Tips Motivasi

Focusing on Happiness

Kategori: motivasi

Tips Memotivasi Diri Ketika Gagal

Ketika kita mengalami kegagalan, kita merasakan emosi yang negatif. Bisa berupa perasaan kecewa, sedih, kesal, marah, takut, traumatis, bahkan putus asa. Rasa yang melumpuhkan. Motivasi diri jatuh sehingga sangat sulit untuk bangkit kembali. Perasaan yang sungguh mengerikan.

Kata-kata apapun tidak ada yang cukup menghibur dan memotivasi. Mungkin beberapa rekan atau sahabat berusaha menyemangati dengan kata-kata yang bermaksud baik. Tapi perasaan yang dibawa oleh kegagalan itu tetap menghantui.

Bisa jadi kita sendiri yang berusaha memotivasi diri dengan kata-kata, afirmasi, dan segala tulisan tentang teori menghadapi kegagalan. Namun, kata-kata dari manapun dan oleh siapapun, tidak akan ada yang bisa membuat rasa gagal menjadi sirna.

Lalu, bagaimanakah cara yang tepat untuk mengatasi kegagalan dan membuat diri kembali termotivasi? Berikut tips memotivasi diri ketika gagal:

1)Kita harus menerima perasaan apapun yang kita rasakan ketika gagal. Jangan berusaha dihindari, disangkal, atau ditekan. Terima dan rasakan. Bayangkan dengan beragam perspektif termasuk dari sudut pandang orang ketiga, visualisasikan dengan imajinasi yang yang aneh atau lucu. Perasaan memang kodratnya untuk dirasakan, dan pasti akan memudar. Seperti menelan pil pahit, rasa pahitnya akan menghilang seiring waktu. Segalanya pasti berlalu.

2)Segala kata-kata memang tidak cukup, perbuatanlah yang bisa membantu. Lakukan sesuatu, bertindak dan bergerak. Kegagalan memberikan kehampaan karena tujuan yang ingin diraih tidak didapatkan. Berikan diri sebuah tujuan baru, buat otak dan otot tetap terus aktif. Lakukan segera satu hal yang bisa dikerjakan secepatnya. Ciptakan kesibukan yang berguna. Mulailah dari satu hal kecil jika yang lainnya terasa sulit, misalnya: bersih-bersih dan membuang sampah, membantu orang lain, dan sebagainya.

3)Kalaupun tetap merasa demotivasi, tidak apa-apa, itu wajar. Segala emosi negatif yang datang akibat kegagalan adalah perasaan yang bisa kita rasakan tanpa perlu menindaklanjuti secara impulsif. Bedakan garis tegas antara perasaan dan perbuatan. Kita boleh saja merasakan perasaan marah misalnya, dan memang kita tidak bisa menolak emosi yang terjadi di hati. Namun, kita bisa kontrol diri kita untuk tidak melakukan perbuatan berkonsekuensi yang negatif. Meski gagal dan terasa tidak enak, kita bisa bertindak secara positif. Jangan bereaksi, tapi beraksi; jadilah proaktif. Melakukan inisiatif berdasarkan prinsip yang benar bukan berdasarkan perasaan belaka.

4)Walau telah gagal, sadari bahwa kegagalan itu hanya sementara dan parsial, masih banyak bidang lain di dalam kehidupan yang tidak gagal. Syukuri dan buat daftar hal-hal yang masih baik-baik saja. Nilailah diri dengan adil, jangan terlalu menghukum diri dengan melihat secara obyektif keadaan diri secara keseluruhan. Kadangkala pandangan kita terlalu sempit untuk melihat lebih luas. Lihatlah jauh ke depan seperti Tuhan, masih banyak berkah lain dan kegagalan hanyalah salah satu rencana kecil di dalam gambaran besar takdir kehidupan kita.

5)Ambil hikmah dari kegagalan, anggaplah bahwa kegagalan hanyalah pelajaran yang sangat berharga dengan guru yang buruk. Pelajari kegagalan sebagai anak tangga menuju kesuksesan. Renungkan kesalahan-kesalahan yang ada agar tidak terulang lagi dan ajari orang lain agar terhindar dari kegagalan seperti yang dialami. Pada akhirnya, yang akan kita ingat bukanlah seberapa banyak kegagalan yang terjadi. Melainkan kesuksesan yang terasa begitu indahnya, begitu manis; karena kita pernah menelan pil pahit kegagalan. Begitulah kodrat kehidupan.

