Tips Motivasi

Focusing on Happiness

Kategori: disiplin & manajemen waktu

Tehnik Motivasi Douglas McGregor: Teori X, Y, dan Z

Di dunia ini tidak ada yang bisa menggantikan keutamaan dari kegigihan; bukan bakat karena sudah banyak orang berbakat yang tidak sukses, bukan pula kejeniusan karena orang jenius yang gagal sudah biasa, juga bukan pendidikan karena kini pengangguran yang berpendidikan sudah menjadi peristiwa yang umum. Kegigihan dan kesungguhan hati sungguh tak tergantikan. -Calvin Coolidge

Douglas McGregor adalah seorang psikolog sosial dari Amerika yang mengemukakan teori XY dalam bidang motivasi yang menjadi prinsip dasar dalam mengembangkan pengelolaan SDM (sumber daya manusia) modern, menentukan pola komunikasi organisasi, menyusun panduan manajemen perilaku, mengelola interaksi sosial karyawan dan dalam menciptakan budaya perusahaan.

Teori X dan Teori Y menjabarkan dua model motivasi yang saling berkebalikan, sedangkan teori Z adalah pengembangan dari teori hirarki motivasi oleh Abraham Maslow dan ilmu manajemen oleh Dr. W. Edwards Demming. Teori Z ini dikembangkan oleh Dr. William Ouchi.

Ketiga teori ini penting diketahui oleh bagian HRD (human resources management) di setiap perusahaan untuk mengoptimalkan pengelolaan motivasi SDM atau pola komunikasi dari manajemen kepada para karyawannya.

Ketiga teori ini menciptakan kerangka untuk paradigma berpikir para manajer dalam mempersepsikan bagaimana para karyawan berperilaku dan bagaimana cara meningkatkan motivasi karyawan yang mendorong perilaku tersebut.

Perspektif yang diperoleh dari penerapan teori-teori ini akan memberikan pemahaman yang secara signifikan akan mempengaruhi pendekatan manajemen perusahaan kepada para karyawannya secara lebih efektif.

Aplikasi dari teori XYZ akan menentukan gaya kepemimpinan yang seperti apa yang cocok dengan kondisi mental karyawan. Indikasi dari kesesuaian cara pemimpin dalam memotivasi karyawannya akan terlihat sebagai peningkatan kinerja dan produktivitas.

Maka dari itu, teori XY dan Z menjadi pondasi penting dalam menentukan tehnik motivasi yang tepat bagi para karyawan.

Teori X

McGregor memaparkan teori X dengan asumsi awal bahwa karyawan itu secara alamiah bersifat malas atau tidak menyukai pekerjaannya dan harus dimotivasi dengan gaya kepemimpinan yang otoriter.

Manajemen harus terus aktif dan otoritatif dalam mengendalikan karyawan. Asumsi selain karyawan tidak suka bekerja adalah karyawan tidak punya ambisi sehingga ingin selalu menghindari tanggung jawab maka dari itu perlu diarahkan, dipaksa, bahkan diancam dengan hukuman, dan dikontrol dalam pengawasan yang ketat.

Biasanya teori X ini kurang efektif dalam praktek manajemen modern, namun hirarki kewenangan yang tersentralisasi tak bisa dihindari jika perusahaannya memiliki karyawan yang sangat banyak dengan skala produksi yang besar dan pekerjaan yang berulang-ulang tanpa keahlian tinggi seperti di pabrik-pabrik.

Tapi teori X ini tetap harus digunakan khususnya pada beberapa jenis karyawan yang memiliki karakter yang lebih termotivasi secara efektif dan memberikan hasil kinerja yang lebih baik dengan gaya kepemimpinan yang otoritatif.

Para pemimpin dan manajer perusahaan yang ingin mempraktekkan teori X harus menyatakan dengan tegas aturan, arahan, ultimatum dengan pemberian imbalan dan hukuman untuk para karyawannya. Teori ini mengutamakan kepatuhan sebagai faktor pendorong kinerja karyawan.

