Tips Motivasi

Focusing on Happiness

Kategori: disiplin & manajemen waktu

5 Tehnik Pencapaian Tujuan yang Efektif dan 5 Tehnik yang Tidak Efektif

Ada beragam tehnik yang diajarkan oleh banyak guru motivator untuk mencapai tujuan. Di jaman modern ini, kesuksesan diukur dari pencapaian tujuan kita. Kita memerlukan lebih dari sekedar otot yang yang bertenaga, ketajaman mata, dan refleks yang terlatih untuk mendapatkan sesuatu.

Kita perlu tehnik-tehnik khusus untuk mencapai sasaran-sasaran kita. Namun, manakah dari sekian banyak tehnik pencapaian tujuan yang efektif?

Seorang psikolog, Richard Wiseman (2010), melakukan penelitian dengan ribuan partisipan selama sekitar setahun, untuk mengetahui manakah dari sekian tehnik pencapaian tujuan yang memberikan hasil. Banyak dari partisipan yang gagal dan hanya sekitar 10 % saja yang sukses mencapai tujuannya.

Berikut adalah strategi pencapaian tujuan yang umum digunakan, namun kurang sukses memberikan hasil:

1. Memotivasi diri dengan meneladani orang lain yang sudah sukses.
2. Memikirkan konsekuensi negatif jika tidak mencapai tujuan.
3. Mencoba menekan pikiran negatif yang tidak membantu pencapaian tujuan.
4. Bergantung pada kekuatan kehendak/tekad dai dalam diri sendiri saja.
5. Membayangkan/berfantasi betapa hebatnya hidup setelah berhasil mencapai tujuan.

Ingat, daftar di atas adalah tehnik-tehnik yang sepertinya memang masuk akal namun ternyata kurang efektif. Pada riset yang sama, terdapat beberapa tehnik yang digunakan oleh orang-orang yang sukses mencapai tujuannya.

Tehnik-tehnik yang membawa keberhasilan tersebut adalah:

1. Membuat rencana pencapaian tujuan langkah demi langkah.

Pecahlah tujuan menjadi beberapa sasaran yang kongkrit, terukur dan terjadwal.

2. Memberitahukan orang lain tentang tujuan yang ingin dicapai.

Membuat deklarasi secara publik akan meningkatkan motivasi untuk mencapai tujuan dan menghindari perasaan malu.

3. Memikirkan hal-hal yang positif yang akan terjadi jika tujuan telah tercapai.

Namun hindari berfantasi/membayangkan rasa hebat/hebohnya. Boleh juga dikombinasikan dengan memikirkan konsekuensi negatif yang akan terjadi jika tujuan tidak tercapai (jangan berpikir terpisah, digabungkan dengan memikirkan kekontrasan antara pemikiran positif dan negatifnya).

4. Memberikan reward/imbalan sederhana jika mencapai kemajuan dalam proses pencapaian tujuan.

Imbalan yang kecil di setiap kemajuan dalam proses pencapaian tujuan akan mendorong lebih cepat untuk meraih kesuksesan yang besar.

5. Mencatat kemajuan dalam proses pencapaian tujuan tersebut.

Buatlah jurnal, grafik, atau penggambaran secara tertulis yang mengukur perkembangan yang terjadi selama proses pencapaian tujuan.

Inilah beberapa tehnik pencapaian tujuan yang teruji dan terbukti efektif. Tujuannya sendiri harus ditetapkan secara terfokus. Jangan membuat banyak tujuan dalam waktu yang sama. Juga, buatlah tujuan dalam jangka waktu yang tidak terlalu pendek.

Terakhir, buatlah tujuan yang menginspirasi, tidak terlalu spesifik, namun harus fleksibel serta cukup menantang. Kalau sudah dipecah menjadi beberapa sasaran yang terukur barulah boleh lebih detail, dengan jangka waktu yang pendek, dan realistis untuk dicapai.