Baca juga:
Tanpa Kegagalan Tidak Ada Kesuksesan
Takut Gagal = Tidak Sukses
Tips Motivasi Saat Gagal
Kisah Kesuksesan

Tips Memotivasi Disiplin Diri

Kediplinan membedakan kita dari binatang dengan kekuatan pikiran berakal yang mampu mengendalikan diri dengan mengontrol nafsu dan insting kita.

Kelebihan manusiawi inilah yang akan mendorong kemajuan kita dengan memampukan diri kita untuk membuat perencanaan, mengevaluasi tindakan, dan mencapai kesuksesan.

Namun kadangkala, kita merasa lemah dalam mengendalikan diri untuk berdisiplin. Berikut beberapa tips singkat untuk memotivasi diri agar bisa disiplin;

1)Selalu Mengingat Alasan & Tujuan
Jika kita menginginkan sesuatu sebagai tujuan dan memiliki alasan yang kuat untuk mencapai tujuan tersebut, maka kita akan mencari cara bagaimana meraih tujuan tersebut dan melaksanakannya. Namun jika kita hanya mengetahui bagaimana caranya sesuatu dikerjakan, kita tidak akan terlalu termotivasi berdisiplin tanpa menyadari apa yang menjadi alasan dan tujuan yang kuat mengapa kita melakukan hal tersebut. Ini sering terjadi pada para karyawan yang bekerja di bidang administrasi dan pekerja di bagian manufaktur/lini produksi atau buruh.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Kentaro Fujita, para partisipan yang selalu mengingat-ingat alasan mengapa mereka melakukan sesuatu ketika sedang mengerjakannya, lebih gigih dan disiplin dalam mencapai tujuannya daripada mereka yang mengerjakan sesuatu tanpa secara sadar memikirkan alasan dan tujuannya.

Kita akan lebih termotivasi jika kita menyadari bahwa pekerjaan kita bermakna dan memiliki tujuan yang berarti. Gali inspirasi, hasrat pribadi, dan ingat-ingatlah orang-orang yang dicintai yang ingin kita nafkahi serta yang ingin kita bahagiakan. Bayangkan diri kita di masa depan, ketika usia telah senja dan tubuh telah renta, bagaimana kita ingin menjadi di suatu hari nanti? Tentunya ingin berhasil mendapatkan tujuan dengan alasan yang berarti.

2)Membuat Rencana yang Spesifik dan Tertib
Banyak orang gagal memenuhi resolusi tahun barunya untuk menurunkan berat badan karena rencananya kurang spesifik: makan lebih sedikit, berolahraga lebih banyak. Selain tidak spesifik, rencana ini tidak tertib: tidak memiliki urutan tindakan yang teratur.

Penelitian oleh Peter Gollwitzer menyatakan rencana yang terbaik memiliki langkah-langkah yang berkelanjutan, yang memiliki pemicu seperti sebuah waktu yang spesifik atau suatu kejadian tertentu. Contohnya, resolusi tahun barunya menjadi: berolahraga selama sejam di gym setiap hari Selasa, Kamis, dan Sabtu setelah pulang kerja atau jam 5 sore. Rencana diet menjadi: jika makanan penutup datang, saya akan mengabaikannya dan minum kopi saja.

Perencanaan seperti ini akan memudahkan otak agar tidak terlalu menghabiskan energi dalam memikirkan prosedur dalam bertindak dan cukup memikirkan alasan dan tujuannya saja. Rencana yang spesifik dan tertib akan membuat pekerjaan seakan-akan otomatis dilakukan tanpa perlu banyak berpikir lagi. Terlalu banyak berpikir akan menguras energi mental kita.

Pengendalian diri memerlukan energi, dan jangan kuras energi tersebut dengan terlalu banyak berpikir tentang bagaimana cara melakukan sesuatu atau langkah selanjutnya ketika sedang berdisiplin. Fokuskan energi untuk berdisiplin dengan memisahkan waktu berpikir dengan saat bertindak ke dalam dua fase yang berbeda. Buatlah rencana tindakan secara spesifik dan tertib sebelum bertindak sehingga kita bisa memanfaatkan energi kita secara efektif serta terfokus dalam berdisiplin.

