Mengenal Politik Kantor

Ketika pertama kali saya bekerja setelah lulus kuliah, saya memiliki pemikiran yang lugu. Pandangan saya yang polos berpendapat bahwa untuk bisa sukses dan karir kita menjadi maju, kita cukup bekerja di kantor dengan sebaik-baiknya. Saya anggap semua karyawan juga begitu. Berusaha yang terbaik demi keberhasilan perusahaan dan karyawan yang paling berkontribusi akan mendapatkan penilaian yang adil sehingga diberikan kesempatan terbesar untuk bertumbuh.

Ternyata tidak sesederhana itu. Ada yang namanya politik kantor. Dimana para karyawan tidak hanya bekerja demi kepentingan perusahaan akan tetapi juga memiliki agenda pribadi demi kepentingan masing-masing. Dan seringkali akan terjadi persekutuan semacam aliansi yang saling memanfaatkan dengan transaksi non-keuangan. Pertukaran kebutuhan masing-masing dengan penawaran yang personal, hingga upaya-upaya yang kurang beretika bisa saja dilakukan.

Begitu juga penjegalan dan taktik kotor seperti fitnah dengan persengkokolan yang saling merugikan. Banyak kesepakatan di balik layar yang dijalankan secara diam-diam dan pertemanan yang tidak terlalu tulus. Politik kantor bisa menjadi senjata yang memberikan kelebihan tapi juga bisa merugikan kalau kita kalah posisi dan terus menjadi korban yang polos.

Maka dari itu, semua karyawan harus mewaspadai peta sosial yang menaungi politik kantor. Setiap karyawan mesti memanfaatkan wawasan akan politik kantor serta meningkatkan posisi dalam peta perpolitikan kantornya supaya dapat memaksimalkan keuntungan bagi dirinya sendiri selain berupaya untuk menjaga kredibilitas sebagai karyawan yang produktif. Politik kantor adalah sisi lain dari perangkat yang tidak resmi dari perusahaan tapi bisa menjadi daya ungkit bagi kesuksesan seorang karyawan.

Hanya sedikit orang suka berurusan dengan politik kantor: kepentingan yang berbenturan bahkan bertentangan, prioritas dan promosi yang tidak selaras dengan tujuan pribadi serta beragam masalah lainnya yang menjangkiti geopolik-sosial di kantor. Walaupun begitu, kita sebaiknya tidak menghindari politik kantor. Sebaliknya, kita perlu mengelolanya secara optimal bagi kebaikan kita juga. Jangan sampai malah keluguan kita menjadi kelemahan yang merusak peluang kita untuk maju.

Baca entri selengkapnya »

Iklan