Tips Motivasi

Focusing on Happiness

Kategori: motivasi

pain is inevitable suffering is optional (Cara Melepaskan ‘Diri’ dari Stres)

Stres adalah terlalu memikirkan hal-hal di luar kendali diri; seperti perilaku orang lain, kejadian yang di luar kontrol.

Fokuslah hanya pada hal-hal yang bisa dilakukan; berusaha yang terbaik, bertindak optimal yang bisa diperbuat.

Itu adalah filosofi stoikisme tentang dikotomi kendali, kontrol dualistis.

Tapi bebas stres belum tentu bahagia Nirvana, untuk itu harus pelajari filosofi Anatta (No Self) dan Advaita atau non-dualisme.

Bahwa sesungguhnya dalam kebenaran sejati selain hidup ini ada sakit dan duka juga semuanya serba tak pasti serta tak ada yang permanen, adalah: tanpa diri.

Yang berarti justru semuanya ada di luar kontrol diri, segalanya akan berubah di luar kendali dan tidak ada pengendali.

Sekali lagi: tidak ada sang diri yang mengontrol atau menjadi pengendali.

Sehingga tidak perlu terlalu memikirkan semuanya, bebas dari stres, pasrah total mengikuti kisah ini, dan enjoy the movie!

Ingat: “Pain is inevitable, suffering is optional…” renungkanlah kalimat ini.

Alami semua pengalaman tanpa perlu ada yang mengalami, rasakan segala sensasi tanpa ada ilusi ego diri di dalam pikiran.

Pikiran itu nyata, sama seperti semua yang bisa disentuh, dilihat, didengar, di-inderai, namun isi pikirannya adalah fiksi.

Lepaskan segala paradigma berpikir kecuali yang nyata yang bisa diinderai.

Jika persepsi sudah bertransformasi, tandanya gerbang maya telah dilewati.

Anima Sola

Ego adalah ilusi ciptaan pikiran, yang kadang berguna, namun seringkali membawa derita yang tak perlu.

Kebebasan dimulai dari melihat kebenaran bahwa semua cerita diri adalah fiksi, sama seperti menyadari tokoh fiksi dalam film.

Keajaiban kehidupan ini bisa langsung dialami sekarang juga, lepas dari ingatan dari masa lalu dan bayangan masa depan.

Memori dan prediksi itu semu, fana sama kayak isi pikiran, bebaskan diri dari segala konsep bahkan dari konsep diri itu sendiri.

Rilekslah dan nikmati pemandangan yang ada di depan mata, panorama dan aroma, suara juga rasa dalam pelukan momen ini.

Realitanya sederhana, seperti menonton drama di panggung sandiwara, tapi tanpa penonton, dan Anda bukan juga aktornya.

Semua terjadi begitu saja, bermain dalam arena keberadaan, pikiran ada tapi tanpa pemikir, datang-ada & pergi-tiada gitu aja.

Melangkahlah dengan ringan seakan-akan otomatis, karena memang begitulah keadaannya, humor dari semesta.

Kita ini tak terpisahkan, tubuh dan roh, itu semuanya milik siapa? Siapa yang tersisa, setelah ditelusuri, tunjukkan dengan jelas;

Dimana ego itu? Dia hanya ilusi tak nyata, lihatlah pikiran tanpa berpikir, ketahuilah:

Peta bukanlah dunia nyata, pikiran nyata sebagai alat tapi isi pikiran cuma konsep.

Lihat saja sendiri, dirinya tak nyata, ego itu tak ada ditemukan dimana-mana tapi hanya sebagai cerita, ingatan, pemikiran.

Faktanya tidak ada yang pasti, segalanya berubah, tidak ada inti diri/ego yang tetap permanen, karena semua pasti berubah.

Penderitaan adalah melekat pada sesuatu padahal semuanya pasti akan berlalu, jika ada rasa sakit tapi tak perlu ada ego yang melekat, maka tak akan ada subyek yang menderita. Pahamilah ini secara langsung.

Praktikkan tanpa ego, bukan sekedar teori dan pemahaman intelektual, namun alami dan mengerti kebenaran secara langsung;

Seperti bedanya melihat dan mendengar langsung dengan membayangkannya aja.

Ego-diri itu hanya bayangan dan khayalan.

Tanyakan: apakah Anda nyata? Tunjukkan ada dimana! Benarkah isi pikiran itu? Ini!

#painisinevitablesufferingisoptional #TM #anattabasedcognitivetherapy #ABCT #radicalrealization #enlightenment #noseparateself #awakening

Pikiran adalah Notifikasi

Banyak orang menganalogikan otak seperti komputer.

Saya akan coba analogi yang berbeda sebagai sarana berbagi paradigma baru.

Yaitu, otak seperti smartphone.

Dan pikiran-pikiran yang muncul adalah seperti notifikasi-notifikasi.

Tidak semua pemikiran atau suara batin yang muncul ditindaklanjuti.

Tindakan atau perbuatan; termasuk omongan atau kata-kata verbal adalah keputusan yang dipilih pengguna otak.

Jadi, sebelum berbicara atau melakukan sesuatu, nilai lah dulu pikiran-pikiran itu,

Apakah memang perlu ditindaklanjuti atau diucapkan, atau cukup dalam hati saja bahkan tak usah dipedulikan lagi.

Sama seperti semua notifikasi di HP tidak semuanya ditindaklanjuti bahkan beberapa hanya diketahui lalu disingkirkan atau silent.

