Tips Motivasi

Focusing on Happiness

Kategori: motivasi

Kisah Efisiensi vs Inovasi

Pada suatu ketika* terdapat dua perusahaan yang bergerak di industri otomotif.

Mereka memproduksi mobil. Kita sebut saja mereka perusahaan E dan I.

Kedua perusahaan ini telah menikmati masa kejayaan mereka. Produksi minyak untuk BBM melimpah. Daya beli pasar yang tinggi. Pesaing yang masih sedikit, dst.

Lalu, datanglah krisis..

Produksi minyak mulai berkurang. Perekonomian masyarakat melemah. Persaingan meningkat. Peraturan mengetat dan isu lingkungan mencuat.

Dan banyak hal lagi yang membuat dua perusahaan ini mulai goyah.

Bagaimana mereka memecahkan masalah ini?

Perusahaan E melakukan efisiensi. Karyawannya dikurangi. Biaya-biaya yang bisa ditekan; ditekan, bahkan dibuang kalau bisa.

Fokus manajemennya ada pada efisiensi. Dan perusahaan E bisa survive melewati krisis kali ini.

Lalu krisis kedua datang lagi. Ketiga. Keempat. Kelima. Dst. Minyak bumi pun makin habis. Masyarakat makin berhemat. Produsen mobil lain makin banyak.

Dan banyak tantangan lain yang timbul yang mengurangi keuntungan dari penjualan mobil.

Perusahaan E terus mengencangkan pinggang terus mengutamakan efisiensi. Laju produksi diturunkan. Banyak karyawannya yang dikeluarkan dan akhirnya keluar dengan sendirinya. Teknologi mobil buatannya kurang inovatif, boros bensin dan dianggap kemahalan.

Lalu perusahaan E mulai kehilangan banyak pelanggan. Pendapatannya menyusut. Hutang menjadi tertunggak.

Pada akhirnya perusahaan E pun kolaps. Harus di bail-out pemerintah atau bangkrut. Binasa.

Lain ceritanya dengan perusahaan I. Ketika krisis, meski harus melakukan efisiensi. Perusahaan I tidak berfokus kesitu. Perusahaan I berfokus pada inovasi.

Inovasi dengan riset dan pengembangan meski biayanya tidak efisien. Memperbaiki proses produksi dengan peralatan yang baru. Mencari dan memelihara SDM yang ahli meski biayanya tinggi.

Yang terpenting adalah inovasi.

Perusahaan I mencoba menciptakan mesin baru. Yang irit dan membutuhkan sedikit BBM. Mesin hybrid. Mesin listrik. Mesin hidrogen. Mesin berteknologi canggih.

Mesin yang akhirnya tidak terlalu terpengaruh oleh penurunan produksi minyak karena kecanggihannya.

Lalu perusahaan I membuat lini produksi baru. Mobil-mobil jenis baru yang peduli lingkungan dan didukung masyarakat serta disubsidi pemerintah.

Mobil canggih yang dijual murah tapi dengan mesin berteknologi baru yang berkualitas. Mobil jenis baru kala itu. Perusahaan I membuka segmen pasar baru yang masih sepi pesaing.

Seiring waktu, pasar baru ini mulai banyak pesaingnya. Mobil canggih dan murah mulai diproduksi pabrik mobil lainnya. Namun para konsumen percaya dengan pengalaman panjang perusahaan I sebagai pelopor yang terbukti terus mengutamakan inovasi.

Posisi perusahaan I aman untuk jangka waktu yang lama. Selama fokusnya pada inovasi, bukan efisiensi.

(*) berdasarkan kisah nyata yang sedikit dimodifikasi

Manajer Motivator

Perusahaan yang ingin memotivasi karyawannya perlu melihat ilmu motivasi dari dua sisi. Sisi yang menunjukkan cara-cara untuk meningkatkan motivasi.

Satu sisi yang lain menunjukkan demotivasi. Atau ketidakpuasan yang menurunkan motivasi kerja.

Anehnya, hal-hal yang menyebabkan ketidakpuasan di tempat kerja, atau yang disebut sebagai faktor-faktor yang menurunkan motivasi (demotivasi) tidak sama dengan faktor-faktor yang meningkatkan motivasi. Inilah yang membingungkan banyak perusahaan.

Sebagai contoh: seorang karyawan merasa tidak puas dan turun tingkat motivasinya bisa disebabkan oleh faktor-faktor eksternal seperti: bayaran yang tidak memadai, fasilitas dan infrastruktur kerjanya yang kurang mendukung, peraturan yang terlalu mengekang, dll.

Lalu jika perusahaan membenahi faktor-faktor yang menurunkan tingkat motivasi dan kepuasan karyawan tersebut dengan memberikan gaji dan prasarana yang mendukung, membuat aturan dan sistem yang fleksibel tanpa terlalu membatasi.

Maka, tetap saja motivasi sang karyawan tidak meningkat.

