Tips Motivasi

Tips-Tips Motivasi dari dan untuk Reza Wahyu

Kategori: motivasi

Pikiran adalah Notifikasi

Banyak orang menganalogikan otak seperti komputer.

Saya akan coba analogi yang berbeda sebagai sarana berbagi paradigma baru.

Yaitu, otak seperti smartphone.

Dan pikiran-pikiran yang muncul adalah seperti notifikasi-notifikasi.

Tidak semua pemikiran atau suara batin yang muncul ditindaklanjuti.

Tindakan atau perbuatan; termasuk omongan atau kata-kata verbal adalah keputusan yang dipilih pengguna otak.

Jadi, sebelum berbicara atau melakukan sesuatu, nilai lah dulu pikiran-pikiran itu,

Apakah memang perlu ditindaklanjuti atau diucapkan, atau cukup dalam hati saja bahkan tak usah dipedulikan lagi.

Sama seperti semua notifikasi di HP tidak semuanya ditindaklanjuti bahkan beberapa hanya diketahui lalu disingkirkan atau silent.

Kita butuh juga momen berdiam itu, aktivasi mode ‘do not disturb’ misal meditasi atau rileksasi seperti tidur saja, tak terpengaruh pikiran-pikiran yang hadir.

Dan dengan RAM memori yang lega, batin yang lapang dapat mengambil keputusan bertindak atau berbicara yang tepat tak impulsif terburu-buru.

Jadi, amati saja pemikiran, itu hanya notifikasi yang bisa berguna bisa juga ngga terlalu urgent!

Bahagia Tahan Lama

Kita sering berasumsi kalau paradigma berpikir menentukan persepsi akan suatu kondisi itu dinilai baik atau buruk,

Jadi sebenarnya pengaruh terbesar akan kesejahteraan mental kita bukanlah dari luar atau eksternal.

Orang memiliki kecenderungan untuk beradaptasi pada hal baru, dan berfokus pada yang sedang akan terjadi adalah kemampuan adaptasi manusia dari jaman dulu.

Tapi kebanyakan, kondisi yang sudah terlewati akan semakin berkurang dampaknya; seperti orang baru menang lotre undian dapat uang banyak atau dapat musibah jadi lumpuh, pada akhirnya lama-kelamaan akan biasa lagi aja.

Hepi atau sengsara itu tak bertahan lama, hanya sebentar lalu berkurang intensitasnya seiring waktu, tahun demi tahun.

Jadi, bagaimana agar kebahagiaan dapat bertahan lama?

Pertama, berasal dari lingkungan sekitar dan sosial, orang-orang yang selama ini dan nanti akan berada dalam lingkaran interaksi.

Juga mengaktualisasikan diri, kemampuan dan keahlian diri disalurkan dalam karya dan menjadi pengejar pertumbuhan personal melewati beragam rintangan.

Jika Anda bertahan dari berbagai kesulitan, maka itu akan menjadi suatu kekuatan dan memperdalam hubungan yang saling membantu.

Dukungan teman dan keluarga memang yang utama tapi tak kalah penting adalah konsep atau citra diri yang lebih realistis, menyesuaikan antara keyakinan dengan kesukaan secara instingtif.

Misal, ingin mengejar karir tapi sebenarnya dalam hati mau juga menghabiskan waktu bersama orang yang diluar pekerjaan, jangan sampai diskrepansi ini melebar.

Harus menjaga keseimbangan, ciptakan koherensi, dengan mencari arti yang merupakan inti emosi yaitu makna kehidupan yang dipegang menjadi suatu prinsip dalam menjalani keseharian.

Lakukanlah yang berarti dan yang dicintai, aktivitas atau pekerjaan yang bisa dinikmati bukan hanya sekedar mencari gaji atau uang tapi merupakan ekspresi dari kreativitas juga jangan lupakan spiritualitas.

Jaga relasi, bersama mereka yang disayangi dan kita pedulikan, jangan mudah menyalahkan dan sabar lalu memaafkan, berinisiatif untuk ambil tanggung jawab dulu, cari kesalahan sendiri dan perbaiki, temukan solusi serta berbuat baik pada sesama.

Kekuatan Rutinitas

Anda ingin menjadi lebih baik bukan?

Walaupun bersyukur dengan keadaan yang ada, tapi kita harus memiliki cita-cita lebih.

Supaya lebih kuat, tambah sehat, ngga mudah sakit, tak perlu menderita secara percuma.

Itu butuh perubahan, dan berubah itu perlu walau kadang menembus kepercayaan diri, artinya walau ragu bisa mencapai tujuan itu tapi masih mungkin dan ternyata bisa didapat!

Yaitu, harus berevolusi dan mengkultivasi diri, fokus pada potensi di masa depan, berlatih terus jadi lebih baik.

Itu butuh kebiasaan baik dan membuang beberapa kebiasaan yang buruk.

Caranya dengan ritual, repetisi, perulangan terus – menerus dengan melawan bosan dan menumpas rasa malas.

Walaupun hanya sebentar, lakukan ritual ritual yang rutin, misal di pagi hari atau sore hari, hormati itu seperti sebuah seremoni, sesuatu yang menjadi prioritas utama harian.

Misal sejak dini, bangun pagi dan berolahraga atau beberes rumah, menyapu halaman, beribadah, menyusun strategi atau sekedar membaca serta berencana makan makanan yang bergizi setiap hari.

Jangan remehkan itu semua, lakukan saja maka pasti akan terjadi perubahan itu.

Mekanisme ritual ini melawan segala hambatan emosi, rintangan pikiran, dan otomatisasi seperti mesin yang efisien.

Bukan berarti jadi robot, tapi tetap manusia, yang menikmati kopi di pagi hari atau ngeteh bareng keluarga di sore hari,

Hebatnya ritual rutin, yang dilakukan terus menerus, dengan kejujuran diri sebagai kuncinya, walau kurang yakin, tapi perubahan itu pasti.

Kalau kita tak melakukan ritual baik maka kebiasaan-kebiasaan buruk akan mengambil alih hidup kita tanpa disadari, kemalasan dan ketakutan akan menguasai diri.

Akhirnya perubahan yang terjadi bukan lebih baik malah lebih buruk!

Ritual harus dipilih, kalau pun tak mau atau malas/bosan dengan yang positif, kebiasaan-kebiasaan lain akan tetap dilakukan, sadar atau tidak disadari, pilihan atau dipilih.

Masalahnya, itu ada rutinitas yang baik ada juga kebiasaan buruk.

Anda bisa memilih yang positif tapi kalau malas dan bosan, yang negatif akan sedikit demi sedikit menggerogoti Anda!

SADAR – LAH