Tips Motivasi

Focusing on Happiness

Month: Maret, 2012

Manajemen Energi untuk Kesuksesan

Bakat, keahlian, dan kegigihan memang menentukan kesuksesan seseorang dalam meraih puncak kesuksesan.

Namun untuk tetap berada di puncak tersebut, ia membutuhkan manajemen energi yang baik yang mampu membuatnya bertahan di puncak kesuksesan.

Manajemen energi yang baik terdiri dari fokus dan relaksasi, pengoptimalan dan pemulihan tenaga dari energi fisik, emosional, dan spiritual.

Pengelolaan energi yang baik akan menghasilkan lebih banyak dengan bekerja lebih sedikit. Ini disebut bekerja cerdas daripada bekerja keras.

Bekerja terlalu keras akan meruntuhkan keseimbangan karir-keluarga, merusak kesehatan, dan merugikan diri. Banyak riset yang menggambarkan bagaimana para pekerja keras ini tersangkut masalah minuman keras, stres dan depresi, serta perceraian. Seseorang yang bekerja terlalu lama dan memforsir energinya bisa membuat dirinya dan orang lain celaka.

Para atlit profesional memanfaatkan waktu jeda untuk beristirahat, menurunkan detak jantungnya, mengatur nafas agar bisa fokus kembali dan mencapai puncak ritme permainannya. Para olahragawan yang tidak memanfaatkan waktu jeda untuk melakukan ritual mini relaksasi ini, dalam sebuah permainan olahraga yang berlangsung beberapa jam, akan mudah lelah, kehilangan konsentrasi, dan kalah.

Seorang pekerja bisa menjadi jenuh dan kehilangan passion terhadap pekerjaannya, jika tidak memiliki suatu hobi atau minat lain sebegai sebuah sarana pelepasan. Pola alami dari bekerja dan melepas disebut osilasi. Keseimbangan yang harmonis antara aksi dan relaksasi ini mutlak harus dijaga.

Osilasi yang buruk akan mengakibatkan penurunan daya tahan tubuh atau pelemahan sistem imun. Seseorang akan lebih mudah terserang penyakit, sensitif dan menjadi sangat egois serta pemarah. Emosi yang tidak terkendali yang disebabkan oleh manajemen energi yang buruk akan menghambat perasaan empati untuk sinergi, kreativitas untuk solusi, kesabaran, kepercayaan, kebaikan, kebijaksanaan, dan sebagainya.

Manajemen energi yang baik akan menguatkan kecerdasan emosi dan spiritual yang berperan penting dalam meraih dan mempertahankan kesuksesan. Kekuatan kehendak untuk berdisiplin, keuletan supaya bisa selalu bangkit dari kegagalan, fleksibilitas agar terus proaktif dalam menghadapi tantangan, dan seterusnya.

Gagasan saya sederhana, untuk pemaparan yang lebih lengkap; silahkan baca banyak buku yang berkaitan dengan manajemen energi ini. Baik itu untuk energi fisik, emosional atau spiritual. Bacalah tentang bagaimana cara berolahraga yang benar, makanan yang bergizi, meditasi atau tentang praktek religius lainnya yang bisa menyegarkan aspek spiritual kita, senam otak, ilmu pernafasan, kesehatan umum, dan lain-lain.

Akhir kata, saya ingin sekali lagi menekankan bahwa untuk mencapai suatu tujuan, meraih kesuksesan, dibutuhkan suatu manajemen energi yang baik. Mendapatkan dan mempertahankan keberhasilan bukan hanya membutuhkan kekuatan besar, tapi juga pemulihan dari sumber kekuatan itu sendiri. Kita harus tidak lupa untuk selalu: beristirahat…

Kunci Sukses

Apakah kunci dari kesuksesan itu?

Apakah berasal dari gen yang kita miliki? Faktor keturunan dan keluarga? Warisan atau modal uang? Jaringan bisnis atau lingkungan usaha? Ide inovatif dan pemikiran yang kreatif? Ilham dari ilahi atau intuisi yang tajam?