Hal-hal yang menyebabkan menurunnya tingkat motivasi ternyata tidak selalu sama dengan hal-hal yang membuat motivasi meningkat. Ternyata, meningkatkan motivasi karyawan harus dipahami dari beberapa aspek.

Penelitian terbaru di bidang perilaku pekerja dan otak manusia (neuroscience) menunjukkan bahwa motivasi lebih bisa meningkat karena faktor-faktor psikologis dari dalam diri. Termotivasi secara internal.

Disinilah para manajer berperan penting sebagai motivator para karyawan.

Para manajer motivator ini harus melihat banyak aspek dalam ilmu motivasi karyawan.

Beberapa faktor yang bisa dipertimbangkan adalah: emosi personal dan hubungan sosial karyawan, keinginan untuk meraih dan mempertahankan sesuatu di dalam diri masing-masing karyawan, dll.

Perusahaan yang baik memberikan upah yang layak dan sarana yang menunjang. Lalu, adalah tugas manajer untuk menilai dan memberikan penghargaan yang pantas sesuai kinerja atau prestasi dari para karyawannya.

Sebelumnya, manajer harus mendapatkan kepercayaan dengan bersikap terbuka.

Sikap terbuka para manajer yang mewakili perusahaan harusnya dimulai dari transparansi semua proses pekerjaan. Para manajer harus memastikan keadilan dalam pemberian tugas dan imbalannya.

Semua karyawan harus bisa mengerti secara jelas tujuan serta kontribusinya kepada perusahaan dan orang-orang lain.

Selain itu, budaya perusahaan yang mendorong interaksi sosial antar rekan kerja yang bersahabat, kerjasama yang saling menguntungkan, aliansi strategis, dan kolaborasi yang baik antar sesama karyawan.

Para manajer harus mampu merekatkan tim karyawan yang dipimpinnya agar bersinergi dan tetap harmonis. Sebab kalau tidak, tingkat motivasi karyawan bisa menurun jika suasana di tempatnya bekerjanya tidak kondusif dan kurang harmonis.

Para manajer motivator ini sebaiknya tidak terlalu mendikte dan memberikan keleluasaan untuk bawahannya atau para karyawan. Manajer motivator yang ingin memotivasi karyawan juga mesti membuat para karyawan mengerti secara jelas makna atau arti yang lebih besar dari sekedar deskripsi pekerjaannya.

Para karyawan juga harus diberikan peluang untuk belajar dan lebih maju lagi, menjadi lebih ahli dalam bidang pekerjaannya.

Sungguh, ilmu memotivasi karyawan ini sangat kompleks. Motivasi tidak sesederhana dengan memberikan kompensasi atau sanksi.

Para manajer juga harus mempelajari teori motivasi secara menyeluruh.

Dan perusahaan dituntut untuk menyediakan sistem remunerasi serta prangkat kerja yang mencukupi. Setelah mencukupi dan tidak ada keluhan serta ketidakpuasan kerja (demotivasi), maka adalah tugas manajer untuk menjadi motivator para karyawan di perusahaannya.

Oleh karenanya, manajer sebagai motivator harus mempertimbangkan banyak faktor dalam meningkatkan motivasi karyawan, khususnya faktor-faktor internal. Motivasi dari hati.

Perusahaan Demotivator

Menurut survey terbaru terhadap puluhan ribu karyawan di belasan negara, menunjukkan 30-50% karyawan ingin meninggalkan perusahaannya yang sekarang. (Polling oleh Gallup dan Mercer)

Alasan kurangnya loyalitas karyawan kepada perusahaan ini sangat beragam. Namun yang terutama adalah masalah penghargaan dan stres.

Seorang pakar bisnis global yang ternama; Jim C. Collins, meneliti beberapa perusahaan yang sukses dalam mengelola motivasi karyawannya. Dalam risetnya, ditemukan bahwa perusahaan-perusahaan yang sukses tersebut memiliki pemimpin yang terbaik.

Pemimpin yang terbaik adalah pemimpin yang sanggup memotivasi bawahannya. Perusahaan tidak perlu merisaukan masalah memotivasi karyawan jika memiliki pemimpin yang terbaik.

Perusahaan justru perlu waspada terhadap beberapa demotivator, pelemahan motivasi karyawannya. Demotivator sistemik yang bisa terjadi di dalam sistem perusahaan itu sendiri.

Demotivator sistemik ini ada tiga: pertama adalah kurangnya antisipasi perusahaan dalam menghadapi permasalahan yang ada. Banyak perusahaan menjadi lambat dan kurang responsif terhadap isu-isu yang berkembang dengan cepat. Ini bisa membuat gelisah dan mendemotivasi karyawan.

Demotivator yang kedua di dalam sistem perusahaan adalah visi perusahaan yang terlalu mengawang-awang. Tujuan yang ditetapkan terlalu jauh di depan dan melupakan fokus pada masa kini. Sasaran yang tidak tampak realistis ini akan melemahkan semangat karyawan.

