Pengejaran Kesuksesan dan Penciptaan Kebahagiaan

by @rezawismail

Kebahagiaan tidak bisa dikejar, itu harus terjadi. -Victor Frankl

Dalam norma kehidupan, kita bertujuan untuk melakukan tindakan-tindakan yang benar dan kebahagiaan akan menyusul. Sayangnya, kita harus sadari bahwa kebahagiaan perlu secara proaktif diciptakan bukan sekedar berbuat hal-hal yang kita percaya adalah tindakan yang benar.

Di dunia kerja atau bisnis secara keseluruhan, segala aktivitas yang bertujuan ekonomis dianggap sebagai sarana dalam mencapai kesuksesan. Dan kita berharap, pencapaian kesuksesan ini akan membawa kebahagiaan.

Penciptaan kebahagiaan lewat pengejaran kesuksesan ini seringkali mengalami kegagalan. Tapi banyak orang percaya bahwa itu hanya masalah waktu. Bahwa kebahagiaan pasti akan datang hanya tertunda. Selanjutnya, kesuksesan yang selalu ada di masa depan terus ingin diraih.

Beberapa jalan menuju kesuksesan seringkali tidak berujung, sedangkan pengalaman kebahagiaan harus dirasakan dalam kekinian. Inilah paradoks yang menjadi sumber masalah mengapa kebahagiaan tidak hadir seiring kesuksesan.


Kita mesti pahami perbedaan antara sarana untuk menciptakan kebahagian berbeda dari kebahagiaan itu sendiri. Misalnya dengan memaknai kebahagiaan lewat uang, status, memiliki keluarga, anak, atau kepemilikan lainnya.

Ini adalah pola pikir yang salah, menganggap kepemilikan sebagai kebahagiaan itu sendiri padahal itu hanyalah alat atau perangkat. Sehingga, terdapat resiko kekecewaan jika apa-apa yang telah dimiliki tidak cukup memuaskan untuk menciptakan kebahagiaan dan kita terus mengejar dengan berpikir bahwa kita membutuhkan kepemilikan yang lebih banyak atau lebih baik lagi.

Maka dari itu, kita harus sadari bahwa untuk menciptakan kebahagiaan dibutuhkan pengelolaan harapan agar tidak mudah dikecewakan. Dan pengejaran kesuksesan harus secara aktif diukur lewat seberapa berartinya pencapaian kita terhadap kebahagiaan pribadi bukan malah membandingkan diri dengan orang lain atau lingkungan sekitar.

Setiap orang berbeda-beda karakter dan pengalaman hidupnya, oleh karenanya kita tidak boleh bergantung pada hal-hal eksternal diluar diri kita untuk mengukur kesuksesan. Ukurlah kesuksesan berdasarkan seberapa efektifnya pencapaian kita terhadap kepuasan dalam hidup atau kebahagiaan.

Bisa saja, sesuatu yang bisa membuat seseorang bahagia berbeda dengan apa-apa yang bisa membuat orang lain berbahagia. Meskipun masing-masing orang bisa memiliki selera yang berbeda-beda, mereka tetaplah sama-sama ingin menciptakan kebahagiaan di dalam kehidupannya.

FAKTOR-FAKTOR PENTING DALAM PENCIPTAAN KEBAHAGIAAN

Ada beberapa faktor yang harus diprioritaskan semua orang jika ingin berbahagia. Yang pertama adalah mampu bertahan dalam menghadapi kesulitan dan kegagalan saat mengejar kesuksesan. Kuat menerima segala kesusahan, cobaan, atau tragedi yang pasti diderita oleh seluruh umat manusia. Seperti sakit, penuaan, dan kematian yang pasti dialami mahluk hidup dimanapun.

Selanjutnya adalah meningkatkan keahlian untuk merasakan kebahagian dalam keadaan apapun. Kita harus mampu termotivasi untuk peduli dengan orang lain selain diri sendiri. Bisa berempati dan bekerja demi sesama serta keluarga.

