Berpikir Positif (bagian pertama)

by @rezawismail

image

Pikiran adalah penentu realitas kita. Pikiran adalah penerjemah dari kenyataan yang ada, persepsi kita tergantung dari pikiran-pikiran kita. Pikiran yang berulang-ulang dan khususnya yang tertanam di alam bawah sadar sejak lama, akan menjadi keyakinan dan dasar dari tindakan kita.

Tapi pikiran bukanlah diri kita sendiri. Pikiran adalah alat, perlengkapan tapi bukan diri kita itu sendiri. Diri kita adalah kesadaran, yang menyadari dan menggunakan pikiran-pikiran yang muncul. Bahaya jika kita mengidentifikasikan pikiran sebagai diri kita sendiri.

Misalnya pikiran bahwa negatif yang mencemaskan dan berulang-ulang, lalu tertanam sejak orang tua kita mengatakan sesuatu yang menambah negativitasnya. Kita akan mempercayai pikiran buruk itu dan menyaring realita berdasarkan pikiran itu. Hasilnya kita akan memilih (secara sadar maupun tak sadar) untuk melihat hal-hal yang sejalan dengan pikiran buruk tersebut.

Dan parahnya lagi, pikiran negatif dapat menarik kejadian yang buruk pula. Oleh karena, kita bisa kehilangan harapan dan malas untuk berusaha. Motivasi dan semangat bertindak secara positif menjadi berkurang, hal ini akan mengurangi kemungkinan keberhasilan.

Nah, untuk perkembangan diri dan masa depan yang lebih baik ada bagusnya kalau kita mulai mengoptimalkan pikiran-pikiran yang muncul, lalu mengarahkannya kepada hal yang positif. Misalnya dengan terus memiliki harapan dan impian, serta berusaha membingkai ulang realita secara positif.

Walaupun kita mengalami pengalaman yang buruk, kita bisa mencoba memandangnya sebagai pelajaran hidup yang berharga. Tak perlu disesali atau menjadi larut dalam kemurungan, cukup petik hikmahnya dan ambil apa yang masih bisa disyukuri.

Berpikir positif bukan berarti menghindari atau menekan pikiran-pikiran negatif yang ada. Melainkan menyadari bahwa pikiran-pikiran negatif itu memang akan selalu ada tapi kita punya kendali diri untuk tetap berusaha secara positif. Berpegang pada prinsip-prinsip yang dimiliki, dan melepaskan diri dari identifikasi diri terhadap pikiran. Ingat-ingatlah, bahwa pikiran kita bukanlah diri kita.

Diri yang yang sejati adalah kesadaran itu sendiri, kesadaran yang menyadari pikiran-pikiran yang muncul baik yang positif maupun yang negatif. Sadari kesadaran ini, dan bertindak adil terhadap diri jika kita memiliki pikiran-pikiran negatif, kita bisa imbangi dengan memunculkan pikiran-pikiran yang positif secara adil.

Maka, berpikir positif apalagi secara berulang-ulang akan menambah energi kita untuk mengusahakan yang terbaik dan menarik masa depan yang lebih baik. Pikiran negatif hanya perlu disadari dan boleh dirasakan, tapi tak perlu ditindaklanjuti kecuali di bingkai ulang dengan perspektif yang positif.

Sedangkan pikiran positif perlu dipelihara dan dibuat subur bertumbuh di dalam kesadaran kita. Cobalah untuk selalu bersyukur, mengafirmasikan harapan atau impian, tetap berbuat baik, dan memvisualisasikan bayangan masa depan yang membahagiakan. Salam bahagia!