Teori X berfokus pada pengawasan dalam pelaksanaan prosedur standar kerja, pengendalian aktivitas, delegasi tugas dan perintah dengan deadline serta memastikan hasil akhir yang diberikan karyawan harus sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.

Teori Y

McGregor menyatakan dalam teori Y, para karyawan diasumsikan sebagai orang yang berambisi, mau menerima tanggung jawab bahkan mencari wewenang agar bisa bekerja secara optimal dengan potensi diri yang dimiliki. Para karyawan dianggap secara alamiah menikmati pekerjaan serta termotivasi sendiri berprestasi.

Gaya kepemimpinan dalam teori Y adalah manajemen parsitipatif yang mengundang diskusi dan keterlibatan karyawan dalam membuat keputusan dan memberikan peluang untuk mengembangkan keahlian serta karir sang karyawan atau promosi.

Kreativitas, intelektualitas, otonomi, dan keahlian yang dimiliki karyawan diapresiasi oleh manajemen yang menggunakan teori Y dalam tehnik motivasinya. Walaupun begitu, teori Y tetap memanfaatkan penilaian untuk remunerasi, insentif, dan pemberian sanksi jika diperlukan.

Teori Y mendorong perluasan wawasan karyawan dan perbaikan kualitas SDM yang berkelanjutan. Penerapan teori Y terbukti lebih menguntungkan daripada teori X khususnya dalam perusahaan-perusahaan yang membutuhkan para profesional berkeahlian tinggi.

Pengembangan teori Y ini terus diupayakan oleh para peneliti dan pakar manajemen di masa kini. Misalnya seperti teori determinasi diri dan motivasi intrinsik oleh Deci dan Ryan, teori kebutuhan McClelland, teori motivasi internal oleh Profesor Reiss, serta teori Z yang kesemuanya memiliki fokus kepada kekuatan semangat bekerja dari dalam diri manusia.

Teori Z

Teori Z ini bukanlah ide dari McGregor dan merupakan pengembangan teori manajemen yang meneliti kesuksesan perusahaan-perusahaan di Jepang yang ditulis oleh William Ouchi seorang profesor terkemuka di bidang manajemen dan bisnis.

Namun teori Z mengkombinasikan teori XY dengan gaya kepemimpinan bisnis ala Jepang dan mengharapkan karyawan selalu loyal atau memiliki kesetiaan yang tinggi kepada organisasi. Teori Z bisa juga dibilang sebagai penyempurnaan dari teori Y dalam memotivasi karyawan.

Negara Jepang terkenal sebagai negara yang produktivitasnya tergolong tinggi di dunia, dengan perekonomian yang sangat kuat. Kesuksesan banyak perusahan di Jepang dalam mengelola para pekerja menjadi dasar dalam menyusun teori Z untuk memotivasi para karyawan di sebuah perusahaan untuk lebih produktif dan juga berkomitmen tinggi.

Teori Z ini memandang kebutuhan karyawan sebagai faktor pendorong motivasi kerjanya tidak hanya sebatas pada kebutuhan fisik dan keamanan/kepastian saja. Kepedulian perusahaan terhadap kesejahteraan dan pemenuhan kebutuhan mental-emosional-sosial-spiritual karyawan sangat diperhatikan dalam mengaplikasikan teori Z ini.

Sesuai struktur yang lebih tinggi dalam hirarki kebutuhan Maslow, teori Z memperhatikan pemenuhan kebutuhan karyawan untuk bersosialisasi, berkelompok, mempererat hubungan dengan sesama rekan kerja dan perusahaan, serta menguatkan kepercayaan diri yang akhirnya mendukung aktualisasi diri sang karyawan.

Menurut Ouchi, penerapan dari teori Z dalam perusahaan akan memberikan stabilitas SDM (para karyawannya jarang yang berhenti, pindah kerja, atau berulah minta dipecat), meningkatkan produktivitas dengan menaikkan level kepuasan kerja dan moral dari para karyawan.

