Tips Motivasi

Focusing on Happiness

Tag: marketing

RePositioning Adalah Keniscayaan

Di era teknologi informasi ini, RePositioning adalah keniscayaan. Hal yang pasti. Yang harus dilakukan.

Dalam menyusun strategi marketing, setelah menetapkan target pemasaran dan segmen yang dibidik, sebuah produk harus menyiapkan positioning yang kuat. Positioning adalah citra produk yang ingin ditanamkan di benak pelanggan. Positioning adalah janji yang harus mampu dipenuhi produk.

Dan ketika informasi menjadi sangat mudah menyebar di jaman sekarang, positioning sebagai sebuah janji menjadi sangat penting. Strategi marketing ini menjadi penentu hubungan dengan customers atau pelanggan.

Pelanggan yang dikecewakan karena sebuah produk tidak memenuhi janji sesuai positioning-nya akan membahayakan.

Pelanggan tersebut tidak hanya berhenti menjadi pelanggan. Dia akan memusuhi produk yang mengecewakan tersebut. Dia akan mengabarkan keburukan produk dengan cepat dan bisa berdampak luas. Menjadi advocate yang menjatuhkan produk.

Kini, kita melihat bagaimana social media seperti twitter menjadi media penyebaran informasi yang sangat masif. Sebuah revolusi bisa terjadi dan didukung oleh teknologi informasi seperti internet. News travel fast.

Maka, RePositioning menjadi keniscayaan di era teknologi informasi seperti sekarang. Khususnya di kala facebook, twitter dan beragam social media lainnya yang sedang ramai-ramainya.

Repositioning ibarat pengukuhan ulang janji yang diberikan produk. Citra produk yang ingin ditanamkan harus disesuaikan. Agar bisa mengoptimalkan fungsi dari social media. Inilah strategi marketing yang menjadi sebuah keharusan di jaman sekarang. Keniscayaan di era web 2.0

Produk yang baik adalah produk yang bisa menyiapkan positioningnya sebagai fenomena. Produk yang bisa memancing sensasi. Mengundang pembicaraan. Direfensiasi produk yang berkriteria purple cow. Sapi ungu.

Repositioning yang harus dilakukan sebuah produk adalah pencitraan produk yang selain dapat memenuhi janji positioning-nya juga mampu menjadi buah bibir. Bahan perbincangan yang bisa di-share, like, tweet, retweet, digg, press, reblog, dll.

Tips Marketing Sapi Ungu

Ilmu pemasaran semakin berkembang, berevolusi mengikuti jaman. Dan sekarang adalah jamannya persaingan gila-gilaan. Kita memerlukan tehnik marketing yang membedakan produk kita dan membuat kita unggul dari persaingan.

Tehnik marketing seperti diferensiasi produk dan USP (Unique Selling Proposition) saja tidak cukup untuk mengatasi masalah persaingan ini. Kita membutuhkan sebuah transformasi bisnis di era sekarang ini.

Selain itu, kini orang semakin menghindari upaya-upaya pemasaran. Banyak orang tidak lagi menonton iklan dengan tinggal menekan remote control televisi. Menerima penawaran lewat email dianggap spam. Menutup telpon cold-call seorang sales, dan sebagainya.

Ruang marketing pun semakin jenuh. Iklan semakin sesak, sales semakin banyak. Produk-produk yang berpotensi sukses banyak penirunya dan kurang menimbulkan buzz serta word of mouth tentang satu produk tertentu.

Disinilah, pakar marketing modern, Seth Godin memaparkan suatu teori sebagai solusi masalah ini. Teorinya ia sebut sebagai The Purple Cow. Tips Marketing Sapi Ungu. Produk kita selain berkualitas haruslah sensasional.

Seperti sapi yang berguna memberikan susu dan daging. Tapi dari banyak sapi, produk kita harus mampu menjadi seekor sapi ungu. Sapi yang sangat menarik perhatian.

Produk kita bukan hanya unik, tapi mesti menyolok pikiran. Setiap sapi memang berbeda. Unik, makanya keunikan menjadi hal yang biasa. Sapi ungu menjadi luar biasa karena memukau siapapun yang melihatnya. Dan yang melihat akan membicarakannya. Membuat sang sapi ungu terkenal dan mengemuka dari sapi-sapi lainnya. Dari persaingan.

Bagaimana kita membuat produk yang ingin dipasarkan menjadi seperti sapi ungu?

Pertama-tama tentunya adalah inovasi. Kreasi saja tidak cukup. Produk yang berkualitas belum tentu laku jika tidak diketahui orang. Apalagi calon pelanggan yang kita inginkan.

