Tips Motivasi

Focusing on Happiness

Month: April, 2013

Menciptakan Komitmen Kerja yang Berkualitas dari Karyawan

Amy Arnsten adalah seorang profesor di bidang ilmu neuroscience di Universitas Yale. Dia mempelajari pengaruh respons emosional dari otonomi diri terhadap fungsi kognitif. Yaitu persepsi bahwa seseorang merasa dirinya kehilangan kontrol akan juga membuat penurunan dalam kompetensi pikiran.

Contoh sederhananya, bila seorang manajer mengatur para karyawannya dengan otonomi yang sangat terbatas. Misalnya dengan mendiktekan tugas-tugas tanpa memberikan ruang untuk berinovasi, maka para karyawan yang merasakan kurangnya rasa kontrol dirinya, akan menjadi tidak terlalu produktif.

Pusat kendali emosi di dalam otak orang yang merasa tidak bebas berkarya, apakah itu nyata atau hanya persepsinya saja, akan menurunkan kemampuan fungsi berpikir di level tertentu.

Jadi, jika perusahaan menginginkan hasil kinerja yang berkualitas dengan komitmen yang tinggi dari para karyawan, sebaiknya penetapan tujuan atau target dideskripsikan cukup dengan garis-garis besarnya saja.

Baca entri selengkapnya »

Cara Sederhana Berbahagia

Ketidakbahagiaan adalah salah satu hal yang menurunkan motivasi. Stres yang berlebihan dapat menghambat kinerja dan produktivitas, bahkan membawa penyakit. Statistik menunjukkan sebanyak 69 persen orang dewasa yang stres memiliki gejala fisik yang negatif akibat stres.

Kita bisa mengurangi stres serta meningkatkan semangat kerja dengan beberapa tips sederhana:

Berhenti membanding-bandingkan diri dengan orang lain.

Seringkali jiwa kompetitif kita termotivasi oleh perbandingan dan ingin mengalahkan orang lain. Tapi, penelitian di bidang psikologi terkini menunjukkan bahwa orang yang kurang berbahagia lebih suka membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Bahwa; kepercayaan dirinya tergantung dari apakah dia lebih baik atau kalah dari orang lain.

Walaupun kita bisa saja lebih unggul dari orang-orang di sekitar kita, tetap saja akan ada orang lain yang setidaknya selangkah lebih maju dari kita; di dalam pekerjaan, pasangan, karir, keuangan, keberuntungan, dll.

Sedangkan orang yang bahagia, tidak terlalu memikirkan perbandingan dirinya dengan orang lain. Orang yang berbahagia adalah mereka yang cukup dengan umpan balik yang positif, bahwa mereka lebih baik dari kinerja mereka sendiri di masa lalu.

Membanding-bandingkan diri dengan orang lain hanya akan membawa ketidakbahagiaan. Sumber: businessinsider.com

Berolahraga secara rutin.

Olah raga yang rutin akan meningkatkan kadar serotonin, salah satu neurotransmitter atau hormon yang menigkatkan mood untuk berbahagia. Juga, olah raga yang intensif akan membuat otak memproduksi hormon dophamine yang membuat kita senang, riang-gembira.

Baca entri selengkapnya »

Belajar dari Kesalahan

Kesalahan, selain memberikan tantangan dan rasa yang tidak enak, bisa juga memberikan peluang bagi diri kita untuk bertumbuh dan berkembang. Selama kita bisa mengolahnya.

Kesalahan akan menguatkan karakter kita dan meningkatkan kemampuan jika kita mau belajar dan memandangnya dengan pola pikir yang terbuka untuk pembelajaran.

Bahkan kesalahan yang fatal pun bisa menjadi kunci kesuksesan di masa depan. Beberapa penemu dan innovator mendapatkan keberhasilan dari kesalahan-kesalahan yang dibuat. Para programmer komputer dapat menyempurnakan aplikasi buatannya dengan mencari-cari kesalahan dan memperbaikinya.

Jadi, kesalahan bisa menjadi kesempatan yang berguna. Tapi masalahnya, kecenderungan manusiawi kita ketika melakukan kesalahan adalah dengan merenunginya berlarut-larut dan menyalahkan diri sendiri atau orang lain, menyalahkan lingkungan, sistem, prosedur, dan sebagainya.

Akhirnya, orang yang terus berkubang dengan kesalahannya akan tidak produktif. Kinerjanya menjadi lambat atau menunda-nunda untuk bertindak. Kebanyakan penyesalan atau sikap yang terlalu perfeksionis jika melakukan kesalah, akan membawa kita pada emosi yang negative seperti amarah, rasa kesal, frustasi, stress, hingga depresi dan berputus asa.

Solusi Transformasi Persepsi

Baca entri selengkapnya »

Bekerja dengan Produktivitas Tinggi secara Efektif

Berapa banyak waktu kita dihabiskan secara berlebihan? Yang jelas, banyak yang kita tak sadari. Bahwa perhatian kita seringkali teralihkan, dan pikiran kita terus berputar-putar sebelum melakukan sesuatu yang produktif.

Contohnya; seorang karyawan yang menjual waktunya dengan memberikan tenaga dan keahliannya untuk uang gaji yang diberikan perusahaan secara berkala. Berapa banyak waktunya yang benar-benar efektif dalam memberikan kontribusi dan berapa banyak yang tersia-siakan?

Misalnya dengan rapat-rapat yang berkepanjangan, mengolah email dan informasi lainnya yang seperti tanpa habis-habis. Melakukan peracakapan yang lebih banyak menyita perhatian kepada hal-hal yang kurang penting namun mendesak, atau bahkan malah sekedar meladeni pembicaraan yang tak berguna.
Baca entri selengkapnya »

Mengingat Abraham Maslow: Teori Motivasi Hirarki Kebutuhan

Tanggal 1 April 1908 adalah hari kelahiran Abraham Maslow, Bapak Psikologi Modern yang terkenal dengan teori hirarki kebutuhan manusianya.

Maslow membagi hirarki kebutuhan manusia menjadi 5 tingkatan: fisik/bertahan hidup, keamanan, cinta dan kebersamaan, penghargaan, serta aktualisasi diri. Kesemuanya adalah kebutuhan yang mendorong manusia untuk bertindak. Motivasi yang menggerakkan.

Maslow merupakan penggerak awal gerakan psikologi positif, yang berfokus pada potensi pikiran manusia untuk mengembangkan diri. Daripada hanya sekedar ilmu yang menangani permasalahan batiniah diri manusia. Revolusi dari psikologi positif membawa teori motivasi yang dapat diaplikasikan kepada kondisi manusia masa kini.

Di jaman modern ini, banyak pekerja yang awalnya mencari nafkah demi menghidupi diri dan keluarga telah dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan mendasar dalam hirarki Maslow seperti sandang-pangan-papan dan beranjak ke kebutuhan yang lebih tinggi lagi.

Sekarang, para karyawan di beberapa perusahaan telah merasa mampu memenuhi beragam kebutuhan tapi banyak yang merasa malas dan kurang termotivasi. Hal ini disebabkan ada kebutuhan-kebutuhan yang belum sepenuhnya terpenuhi. Dan menurut teori hirarki kebutuhan Abraham Maslow, ada tingkat kebutuhan tertinggi yang sering tidak disadari, apalagi terpenuhi: yaitu kebutuhan untuk aktualisasi diri.

Baca entri selengkapnya »