Karyawan menjadi sangat setia dan termotivasi untuk memberikan yang terbaik bagi perusahaannya. Kedisiplinan dan kerja keras menjadi nilai-nilai yang membudaya di dalam perusahaan selama manajemen dipercaya untuk selalu mendukung dan memberikan kesejahteraan.

Teori Z juga meningkatkan kompetensi karyawan dengan rotasi pekerjaan dan pelatihan-pelatihan yang intensif. Hal ini dilakukan agar karyawan yang promosi menjadi pemimpin memiliki pengetahuan yang menyeluruh terhadap semua operasional perusahaan dan akan mampu menggunakan teori Z untuk memotivasi semua bawahannya khususnya para karyawan yang masih baru.

Kesimpulan

Memahami karakteristik dari para karyawan dan sifat pekerjaannya, serta jenis bisnis yang dijalankan oleh perusahaan akan memberikan asumsi-asumsi sebagai dasar keputusan untuk menggunakan teori motivasi yang tepat-guna. Khususnya jika ingin menggunakan motivasi intriksik untuk para karyawan.

Pengamatan yang baik dan observasi yang teliti perlu dilakukan jika manajemen ingin berhasil dalam memanfaatkan teori mana yang sesuai dengan tantangan yang ada dalam pengelolaan SDM. Penentuan gaya kepemimpinan yang cocok dengan penerapan masing-masing teori harus diputuskan jika perusahaan ingin memperoleh keuntungan yang maksimal.

Baca juga:
Tips Memotivasi Orang Lain
Manajer Motivator
Kaizen: Pelajaran Manajemen dari Edwards Deming
Kiat Sukses Manajemen Zappos
Kunci Sukses Manajemen dari Steve Jobs

TTM: Tips Trainer Motivator

Trainer yang berkualitas sangatlah sulit didapatkan perusahaan. Kebanyakan motivator untuk para karyawan hanya membacakan materi lewat presentasi yang membosankan atau mengadakan banyak permainan yang cukup seru tapi tidak membawa perubahan yang permanen.

Kini, saatnya saya membagikan tips untuk menjadi trainer atau motivator yang bermutu;

1)Mulai dengan cepat dan akhiri dengan kesan yang baik. Jangan bertele-tele dengan perkenalan dan pembukaan yang panjang. Akhiri dengan kata-kata yang tak terlupakan sehingga pelatihannya selalu diingat-ingat meski telah berakhir serta mendorong perubahan yang bermakna.

2)Selalu berlatih dan melakukan persiapan dengan matang. Rekam sesi motivasi untuk evaluasi nanti. Perbanyak praktek dan perbaiki materi serta cara mempresentasikannya. Siapkan alat bantu visual, video, multimedia, alat dan media untuk menggambar, serta hadiah sederhana untuk kuis atau permainan.

3)Fokus, selalu antusias, dan menjaga tingkat energi agar tetap bersemangat dalam memberikan training dengan bahasa tubuh yang meyakinkan. Berbicaralah dengan penuh kepercayaan diri, gerakkan badan dan tangan secara harmonis berkoordinasi dengan apa yang ingin disampaikan.

4)Perhatikan dan manfaatkan emosi serta gaya belajar dari para partisipan. Gunakan gambar dan tulisan, video dan lagu, contoh kasus dan strategi, gambaran umum dan detail khusus, pertanyaan dan permainan, pengajaran dan diskusi, dan sebagainya. Ciptakan interaksi personal yang menarik dan pancing sensasi perasaan yang menggugah.

5)Sederhanakan presentasi, beri ruang agar partisipan belajar dan menemukan sendiri ilmu yang ingin diajarkan. Berikan lembaran untuk partisipan memberikan umpan balik dan menulis saran/masukan untuk sang trainer.