Kita butuh juga momen berdiam itu, aktivasi mode ‘do not disturb’ misal meditasi atau rileksasi seperti tidur saja, tak terpengaruh pikiran-pikiran yang hadir.

Dan dengan RAM memori yang lega, batin yang lapang dapat mengambil keputusan bertindak atau berbicara yang tepat tak impulsif terburu-buru.

Jadi, amati saja pemikiran, itu hanya notifikasi yang bisa berguna bisa juga ngga terlalu urgent!

Bahagia Tahan Lama

Kita sering berasumsi kalau paradigma berpikir menentukan persepsi akan suatu kondisi itu dinilai baik atau buruk,

Jadi sebenarnya pengaruh terbesar akan kesejahteraan mental kita bukanlah dari luar atau eksternal.

Orang memiliki kecenderungan untuk beradaptasi pada hal baru, dan berfokus pada yang sedang akan terjadi adalah kemampuan adaptasi manusia dari jaman dulu.

Tapi kebanyakan, kondisi yang sudah terlewati akan semakin berkurang dampaknya; seperti orang baru menang lotre undian dapat uang banyak atau dapat musibah jadi lumpuh, pada akhirnya lama-kelamaan akan biasa lagi aja.

Hepi atau sengsara itu tak bertahan lama, hanya sebentar lalu berkurang intensitasnya seiring waktu, tahun demi tahun.

Jadi, bagaimana agar kebahagiaan dapat bertahan lama?

Pertama, berasal dari lingkungan sekitar dan sosial, orang-orang yang selama ini dan nanti akan berada dalam lingkaran interaksi.

Juga mengaktualisasikan diri, kemampuan dan keahlian diri disalurkan dalam karya dan menjadi pengejar pertumbuhan personal melewati beragam rintangan.

Jika Anda bertahan dari berbagai kesulitan, maka itu akan menjadi suatu kekuatan dan memperdalam hubungan yang saling membantu.

Dukungan teman dan keluarga memang yang utama tapi tak kalah penting adalah konsep atau citra diri yang lebih realistis, menyesuaikan antara keyakinan dengan kesukaan secara instingtif.

Misal, ingin mengejar karir tapi sebenarnya dalam hati mau juga menghabiskan waktu bersama orang yang diluar pekerjaan, jangan sampai diskrepansi ini melebar.

Harus menjaga keseimbangan, ciptakan koherensi, dengan mencari arti yang merupakan inti emosi yaitu makna kehidupan yang dipegang menjadi suatu prinsip dalam menjalani keseharian.

Lakukanlah yang berarti dan yang dicintai, aktivitas atau pekerjaan yang bisa dinikmati bukan hanya sekedar mencari gaji atau uang tapi merupakan ekspresi dari kreativitas juga jangan lupakan spiritualitas.

Jaga relasi, bersama mereka yang disayangi dan kita pedulikan, jangan mudah menyalahkan dan sabar lalu memaafkan, berinisiatif untuk ambil tanggung jawab dulu, cari kesalahan sendiri dan perbaiki, temukan solusi serta berbuat baik pada sesama.

Kekuatan Rutinitas

Anda ingin menjadi lebih baik bukan?

Walaupun bersyukur dengan keadaan yang ada, tapi kita harus memiliki cita-cita lebih.

Supaya lebih kuat, tambah sehat, ngga mudah sakit, tak perlu menderita secara percuma.

Itu butuh perubahan, dan berubah itu perlu walau kadang menembus kepercayaan diri, artinya walau ragu bisa mencapai tujuan itu tapi masih mungkin dan ternyata bisa didapat!

Yaitu, harus berevolusi dan mengkultivasi diri, fokus pada potensi di masa depan, berlatih terus jadi lebih baik.

Itu butuh kebiasaan baik dan membuang beberapa kebiasaan yang buruk.

Caranya dengan ritual, repetisi, perulangan terus – menerus dengan melawan bosan dan menumpas rasa malas.

Walaupun hanya sebentar, lakukan ritual ritual yang rutin, misal di pagi hari atau sore hari, hormati itu seperti sebuah seremoni, sesuatu yang menjadi prioritas utama harian.

Misal sejak dini, bangun pagi dan berolahraga atau beberes rumah, menyapu halaman, beribadah, menyusun strategi atau sekedar membaca serta berencana makan makanan yang bergizi setiap hari.

Jangan remehkan itu semua, lakukan saja maka pasti akan terjadi perubahan itu.

Mekanisme ritual ini melawan segala hambatan emosi, rintangan pikiran, dan otomatisasi seperti mesin yang efisien.

Bukan berarti jadi robot, tapi tetap manusia, yang menikmati kopi di pagi hari atau ngeteh bareng keluarga di sore hari,

Hebatnya ritual rutin, yang dilakukan terus menerus, dengan kejujuran diri sebagai kuncinya, walau kurang yakin, tapi perubahan itu pasti.

Kalau kita tak melakukan ritual baik maka kebiasaan-kebiasaan buruk akan mengambil alih hidup kita tanpa disadari, kemalasan dan ketakutan akan menguasai diri.

Akhirnya perubahan yang terjadi bukan lebih baik malah lebih buruk!

Ritual harus dipilih, kalau pun tak mau atau malas/bosan dengan yang positif, kebiasaan-kebiasaan lain akan tetap dilakukan, sadar atau tidak disadari, pilihan atau dipilih.

Masalahnya, itu ada rutinitas yang baik ada juga kebiasaan buruk.

Anda bisa memilih yang positif tapi kalau malas dan bosan, yang negatif akan sedikit demi sedikit menggerogoti Anda!

SADAR – LAH