Dan untuk mencapai tujuan, seseorang harus menggunakan beberapa perangkat mental seperti komitmen, disiplin-diri, segera memulai satu langkah pertama (Zeigarnik effect), memvisualisasikan prosesnya (bukan hasilnya), menghindari penundaan, fokus/konsentrasi yang kuat tidak terpecah dan terurai, dan membuat rencana antisipasi jika ada halangan-rintangan yang bisa muncul di dalam proses pencapaian tujuan tersebut.

Sampai jumpa di tulisan selanjutnya…

Kesadaran: Kunci Perubahan

Salah satu kunci sukses untuk melakukan perubahan dari diri seseorang adalah dengan meningkatkan dan memanfaatkan kesadarannya.

Kesadaran ibarat cahaya senter yang menerangi, untuk bisa dengan jelas melihat apa-apa yang perlu dirubah.

Kita tidak bisa merubah sesuatu tanpa kita tahu apakah sesuatu itu ada dan memang layak untuk diubah.

Kalau kita menyadari ada sesuatu yang salah atau yang bisa diperbaiki, maka kita bisa melakukan perubahan yang sesuai.

Perubahan memang bisa terasa sulit dan membutuhkan kerja keras.

Merubah kebiasaan yang negatif menjadi disiplin diri yang positif memang membutuhkan kerja keras, namun awal dari inisiatif tersebut dimulai dari kesadaran.

Dan kesadaran adalah kemampuan otak untuk menyingkirkan segala distraksi, seperti emosi, untuk bisa mengamati secara obyektif dan berpikir secara jernih. Inilah yang disebut kesadaran.

Psikolog terkenal yang menginspirasi Stephen Covey sang guru manajemen efektif, adalah Victor Frankl yang pernah mengajarkan bahwa antara stimulus dan respon terdapat kebebasan manusia.

Dalam bukunya: The 7 Habits of Highly Effective People, Covey mengembangkan prinsip ini agar kita menjadi pribadi yang proaktif.

Pribadi proaktif berarti berinisiatif dengan kesadaran untuk merespon stimulus/kejadian apapun dengan aktif sesuai prinsip-prinsip universal. Proaktif bermakna tidak reaktif ataupun pasif.

Apapun bisa terjadi di dalam kehidupan ini, tapi kita bisa memaknainya dengan persepsi yang jernih. Dengan kesadaran tinggi.

Manusia memang bisa menjadi korban takdir yang kejam. Manusia tidak selalu bisa memilih kejadian eksternal namun ia bisa memilih bagaimana menyikapi kejadian eksternal ini. Inilah yang disebut kebebasan manusia untuk memaknai kehidupannya oleh sang psikolog besar, Frankl.

Victor Frankl mengamati dengan mata kepalanya sendiri, saat dia ikut ditangkap dan ditahan oleh Nazi, bagaimana para tahanan berperilaku menghadapi takdir yang kejam. Dengan keadaan tersiksa, beberapa orang berkelakuan seperti babi dan beberapa lainnya bisa seperti nabi.

Ada yang yang ditunjuk menjadi ‘capo’ dan bertindak kejam kepada sesama manusia dan ada yang sukarela membantu sesama tanpa pamrih. Ada yang putus asa lalu menyerah pada nasib dan ada yang terus semangat bertahan sampai akhir. Frankl bisa bertahan sampai dia bebas dari kamp konsentrasi Auschwitz Nazi yang seperti neraka dunia tersebut.

Victor Frankl bisa bertahan hidup dan selamat dari pembantaian massal dengan menyadari bahwa dia memiliki pilihan untuk bereaksi menghadapi stimulus eksternalnya. Stimulus berupa lingkungan yang kejam dan menjatuhkan.

Frankl memilih untuk menyadari potensi besar yang dimiliki manusia. Kekuatan untuk bertahan dari penderitaan. Kekuatan untuk memilih tindakan yang penuh kesadaran. Victor Frankl malah membuat mahakaryanya di tengah-tengah musibah yang dialaminya.

