Tips Motivasi

Focusing on Happiness

Kategori: bisnis & wirausaha

Sibuk Tapi Tidak Produktif

Seorang suami yang baru pulang dari kantor ditanya istrinya: bagaimana hari ini?

Dia menjawab: sibuk sekali seharian ini. Istrinya merespon: sibuk mengerjakan hal-hal yang penting atau tidak?

Seringkali kita lupa, sibuk itu belum tentu produktif. Kita bisa saja sangat sibuk tapi tidak produktif.

Banyak hal-hal yang kurang penting malah menyibukkan kita. Beberapa hal terasa mendesak dan harus segera dikerjakan. Walau ternyata tidak terlalu penting.

Kita bisa sibuk terbuai dengan internet. Mengurus email yang banyak. Sibuk meladeni obrolan atasan. Tiba-tiba rekan kerja minta bantuan. Mendengarkan klien lama yang rewel. Makan siang bersama bawahan yang terlalu menghabiskan waktu. Menyiapkan acara sosial kantor. Mengerjakan urusan-urusan yang mendadak. Dan seterusnya.

Ingat-ingatlah ini setiap pagi; apakah yang terpenting yang harus kita prioritaskan untuk dikerjakan hari ini?

Ambil pulpen, tulis prioritas kita dan simpan catatannya di kantong kita. Evaluasi setiap pilihan kita sepanjang hari berdasarkan catatan tersebut.

Batasi waktu berbincang-bincang ringan dengan atasan dan bawahan. Rapihkan email dan hapus yang tak penting. Atur berkas-berkas agar mudah dicari. Delegasikan pekerjaan mendengarkan komplain klien. Tunda memberikan bantuan kepada rekan. Kerjakan hal-hal yang penting terlebih dahulu. Lihat catatan prioritasnya.

Sekali lagi: sibuk belum tentu produktif.

Tanyakan pada diri sendiri; apakah yang saya kerjakan ini penting dalam kemajuan bisnis/karir/usaha/perusahaan saya?

Kisah Kesuksesan

Jika kita tanyakan kepada seseorang yang sukses tentang bagaimana dia menjadi sesukses sekarang. Dia akan menceritakan kegagalan-kegagalan yang didapati sebelum kesuksesannya.

Kisah kesuksesan banyak didahului oleh kisah-kisah kegagalan sebelumnya.

Kembali kepada kisah orang yang sukses tersebut. Dia adalah orang yang berani bertindak meski beresiko gagal. Lalu dia belajar dari kegagalan tersebut dan berusaha kembali.

Terus mencoba, lagi dan lagi.

Sampai akhirnya sukses datang menghampirinya. Dan banyak dari kita yang ingin memiliki kisah sukses sepertinya. Tapi melupakan kisah-kisah kegagalannya.

Atau malah ingat sehingga tidak berani mencoba sebelum memiliki rencana yang matang. Menunggu berusaha untuk persiapan yang sempurna. Menunda inisiatif untuk memperhitungkan segala resiko. Belum bertindak sebelum yakin bisa sukses.

Padahal, kesuksesan banyak diisi oleh kisah-kisah kegagalan sebelumnya.

Dan pantang menyerah terus berusaha, lagi dan lagi.

Jangan sampai saya mengulang untuk yang ketiga kalinya; kisah sukses dimulai dari upaya-upaya berani gagal yang konsisten sampai berhasil.

Ayo kita mulai mencoba, lakukan sesuatu. Ambil inisiatif untuk bertindak. Sekarang juga. Dan selamanya. Jangan pernah berhenti berusaha. Beranilah untuk gagal.

Hingga suatu hari, semua kegagalan kita menjadi pendahuluan bagi kisah kesuksesan kita!

Jalan Menuju Kesuksesan

Ada dua jalan menuju kesuksesan. Yang pasti dan yang tercepat. Dan keduanya bukan jalan yang sama.

Mendaki puncak gunung kesuksesan, ada dua jalan. Yang paling cepat, jalan tegak lurus langsung ke atas. Namun ini jalan yang berbahaya, terjal dan rawan kejatuhan. Atau yang kedua, jalan landai yang mengelilingi gunung. Jalan yang spiral memutar, lambat tapi pasti.