3)Jangan Terlalu Memforsir Diri
Seperti yang telah saya sebutkan di atas, berdisiplin memerlukan energi yang cukup agar kita bisa mengendalikan diri agar tindakan kita tetap sesuai rencana dan mampu gigih untuk terus bertahan sampai tujuan. Maka dari itu, jangan menghabiskan energi dan jangan lupa untuk beristirahat.

Profesor Kathleen Vohs, seorang pakar perilaku, menyatakan bahwa pengendalian diri memiliki sumber daya yang terbatas, yang bisa habis jika digunakan secara berlebihan. Seperti otot yang kelelahan yang tidak bisa digerakkan lagi jika terlalu diforsir. Dan seperti otot juga, bagian otak yang berkaitan dengan kontrol diri; prefrontal cortex, bisa dilatih agar lebih perkasa.

Cara melatih bagian otak ini juga sama dengan cara binaragawan melatih dan memperbesar otot-ototnya secara alamiah. Perlahan tapi pasti, mulai dari beban barbel yang kecil dan sampai mengangkat besi yang lebih berat. Semua dilakukan tanpa dipaksakan, tanpa stres, dan disesuaikan dengan perkembangan ototnya. Selain itu, masa istirahat juga diperlukan agar otot yang sudah dilatih melakukan pemulihan untuk bertumbuh agar lebih besar dan kuat.

Maka, tips disiplin diri menjadi; lakukan tindakan yang harus dilakukan, namun jangan dipaksakan tapi tetap harus dikerjakan. Intinya, laksanakan kedisiplinan dengan langkah-langkah yang mudah dan bertahap, yang penting konsisten dan tidak absen dalam prakteknya walau tetap diberikan jeda untuk memulihkan tenaga.

4)Kelola Lingkungan dan Kondisi Sosial di Sekitar
Disiplin diri bukan hanya sekedar mengelola kemampuan yang ada di dalam diri untuk mengerjakan rencana tindakan secara konsisten, tapi juga menempatkan diri pada lingkungan dan kondisi sosial yang mendukung pelaksanaan kedisiplinan diri tersebut.

Seorang psikologis dari Princeton, Dan Ariely, meneliti tingkat pengendalian diri seseorang membutuhkan kontrol eksternal seperti pengaturan keadaan serta orang-orang yang ada di sekitarnya. Perubahan pada lingkungan akan memacu perubahan pada diri orang yang ditempatkan di lingkungan tersebut.

Untuk berdisiplin, kita perlu menyiapkan segala sesuatu yang kita butuhkan dan menyingkirkan semua yang ingin kita hindari selama berdisiplin. Contohnya untuk berdiet; seseorang perlu melakukan persiapan dengan membuang segala makanan junk-food dari kulkas dan lemarinya serta selalu menyediakan makanan sehat seperti buah dan sayur. Kalau perlu, pindah tempat tinggal ke lingkungan yang lebih mendukung gaya hidup yang sehat.

Lalu, kita harus menempatkan diri bersama orang-orang yang mendukung tujuan kita berdisiplin, mendekati diri dengan orang-orang yang bisa mempengaruhi dan melemahkan kedisiplinan kita. Misalnya, jika ingin lebih rajin berolahraga maka bergaulah dengan orang-orang yang juga rajin berolahraga jangan berkumpul dengan orang-orang yang duduk-duduk saja kerjanya. Jangan cuma mendaftarkan diri ke gym tapi milikilah teman atau tim dalam suatu klub olah raga yang diminati.

Aktiflah mengikuti diskusi, forum, dan nyatakan tujuan serta rencana tindakan kita secara publik. Umumkan beserta sanksi atau hukuman yang bersedia kita terima jika gagal memenuhi komitmen dalam berdisiplin tersebut. Bergabung atau buatlah grup/kelompok yang bertujuan sama dan saling mendukung, atau minimal cari seorang partner/mitra yang mendukung kita untuk mendisiplinkan diri.

5)Meningkatkan Kepercayaan Diri
Kesuksesan menaklukan tantangan dalam berdisiplin membutuhkan kepercayaan diri. Tingkat keberhasilan yang tinggi didapatkan dengan memberikan yang terbaik dari kemampuan yang ada. Dan memberikan yang terbaik semaksimal yang kita bisa, hanya mungkin dilakukan dengan kepercayaan diri yang optimal.