6)Tingkatkan kecerdasan intelektual, emosional, dan sosial untuk para partisipan dengan membentuk kelompok atau grup yang saling berkompetisi. Para peserta pelatihan akan belajar berinteraksi, bekerja sama, dan saling melengkapi dalam sebuah kelompok. Berikan tugas yang cukup menantang bagi grup-grup ini.

7)Last but not least, be yourself! Jadilah diri sendiri, jadilah versi yang terbaik dari diri sendiri. Setiap orang itu unik dan bisa memaksimalkan potensi dirinya tanpa perlu menjadi orang lain. Tapi kita juga memerlukan orang lain sebagai role-model, orang-orang yang telah mencapai kesuksesan yang ingin kita miliki. Selain mencari sosok yang bisa diteladani, kita juga harus mendapatkan tim pendukung untuk membantu presentasi ini. Tanpa dukungan orang lain, seorang trainer tidak akan berhasil dalam membawakan materi pelatihannya.

Sekian dahulu tips untuk kali ini, semoga berguna dan bisa membawa perubahan yang berarti..

Baca juga:
Motivator yang Merugikan
Menetapkan Prioritas Training Karyawan
Perusahaan Demotivator
Motivasi dari Hati (Tanpa Teriak2)

Kaizen: Pelajaran Manajemen dari Edwards Deming

Setelah Perang Dunia II, Amerika membantu perekonomian Jepang agar bangkit kembali dan terus maju. Para ahli industri didatangkan dari Amerika untuk mengembangkan sebuah program pelatihan manajemen.

Salah satu program dalam training tersebut adalah perbaikan dalam 4 tahap atau yang kemudian disebut sebagai: Kaizen. Perbaikan mutu secara terus-menerus. Dr. Deming adalah pioner, pakar yang mengenalkan dan mengimplementasikan konsep peningkatan kualitas yang berkesinambungan ini.

William Edwards Deming menjadi nama yang memiliki reputasi sangat tinggi di Jepang. Kontribusinya sangat signifikan dalam kemajuan perekonomian Jepang. Dunia industri dan bisnis di Jepang berhasil mendunia karena ajaran Deming tentang kontrol kualitas secara total. Produk-produk yang dimanufaktur di Jepang menjadi lebih unggul di dalam persaingan secara global.

Kaisar Jepang di tahun 1960 memberikan penghargaan kepada Deming. Di Amerika Serikat, Deming menjalankan bisnis konsultan bagi banyak perusahaan multinasional hingga tutup usia di umur 93 tahun. Kisahnya yang terkenal adalah ketika Deming sukses mengantarkan Ford yang merugi menjadi perusahaan otomotif yang paling menguntungkan mengalahkan GM dan Chrysler. Presiden Reagan dari AS memberikan medali nasional kepada Deming di tahun 1987.

Tehnik-tehnik yang diajarkan Deming membawa banyak perusahaan menjadi semakin produktif dan berkualitas, pangsa pasar meningkat sementara biaya menurun. Perencanaan di dalam manajemen harus mencakup strategi jangka panjang yang mengutamakan peningkatan kualitas dan pengurangan biaya serta limbah.

Perbaikan mutu secara konsisten atau kaizen, mengikuti suatu siklus yang terdiri dari:
1. Standarisasi operasi dan aktivitas (prosedur).
2. Pengukuran standar operasi dengan evaluasi waktu dan prosesnya.
3. Penilaian pengukuran terhadap kebutuhan dengan eksperimen eksekusi.
4. Inovasi untuk menyesuaikan kebutuhan dan meningkatkan produktivitas.
5. Standarisasi operasi/prosedur baru yang telah diperbaiki ini.
Dan ulangi siklus secara terus-menerus.

Secara singkat, Plan-Do-Check-Act: mendesain suatu rencana, menguji rencana tersebut, memeriksa dan mengevaluasi hasilnya, akhirnya melaksanakan atau eksekusi berdasarkan hasil yang telah dievaluasi serta diperbaiki. Menyusun rencana yang sudah diperbaiki dan begitu seterusnya.

