Emosi: Bahan Bakar Motivasi

by @rezawismail

Emosi adalah bahan bakar untuk motivasi. Motivasi berarti motif untuk beraksi, dan emosi menyediakan motif itu. Emosi berasal dari ego diri yang bereaksi terhadap pemikiran yang menginterpretasi peristiwa atau kejadian.

Kita memerlukan motivasi yang tinggi untuk mengerjakan sesuatu demi pencapaian tujuan yang kita inginkan atau telah ditetapkan sebelumnya dengan penuh semangat. Caranya adalah dengan mengelola emosi.

Pengelolaan emosi dimulai dari observasi. Segala peristiwa atau kejadian, seperti tindakan dan perkataan orang kain kepada kita, jangan langsung direspons. Beri waktu untuk jeda sejenak dan perhatikan pemikiran kita memproses suatu cerita. Cerita bukanlah realita, seberapun kita kita ingin mempercayainya.

Dan cerita di otak kita, selalu mampu untuk diberikan perspektif yang positif. Sudut pandang yang lebih baik untuk menguatkan motivasi diri. Misalnya kesulitan dianggap sebagai tantangan atau ujian. Ejekan dilihat sebagai kritik atau kembangkan rasa empati dan mengasihani orang yang berkata-kata kurang terpuji.

Jika emosi kita sukar dikendalikan, kita bisa melepaskan dan membiarkan emosi itu eksis. Namun, kita tetap jangan reaktif dan langsung menindaklanjuti emosi itu. Kadar emosi akan menurun seiring waktu. Seiring waktu, kita juga bisa membingkai ulang kejadian atau pemikiran yang mendasari emosi tersebut agar lebih suportif. Kalau emosi itu masih bertahan berarti kita harus relakan, maafkan, dan terima saja.

Maka dari itu, sebelum emosi kita membesar dan sulit dibendung, kita dapat berlatih mengenali bibit-bibit emosi sejak dini. Latihannya adalah dengan mengamati dan mengendalikan nafas. Bernafas, seperti emosi, terjadi secara otomatis. Tapi kita bisa mengambil alih kontrol dari nafas kita. Walaupun di awal-awal latihan, kita hanya bisa menyadari nafas kita hanya untuk beberapa menit saja lalu larut kembali dengan beragam pikiran dan pengalihan perhatian.

Pusatkan perhatian pada nafas dan segala rasa di badan. Coba kendalikan nafas dengan menarik dan menghembuskan udara secara perlahan. Kontrol tubuh kita pada posisi optimal dan jangan membungkuk. Lemaskan segala bentuk ketegangan dan berkonsentrasilah pada relaksasi.

Semakin baik kita berlatih nafas dan semakin lama bisa menyadari nafas, maka kita bisa mentransfer keahlian itu kepada pengendalian emosi. Dan emosi yang terkuat adalah cinta. Kita bisa belajar mengkultivasi rasa cinta dengan mengasihi sesama. Mencoba lebih peduli dan berempati (tidak hanya sekedar simpati).

Mulailah dengan mudah, visualisasi kan seseorang yang mudah untuk dicintai, seperti bayi dan kekasih hati. Atau binatang kesayangan. Bayangkan jika mereka menderita dan pikirkan bentuk-bentuk kesusahan apa yang dihadapinya. Kemudian kita bisa berdoa atau menciptakan harapan yang baik, berikan rasa kasih sayang dengan kepedulian berdasarkan rasa cinta.

Latihan ini dilanjutkan dengan menumbuhkembangkan perasaan cinta pada orang atau situasi yang netral, lalu dilanjutkan dengan orang atau keadaan yang tidak disukai. Cobalah mensyukuri hari dan orang-orang yang kita temui. Timbulkan rasa sayang maka hati akan senang. Kebahagiaan muncul dari kepedulian dan ego yang berkurang.

Lalu kita bisa menggunakan perasaan cinta yang kuat ini sebagai motivasi tinggi. Bekerja dan mencari nafkah demi orang-orang tercinta. Semangat!