Bukunya yang berjudul Man’s Search for Meaning menjadi salah satu dari 10 buku yang paling berpengaruh menurut Library of Congress di Amerika dan menyumbangkan pencerahan dalam bidang psikologi serta filsafat eksistensialisme.

Ketika ditanya apa resepnya bisa tetap optimis untuk bertahan, Frankl mengungkapkan kecintaannya pada istrinya yang juga ditangkap namun ditempatkan di kamp yang terpisah.

Dia mempertahankan harapan untuk suatu saat di masa depan dia bisa bertemu kembali dengan istrinya. Frankl memaknai arti keberadaannya dengan cinta. Inilah kekuatan cinta.

Apa yang kita bisa pelajari dari kisah Victor Frankl ini? Kita bisa memilih untuk menyerah pada nasib atau terus bertahan dengan memberikan alasan yang berarti dalam perjuangan kita.

Selanjutnya, kita memiliki kekuatan sejati sebagai manusia: mahluk yang berkesadaran.

Kita harus menyadari bahwa kita memiliki kebebasan berperilaku, memilih respon dengan berkesadaran. Kita bisa saja otomatis marah pada orang yang menjatuhkan kita, otomatis depresi pada kegagalan kita, otomatis takut pada tantangan yang ada.

Otomatis disini berarti alamiah, insting, reaksi yang pasif. Namun, kita juga mampu menyadari keotomatisan ini dan berubah. Inilah yang dimaksud sebagai kesadaran sebagai kunci dari perubahan.

Kita harus sadari respon-respon instingtif kita dan merubahnya menjadi respon-respon proaktif penuh pemikiran yang positif. Kita akan dapat berkata dan bertindak terpuji, dengan menyadari pikiran-pikiran kita.

Kita akan bisa memilih perkataan dan tindakan yang paling optimal untuk kesuksesan dan kebahagiaan kita dalam jangka panjang. Kita akan mampu menguasai emosi daripada diperbudaknya. Semua diawali dengan kesadaran.

Bagaimana cara kita bisa melatih dan meningkatkan kesadaran ini? Caranya dengan mulai menyadari nafas. Mulailah sadari nafas yang tadinya otomatis, ternyata bisa dikontrol. Lalu, setelah terbiasa menyadari nafas, kita bisa mulai mencoba menyadari pikiran-pikiran yang melintas di otak kita.

Tidak perlu larut terbawa dan banyak menganalisa setiap pikiran yang hadir, cukup sadari dan amati. Pada akhirnya kita akan bisa menyadari emosi yang biasanya otomatis dan mengendalikannya untuk kesuksesan.

Emosi adalah energi pendorong. Emosi merupakan elemen dasar dari motivasi.

Dan motivasi dimulai dari kesadaran…

Mengasah Gergaji

Kebiasaan nomer 7 dalam buku The 7 Habits of Highly Effective People (Tujuh Kebiasaan Orang-Orang yang Sangat Efektif) karangan Stephen Covey adalah “Mengasah Gergaji.”

Buku ini amatlah bagus, dan seminarnya luar biasa dahsyat! Bacalah atau ikuti seminarnya jika ada kesempatan.

Saya sangat merekomendasikan ketujuh kebiasaan ini untuk menjadi seseorang yang sangat produktif, termotivasi dan efektif dalam pekerjaan. Stephen Covey adalah gurunya para motivator cerdas, dan ketujuh kebiasaan ini telah digunakan secara global di banyak perusahaan.

Sayangnya, banyak perusahaan salah dalam mengartikan istilah ‘Mengasah Gergaji’ ini.

Bagi yang belum tahu atau bahkan belum pernah membaca bukunya, tidak apa-apa. Ketujuh kebiasaan tersebut adalah:

1. Jadilah pribadi yang proaktif
2. Tetapkan target yang jelas di awal
3. Kerjakan sesuai prioritas
4. Selalu memikirkan cara yang saling menguntungkan
5. Berusaha memahami lebih dahulu, baru dimengerti
6. Wujudkan sinergi
7. Selalu menyediakan waktu untuk meningkatkan kemampuan (Mengasah gergaji)

Saya akan menerangkan tujuh kebiasaan ini di tulisan-tulisan mendatang. (Sebenarnya ada satu lagi kebiasaan kedelapan/8th Habit), namun itu ada di bukunya Covey yang lain.