Kaizen telah menjadi kunci kesuksesan kompetitif Jepang dan sudah banyak diadaptasi dalam beragam metode aplikasi. Salah satu perusahaan yang sukses dalam menerapkan Kaizen ini adalah Toyota. Selain dalam dunia bisnis, Kaizen juga dapat diaplikasikan kepada pengembangan diri seperti yang diajarkan oleh Anthony Robbins dengan istilah CANI (Constant And Never-ending Improvement/ perbaikan yang berkelanjutan) serta Robert Maurer sebagai prinsip perbaikan pribadi.

Elemen inti dari Kaizen adalah kemauan untuk berubah dan maju, memprioritaskan kualitas, selalu memberikan upaya yang konsisten, keterlibatan seluruh pegawai, dan komunikasi. Kedisiplinan dan kerjasama tim adalah yang utama dalam meningkatkan moral pekerja untuk menjalankan siklus mutu Kaizen. Semua karyawan harus memberikan saran demi perbaikan.

Pelajaran manajemen yang diajarkan oleh Deming adalah:
-Menciptakan tujuan yang konstan dalam meningkatkan kualitas produk agar kompetitif, unggul dalam persaingan.
-Berani berubah untuk mengambil tanggung jawab dalam memimpin dan menghadapi tantangan.
-Mengurangi ketergantungan akan pengawasan dengan membangun sistem produksi yang bermutu tinggi.
-Meminimalkan biaya keseluruhan dan membangun hubungan yang terpercaya dengan suplier.
-Membuat suatu sistem pendidikan untuk pengembangan diri karyawan, pelatihan pekerjaan dan kepemimpinan.
-Mendorong supervisi yang membantu orang dan mesin bekerja secara lebih baik.
-Menghilangkan kekhawatiran dan kecemasan agar orang-orang bekerja dengan efektif.
-Menghilangkan penghalang antar departemen agar seluruh karyawan saling bekerja sama dengan baik.
-Menghilangkan slogan, angka-angka yang tak penting, sasaran dan kuota, serta apapun yang tak berguna dalam mengelola pegawai.
-Membuat semua karyawan aktif berpartisipasi dalam transformasi dan mencapai perubahan demi kemajuan perusahaan.

Dan yang perlu dihindari oleh manajemen menurut Deming adalah:
1. Ketidak konsistennya tujuan.
2. Menekankan pada keuntungan dalam jangka pendek saja.
3. Evaluasi kinerja tahunan, angka-angka yang tertulis yang tak perlu.
4. Biaya-biaya yang berlebihan.
5. Manajemen yang kurang baik.

Manajemen yang kurang baik bagi Deming adalah:
-Perencanaan jangka panjang yang kurang diutamakan.
-Terlalu bergantung pada teknologi dan teori-teori manajemen.
-Tidak mengembangkan solusi untuk meningkatkan kualitas produk.
-Menyalahkan para karyawan lain, bagian inspeksi, departemen kendali mutu, daripada bertanggung jawab sebagai manajer, supervisor, dan para pekerja sebagai penentu kualitas.
-Banyak beralasan serta kurang komunikatif dan berinisiatif dalam bekerja sama mencapai tujuan perusahaan.

Baca juga:
Cara Disiplin dalam Bekerja
Olahraga Meningkatkan Produktivitas Karyawan
Memaksimalkan Produktivitas

Tips Bekerja dengan Semangat Pikiran Positif

Menurut survei pada tahun 2011 oleh CareerBuilding: 1 dari 4 perusahaan mengalami penurunan produktivitas karena hampir setengah karyawannya (45 persen) mengalami burn-out. Burn-out adalah kondisi dimana kelelahan terjadi bukan hanya secara fisik namun juga psikis. Pikiran pekerja mengalami stres dan karyawan merasa energinya terperas habis.