Penciptaan sapi ungu dimulai dari inovasi yang seksi. Mengundang prospek untuk mendekat. Inovasi yang menonjolkan kreasi produk yang memang sudah berkualitas. Inovasi yang menakjubkan.

Inovasi ini haruslah menjadikan produk kita menjadi urutan yang pertama, maksimal kedua dalam top of the mind awareness pada customer. Positioning di benak pelanggan adalah sebagai juara 1 atau 2.

Contohnya bisnis industri minuman bersoda seperti para sapinya. Minuman kola bersoda adalah inovasinya. Maka, sapi ungunya adalah Coca-Cola dan Pepsi sebagai juara 1 dan 2. Juara tiga tidak diingat orang.

Selanjutnya kita harus membuat buzz yang dimulai dari komunitas kuat. Tribe dalam istilah Seth Godin. Kalau buzz artinya adalah pembicaraan populer seperti word of mouth marketing (WOM).

Bedanya, selain menyebar atau melebar seperti WOM, buzz juga lebih mendalam pembicaraannya. Dan buzz dimulai dari tribe atau komunitas yang kuat.

Lalu, bagaimana memulai sebuah tribe? Tribe bukanlah kelompok pelanggan yang terfokus, tapi lebih kepada kelompok pelanggan yang mengadvokasi kita. Klien-klien yang menjadi suporter fanatik.

Untuk membangun sebuah tribe, sebelumnya, kita mesti menargetkan segmen pasar yang ingin kita bidik. Lalu strategi penetrasinya menggunakan tehnik permission marketing.

Permission marketing adalah upaya pengenalan produk secara santun dan terarah. Ibaratnya seperti petani yang sabar daripada pemburu yang menembak membabi buta. Petani yang terarah dan terfokus demi ketahanan pangannya.

Ibarat pacaran, kalau pemburu langsung tembak sedangkan petani mengadakan pendekatan dahulu. Tentunya yang paling berpotensi sukses cara-cara petani ini. Lebih pasti.

Petani lebih juga memberikan hasil yang lebih sustainable, tahan lama. Makanya manusia berevolusi dari pemburu menjadi petani. Petani lebih bisa bertahan hidup, survive.

Permission marketing berarti meminta ijin untuk mengenal sang prospek. Memberikannya informasi-informasi yang berguna untuk mempererat hubungan. Menanam bibit dulu di pikiran seperti petani yang sabar di lahannya.

Yang bukan permission marketing adalah direct mail secara massal (spam), iklan yang tidak personal, sales yang memaksa berjualan, pemberian katalog dan melakukan cold call.

Ini dinamakan pemasaran interupsi. Push marketing yang menjauhkan customer dan membuatnya tidak betah. Kebalikan dari permission marketing. Santun dan memberikan wawasan yang berguna.

Tehnik permission marketing ini juga akan mendukung strategi pemasaran yang disebut sebagai the blue ocean strategy. Tidak seperti red ocean strategy yang memiliki banyak pesaing sampai berdarah-darah.

Blue ocean strategy membuat kompetisi tidak relevan lagi.

Blue ocean strategy adalah karya begawan bisnis W. Chan Kim & Renee Mauborgne. Strategi ini menjadikan pesaing tidak terlalu berarti dalam bisnis.

Dan tips sapi ungu adalah penunjang strategi ini. Menciptakan nilai yang luar biasa menarik. Misalnya kombinasi antara diferensiasi, mengambil ceruk pasar atau niche, dan harga yang bersaing lewat low cost production.

Pada akhirnya, sapi ungu harus bisa menyebar seperti virus. Virus pikiran yang berupa ide terkenal, ramai dibicarakan, dan membuat suatu tren yang tahan lama. Sehingga produk yang kita pasarkan menjadi laris manis. Istilahnya meme, atau dalam bahasa sang marketing yang jenius: ideavirus.

Saya akan membahas lebih lanjut tentang ideavirus dan blue ocean strategy, buzz dan tribe, permission marketing dan branding dalam tulisan-tulisan lainnya. Artikel untuk tips sapi ungu ini juga masih akan dielaborasi lebih lanjut lagi. Jadi, stay tuned!

Training Sales Persuasif

Seorang sales yang baik harus mengikuti training tehnik-tehnik psikologi persuasif.

Seorang sales tidak hanya memberikan argumentasi logis mengapa seorang prospek harus membeli produknya berdasarkan fitur, namun sales tersebut harus mampu memberikan pengaruh-pengaruh psikologis kepada calon customer-nya.