Wawasan terkini menyatakan jika perbuatan yang paling membawa kebahagiaan terbanyak adalah perbuatan yang dilandasi perasaan kasih dan sayang. Ingat saja ketika kita sedang jatuh cinta dan mencintai, dunia terasa indah sekali.

Pondasi utama dalam mengutamakan pengembangan tindakan-tindakan yang didasari perasaan mencintai dimulai dari keluarga dan sahabat terdekat. Kita harus pandai mengatur waktu dan perhatian untuk pasangan atau anak misalnya, dan menjadikan mereka sebagai tim kerja yang utama daripada kelompok yang ada di kantor.

Orang lain dalam hidup kita memang bisa menjadi sumber daya yang mumpuni dalam meraih kesuksesan dan kebahagiaan. Tapi, komunikasi dan bentuk interaksi lainnya dalam bersosialisasi bisa juga membawa stres yang tak perlu. Rekan kerja yang sulit, atasan yang menghardik, atau sekedar pengendara yang menyalip dengan kasar bisa merampas kebahagiaan kita dalam sekejap.

Kesimpulannya, dalam berinteraksi dengan orang lain, kita harus sadari bahwa tindakan orang lain ada diluar kontrol kita. Kita tidak bisa mengendalikan diri orang lain hanya bisa mempengaruhinya. Yaitu dengan senjata psikologis berupa penerimaan dan mengasihi dengan penuh empati.

Bahkan, walaupun kita tahu pilihan tindakan kita bisa memutuskan nasib macam apa yang kita akan dapatkan, kita juga kesulitan dalam mengontrol pikiran dan mengendalikan emosi. Terkadang, kita merasa bahwa intelektualitas kita cukup lemah untuk menahan kekuatan emosi dan alam bawah sadar.

Kembali lagi, lewat pengamatan yang mendalam kita bisa tetap berbahagia dalam keadaan apapun. Juga dengan penerimaan total dan rasa cinta diri yang beda dengan narsisme. Mengasihi diri sendiri berarti berbuat yang terbaik semaksimal mungkin tapi tidak menghukum diri jika kita tidak mencapai target atau ambisi yang ditetapkan.

Obsesi dan arogansi yang berlebihan bisa menjadi kebahagiaan semu, tapi ketiadaan kedamaian akan menjerumuskan kita ke jurang kekecewaan. Motivasi diri harus berasal dari dalam bukan dari pengharapan akan imbalan dan ketakutan akan ancaman.

MOTIVASI YANG SEJATI

Motivasi yang sejati haruslah berasal dari keinginan untuk mencintai diri, keluarga, dan sesama dengan cara mengaktualisasikan diri.

Mengoptimalkan minat dan bakat menjadi kemampuan khusus yang dikerjakan sebaik-baiknya yang akan memberikan kepuasan kerja karena kita telah berbuat yang terbaik sebisanya secara maksimal.

Kita harus secara komprehensif dan konsisten menganalisis keyakinan dan perilaku kita untuk bisa menciptakan kebahagiaan semakin banyak lagi. Proses yang tersulit adalah menguji paradigma kita agar selaras dengan tujuan yang menjadi prioritas. Penciptaan kebahagiaan bukan sekedar pengejaran kesuksesan.

Cobalah secara perlahan dan sederhana, selangkah demi selangkah berusaha berfokus pada kekinian dan bertindak berdasarkan keunikan diri sendiri. Hindari rasa malas kalah sebelum berperang atau mati rasa akibat kelelahan yang menghancurkan dikarenakan bertindak hanya berdasarkan iming-iming atau ketundukan pada orang lain.

Jangan banyak berpikir, jalani saja dengan terus bersyukur. Tetap nikmati hari demi hari dan perjalanan hidup serta karir walau belum mencapai tujuan. Kejarlah kesuksesan tapi utamakan penciptaan kebahagiaan yang beretika setiap detik dan detak jantung selagi kita masih hidup.

Carpe Diem!

Baca Juga:
Sukses di Tujuan Sukses di Perjalanan
Internalisasi Kesuksesan
Tips Meredakan Stres
Kunci Sukses