Dalam survei ini juga disebutkan sebanyak 77 persen karyawan pada seluruh perusahaan yang terdata menjadi kurang produktif akibat burn-out ini. Level motivasi dan kreativitasnya menurun drastis. Mengurangi nilai bisnis perusahaan. Dan pada akhirnya merugikan karyawan itu sendiri; kesehatan karyawan menjadi terganggu.

Kondisi burn-out ini sendiri disebabkan oleh manajemen waktu yang kurang efisien, penambahan jam kerja dan load pekerjaan yang meningkat, serta stres yang tidak bisa dikelola dengan baik.

Solusi yang terbaik untuk mengatasi burn-out ini adalah dengan menetapkan prioritas dan mengatur kesibukan yang produktif. Lalu mendelegasikan tugas dan bekerja sama dengan atasan-rekan-bawahan secara efektif. Kemudian redakan stres yang melanda.

Pikiran stres yang penuh kecemasan akan mengaktifkan amygdala, bagian otak tengah yang memproses respons emosional dan akan menghabiskan energi psikis. Sehingga neo-cortex, bagian otak depan yang memproses kreativitas dan pemecahan masalah menjadi kurang aktif. Hal inilah yang menyebabkan penurunan produktivitas kerja.

Bekerja dengan semangat pikiran yang positif haruslah dikultivasi. Berikut beberapa tips sederhana agar pikiran selalu penuh dengan energi positif dan termotivasi untuk bekerja secara optimal:

1. Selalu bersyukur. Biasakan diri dengan mensyukuri minimal 5 hal yang bisa disyukuri pada hari itu. Bisa dilakukan sebelum tidur atau menuliskannya pada sebuah notes khusus. Tuliskan jurnal mingguan semua perasaan positif, pencapaian prestasi, dan kebaikan-kebaikan yang diterima selama seminggu.

2. Ambil waktu istirahat setiap ada jeda dalam pekerjaan. Re-charge diri dengan meminta cuti untuk berlibur. Rutinlah berolahraga beberapa kali dalam seminggu. Ketika bekerja, jangan lupa minum air putih yang banyak serta bernafas secara mendalam selama 5 menit setiap jam. Pelajari meditasi untuk relaksasi jika perlu. Jangan memforsir diri untuk terus bekerja non-stop berjam-jam lamanya.

3. Bangun lebih pagi dan buat daftar prioritas. Fokuskan pada tugas-tugas terpenting yang harus dikerjakan pada hari itu. Siapkan segala dokumen dan perangkat pendukung yang akan digunakan. Jangan tunda komunikasi yang diperlukan dalam rencana pekerjaan yang akan dilakukan. Persiapan yang matang akan menghindarkan diri dari stres yang tak perlu akibat kepanikan, ketergesaan, dan stres karena kelupaan.

4. Tuliskan perasaan dan makna pekerjaan pada sebuah catatan atau bicarakan permasalahan yang dikhawatirkan kepada teman bahkan psikolog. Sisihkan waktu untuk bersosialiasi, bersenang-senang dengan keluarga dan sahabat, serta bermain-main dengan hobi. Ekspresikan kreativitas yang melatih keahlian berinovasi nantinya. Baca buku dan tonton film yang lucu. Manfaatkan humor secara bijak dalam bersosialisasi, sesuaikan dengan karakter komunitasnya.

5. Latih pikiran agar selalu optimis namun tetap realistis, memiliki paradigma yang ingin maju serta berkembang, dan melihat segala sesuatu dari perspektif yang positif. Hentikan pikiran negatif yang muncul. Melatih mindset ini perlu waktu dan kedisiplinan. Sama seperti ketika seseorang ingin mengembangkan kekuatan ototnya, kekuatan pikiran positif perlu disiplin. Cara untuk disiplin adalah dengan memaksakan diri kepada suatu tindakan baru hingga menjadikannya kebiasaan sesuai dengan penelitian ilmiah tentang otak. Neuroscience telah membuktikan bahwa otak bisa berkembang seiring lamanya praktek/jam terbang suatu tindakan, hal ini disebut dengan neuroplasticity: fleksibilitas jaringan serabut saraf di otak.

