menuding kesalahan orang lain, menarik diri atau menyendiri, dan sebagainya. Kebanyakan reaksi ini tidak efektif dan malah bersifat negatif.

Tehnik yang paling efektif untuk memotivasi diri agar bangkit kembali dari kegagalan sebenarnya adalah ikhlas menerima kegagalan dan belajar dari kegagalan tersebut.

Banyak profesional seperti psikolog, menggunakan tehnik-tehnik psikologis seperti penerimaan dan reframing, yaitu pemaknaan ulang peristiwa dengan sudut pandang yang lebih positif. Paradigma berpikir diubah agar kegagalan dipersepsikan sebagai sebuah pembelajaran yang berharga. Kegagalan malah bisa menjadi sesuatu yang bisa disyukuri. Contohnya pada kalimat: Masih untung…

Dan tips terbaik berdasarkan riset terkini untuk motivasi saat gagal adalah dengan humor dan tawa.

Para peneliti sudah menemukan hubungan antara humor dengan stres dan kesembuhan. Humor dan tawa menjadi obat yang mujarab dalam melawan penyakit yang disebabkan oleh stres. Bahkan para pekerjanya pun (yang bekerja di bidang medis seperti para perawat) bisa terus termotivasi merawat orang-orang yang sekarat dengan humor.

Para manajer yang humoris adalah manajer yang efektif dalam mengelola karyawan. Penelitian membuktikan, humor memberikan kekuatan untuk menghadapi beragam permasalahan, mengkondisikan pikiran agar kreatif, dan memberikan kepuasan kerja. Humor dan tawa juga menyempurnakan komunikasi dengan memberikan rasa kedekatan secara intim, rasa kekompakan dan rasa saling percaya.

Maka, humor dan tawa selain mampu meredakan stres akibat kegagalan juga bisa mempengaruhi orang lain atau kelompok lewat komunikasi humoris yang memberikan keakraban.

Jadi, pelajarilah humor dan tawa lebih serius. Lihatlah tontonan yang lucu, dengarkan lawakan, bacalah kisah komedi, dan cari serta ceritakan lelucon. Tapi jangan sampai berlebihan, jangan menyinggung orang lain dengan humor yang kasar. Lebih baik belajar menertawakan diri sendiri dan pada akhirnya kita akan bisa menertawakan kegagalan kita. Demi kesuksesan di masa depan!

7 Faktor Kunci Motivasi Karyawan

Motivasi karyawan mempengaruhi kinerja karyawan dalam berkontribusi kepada perusahaan. Karyawan yang termotivasi tinggi adalah karyawan yang produktif. Dan produktivitas adalah faktor kunci dalam kesuksesan suatu perusahaan.

Maka dari itu, perusahaan harus memiliki strategi yang tepat untuk meningkatkan motivasi karyawan. Suatu strategi sistematis yang menyeluruh yang tidak hanya memberikan penghargaan secara konsisten kepada karyawan yang berprestasi namun juga melingkupi beberapa faktor lainnya.

Ada 7 faktor kunci dalam menyusun strategi memotivasi karyawan, yaitu: kompensasi, inspirasi, kepuasan, pengembangan, otonomi, pengakuan, dan penghargaan.

1. Kompensasi

Tentunya, semua karyawan di dalam perusahaan membutuhkan uang untuk setidaknya memenuhi kebutuhan pokoknya. Aspek terpenting dalam strategi ini adalah rasa kepantasan dan persepsi keadilan. Jangan sampai terjadi kesenjangan dan kecemburuan sosial antar karyawan.

Bentuk-bentuk kompensasi kepada karyawan bisa berupa upah atau gaji dan kenaikannya, bonus, komisi atau insentif berdasarkan kinerja, pembagian profit, opsi kepemilikan saham, mobil, dan sebagainya.

2. Inspirasi

Karyawan yang terinspirasi adalah karyawan yang memahami visi dan misi karyawan. Pemahaman ini harus datang dari kepemimpinan yang menginspirasi. Keteladanan seorang pemimpin dan arahannya dalam menetapkan tujuan akan menginspirasi karyawan serta membuatnya termotivasi.

Seorang pemimpin harus memiliki tujuan yang jelas dengan sasaran-sasaran yang terukur. Dan hal ini harus dikomunikasikan oleh sang pemimpin dengan antusias serta bersemangat tinggi. Perusahaan yang ingin unggul dalam persaingan harus bisa melahirkan pemimpin-pemimpin yang inspirasional.

3. Kepuasan

Seperti yang pernah saya tulis di artikel sebelumnya, kepuasan kerja karyawan pasti akan meroketkan motivasinya. Dan sebaliknya, ketidakpuasan karyawan akan menjadi bencana dalam suatu perusahaan.