Sekarang, saya ingin menjelaskan banyak kesalahpahaman yang terjadi di dalam menerjemahkan kebiasaan ketujuh ini. Yaitu; Mengasah Gergaji.

Stephen Covey menggunakan analogi seorang penebang pohon yang menggergaji kayu selama beberapa hari secara terus-menerus dan menjadi kurang produktif. Proses memotong yang tanpa henti-hentinya membuat mata gergajinya menjadi semakin tumpul.

Gergaji yang tumpul tidaklah efektif dan produktivitasnya kalah dibandingkan ketika gergajinya masih tajam. Maka dari itu, sang penebang kayu mesti mengasah gergaji.

Dalam prakteknya, banyak orang yang salah dalam memahami analogi ini. Mereka mengartikannya bahwa kita jangan bekerja terlalu keras kalau tidak mau produktivitas kita menurun.

Bahkan, pada umumnya orang dinasehati untuk mengambil istirahat, bahkan pergi berlibur. Memang ada benarnya. Namun, ini bukanlah arti dari istilah: Mengasah Gergaji.

Kalau beristirahat berarti sama saja dengan meletakkan gergajinya. Ketika kita menaruh gergaji yang sudah tumpul untuk beberapa waktu, gergaji itu tetaplah tumpul saat kita ingin memakainya kembali.

Jadi beristirahat tidak membuat kita menjadi lebih produktif, gergajinya tetap tumpul karena tidak diasah. Orang yang efektif dan ingin tetap produktif harus menajamkan mata gergajinya secara berkala. Mengasah gergaji.

Mengasah gergaji sebenarnya adalah sebuah pekerjaan juga; yaitu mengasah. Pikirkanlah bagaimana caranya untuk menajamkan gergaji kehidupanmu. Berikut adalah beberapa ide untuk mengasah gergaji:

1. Berolahraga
2. Memperbaiki diet
3. Mengembangkan diri
4. Membaca, belajar, ikut seminar
5. Mempelajari suatu keahlian baru
6. Me-review dan meng-update tujuan
7. Membaca blog ini 🙂

Memang untuk memotong kayu tidak hanya soal menggergaji dan mengasah gergajinya. Waktu istirahat juga perlu, tapi itu bukanlah arti dari istilah mengasah gergaji.

Sang penebang pohon bisa menjadi lebih produktif dengan mengasah gergaji, mempelajari tehnik menggergaji, berlatih agar lebih kuat, dan belajar bersama pemotong kayu lainnya. Atau meminta orang lain untuk mengasah gergaji.

Lupa untuk mengasah gergaji bisa memberikan perasaan kelelahan. Jika kita hanya menggergaji dan menyelinginya dengan istirahat, produktivitas tetap akan menurun. Kita tetap bekerja keras, namun tidak akan seproduktif dengan yang diperkirakan dengan keadaan gergaji yang sudah mulai tumpul.

Jika kita mengasah gergajinya dengan rutin, kita bisa bekerja secara produktif tanpa merasa kelelahan (karena jika menggunakan gergaji yang tumpul kita bisa merasa sangat kelelahan dalam memotong, gergajinya menjadi tidak efektif). Maka dari itu, adalah penting untuk tidak lupa mengasah gergaji.

Beristirahat dari pekerjaan sehari-dua hari memang bisa membantu, sedikit. Akan tetapi, mengikuti seminar, membaca buku yang inspirasional, atau berdiskusi aktif dengan seorang motivator mampu memberikan keuntungan yang lebih besar.

Pada umumnya, orang-orang akan tampak sangat termotivasi selama beberapa minggu setelah mengikuti seminar motivasi. Seminar memang bukan sarana untuk beristirahat yang pasif, itu adalah sebuah kegiatan yang aktif, tapi bisa memberikan peningkatan energi dan motivasi.