Ataukah perilaku kita yang bisa menentukan kesuksesan, keberhasilan kita? Apakah sukses dipengaruhi oleh sikap kita? Bagaimana kita bertindak? Seperti apa paradigma kita? Dan apa yang kita lakukan? Strategi dan taktik apakah yang mesti dijalankan?

Bisa jadi sukses malah hanya soal keberuntungan. Nasib baik saja. Hoki.

Atau mungkin kombinasi dari kesemuanya yang saya tuliskan di atas?

Memang kesemuanya ini adalah faktor-faktor yang menentukan kesuksesan seseorang. Namun kunci sukses yang terutama bukanlah itu semua.

Untuk meraih kesuksesan, kita harus melakukan perubahan. Perubahan dari keadaan yang sekarang menjadi kondisi yang diinginkan. Kondisi keberhasilan. Sukses.

Kunci sukses untuk melakukan perubahan yang berhasil adalah:

“Keputusan untuk berubah.”

Perubahan apapun baru bisa dilakukan secara efektif jika diawali dari keputusan yang tegas untuk berubah. Tentunya didukung juga oleh faktor-faktor yang saya tuliskan sebelumnya.

Keputusan ini sebagai garis tegas penanda awal dari perubahan. Pembatas yang tegas antara masa lalu dan masa depan. Masa depan dimana kesuksesan kita berada.

Kita mulai memisahkan dari masa lalu dan mengarahkan langkah sukses ke masa depan, dimulai dari satu keputusan yang solid. Sebuah janji yang kuat. Satu komitmen untuk keberhasilan. Suatu resolusi.

Sukses dalam berubah 10 kali lebih berhasil pada orang yang membuat suatu resolusi yang spesifik daripada hanya sekedar memiliki keinginan namun tidak membuat suatu resolusi (penelitian psikolog John Norcross).

Setelah kita membuat suatu keputusan, berkomitmen pada suatu resolusi yang spesifik, maka: pintu perubahan sudah terbuka. Tidak terkunci lagi. Dan kita harus mendorong pintu itu, melangkah memasuki masa depan yang sukses.

Kita tidak perlu sendirian dalam melakukan perubahan ini. Kita tak perlu hanya menggantungkan resolusi kita pada kekuatan kehendak diri semata. Kita sebaiknya mencari teman seperjalanan.

Lalu, kita bisa mencari rekan yang mendukung, kelompok yang suportif, lingkungan yang sehat untuk kesuksesan, sistem yang bagus, dan sebagainya.

Akan tetapi, kita tetaplah direktur utama dari perubahan yang ingin kita jalankan. Kita adalah CEO dari langkah kesuksesan kita sendiri. Kitalah pembuat keputusan yang utama.

Tidak ada yang bisa mengawasi diri kita sendiri selama 24 jam penuh. Jika kita belum memutuskan untuk berubah, maka kita tidak akan pernah berubah. Keputusan untuk berubah adalah kuncinya.

Ngomong-ngomong soal direktur utama atau CEO, di perusahaan saya ada pesan CEO yang bagus, yaitu: “Ekseskusi! Eksekusi! Eksekusi!”

Diulang sampai tiga kali. keberhasilan suatu komitmen sampai bisa mencapai kesuksesan ditentukan oleh eksekusinya. Banyak perusahaan yang gagal bukan karena tidak memiliki rencana yang bagus, namun karena kurangnya eksekusi yang proaktif.

Setelah membuka pintu sukses dengan kuncinya: keputusan untuk berubah, maka selanjutnya kita harus beraksi: membuka pintunya dan melangkah masuk. Eksekusi!

Last but not least, kadangkala komitmen kita seiring waktu bisa kendor. Motivasi kita bisa turun-naik sepanjang perjalanan kita untuk berubah. Disini saya akan berikan satu tips khusus.

Ingat-ingatlah satu kalimat yang bisa memberikan inspirasi, membakar motivasi. Sebuah slogan, motto pribadi. Kalimat bisa seperti apapun, kata-kata indah atau kutipan dari seorang tokoh yang dikagumi.

Satu syaratnya, harus bisa menggugah hati kita. Dan ini bersifat pribadi, personal, tergantung masing-masing karakter orang.