Peneliti beberapa atlit terbaik yang menjadi juara dunia, Jim Taylor, Ph.D. Mengemukakan bahwa keyakinan penuh akan keahlian yang kita miliki akan membuka potensi diri sepenuhnya. Sedangkan keragu-raguan akan menghambat pemanfaatan keahlian secara maksimal dan akan membawa penyesalan karena tidak memberikan yang terbaik dari diri kita. Kepercayaan diri akan meningkatkan keyakinan seseorang untuk sukses.

Sebaliknya, kita tidak akan menyesal meski gagal jika kita tahu kita telah memberikan yang terbaik dan berusaha semaksimal mungkin. Kita tidak akan menyalahkan diri, mungkin kita akan menyalahkan nasib atau takdir, tapi kita akan tetap percaya diri karena telah berjuang dengan seluruh kemampuan yang kita punya. Penyesalan akan mendemotivasi dan melemahkan semangat kita, berikan seluruh kemampuan yang terbaik yang kita bisa agar tidak menyesal nanti. Dan kepercayaan diri yang tinggi akan menguatkan kita dari perasaan kecewa jika kita mengalami kegagalan.

Maka dari itu, adalah penting untuk menjaga dan meningkatkan kepercayaan diri bahwa kita akan mampu berdisiplin secara maksimal. Untuk meningkatkan kepercayaan diri kita harus menjaga sikap dan pikiran yang positif, optimis dan berani menghadapi rasa takut serta kecemasan atau ketidaknyamanan yang ada akibat perubahan yang dilakukan. Dan yang paling penting; mampu bangkit serta belajar dari kesalahan, terus percaya diri untuk kembali termotivasi dalam berdisiplin.

Baca juga:
Cara Disiplin dalam Bekerja
Memotivasi Komitmen yang Kendor
Sukses di Tujuan Sukses di Perjalanan
Cara Mudah untuk Berubah

Rahasia Sukses Bisnis Waralaba McDonald’s

Pada tahun 1950an, Ray Kroc adalah seorang pengusaha yang menjual mesin milkshake, alat pengocok minuman dengan susu. Suatu ketika, dia mendengar sebuah restoran di California (AS) yang terkenal dengan hamburger dan kentang gorengnya, memiliki sekurang-kurangnya delapan mesin milkshake. Sungguh merupakan sebuah rumah makan yang ramai.

Ray Kroc pun terkesan dan segera terbang dari Chicago ke Los Angeles, dan berkendara sejauh kira-kira 100 KM ke San Bernardino, tempat restoran itu berada. Sedari pagi dia mengamati: mulai dari para karyawannya yang berseragam dan bekerja dengan disiplin, sampai siang hari ketika banyak pengunjung yang mendatangi dan makan di restoran tersebut. Semua pelanggan yang membeli makanan di tempat itu tampak sangat antusias.

Keesokan harinya, Ray Kroc datang kembali ke restoran hamburger itu dan mencoba melihat langsung ke dapurnya. Dapurnya sangatlah terorganisasi, dengan prinsip lini produksi yang rapih. Semua makanan dimasak dan dipersiapkan secara teratur sehingga efisien dalam penyajiannya. Setelah 8 tahun berdiri, restoran tersebut membangun “Speedee Service System” yang membuat penyajian pesanan pelanggan menjadi lebih cepat. Restoran yang dulunya menyajikan menu barbecue dengan proses yang agak lama, telah bertransformasi menjadi restoran cepat saji yang terkenal karena kecepatannya dalam menyajikan hamburger dan kentang goreng.

Saat itu, Ray Kroc sangat terkesan dengan kentang goreng yang sedang dipersiapkan. Kentang itu dipilih dari kualitas yang terbaik, direndam dalam minyak panas, dan dibumbui dengan garam serta gula untuk karamelisasi sehingga tampak kuning keemasan. Sungguh merupakan proses memasak yang seperti sebuah ritual saja, dan dia pun mencicipi kentang goreng tersebut. Kentang gorengnya sangat garing di luar dan lembut di dalam, rasa yang memberikan inspirasi. Hari itu juga, Ray Kroc mendapatkan inspirasi untuk memiliki banyak restoran di beragam negara yang menjual kentang goreng keemasan yang sangat berkesan itu.