Inilah yang disebut dengan mengasah gergaji.

Bagaimana dengan mata gergaji kamu? Keahlian, wawasan, pikiran, kesehatan tubuh, hubungan sosial, motivasi, komitmen, emosi, intuisi, dll. Kesemuanya masih tajam? Jika tidak, manakah yang tumpul, dan apa yang bisa dilakukan untuk mengasahnya?

(Hubungi saya untuk informasi lebih lanjut di email: brandneweja@gmail.com)

*Tulisan ini terinspirasi oleh situs: www.stevepavlina.com

Takut Gagal = Tidak Sukses

Perasaan takut, khususnya ketakutan akan kegagalan, sungguh melumpuhkan. Kita menjadi sangat enggan untuk berusaha. Padahal kegagalan yang utama bukanlah gagal mencapai tujuan, namun gagal karena tidak mencoba.

Ketakutan memberikan excuse/alasan yang melemahkan agar kita tidak perlu mengusahakan keberhasilan kita. Takut gagal membisiki bahwa kita tidak akan pernah gagal kalau kita tidak repot-repot berusaha.

Tapi ini berarti kita juga tidak akan pernah meraih kesuksesan, dan bisa dikatakan sebagai kegagalan mutlak.

Statistik membuktikan; 8 dari 10 orang menyatakan lebih menyesali tindakan yang tidak pernah dilakukan daripada tindakan yang telah dilakukan. Oleh karena, jika kita telah berbuat sesuatu dan salah, kita bisa belajar dari kesalahan itu.

Tidak ada tindakan gagal yang sia-sia karena kita bisa lebih tahu bagaimana kira-kira tindakan yang benar. Namun jika kita gagal bertindak dan sama sekali tidak mencoba berusaha, kita tidak belajar apa-apa dan tidak bergerak kemana-mana. Padahal, untuk maju kita mesti bergerak, melangkah ke depan.

Bayangkan jika seorang bayi menyerah ketika jatuh dan tidak mau belajar berjalan. Dia tidak akan bisa berjalan. Namun kita bisa lihat, seorang bayi yang sedang belajar berjalan tidak takut salah dan terus mencoba.

Dia bisa berjalan miring-miring, mencoba maju dan terjatuh, terus berusaha meski gagal beberapa kali, namun pada akhirnya dia akan berhasil berjalan. Kegagalan yang sejati adalah tidak mau mencoba dari awalnya.

Sebenarnya banyak faktor yang menyebabkan mengapa beberapa orang sudah menyerah sebelum maju ke medan perang/tidak berani mencoba. Ketakutan akan kegagalan terbentuk dari keyakinan dan pola pikir yang salah.

Pikiran yang tidak terlatih dengan benar akan menganggap setiap kesempatan mengandung resiko. Pikiran yang lemah akan terbawa arus ketakutan yang bisa datang dari alam bawah sadar atau dari psyche orang-orang sekitar.

Banyak orang tanpa disadari ingin orang lain gagal seperti mereka yang tidak meraih kesuksesan. Mereka merendahkan potensi keberhasilan seseorang karena mereka sendiri memiliki 1001 alasan untuk gagal.

Hati-hati terhadap orang-orang di sekitar kamu!

Persepsi dan belief system/keyakinan seseorang juga bisa mempengaruhi mental takut mencoba ini. Sebuah eksperimen dilakukan di sebuah sekolah. Para muridnya dikelompokkan ke dalam beberapa jenis kelas: kelas unggulan, kelas regular, dan kelas yang kurang cerdas.

Tidak ada kriteria khusus untuk seorang murid diklasifikasikan ke dalam salah satu jenis kelas. Akan tetapi hal yang menarik diamati adalah kelakukan pada guru dan murid-muridnya. Guru-guru yang mempersepsikan para murid di kelas unggulan sebagai murid yang cerdas dan persepsi itu membuat mereka saling bekerja sama untuk berprestasi.