Kalimat ini harus bisa menjadi pengingat, sebuah anchor dalam istilah psikologi atau NLP yang mampu memicu reaksi emosional tertentu; dalam hal ini yang kita harapkan membuat kita termotivasi.

Seperti yang pernah saya dengar dalam satu film: Negeri 5 Menara. Disitu tokohnya selalu mengulang-ulang kalimat: Man Jadda Wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan berhasil.

Keputusan yang dibuat harus dengan sungguh-sungguh dan eksekusinya juga harus bersungguh-sungguh. Konsisten. Untuk mengobarkan semangat, tokoh utama dalam film Negeri 5 Menara mengulang-ulang kalimat: Man Jadda Wajada setiap membutuhkan pembangkit motivasi.

Pilihlah satu kalimat inspirasi. Kalau perlu catatlah dalam sebuah kartu. Kantongi kartu tersebut. Lihat tulisannya setiap membutuhkan dorongan motivasi, lihat setiap ada waktu dan kesempatan. Baca beberapa kali sepanjang hari agar harimu penuh dengan semangat.

Coba saja dan buktikan sendiri kehebatan tips ini. Silahkan ikuti twitter saya untuk mendapatkan inspirasi.

(Terinspirasi oleh tulisan Meg Selig di blog Psychology Today dan film Negeri 5 Menara)

Meningkatkan Motivasi dengan Tidur

Banyak orang yang tidak menyadari kalau kekurangan motivasi itu sebenarnya disebabkan oleh kurangnya jam tidur.

Orang yang tidur selama 5 jam saja, padahal yang terbaik untuknya adalah 7 jam maka ia akan kurang termotivasi. Bedanya hanya 2 jam saja, tetapi kalau dihitung selama seminggu berarti dia kekurangan jam tidur selama 12 jam!

Artinya, untuk membayar hutang tidurnya, dia harus tidur seharian pada hari minggunya. Kalau tidak, dia tidak akan menjadi orang yang produktif di minggu yang selanjutnya.

Penelitian oleh Carskdon di tahun 2011, menyimpulkan bahwa orang-orang yang kekurangan tidur menyebabkan: konsentrasi dan daya ingat yang melemah, reaksi yang melambat serta menjadi kurang termotivasi.

Riset lebih lanjut tentang kekurangan jam tidur menunjukkan tingkat kinerja yang rendah, rawan kecelakaan. Kecelakaan di jalan tol juga utamanya karena supir yang mengantuk.

Kurang tidur juga bisa menyebabkan konflik secara tidak langsung karena emosi yang kurang stabil. Kecerdasan emosional dan intelektualitas atau fungsi kognitif menurun. Ketidakmampuan dalam mengambil keputusan yang tepat, banyak melakukan kesalahan, disorientasi juga timbul karena kurangnya jam tidur yang cukup.

Penyalahgunaan obat-obatan, seperti kasus overdosis. Bisa juga konsumsi kafein yang berlebihan, membebani jantung dan saraf. Minum alkohol yang bisa merusak hati. Daya tahan tubuh dan sistem imun menurun kalau kurang tidur. Yang terparah, kurang tidur bisa menyebabkan gangguan jiwa!

Dalam perang, salah satu tehnik interogasi adalah membuat tahanan tidak tidur. Keinginan untuk tidur menjadi tidak tertahankan dan melebihi hasrat lain seperti makan atau minum. Tahanan bisa berhalusinasi, kebingungan, dan mudah dipengaruhi.

Tikus di laboratorium yang dibuat agar tidak bisa tidur, menunjukkan gejala-gejala seperti lesu, lemas, malas bergerak, dan akhirnya mati. Pada manusia mungkin tidak seekstrim itu, namun kadang kita tidak sadari kekurangan motivasi kerja kita ternyata disebabkan oleh akumulasi jam tidur yang kurang selama beberapa hari.

Masalah tidur ini pastinya berhubungan dengan produktivitas kerja. Kemampuan untuk fokus pada tugas, manajemen emosi yang baik, dan beragam keahlian dalam pekerjaan seseorang terkait dengan kuantitas jam tidurnya. Namun kesadaran akan hal ini masih sangat kurang.

