Berpikir dalam Bahasa Asing Membantu Pengambilan Keputusan

by @rezawismail

Dalam sebuah riset bisnis yang diadakan oleh para peneliti di Universitas Chicago, ditemukan bahwa orang-orang bisa berpikir secara lebih rasional dalam mengambil keputusan ketika memikirkan masalah tersebut dan mencari solusinya dengan menggunakan bahasa asing.

Boaz Keysar, seorang pakar komunikasi dan yang juga merupakan profesor bidang psikologi di Universitas Chicago mengemukakan bahwa orang-orang menjadi lebih berani dan termotivasi untuk mengambil kesempatan yang beresiko untuk mendapatkan keuntungan jika berpikir dalam bahasa asing.

Dalam penelitian sebelumnya diketahui bahwa pada dasarnya manusia secara alami ingin menghindari bahaya, sehingga banyak orang yang tidak berani mengambil peluang yang mengandung resiko meski resikonya kecil dan terukur. Meski peluang untuk berhasilnya lebih besar.

Golongan manusia yang berhasil bertahan hidup dan tidak punah adalah mereka yang selalu waspada akan bahaya yang mengancam nyawa. Sifat ini diteruskan secara genetik kepada umat manusia di jaman modern. Kini banyak orang takut mengambil keputusan yang beresiko walau tidak sampai membahayakan. Padahal keputusan tersebut lebih berpeluang dalam memberikan keuntungan.

Dan penemuan yang baru ini menyatakan bahwa kecenderungan untuk menghindar tersebut berkurang dan orang-orang menjadi bersemangat memutuskan untuk mengejar kesempatan jika berpikir dalam bahasa asing. Proses pengambilan keputusan menjadi lebih strategis, logis, dan optimis.

Berpikir dalam bahasa asing meningkatkan kemampuan seseorang untuk mengambil keputusan yang terbaik. Hal ini disebabkan karena bahasa asing menciptakan mekanisme di otak yang memberikan ruang untuk berpikir secara logis daripada berintuisi secara otomatis. Kemampuan kognitif menjadi bertambah berkat pemikiran kreatif yang rasional daripada sekedar pemikiran sesaat yang emosional.

Efek bahasa asing ini teruji lewat beberapa eksperimen di Universitas Chicago. Beberapa partisipan yang mampu berbahasa asing dipilih untuk mengeksplorasi proses pengambilan keputusan bisnisnya dengan beberapa pilihan sebagai sebuah percobaan yang ilmiah. Hasilnya diukur secara statistik ekonomi.

Ketika para partisipan berpikir dengan bahasa ibu atau bahasa negaranya sendiri, mereka cenderung takut dan ragu-ragu untuk mengambil keputusan yang secara statistik ekonomi terbukti menguntungkan. Sedangkan partisipan yang menggunakan bahasa asing lebih sukses dalam mengambil keputusan.

Sayuri Hayakawa sebagai rekan peneliti mengungkapkan bahwa dengan berpikir dalam bahasa asing, seseorang mampu menahan emosinya. Reaksi yang emosional bisa mempengaruhi pengambilan keputusan yang didasarkan rasa takut daripada optimisme walaupun peluangnya bagus.

Beberapa penelitian juga dilakukan di Korea, Perancis, dan Amerika Serikat. Ditemukan bahwa pengambilan keputusan sangat dipengaruhi oleh deskripsi persoalannya. Pilihan yang berfokus pada keuntungan cenderung dicurigai beresiko, sedangkan pilihan yang digambarkan memiliki kerugian cenderung dianggap berpotensi tidak terlalu beresiko.

Namun, jika permasalahannya dipikirkan dalam bahasa asing; pilihan-pilihan ini bisa dipikirkan dengan logis tanpa terpengaruh dengan bagaimana pilihan-pilihan tersebut dipresentasikan. Pemgambil keputusan bisa mempertimbangkan pilihan-pilihan yang ada dengan matang dan obyektif.

Hasil studi ini sangat besar relevansinya dalam perekonomian global dan bagaimana para individu mengambil keputusan khususnya di dunia bisnis dan keuangan. Para pebisnis, manajer, dan karyawan yang biasa memproses pengambilan keputusan dalam bahasa asing lebih unggul dalam berpikir dengan akal sehat tanpa terlalu dipengaruhi oleh emosi negatifnya. Berpikir dalam bahasa asing terbukti menguntungkan!

Referensi: B. Keysar, S. L. Hayakawa, S. G. An. The Foreign-Language
Effect: Thinking in a Foreign Tongue Reduces Decision
Biases . Psychological Science, 2012; DOI:
10.1177/0956797611432178

Sumber: University of Chicago (2012, April 25). Thinking in a
foreign language helps economic decision-making.
ScienceDaily. Retrieved April 30, 2012, from http://
http://www.sciencedaily.com /
releases/2012/04/120425093938.htm