Tips Motivasi

Focusing on Happiness

Month: Februari, 2019

Bunuh Diri Bukan Sekedar Ingin Mati Saja

Tidak semua orang yang berpikir tentang bunuh diri ingin benar-benar mati secara mekanikal.
.
Mati dalam arti fisik; jantung berhenti memompa, otak berhenti beraktivitas, nafas berhenti mengalir.
.
Kebanyakan yang ingin mati bunuh diri karena putus asa itu merasakan suatu emosi yang sangat menekan.
.
Ingin mati karena merasakan beban berat kehidupan, patah hati karena cinta, kesedihan yang tak tertahankan, kehilangan tanpa harapan, rasa buntu, dan beragam perasaan emosional lainnya.
.
Yang ingin dimatikan sebenarnya adalah perasaan yang sangat menyesakkan ini.
.
Dan banyak contoh emosi ini akan lama-lama layu lalu mati sendiri.
.
Misal ingin bunuh diri karena tidak tahan perasaan sakit hati dan cemburu karena seseorang.
.
Namun seiring waktu, jika belum bunuh diri, kekuatan tekanan dari emosi itu berkurang sendiri.
.
Seperti orang yang diputusin pacarnya waktu muda dulu, rasanya ingin mati, tapi setelah tua, perasaan itu sudah mati, dan keinginan bunuh diri hilang.
.
Jadi yang ingin dibunuh bukanlah diri ini, bukanlah ingin menghentikan gerakan jantung, aktivitas otak atau paru-paru, tapi ingin perasaan yang membuat putus asa itu yang mati.
.
Matikan perasaan itu, beri waktu untuk emosi itu memudar, kalau perlu minta bantuan, minimal cari teman.
.
Jangan sendirian, karena kehidupan bukan untuk dihabiskan di dalam ruang isolasi tanpa orang lain.
.
Dunia ini penuh dengan keberadaan, coba bersosialisasi saja, cari interaksi, dan semoga mendapatkan arti.
.
Dengan memiliki arti, hidup jadi lebih berharga untuk dijalani.
.
Dengan memegang makna, semangat untuk terus bertahan dan melanjutkan kehidupan akan semakin dikuatkan.
.
Kebahagian bisa datang dari melupakan diri, merasakan ketakutan tapi tetap terus bergerak dan tidak. berhenti berkomunikasi.
.
Khususnya dengan mereka yang kita cintai dan peduli dengan masalah kita juga, walau mereka sendiri bermasalah.
.
Bersama-sama, kita mampu membunuh emosi yang menghantui itu.
.
Jangan pernah berhenti berharap!

(SOLUSI) Ekonomi dari Anarki Kapitalisme

"The economic anarchy of capitalist society [is] the real source of the evil" -Albert Einstein.

~ Aku yakin hanya ada satu cara untuk menghilangkan kejahatan (‘evil’) ini, yaitu melalui pembentukan ekonomi sosialis, disertai dengan sistem pendidikan yang akan berorientasi pada tujuan sosial. Dalam ekonomi seperti itu, alat-alat produksi dimiliki oleh masyarakat itu sendiri dan digunakan secara terencana. Ekonomi terencana, yang menyesuaikan produksi dengan kebutuhan masyarakat, akan mendistribusikan pekerjaan yang harus dilakukan di antara semua yang mampu bekerja dan akan menjamin mata pencaharian bagi setiap pria, wanita, dan menafkahi anak-anak. Pendidikan ini, selain meningkatkan kapabilitas diri, akan juga bisa mengembangkan rasa tanggung jawab terhadap sesama sebagai pengganti dari pemujaan kekuasaan dan kesuksesan dalam masyarakat kita di jaman edan ini. ~

Tapi kini, itu hanyalah mimpi, mungkin terjadi hanyalah di semesta yang lain yang paralel (parallel universe)
Referensi: James Lavin 2010.

Be Compassionate with Yourself

Berbaik hati lah pada diri Anda sendiri. Jangan hanya memberikan kebaikan kepada sesama, kepada orang lain, namun jangan melupakan teman setia kita yang selalu ada sampai akhir..

Kadang kita malah suka lupa memberikan kasih sayang pada diri sendiri saking seringnya mengeluh, berpikiran negatif, menumpuk kesal dan sesal, atau sekedar marah kurang bersyukur.

Ayo coba rileksasi sejenak, lepaskan stres dan beban kehidupan, untuk sesaat menyadari nafas serta keberadaan diri sendiri yang patut diberikan apresiasi karena oleh-Nya, kita bisa menikmati hidup sampai saat ini.. #kontemplasi #comPASSION

Aturan 5 Detik: Tak Perlu Motivasi Langsung Bisa Eksekusi

Keragu-raguan itu dapat amat sangat melumpuhkan.. Bahkan dalam waktu lima detik pertama setelah memiliki keputusan tapi tidak segera bertindak, status quo atau zona nyaman akan dipertahankan oleh otak kita dengan menciptakan beragam alasan.. Lain kali, jika terbit sebuah ide atau tujuan, jangan berpikir terlalu lama, tak perlu menunggu motivasi tinggi tapi segera bergerak: langsung eksekusi dengan hitungan mundur: 5, 4, 3, 2, 1, GO! #JUSTDOIT #5secondrule #melrobbins #wakeup Sumber: Mel Robbins (The 5 Second Rule: Transform Your Life, Work, and Confidence with Everyday Courage)

Program Ulang Pikiran Anda

Adalah lumrah untuk berpikir negatif, tapi seringkali berpikir negatif ini tidak disadari dan menjadi penghambat kemajuan.

Program pikiran bawah sadar agar lebih positif supaya bisa mencapai sasaran kehidupan atau tujuan dengan lebih mudah.

Segala ketakutan khususnya takut gagal adalah manusiawi, tapi adalah penting untuk mengambil kendali dan lebih proaktif lagi.

Pertama-tama, dimulai dengan sadar diri, untuk selalu rendah hati jangan berasumsi kita sudah tahu segalanya alias ke-pede-an.

Dengarkan saja kata hati dan orang lain, serta terbuka terhadap petunjuk-petunjuk yang ada dengan kemauan untuk belajar.

Pikirkan ulang apa saja kecemasan yang selalu menghantui, lihatlah prospek dibalik kegagalan, ambil langkah yang paling logis.

Ketakutan mesti dihadapi dengan logika, sadar untuk berpikir rasional dan ambil keputusan dengan akal sehat (bukan emosi)

KUNCI; AFIRMASI

Tetaplah mensugesti pikiran bawah sadar dengan rileksasi dan mengulang-ulang kalimat positif, menanamkan keyakinan.

Repetisi afirmasi dalam hati dengan terus mengumpulkan bukti nyata, agar tambah percaya diri dan memberikan kekuatan.

Tetap sabar dan berdoa, sambil terus berusaha dengan membuka diri mau belajar, sadari ketakutan tapi terus maju dengan keyakinan.

Afirmasi akan menjadi siraman air yang terus-menerus membersihkan pikiran dari kotoran ketakutan dan negativitas.

Seiring dengan waktu berjalan, kegagalan akan berkurang dan pikiran-pikiran yang menghambat kemajuan menjadi hilang.