Mengenal Politik Kantor

by @rezawismail

Ketika pertama kali saya bekerja setelah lulus kuliah, saya memiliki pemikiran yang lugu. Pandangan saya yang polos berpendapat bahwa untuk bisa sukses dan karir kita menjadi maju, kita cukup bekerja di kantor dengan sebaik-baiknya. Saya anggap semua karyawan juga begitu. Berusaha yang terbaik demi keberhasilan perusahaan dan karyawan yang paling berkontribusi akan mendapatkan penilaian yang adil sehingga diberikan kesempatan terbesar untuk bertumbuh.

Ternyata tidak sesederhana itu. Ada yang namanya politik kantor. Dimana para karyawan tidak hanya bekerja demi kepentingan perusahaan akan tetapi juga memiliki agenda pribadi demi kepentingan masing-masing. Dan seringkali akan terjadi persekutuan semacam aliansi yang saling memanfaatkan dengan transaksi non-keuangan. Pertukaran kebutuhan masing-masing dengan penawaran yang personal, hingga upaya-upaya yang kurang beretika bisa saja dilakukan.

Begitu juga penjegalan dan taktik kotor seperti fitnah dengan persengkokolan yang saling merugikan. Banyak kesepakatan di balik layar yang dijalankan secara diam-diam dan pertemanan yang tidak terlalu tulus. Politik kantor bisa menjadi senjata yang memberikan kelebihan tapi juga bisa merugikan kalau kita kalah posisi dan terus menjadi korban yang polos.

Maka dari itu, semua karyawan harus mewaspadai peta sosial yang menaungi politik kantor. Setiap karyawan mesti memanfaatkan wawasan akan politik kantor serta meningkatkan posisi dalam peta perpolitikan kantornya supaya dapat memaksimalkan keuntungan bagi dirinya sendiri selain berupaya untuk menjaga kredibilitas sebagai karyawan yang produktif. Politik kantor adalah sisi lain dari perangkat yang tidak resmi dari perusahaan tapi bisa menjadi daya ungkit bagi kesuksesan seorang karyawan.

Hanya sedikit orang suka berurusan dengan politik kantor: kepentingan yang berbenturan bahkan bertentangan, prioritas dan promosi yang tidak selaras dengan tujuan pribadi serta beragam masalah lainnya yang menjangkiti geopolik-sosial di kantor. Walaupun begitu, kita sebaiknya tidak menghindari politik kantor. Sebaliknya, kita perlu mengelolanya secara optimal bagi kebaikan kita juga. Jangan sampai malah keluguan kita menjadi kelemahan yang merusak peluang kita untuk maju.

Pertama-tama, kita perlu panduan atau petunjuk-petunjuk dalam menggambarkan peta politik. Hal ini penting dalam bernavigasi dan menjalankan manuver yang berdampak positif bagi kemajuan kita. Mulailah dengan memahami hubungan semua pihak yang terlibat di dalam politik kantor dan memetakan bagaimana mereka terkoneksi. Catatlah sifat interaksi dari masing-masing hubungan dan seberapa kuat koneksi yang terjadi. Serta awasi arah mana yang lebih mendominasi.

Ini akan sangat membantu karyawan dalam menentukan tindakan politis yang tepat serta mencoba untuk membuat perubahan secara etis demi kebaikan diri sendiri. Hal ini bukan berarti malah menjatuhkan orang lain, hanya berusaha memaksimalkan potensi sukses diri sendiri terlebih dahulu. Setelahnya barulah kita juga turut membantu orang lain demi kemajuan perusahaan secara keseluruhan.

Dinamika Interaksi Para Karyawan Sebagai Mahluk Sosial

Dalam dinamika kita berinteraksi dengan orang lain, kita harus membuka diri untuk diskusi. Ketika politik kantor melibatkan beberapa pihak dalam sebuah pengejaran keuntungan pribadi dan kelompok, maka pertentangan dapat terjadi. Untuk mengoptimalkan kompetensi karyawan dalam berpolitik tanpa memecah belah persatuan pekerja dalam perusahaan sebagai sebuah entitas bisnis, dialog yang transparan perlu dilakukan.

Bisa berupa pertemuan formil atau mengundang orang-orang dengan pandangan yang berbeda untuk makan siang. Supaya pihak-pihak yang bersedia berbagi pandangan mendapatkan kesempatan untuk meraih solusi yang saling menguntungkan, tidak ada jalan lain selain berkompromi.

Buatlah rencana untuk membangun keharmonisan, hindari aksi yang merugikan orang lain walau itu bisa menguntungkan diri sendiri. Bersosialisasilah dalam rangka menguatkan relasi dan pengaruh atau karisma. Berikan harapan, lempar humor, sebarkan optimisme, tularkan sikap positif dan berempatilah.

Hal ini dilakukan bukan hanya terhadap mereka yang kira-kira berpengaruh langsung dalam kemajuan karir kita seperti atasan. Sudah teramat jelas kalau kita membutuhkan hubungan yang terjaga dengan baik dengan si bos. Tapi sebagai pemimpin, kita juga dinilai dari kualitas hubungan kita dengan para bawahan dan rekan kerja. Siapa tahu, mereka akan lebih berguna daripada kedekatan kita dengan atasan yang sebenarnya pasti memiliki pergerakan politis juga.

Selanjutnya kita bisa berbicara dengan orang-orang yang memiliki opini yang berbeda dan dekati mereka yang jauh secara kedekatan emosional. Selalu cari cara untuk mengamati dan menjadi pendengar yang baik. Lakukan pendekatan yang tetap santun tapi memiliki agenda tersembunyi untuk memonitor lawan bicara.

Dengan begitu kita akan mampu menilai kekuatan, kelemahan pribadi, kekurangan diri dari orang lain dan seterusnya. Modal pengetahuan karakter ini akan memampukan seorang karyawan untuk berpikir strategis dalam berpolitik di kantor. Ini penting untuk menjalankan beberapa taktik praktis dalam memainkan peran politis sampai ke hirarki sosial yang cukup tinggi, minimal cukup untuk mendapatkan beberapa pendukung.

Akhirnya, pelajari cara untuk meminta orang-orang untuk mendukung kita serta menguasai mereka demi kemajuan bersama tapi utamanya diri kita sendiri terlebih dahulu. Lebarkan sayap persuasi kita dengan mengenal secara mendalam mereka yang buaa memberikan dukungan bagi perkembangan diri kita.

Pahami keunggulan diri dengan membuat kita sebagai karyawan yang melek akan politik kantor bahkan menungganginya demi kesejahteraan keluarga.

Ingat, jangan hanya bekerja dengan rajin tanpa mengenal siapa-siapa yang bisa membantu pertumbuhan kita dan siapa-siapa yang mampu menjatuhkan karir kita. Waspadalah, be smart, dan…

Salam sentosa!