Bunuh Diri Bukan Sekedar Ingin Mati Saja

by @rezawismail

Tidak semua orang yang berpikir tentang bunuh diri ingin benar-benar mati secara mekanikal.
.
Mati dalam arti fisik; jantung berhenti memompa, otak berhenti beraktivitas, nafas berhenti mengalir.
.
Kebanyakan yang ingin mati bunuh diri karena putus asa itu merasakan suatu emosi yang sangat menekan.
.
Ingin mati karena merasakan beban berat kehidupan, patah hati karena cinta, kesedihan yang tak tertahankan, kehilangan tanpa harapan, rasa buntu, dan beragam perasaan emosional lainnya.
.
Yang ingin dimatikan sebenarnya adalah perasaan yang sangat menyesakkan ini.
.
Dan banyak contoh emosi ini akan lama-lama layu lalu mati sendiri.
.
Misal ingin bunuh diri karena tidak tahan perasaan sakit hati dan cemburu karena seseorang.
.
Namun seiring waktu, jika belum bunuh diri, kekuatan tekanan dari emosi itu berkurang sendiri.
.
Seperti orang yang diputusin pacarnya waktu muda dulu, rasanya ingin mati, tapi setelah tua, perasaan itu sudah mati, dan keinginan bunuh diri hilang.
.
Jadi yang ingin dibunuh bukanlah diri ini, bukanlah ingin menghentikan gerakan jantung, aktivitas otak atau paru-paru, tapi ingin perasaan yang membuat putus asa itu yang mati.
.
Matikan perasaan itu, beri waktu untuk emosi itu memudar, kalau perlu minta bantuan, minimal cari teman.
.
Jangan sendirian, karena kehidupan bukan untuk dihabiskan di dalam ruang isolasi tanpa orang lain.
.
Dunia ini penuh dengan keberadaan, coba bersosialisasi saja, cari interaksi, dan semoga mendapatkan arti.
.
Dengan memiliki arti, hidup jadi lebih berharga untuk dijalani.
.
Dengan memegang makna, semangat untuk terus bertahan dan melanjutkan kehidupan akan semakin dikuatkan.
.
Kebahagian bisa datang dari melupakan diri, merasakan ketakutan tapi tetap terus bergerak dan tidak. berhenti berkomunikasi.
.
Khususnya dengan mereka yang kita cintai dan peduli dengan masalah kita juga, walau mereka sendiri bermasalah.
.
Bersama-sama, kita mampu membunuh emosi yang menghantui itu.
.
Jangan pernah berhenti berharap!