Hanya sedikit kantor modern yang memberikan waktu khusus untuk karyawannya tidur siang selama 20 menit. Padahal tidur siang setelah makan siang lebih baik daripada bekerja sambil menahan kantuk setelah makan siang. Jauh lebih produktif karyawan yang beristirahat lebih lama daripada pegawai yang terus bekerja padahal kurang bisa berkonsentrasi setelah makan siang.

Tidur siang tak mesti sampai terlelap, bisa setengah tidur saja atau yang disebut tidur ayam. Ada juga yang disebut dengan istilah: Power Nap atau Siesta. Google saja istilah-istilah ini (bahkan kabarnya kantor Google menyediakan kasur khusus untuk staf-nya tidur siang).

Selain kuantias jam tidur yang harus kita penuhi setiap malam, normalnya 7-8 jam atau kita ‘berhutang’ tidur, kita juga membutuhkan tidur yang berkualitas. Bagaimana agar tidur kita berkualitas dengan kuantitas yang cukup? Berikut tips-tipsnya:

1. Masuki fase REM (Rapid Eye Movement) dalam tidur. Segera rendahkan gelombang otak ke frekuensi Alpha dan Theta. Gunakan tehnik-tehnik pengkondisian pikiran seperti meditasi, swa-hipnosis, audio sugesti, musik binaural, dan sebagainya.

2. Matikan lampu dan jangan terpapar cahaya: televisi, komputer, handphone, dll. Cahaya atau sinar akan menekan stimulasi hormon melatonin yang aktif di kala gelap. Pikiran jadi waspada meski tubuh sudah lelah. Banyak orang kuat begadang di depan komputer, karena sinar yang dipancarkan membuatnya terjaga padahal merusak tubuh dan saraf.

3. Berolahraga di pagi atau siang harinya, tapi jangan pas malam harinya. Olahraga terbukti meningkatkan kualitas tidur seseorang dan memudahkannya untuk cepat mengantuk serta mengurangi dengkuran.

4. Makan yang kenyang 2-3 jam sebelum tidur dan sebaiknya minum susu kalau mampu. Susu akan menyibukkan pencernaan dan mengurangi kadar oksigen di otak sehingga membuat seseorang yang minum susu menjadi mudah untuk mengantuk.

5. Atur suhu di kamar tidur agar optimal untuk mendukung tidur yang nyenyak. Mandi dengan air hangat juga bisa membantu pada beberapa orang. Ada juga yang nyaman dengan mandi shower air dingin, terserah selera masing-masing yang penting bisa membantu tidur.

6. Rangkai rutinitas yang konsisten seperti cuci muka dan kaki, yang dijalankan setiap malam agar diri kita terprogram. Otak akan mengantisipasi persiapan kita yang rutin dan tubuh akan beradaptasi untuk menciptakan kebiasaan tidur yang teratur. Tetapkan jadwal jam tidur dan bangun yang sama setiap harinya.

7. Jangan banyak berpikir jika sudah di kasur. Lupakan dulu masalah-masalah yang ada. Kesampingkan pemikiran apapun kecuali yang indah. Visualisasikan pemandangan saja. Jangan lakukan apapun di atas ranjang, jika belum bisa tidur keluarlah dari kamar tidur dahulu. Pikirkan hanya satu hal saja ketika ingin tidur, bermeditasi, berzikir atau membaca satu mantra di dalam hati, menghitung domba, dan sebagainya.

Tidur yang cukup akan meningkatkan motivasi kita. Mimpi yang indah akan memberikan inspirasi dan kreativitas. Solusi dari suatu masalah bisa dipecahkan ketika dibawa tidur, seperti penemu struktur kimia bensin. Thomas A. Edison, Archimedes, Newton, Einstein dan banyak ilmuwan lainnya sangat suka berimajinasi dengan relaksasi setengah tidur. Banyak seniman memperoleh ide hebatnya di kala tidur dan bermimpi.

Jadi, cukupkan tidur di malam hari dan lakukan tidur siang (setengah tidur) di kala otak butuh penyegaran dan tubuh membutuhkan peningkatan motivasi.

Good Night!