Sementara para siswa di kelas yang kurang cerdas lebih gampang menyerah dan pesimis. Pelajaran yang sulit akan dianggap selamanya sulit karena keyakinan mereka bahwa mereka adalah murid-murid yang bodoh.

Pelajaran yang sama dipelajari oleh murid-murid di kelas yang cerdas dengan mental pemenang. Mereka optimis bahwa mereka pasti akan bisa menguasai pelajaran yang sulit tersebut dan tidak akan berhenti mencoba sampai bisa.

Para guru pun memberikan dukungan yang kuat karena persepsi mereka mengatakan bahwa murid-murid di kelas unggulan ini lebih potensial untuk sukses. Hati-hati terhadap persepsi dan keyakinan kamu!

Jadi kesimpulannya: penyesalan terbesar datang dari perbuatan yang tidak dilakukan daripada perbuatan yang telah dilakukan. Kegagalan mutlak bukanlah melakukan upaya-upaya yang tidak berhasil melainkan tidak berupaya sama sekali.

Dan kita harus menguatkan persepsi serta belief system/keyakinan, ini adalah tantangan yang akan saya bahas di tulisan-tulisan mendatang.

Ingat: terus berharap dan miliki mental unggulan!

Sukses dalam 21 Hari

Dalam tulisan saya sebelumnya, saya katakan: untuk maju kita perlu berubah.

Untuk sukses dalam perubahan itu, kita mesti membuat perubahannya menjadi permanen. Menjadi kebiasaan. Lalu dibudayakan. Dan itu perlu waktu.

Salah satu tips yang sering dibagikan para motivator adalah mendisiplinkan diri untuk melakukan perubahan dengan kebiasaan baru selama beberapa waktu tertentu. Ada yang bilang 21 hari ada juga yang mengatakan 30 hari.

Secara ilmiah, otak akan menguatkan koneksi baru antara sinapsis-nya (sel-sel saraf di otak) selama beberapa waktu tertentu. Yang awalnya terasa sulit dan berat akan menjadi mudah karena terbiasa.

Bayangkan ketika seseorang telah belajar mengemudikan mobil atau bersepeda. Kemampuan telah diperoleh tetapi masih kikuk. Karena itu otak butuh pembiasaan, pengalaman, agar menjadi semi-otomatis, masuk ke memori jangka panjang dan alam bawah sadar.

Mulanya terasa kaku dan aneh, setelah kurang-lebih sebulan mencoba, barulah rada lancar kita berkendaranya. Makanya, walau sudah bertahun-tahun saya tidak naik sepeda, beberapa waktu yang lalu saya membeli sepeda, saya dapat dengan lancar menaikinya.

Oleh karena, memiliki kemampuan yang ter-install di memori saraf otak dari kecil dahulu.

Tips ini mirip seperti konsep free-trial dalam marketing. Seringkali setelah mencoba dan keenakan, kita jadi keterusan membeli. Entah itu keanggotaan gym atau software. Kita tahu untuk memulai kebiasaan baru sangatlah berat, apalagi mempertahankannya selama beberapa minggu.

Namun setelah kita melewati fase kelembaman/inersia tersebut, maka momentum perubahan akan membantu kita untuk terus maju dengan kebiasaan yang sudah tidak baru ini. Ini selaras dengan hukum fisika Newtownian.

Memang untuk membayangkan perubahan yang permanen terasa agak susah. Mengubah diri agar berolahraga setiap hari, membiasakan makan makanan yang sehat, berhenti merokok, dll.

Sepertinya terlalu berat untuk mengubah diri dan bertahan setiap hari seumur hidupmu. Perubahan yang permanen itu menakutkan. Kalau kita takut, amygdala di otak primitif kita (sistem limbik dan otak tengah) akan mengambil alih kekuasaan berpikir dari otak modern kita yang kreatif (frontal/neo-cortex).

Makanya; ketakutan itu melumpuhkan.

Tapi bagaimana kalau kita bayangkan untuk berubah hanya sementara saja: 21 hari misalnya, lalu kita bebas kembali ke kebiasaan kita yang lama. Lumayan tidak terlalu mengerikan bukan?