Penelitian tentang persepsi dan mindset ini membuktikan bahwa; pikiran yang positif penuh semangat akan meningkatkan produktivitas, kreativitas, dan kinerja karyawan secara keseluruhan. Dan pada akhirnya akan memberikan kepuasan dalam kehidupan pada umumnya. Kebahagiaan.

5 Taktik Motivasi Diri dalam Bekerja

Dalam tulisan kali ini saya akan membagikan lima taktik sederhana untuk memotivasi diri agar lebih bersemangat dalam bekerja. Terkadang kita merasa malas dan kurang bersemangat dalam melakukan pekerjaan yang menjadi tanggung jawab kita di dalam perusahaan. Berikut taktiknya:

  1. Sibukkan diri; kerjakan sesuatu yang mudah sekarang juga, sibukkan diri jangan biarkan diri menganggur tidak mengerjakan apa-apa. Jika sibuk, pikiran kita tidak akan terlalu berpikir banyak dan menghabiskan energi sehingga energi tersebut bisa digunakan untuk bekerja. Jangan terlalu memikirkan target dahulu, fokuskan diri untuk bekerja semaksimal yang kita mampu. Namun kita harus tetap ingat agar kesibukan kita tidak menjadi sesuatu yang tidak produktif seperti yang saya pernah tuliskan disini.
  2. Kuatkan efek Zeigarnik seperti yang pernah saya tulis disini. Lakukan satu langkah sederhana meski itu hanya lima manit saja. Dengan berinisiatif kita akan memiliki momentum untuk terus melanjutkan pekerjaan kita. Jika kita diam saja dan terlalu lama berpikir, kemalasan akan semakin menjadi-jadi dan sulit untuk dilawan.
  3. Dorong motivasi diri kita dengan alasan yang baik atau positif yang mendorong kita untuk terus bekerja. Bisa berupa reward yang mau kita terima atau kemajuan karir yang diinginkan. Selalu semangati diri akan apa yang mendorong kita untuk bekerja, bisa berupa pencapaian prestasi, bonus serta pengakuan dari atasan, gaji bulanan, mobil impian dan seterusnya.
  4. Motivasi dengan mengingat hal-hal negatif yang ingin dihindari. Motivasi jenis ini yang biasanya dimiliki oleh para karyawan, motivasi menghindar. Kebalikan dari taktik ketiga yang merupakan motivasi pengejar, motivasi jenis ini lebih kuat jika kita diingatkan akan hal-hal yang buruk seperti punishment, kemarahan atasan, ketakutan akan kemiskinan dan ketidakmampuan diri untuk menafkahi keluarga, dan seterusnya.
  5. Melawan pengaruh-pengaruh yang tak disadari dengan afirmasi. Saya sudah pernah menuliskan cara menggunakan tehnik afirmasi dengan baik disini. Bisa jadi, tugas yang harus dikerjakan terasa seperti keterpaksaan sehingga alam bawah sadar kita menentang dan melawan. Hal ini akan membuat diri kita menunda-nunda pekerjaan secara tidak sadar. Salah satu solusinya adalah memasuki alam bawah sadar dan memberikan sugesti untuk bekerja. Pengaruh yang tidak disadari secara langsung ini juga bisa berupa pengaruh dari lingkungan kerja. Contoh pengaruh dari lingkungan ini seperti pekerjaan yang membosankan (sudah pernah saya tuliskan disini), atau atasan yang mendemotivasi, bisa juga rekan kerja yang suka berpikir, berbicara, dan bertindak negatif seperti menghina, mengeluh atau memprovokasi secara merugikan sehingga merusak mood serta semangat kita dalam bekerja.

Sekian dahulu tips sederhana yang bisa saya bagikan kali ini. Selanjutnya akan saya sambung lagi beberapa taktik meningkatkan motivasi dalam bekerja yang telah teruji dan terbukti. Salam Semangat!!!