Selanjutnya, Ray Kroc bernegosiasi dengan kedua bersaudara yang memiliki restoran tersebut. Dia menanyakan apakah dia bisa memiliki hak franchise atau waralaba untuk restoran itu. Di tahun 1955, Ray Kroc bergabung menjadi agen franchise untuk waralaba restoran tersebut. Lalu dia memiliki impian untuk menjadikan restoran itu mendunia dan berniat membelinya dari kedua bersaudara sang pemilik restoran. Dengan agresif, Ray Kroc berupaya mengambil alih kepemilikan dari kedua bersaudara yang bernama Richard dan Maurice itu. Dua bersaudara dengan nama belakang yang sama: McDonalds.

Kini, McDonald’s Corporation menjadi rangkaian restoran cepat saji terbesar di dunia, setiap harinya melayani sekitar 70 juta pelanggan di 120 negara. Puluhan ribu restoran McDonald’s telah menampung jutaan karyawan di seluruh dunia. Ray Kroc dengan sukses membawa bisnis makanan cepat saji ala Amerika menjadi fenomena globalisi dan merevolusi standar layanan industri restoran dengan tehnik produksi yang efisien namun mutu makanannya tetap konsisten.

Konsistensi kualitas makanan yang disajikan inilah yang menjadi kunci keberhasilan Ray Kroc dalam membesarkan restoran McDonald’s di seluruh dunia. Dia menciptakan standarisasi yang sangat ketat untuk menu yang disajikan. Dia mengerahkan para pakar dengan hidrometer untuk mengukur secara tepat kadar air dari kentang-kentang yang akan dipanen. Dia juga menerapkan tehnik pengolahan kentang tersebut dengan pengeringan di ruang penyimpanan khusus. Dan dengan canggihnya, restoran McDonald’s menggunakan komputer yang dirancang oleh seorang insinyur berpengalaman untuk mengkalibrasi suhu dan mengukur durasi menggoreng kentang yang optimal. Seni memasak bertransformasi menjadi sesuatu yang ilmiah, yang secara konsisten menghasilkan menu yang berkualitas tinggi setiap waktu dimana saja. Riset-riset selanjutnya membawa inovasi seperti burger Big Mac, saus rahasia, menu tertentu seperti paket nasi dan sebagainya.

McDonald’s merupakan pelopor makanan cepat saji yang membawa sistem produksi massal dengan konsep waralaba, seperti pabrik sehingga mampu melayani banyak orang di banyak negara. Keuntungannya selain berasal dari penjualan makanan oleh restoran-restoran yang dijalankan oleh perusahaan, juga berasal dari pendapatan royalti, uang sewa, ongkos/fee franchise yang dibayarkan oleh para pewaralaba. Kiat suksesnya adalah standarisasi layanan yang memberikan kualitas yang konsisten dimanapun restoran McDonald’s berada.

Kiat sukses McDonald’s yang lain adalah pemasarannya yang sangat gencar. Selain menggunakan teknologi canggih dan prosedur standar di semua jaringan restorannya, McDonald’s juga menjadi distributor mainan terbesar di dunia. Pemasarannya dengan cerdik mengincar anak-anak dengan mainan, happy meals berporsi kecil, dan arena bermain. Anak-anak ini akan menjadi pelanggan yang meramaikan restoran karena pasti mengajak orang tua dan jika mereka sudah tua, mereka akan mengajak anak-anak mereka. Sehingga mereka menjadi pelanggan yang setia. Sungguh merupakan suatu taktik pemasaran yang luar biasa.

Namun, apakah siasat dari Ray Kroc yang terhebat? Bukan hanya sekedar teknologi seperti hidrometer, kompor yang terkomputerisasi, layanan yang terstandarisasi, atau mengiming-imingi anak-anak dengan mainan dan badut. Perhatikan nama badutnya; Ronald McDonald. Ray Kroc tidak mengubah restoran yang telah ia ambil alih menjadi bermerek: Ray atau Kroc. Strateginya adalah membangun merek McDonald’s menjadi merek yang tertanam kuat di pikiran semua orang di dunia. Baca nama-nama makanannya yang dimulai dengan Mac atau Mc. Nama makanan yang menjamin mutunya dimana saja dengan kualitas penyajian yang konsisten. Dan lihatlah huruf “m” yang melengkung tinggi di depan semua restoran. Tertancap kuat bukan hanya di setiap restoran, tapi juga menancap kuat di benak setiap orang yang melihatnya yang menjadi para pelanggannya.