Banyak orang ingin sukses dengan cepat dan mudah. Menjadi artis sensasional, mencoba lewat Youtube atau kontes bakat di TV misalnya. Membeli lotre. Mudah dan cepat, namun tidak pasti.

Kalaupun berhasil sukses, tidak akan bertahan lama. Mentalnya belum siap. Terbukti banyak pemenang lotre kembali miskin setelah beberapa tahun. Selebriti hasil kontes TV dan sensasi Youtube tidak bertahan lama. Mereka belum siap untuk sukses.

Dan yang gagal di jalan tercepat ini, sangatlah banyak. Mereka berjatuhan di tengah jalan pendakian kesuksesan. Kehabisan tenaga, terpeleset, dan kurangnya pengalaman.

Beberapa orang di jalan yang lambat melingkar, mereka bisa dipastikan akan mencapai puncak keberhasilan. Dan bertahan lama disana. Dengan energi yang masih terjaga, mental, dan pengalaman yang matang. Dengan beragam kenangan akan keindahan mengelilingi gunung kesuksesan.

Tapi jalan yang pasti ini tidaklah mudah. Jalan ini membutuhkan motivasi yang terjaga untuk terus berkomitmen dan berdisiplin. Termotivasi untuk selalu melangkah maju. Kesabaran juga dibutuhkan karena perjalanan yang lebih jauh. Layaknya seorang dokter bedah saraf yang hebat, dia telah menjalani berpuluh-puluh tahun untuk pendidikan dan pembelajarannya.

Ada dua jalan menuju sukses. Yang cepat tapi tidak pasti dan yang pasti tapi tidak mudah. Mana yang kamu pilih?

Rahasia Sukses

Saya pernah menanyakan seorang penulis sukses apa rahasia sukses dia.

Katanya; rahasianya adalah banyak membaca.

Selama ini, saya mengira penulis yang baik itu yang rajin menulis. Tapi katanya itu biasa. Dan seorang penulis memang senang menulis.

Yang berat adalah membaca sebanyak-banyaknya.

Penulis yang baik harus membaca banyak data untuk riset kepenulisannya. Jaman dulu, seorang penulis mesti mengubek-ubek perpustakaan. Membuka kliping koran dan majalah. Membeli banyak buku.

Jaman sekarang bagusnya sudah ada internet. Internet mempermudah riset kepenulisan. Namun, membaca sebanyak-banyaknya tetap harus dilakukan.

Membaca beragam hal untuk memperluas wawasannya. Padahal belum tentu semua yang sebaiknya dibaca, enak untuk dibaca. Meski ada banyak hal yang kurang diminati, tetap harus dibaca.

Membaca karya penulis lain yang lebih sukses. Atau yang gagal. Walau egonya malas-malasan membaca tulisan orang lain. Atau gengsi mengakui kehebatan penulis lainnya.

Menulis satu buku yang sukses, teman saya ini telah membaca ribuan buku dan beragam tulisan.

Inilah yang disebut persiapan. Mungkin persiapan terasa berat, tapi sangatlah penting. Kita harus mampu mendisiplinkan diri dalam persiapan sukses kita.

Banyak orang menginginkan kesuksesan yang instan. Tanpa melalui fase persiapan yang mungkin tidak menarik. Tapi persiapan menentukan kesuksesan.

Maukah kita berdisiplin; kerja keras untuk menyiapkan kesuksesan diri kita?

Training Sales Persuasif

Seorang sales yang baik harus mengikuti training tehnik-tehnik psikologi persuasif.

Seorang sales tidak hanya memberikan argumentasi logis mengapa seorang prospek harus membeli produknya berdasarkan fitur, namun sales tersebut harus mampu memberikan pengaruh-pengaruh psikologis kepada calon customer-nya.

Memotivasi pembelian dengan berusaha menyentuh hati pelanggannya.

Ini disebut persuasi.

Persuasi adalah bujukan yang menyentuh perasaan seorang pelanggan. Penjual yang persuasif berarti seseorang yang memanfaatkan sisi emosional kliennya. Lagipula, kebanyakan orang malas berpikir dan ingin solusi yang praktis.