Pikirkan saja itu seperti mencoba-coba hal yang baru dan kita bisa hitung mundur hari menuju kebebasan jika kita tidak mau melanjutkan kebiasaan baru ini nantinya. Tidak terlalu rugi untuk ambil waktu sebulan dalam hidup kamu mencoba berolahraga misalnya, lalu kembali malas-malasan.

Malah, kamu bisa mendapatkan beberapa keuntungan dan wawasan baru. Setidaknya kamu pernah mencoba hal yang baru.

Komitmen untuk sukses menjalankan perubahan/kebiasaan baru ini memang membutuhkan kedisiplinan, tapi tidak sesulit mengubah diri secara permanen. Disiplin untuk 21-30 hari saja tidak terlalu berat.

Buat saja kebiasaan barunya tidak terlalu sulit. Dibikin ringan-ringan saja kalau perlu. Yang penting konsisten, baru setelah 21 hari ditingkatkan intensitasnya. Contohnya: berolahraga selama 5 menit saja setiap harinya.

Lalu pikirkan nilai-nilai atau alasan yang bermakna mengapa kita mau berubah. Dan cari teman yang mau mengingatkan kita setiap harinya selama masa percobaan ini saja. Kalau perlu, umumkan niat kamu ke publik.

Disiplin 21 hari ini akan memiliki tingkat kesuksesan yang tinggi jadinya.

Nah, jika kita telah berhasil menjalani perubahan baru selama 21 hari, apa yang akan terjadi? Kita bisa memperpanjangnya menjadi genap 30 hari atau sebulan dan memperoleh banyak wawasan untuk keputusan jangka panjang.

Jika kita ingin membuat perubahannya menjadi permanen, hal itu akan lebih mudah karena otak telah memprosesnya sebagai kebiasaan harian. Ingatan jangka panjang. Kalau bisa, kita coba jalankan 21 hari lagi atau tambah menjadi sebulan-2 bulan lagi.

Keuntungan lainnya adalah, kita bisa meng-uninstall-nya jika kita merasa tidak cocok dengan kebiasaan baru ini. Tapi ingat; jangan bilang kita tidak bisa berhenti merokok atau tidak mampu berolahraga setiap hari jika kita tidak pernah mencobanya minimal selama 21 hari.

Biasanya sih, kalau sudah 21 hari menjalankannya terasa tanggung jika tidak dilanjutkan. Dan pada saat menjalankannya, akan terasa sayang jika ada yang bolong, toh hanya untuk 21 hari saja kan 😉

Sepanjang tahun 2011, beberapa kebiasaan baru berhasil saya install secara permanen; menggunakan tips free-trial 21 hari ini. Salah satunya; saya berhasil diet rendah kalori dan turun berat badan sebanyak 10 kg.

Saya mulai dengan tidak makan nasi putih dan gula serta karbohidrat lainnya selama 3 minggu (awalnya). Saat memulai memang terasa aneh, lemas, dan sulit. Namun setelah beberapa minggu, semuanya berjalan otomatis.

Setelah 21 hari saya mencoba makan nasi tetapi tidak bisa banyak-banyak dan akhirnya saya coba perpanjang menjadi 30 hari dan melihat apa yang akan terjadi. Akhirnya, saya malah keterusan sampai sekarang tidak makan nasi.

Saya memiliki alasan kuat dibalik perubahan ini. Saya memiliki seorang ibu yang menderita sakit diabetes/gula darah tinggi. Sebelumnya juga saya telah memeriksakan diri dan hasilnya: kadar trigliserida di dalam darah saya cukup tinggi. Kata dokter, itu awal dari penyakit diabetes.

Saya pun harus mengurangi konsumsi kalori dari gula dan karbohidrat. Awalnya terdengar mustahil malah, bukan sulit lagi! Tapi akhirnya saya sukses berubah menggunakan tips ‘Coba dalam 21 Hari’ ini. Semoga kamu juga bisa, selamat mencoba!