Rahasia sukses Ray Kroc adalah menciptakan suatu merek global yang bernilai sangat tinggi: McDonald’s

Baca juga:
Rahasia Sukses
Kisah Kesuksesan
Kepemimpinan yang Kreatif seperti Steve Jobs
Inspirasi Inovasi: Strategi Sukses Kuda Hitam

Tehnik Motivasi Douglas McGregor: Teori X, Y, dan Z

Di dunia ini tidak ada yang bisa menggantikan keutamaan dari kegigihan; bukan bakat karena sudah banyak orang berbakat yang tidak sukses, bukan pula kejeniusan karena orang jenius yang gagal sudah biasa, juga bukan pendidikan karena kini pengangguran yang berpendidikan sudah menjadi peristiwa yang umum. Kegigihan dan kesungguhan hati sungguh tak tergantikan. -Calvin Coolidge

Douglas McGregor adalah seorang psikolog sosial dari Amerika yang mengemukakan teori XY dalam bidang motivasi yang menjadi prinsip dasar dalam mengembangkan pengelolaan SDM (sumber daya manusia) modern, menentukan pola komunikasi organisasi, menyusun panduan manajemen perilaku, mengelola interaksi sosial karyawan dan dalam menciptakan budaya perusahaan.

Teori X dan Teori Y menjabarkan dua model motivasi yang saling berkebalikan, sedangkan teori Z adalah pengembangan dari teori hirarki motivasi oleh Abraham Maslow dan ilmu manajemen oleh Dr. W. Edwards Demming. Teori Z ini dikembangkan oleh Dr. William Ouchi.

Ketiga teori ini penting diketahui oleh bagian HRD (human resources management) di setiap perusahaan untuk mengoptimalkan pengelolaan motivasi SDM atau pola komunikasi dari manajemen kepada para karyawannya.

Ketiga teori ini menciptakan kerangka untuk paradigma berpikir para manajer dalam mempersepsikan bagaimana para karyawan berperilaku dan bagaimana cara meningkatkan motivasi karyawan yang mendorong perilaku tersebut.

Perspektif yang diperoleh dari penerapan teori-teori ini akan memberikan pemahaman yang secara signifikan akan mempengaruhi pendekatan manajemen perusahaan kepada para karyawannya secara lebih efektif.

Aplikasi dari teori XYZ akan menentukan gaya kepemimpinan yang seperti apa yang cocok dengan kondisi mental karyawan. Indikasi dari kesesuaian cara pemimpin dalam memotivasi karyawannya akan terlihat sebagai peningkatan kinerja dan produktivitas.

Maka dari itu, teori XY dan Z menjadi pondasi penting dalam menentukan tehnik motivasi yang tepat bagi para karyawan.

Teori X

McGregor memaparkan teori X dengan asumsi awal bahwa karyawan itu secara alamiah bersifat malas atau tidak menyukai pekerjaannya dan harus dimotivasi dengan gaya kepemimpinan yang otoriter.

Manajemen harus terus aktif dan otoritatif dalam mengendalikan karyawan. Asumsi selain karyawan tidak suka bekerja adalah karyawan tidak punya ambisi sehingga ingin selalu menghindari tanggung jawab maka dari itu perlu diarahkan, dipaksa, bahkan diancam dengan hukuman, dan dikontrol dalam pengawasan yang ketat.

Biasanya teori X ini kurang efektif dalam praktek manajemen modern, namun hirarki kewenangan yang tersentralisasi tak bisa dihindari jika perusahaannya memiliki karyawan yang sangat banyak dengan skala produksi yang besar dan pekerjaan yang berulang-ulang tanpa keahlian tinggi seperti di pabrik-pabrik.

Tapi teori X ini tetap harus digunakan khususnya pada beberapa jenis karyawan yang memiliki karakter yang lebih termotivasi secara efektif dan memberikan hasil kinerja yang lebih baik dengan gaya kepemimpinan yang otoritatif.

Para pemimpin dan manajer perusahaan yang ingin mempraktekkan teori X harus menyatakan dengan tegas aturan, arahan, ultimatum dengan pemberian imbalan dan hukuman untuk para karyawannya. Teori ini mengutamakan kepatuhan sebagai faktor pendorong kinerja karyawan.

Teori X berfokus pada pengawasan dalam pelaksanaan prosedur standar kerja, pengendalian aktivitas, delegasi tugas dan perintah dengan deadline serta memastikan hasil akhir yang diberikan karyawan harus sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.