Perusahaan yang ingin selalu mendapatkan keuntungan harus menciptakan lingkungan kerja yang menarik dan mempertahankan orang-orang yang berkeahlian tinggi. Cara menjaga loyalitas karyawan yang kompeten adalah dengan selalu menjaga kepuasan karyawan tersebut.

4. Pengembangan

Karyawan akan menjadi semakin termotivasi dan loyal kepada perusahaan jika dia meyakini dia bisa mengembangkan dirinya di dalam perusahaan tersebut.

Bentuk pengembangan diri karyawan yang bisa difasilitasi oleh perusahaan bisa berupa: gambaran jalur karir yang berpeluang untuk dijabat di masa depan serta peningkatan keahlian dan kompetensi lewat program-program pendidikan seperti training, kursus, dan sebagainya.

5. Otonomi

Cara tercepat untuk menjatuhkan motivasi karyawan adalah dengan membatasi dirinya dengan segala peraturan yang ketat dan kaku. Demotivasi karyawan juga akan terjadi jika dia tidak diberikan kebebasan yang cukup untuk mengekspresikan ide dan pemikirannya.

Otonomi adalah fleksibilitas yang diberikan perusahaan kepada karyawan agar tetap termotivasi dan bersemangat dalam pekerjaannya. Otonomi berarti karyawan diberikan kesempatan untuk memberikan masukan dalam menciptakan suatu kebijakan atau keputusan, karyawan diberikan wewenang dalam batas tertentu untuk tetap bisa kreatif dan berinovasi dalam pekerjaannya, serta karyawan tersebut diberikan peluang untuk menjalin kerjasama dan bersosialisasi dengan sesama rekannya, bawahan serta atasannya.

Karyawan akan merasa dipercaya oleh perusahaan dan akan merasa bertanggung jawab dalam melaksanakan pekerjaannya. Perasaan bertanggung jawab dan dipercaya akan menjaga semangat bekerja sang karyawan.

6. Pengakuan

Selain uang, secara psikologis, seorang karyawan menginginkan pengakuan yang memadai akan hasil kinerjanya. Upaya dalam memotivasi pegawai akan menjadi sangat efektif dengan pengakuan karena tidak membutuhkan biaya yang besar.

Beberapa karyawan akan termotivasi untuk melihat namanya tertulis di sebuah piagam, tergantung di dinding, di dalam majalah perusahaan, atau disebutkan di dalam suatu seremoni. Perusahaan bisa memilih tema seperti karyawan yang paling rajin, karyawan yang mencapai target, tingkat absen, ketepatan tanpa terlambat, tanpa kecelakaan atau kesalahan kerja, dan seterusnya.

7. Penghargaan

Para manajer terkadang mensabotase motivasi karyawan dengan tidak memberikan penghargaan atas hasil kinerja dan perilaku yang positif dari para karyawannya. Dan akhirnya, para karyawan menjadi tidak tahu apakah mereka telah berhasil melakukan pekerjaannya dengan baik atau tidak.

Seringkali manajemen malah lebih cepat dalam menginformasikan kesalahan daripada memberi penghargaan secara khusus dalam suatu tugas atau pekerjaan tertentu.

Penghargaan untuk memotivasi karyawan harus diberikan secara tulus, jangan terdengar seperti pujian yang tak berdasar atau gombal. Ketika memberikan penghargaaan kepada karyawannya, para manajer harus lebih mendetail, spesifik pada suatu tugas tertentu dan ada konteksnya.

Jangan memberikan penghargaan secara umum saja dan tidak bersifat pribadi. Seorang karyawan akan menjadi bersemangat jika dia dihargai sebagai seorang pribadi bukan hanya sekedar alat atau aset perusahaan. Penghargaan juga akan meningkatkan optimisme karyawan sehingga dia lebih termotivasi dalam mengejar target pekerjaannya.

Eksekusi Ketujuh Faktor Kunci

Ketujuh faktor kunci dalam memotivasi karyawan ini harus diimplementasikan ke dalam suatu sistem di dalam perusahaan. Dan perusahaan harus memiliki metode dan perangkat yang menjamin pengaplikasian ketujuh faktor motivasi ini di setiap unit kerjanya.

Perencanaan dan eksekusinya harus disusun dalam suatu prosedur yang wajib dijalankan oleh para manajer. Fungsi pengawasan dan evaluasi secara berkala perlu diterapkan oleh pimpinan dalam menilai efektivitas upaya-upaya manajer dalam memotivasi karyawan berdasarkan ketujuh faktor kunci ini.