Memotivasi pembelian dengan berusaha menyentuh hati pelanggannya.

Ini disebut persuasi.

Persuasi adalah bujukan yang menyentuh perasaan seorang pelanggan. Penjual yang persuasif berarti seseorang yang memanfaatkan sisi emosional kliennya. Lagipula, kebanyakan orang malas berpikir dan ingin solusi yang praktis.

Sehingga banyak keputusan pembelian lebih ditentukan secara emosional. Setelah membeli, beberapa argumen yang logis dipakai untuk menguatkan alasan pembeliannya dan agar tidak menyesal.

Tapi tetap, yang memotivasi seseorang untuk membeli adalah emosinya.

Saya akan berikan beberapa contoh trik persuasif yang memanfaatkan emosi:

1. Seseorang bisa saja membeli sesuatu tanpa berpikir panjang jika sesuatu itu memiliki diskon yang terbatas, misalnya. Ini akan memicu respon emosional akan kelangkaan membuat sesuatu menjadi berharga.

Padahal, secara rasional sang pembeli belum tentu membutuhkan barang yang sedang didiskon tersebut.

2. Sebuah barang bisa lebih laku dijual jika sudah banyak orang memilih untuk membelinya. Jadi seorang pembeli beralasan membeli barang tersebut dengan efek ikut-ikutan, yaitu secara emosi memberikan kepercayaan dengan alasan banyak orang yang juga yakin untuk membeli barang tersebut.

Padahal, secara argumentatif logis bisa saja orang yang banyak itu juga salah. Misalnya kasus ratusan nasabah yang bareng-bareng tertipu produk investasi bodong.

3. Dengan simbol-simbol otoritas seperti gelar/titel, kepakaran, profesor, dokter, pakaian/seragam, aksesoris dan gaya yang mewah; banyak pelanggan menjadi percaya pada sang penjual tapi tidak menyelidiki produk yang dijual secara rasional.

4. Kepercayaan kepada penjual secara emosional daripada produk yang dijualnya adalah trik persuasi yang memanfaatkan keakraban/kedekatan hubungan.

Pembeli seharusnya mengevaluasi apakah produk yang ingin dibeli adalah produk yang berkualitas dan sesuai dengan kebutuhannya bukan hanya dari rasa percayanya pada sang penjual yang bisa ditimbulkan dengan perasaan kedekatan.

Sang penjual bisa saja mengaku berasal dari daerah yang sama, satu suku, teman sekolah, dan bahkan masih keluarga. Banyak MLM dan agen asuransi jiwa memanfaatkan hubungan-hubungan emosional ini untuk menggaet anggota/nasabahnya.

Dan masih banyak contoh trik persuasif lainnya untuk sales. Sebenarnya ada 7 prinsip yang sudah diteliti oleh Robert Cialdini, seorang peneliti bidang psikologi persuasif. Ketujuh prinsip tersebut adalah:

1. Prinsip Timbal-Balik
2. Komitmen dan Konsistensi
3. Validasi Sosial
4. Prinsip Rasa Suka
5. Prinsip Otoritas
6. Pinsip Kelangkaan
7. Prinsip Kontras

Dan ada juga prinsip kedelapan yang dirahasiakan Cialdini, Ph.D, dkk. Jadi, total ada 8 prinsip psikologi persuasif untuk mempengaruhi seseorang secara emosional.

Apakah salah membujuk seorang prospek dengan trik-trik persuasi ini?

Jawabannya tidak, karena sebagai penjual, seorang sales memiliki target yang harus dipenuhi.

Namun, seorang sales atau penjual juga memiliki reputasi yang harus dia pertahankan. Jika seorang sales menggunakan trik-trik penjualan untuk menipu atau menjual produk yang tidak berkualitas, maka reputasinya akan hancur.

Runtuhnya reputasi seorang penjual akan merusak pencapaian target penjualannya dan pada akhirnya merugikan dirinya sendiri.

Saya akan memaparkan 8 prinsip psikologi persuasif ini pada tulisan-tulisan yang selanjutnya. Seorang tenaga penjual atau wirausaha yang ingin jago menggunakan trik-trik persuasi wajib mengikuti training, karena prinsip-prinsip persuasi ini tidak bisa hanya dihapal.

Aktivitas persuasi dilakukan secara alamiah, jangan tampak seperti hapalan karena bersifat emosional.

Training sales yang mengajarkan kemampuan persuasif akan menanamkan keahlian ini sampai di tingkat alam bawah sadar…