Teori Y

McGregor menyatakan dalam teori Y, para karyawan diasumsikan sebagai orang yang berambisi, mau menerima tanggung jawab bahkan mencari wewenang agar bisa bekerja secara optimal dengan potensi diri yang dimiliki. Para karyawan dianggap secara alamiah menikmati pekerjaan serta termotivasi sendiri berprestasi.

Gaya kepemimpinan dalam teori Y adalah manajemen parsitipatif yang mengundang diskusi dan keterlibatan karyawan dalam membuat keputusan dan memberikan peluang untuk mengembangkan keahlian serta karir sang karyawan atau promosi.

Kreativitas, intelektualitas, otonomi, dan keahlian yang dimiliki karyawan diapresiasi oleh manajemen yang menggunakan teori Y dalam tehnik motivasinya. Walaupun begitu, teori Y tetap memanfaatkan penilaian untuk remunerasi, insentif, dan pemberian sanksi jika diperlukan.

Teori Y mendorong perluasan wawasan karyawan dan perbaikan kualitas SDM yang berkelanjutan. Penerapan teori Y terbukti lebih menguntungkan daripada teori X khususnya dalam perusahaan-perusahaan yang membutuhkan para profesional berkeahlian tinggi.

Pengembangan teori Y ini terus diupayakan oleh para peneliti dan pakar manajemen di masa kini. Misalnya seperti teori determinasi diri dan motivasi intrinsik oleh Deci dan Ryan, teori kebutuhan McClelland, teori motivasi internal oleh Profesor Reiss, serta teori Z yang kesemuanya memiliki fokus kepada kekuatan semangat bekerja dari dalam diri manusia.

Teori Z

Teori Z ini bukanlah ide dari McGregor dan merupakan pengembangan teori manajemen yang meneliti kesuksesan perusahaan-perusahaan di Jepang yang ditulis oleh William Ouchi seorang profesor terkemuka di bidang manajemen dan bisnis.

Namun teori Z mengkombinasikan teori XY dengan gaya kepemimpinan bisnis ala Jepang dan mengharapkan karyawan selalu loyal atau memiliki kesetiaan yang tinggi kepada organisasi. Teori Z bisa juga dibilang sebagai penyempurnaan dari teori Y dalam memotivasi karyawan.

Negara Jepang terkenal sebagai negara yang produktivitasnya tergolong tinggi di dunia, dengan perekonomian yang sangat kuat. Kesuksesan banyak perusahan di Jepang dalam mengelola para pekerja menjadi dasar dalam menyusun teori Z untuk memotivasi para karyawan di sebuah perusahaan untuk lebih produktif dan juga berkomitmen tinggi.

Teori Z ini memandang kebutuhan karyawan sebagai faktor pendorong motivasi kerjanya tidak hanya sebatas pada kebutuhan fisik dan keamanan/kepastian saja. Kepedulian perusahaan terhadap kesejahteraan dan pemenuhan kebutuhan mental-emosional-sosial-spiritual karyawan sangat diperhatikan dalam mengaplikasikan teori Z ini.

Sesuai struktur yang lebih tinggi dalam hirarki kebutuhan Maslow, teori Z memperhatikan pemenuhan kebutuhan karyawan untuk bersosialisasi, berkelompok, mempererat hubungan dengan sesama rekan kerja dan perusahaan, serta menguatkan kepercayaan diri yang akhirnya mendukung aktualisasi diri sang karyawan.

Menurut Ouchi, penerapan dari teori Z dalam perusahaan akan memberikan stabilitas SDM (para karyawannya jarang yang berhenti, pindah kerja, atau berulah minta dipecat), meningkatkan produktivitas dengan menaikkan level kepuasan kerja dan moral dari para karyawan.

Karyawan menjadi sangat setia dan termotivasi untuk memberikan yang terbaik bagi perusahaannya. Kedisiplinan dan kerja keras menjadi nilai-nilai yang membudaya di dalam perusahaan selama manajemen dipercaya untuk selalu mendukung dan memberikan kesejahteraan.

Teori Z juga meningkatkan kompetensi karyawan dengan rotasi pekerjaan dan pelatihan-pelatihan yang intensif. Hal ini dilakukan agar karyawan yang promosi menjadi pemimpin memiliki pengetahuan yang menyeluruh terhadap semua operasional perusahaan dan akan mampu menggunakan teori Z untuk memotivasi semua bawahannya khususnya para karyawan yang masih baru.