Sehingga banyak keputusan pembelian lebih ditentukan secara emosional. Setelah membeli, beberapa argumen yang logis dipakai untuk menguatkan alasan pembeliannya dan agar tidak menyesal.

Tapi tetap, yang memotivasi seseorang untuk membeli adalah emosinya.

Saya akan berikan beberapa contoh trik persuasif yang memanfaatkan emosi:

1. Seseorang bisa saja membeli sesuatu tanpa berpikir panjang jika sesuatu itu memiliki diskon yang terbatas, misalnya. Ini akan memicu respon emosional akan kelangkaan membuat sesuatu menjadi berharga.

Padahal, secara rasional sang pembeli belum tentu membutuhkan barang yang sedang didiskon tersebut.

2. Sebuah barang bisa lebih laku dijual jika sudah banyak orang memilih untuk membelinya. Jadi seorang pembeli beralasan membeli barang tersebut dengan efek ikut-ikutan, yaitu secara emosi memberikan kepercayaan dengan alasan banyak orang yang juga yakin untuk membeli barang tersebut.

Padahal, secara argumentatif logis bisa saja orang yang banyak itu juga salah. Misalnya kasus ratusan nasabah yang bareng-bareng tertipu produk investasi bodong.

3. Dengan simbol-simbol otoritas seperti gelar/titel, kepakaran, profesor, dokter, pakaian/seragam, aksesoris dan gaya yang mewah; banyak pelanggan menjadi percaya pada sang penjual tapi tidak menyelidiki produk yang dijual secara rasional.

4. Kepercayaan kepada penjual secara emosional daripada produk yang dijualnya adalah trik persuasi yang memanfaatkan keakraban/kedekatan hubungan.

Pembeli seharusnya mengevaluasi apakah produk yang ingin dibeli adalah produk yang berkualitas dan sesuai dengan kebutuhannya bukan hanya dari rasa percayanya pada sang penjual yang bisa ditimbulkan dengan perasaan kedekatan.

Sang penjual bisa saja mengaku berasal dari daerah yang sama, satu suku, teman sekolah, dan bahkan masih keluarga. Banyak MLM dan agen asuransi jiwa memanfaatkan hubungan-hubungan emosional ini untuk menggaet anggota/nasabahnya.

Dan masih banyak contoh trik persuasif lainnya untuk sales. Sebenarnya ada 7 prinsip yang sudah diteliti oleh Robert Cialdini, seorang peneliti bidang psikologi persuasif. Ketujuh prinsip tersebut adalah:

1. Prinsip Timbal-Balik
2. Komitmen dan Konsistensi
3. Validasi Sosial
4. Prinsip Rasa Suka
5. Prinsip Otoritas
6. Pinsip Kelangkaan
7. Prinsip Kontras

Dan ada juga prinsip kedelapan yang dirahasiakan Cialdini, Ph.D, dkk. Jadi, total ada 8 prinsip psikologi persuasif untuk mempengaruhi seseorang secara emosional.

Apakah salah membujuk seorang prospek dengan trik-trik persuasi ini?

Jawabannya tidak, karena sebagai penjual, seorang sales memiliki target yang harus dipenuhi.

Namun, seorang sales atau penjual juga memiliki reputasi yang harus dia pertahankan. Jika seorang sales menggunakan trik-trik penjualan untuk menipu atau menjual produk yang tidak berkualitas, maka reputasinya akan hancur.

Runtuhnya reputasi seorang penjual akan merusak pencapaian target penjualannya dan pada akhirnya merugikan dirinya sendiri.

Saya akan memaparkan 8 prinsip psikologi persuasif ini pada tulisan-tulisan yang selanjutnya. Seorang tenaga penjual atau wirausaha yang ingin jago menggunakan trik-trik persuasi wajib mengikuti training, karena prinsip-prinsip persuasi ini tidak bisa hanya dihapal.

Aktivitas persuasi dilakukan secara alamiah, jangan tampak seperti hapalan karena bersifat emosional.

Training sales yang mengajarkan kemampuan persuasif akan menanamkan keahlian ini sampai di tingkat alam bawah sadar…