Kesimpulan

Memahami karakteristik dari para karyawan dan sifat pekerjaannya, serta jenis bisnis yang dijalankan oleh perusahaan akan memberikan asumsi-asumsi sebagai dasar keputusan untuk menggunakan teori motivasi yang tepat-guna. Khususnya jika ingin menggunakan motivasi intriksik untuk para karyawan.

Pengamatan yang baik dan observasi yang teliti perlu dilakukan jika manajemen ingin berhasil dalam memanfaatkan teori mana yang sesuai dengan tantangan yang ada dalam pengelolaan SDM. Penentuan gaya kepemimpinan yang cocok dengan penerapan masing-masing teori harus diputuskan jika perusahaan ingin memperoleh keuntungan yang maksimal.

Baca juga:
Tips Memotivasi Orang Lain
Manajer Motivator
Kaizen: Pelajaran Manajemen dari Edwards Deming
Kiat Sukses Manajemen Zappos
Kunci Sukses Manajemen dari Steve Jobs

TTM: Tips Trainer Motivator

Trainer yang berkualitas sangatlah sulit didapatkan perusahaan. Kebanyakan motivator untuk para karyawan hanya membacakan materi lewat presentasi yang membosankan atau mengadakan banyak permainan yang cukup seru tapi tidak membawa perubahan yang permanen.

Kini, saatnya saya membagikan tips untuk menjadi trainer atau motivator yang bermutu;

1)Mulai dengan cepat dan akhiri dengan kesan yang baik. Jangan bertele-tele dengan perkenalan dan pembukaan yang panjang. Akhiri dengan kata-kata yang tak terlupakan sehingga pelatihannya selalu diingat-ingat meski telah berakhir serta mendorong perubahan yang bermakna.

2)Selalu berlatih dan melakukan persiapan dengan matang. Rekam sesi motivasi untuk evaluasi nanti. Perbanyak praktek dan perbaiki materi serta cara mempresentasikannya. Siapkan alat bantu visual, video, multimedia, alat dan media untuk menggambar, serta hadiah sederhana untuk kuis atau permainan.

3)Fokus, selalu antusias, dan menjaga tingkat energi agar tetap bersemangat dalam memberikan training dengan bahasa tubuh yang meyakinkan. Berbicaralah dengan penuh kepercayaan diri, gerakkan badan dan tangan secara harmonis berkoordinasi dengan apa yang ingin disampaikan.

4)Perhatikan dan manfaatkan emosi serta gaya belajar dari para partisipan. Gunakan gambar dan tulisan, video dan lagu, contoh kasus dan strategi, gambaran umum dan detail khusus, pertanyaan dan permainan, pengajaran dan diskusi, dan sebagainya. Ciptakan interaksi personal yang menarik dan pancing sensasi perasaan yang menggugah.

5)Sederhanakan presentasi, beri ruang agar partisipan belajar dan menemukan sendiri ilmu yang ingin diajarkan. Berikan lembaran untuk partisipan memberikan umpan balik dan menulis saran/masukan untuk sang trainer.

6)Tingkatkan kecerdasan intelektual, emosional, dan sosial untuk para partisipan dengan membentuk kelompok atau grup yang saling berkompetisi. Para peserta pelatihan akan belajar berinteraksi, bekerja sama, dan saling melengkapi dalam sebuah kelompok. Berikan tugas yang cukup menantang bagi grup-grup ini.

7)Last but not least, be yourself! Jadilah diri sendiri, jadilah versi yang terbaik dari diri sendiri. Setiap orang itu unik dan bisa memaksimalkan potensi dirinya tanpa perlu menjadi orang lain. Tapi kita juga memerlukan orang lain sebagai role-model, orang-orang yang telah mencapai kesuksesan yang ingin kita miliki. Selain mencari sosok yang bisa diteladani, kita juga harus mendapatkan tim pendukung untuk membantu presentasi ini. Tanpa dukungan orang lain, seorang trainer tidak akan berhasil dalam membawakan materi pelatihannya.

Sekian dahulu tips untuk kali ini, semoga berguna dan bisa membawa perubahan yang berarti..

Baca juga:
Motivator yang Merugikan
Menetapkan Prioritas Training Karyawan
Perusahaan Demotivator
Motivasi dari Hati (Tanpa Teriak2)