Selanjutnya, demotivator sistemik ketiga di perusahaan adalah demokrasi yang palsu. Karyawan didorong untuk memberikan input tapi pimpinan perusahaan membuat keputusan tanpa menghiraukan input tersebut. Karyawan merasa tidak diperhatikan pendapatnya dan kombinasi ketiga demotivator sistemik ini akan membunuh motivasi karyawan.

Hati-hatilah dengan demotivator yang hadir di dalam sistem perusahaan. Percuma mendatangkan motivator bagi para karyawan kalau secara sistem perusahaan memiliki ketiga demotivator yang telah saya sebutkan di atas.

Perusahaan demotivator sesungguhnya adalah perusahaan yang akan merugi..

Persuasi: Rayuan Tanpa Gombal

Persuasi adalah seni merayu dengan memanfaatkan psikologi manusia. Membujuk dengan rayuan yang emosional akan membuai logika berpikir seseorang.

Sehingga tujuan dari merayu adalah mengarahkan bahkan sampai mengubah pikiran orang lain.

Berikut beberapa tips membujuk yang efektif berdasarkan penelitian:

1. Jangan menyerang keyakinan yang mendalam.

Hal-hal sensitif seperti agama, kepercayaan, dan idealisme yang tertanam kuat akan sulit diubah. Jangan terlalu keras, jadilah lembut agar mengendurkan keinginan lawan bicara untuk menentang.

Bujuklah secara bertahap, jangan langsung tembak. Bangun gaya pendekatan dengan cara perlahan tapi pasti.

2. Menyampaikan pesan atau rayuan dengan meyakinkan.

Bersikap yang kredibel dan penuh percaya diri. Sertakan argumen pendukung yang kuat seperti data-data atau sumber yang meyakinkan. Bicara secara terpercaya.

Beri alasan atau makna pesan rayuan secara meyakinkan. Jaga bahasa tubuh dan mimik muka agar meyakinkan. Pelajari komunikasi non verbal.

3. Sampaikan secara berulang-ulang.

Repetisi pesan sampai maksimal lima kali. Pengulangan menciptakan ilusi akan kebenaran pesan yang diulang. Repetisi akan tertanam di alam bawah sadar.

Susun ulang kalimat dengan inti pesan yang sama namun dengan kata-kata yang berbeda. Ungkapkan garis besar dan gambaran keseluruhan dari pesan rayuannya.

4. Pilih bahasa yang relevan dengan pendengar.

Sesuaikan istilah-istilah dan gaya komunikasi dalam membujuk. Rayuan bisa bersifat rasional atau penuh perasaan. Dibuat sederhana atau terdengar rumit dan mendetail. Tergantung audiensnya.

Pakai angka-angka, statistik, atau asosiasi yang pas. Katakan kalimat-kalimat yang familiar. Cocokkan level argumentasi dengan tingkat pemahaman audiensnya.

5. Berikan dua sisi argumen.

Seimbangkan pesan dan buat bantahan sendiri sebelum dibantah orang lain. Tapi, bantahan yang menentang pesan utama kita harus dilemahkan. Antisipasi penolakan orang lain dengan merencanakan didepan apa saja kira-kira keberatan lawan.

Kasih jawaban atas keberatan yang potensial itu. Sertakan dalam pesan persuasif yang lengkap dan (agak) berimbang. Siapkan solusi dari beberapa perlawanan yang mungkin diajukan. Ajukan dua sisi sudut pandang dan perkuat pandangan yang ingin disampaikan.

6. Tingkatkan kedekatan dan rasa suka.

Carilah kesamaan dan pujilah kesamaan yang ada. Bicaralah perlahan jika audiens sudah simpatik. Berkatalah dengan cepat jika belum terlalu dekat.

Pilih logat, jargon, dialek yang membangun kedekatan. Minta dikenalkan atau sebut kenalan-kenalan yang sama di kedua belah pihak. Bangun kedekatan dan kekeluargaan agar mudah dipercaya.

7. Karismatik dan tampil menarik.

Pakailah simbol-simbol otoritas. Gunakan penekanan akan kepakaran dan keahlian. Tunjukkan dengan cepat kredibilitas dengan pakaian, gelar, dan sebagainya.

Manfaatkan kenalan dan orang yang sama-sama dikenal. Minta referensi dan bangun relasi dengan orang-orang yang karismatik juga.

8. Perkuat validasi sosial.

Ceritakan testimoni atau kesaksian dari orang lain. Buat mayoritas yang setuju dengan pesan persuasifnya. Cari dukungan beberapa orang jika ingin membujuk satu kelompok.

Tanamkan pemikiran kalau banyak orang pasti benar karena tidak mungkin sebanyak itu bisa salah. Buatlah orang yang dirayu agar mudah mengikuti orang yang banyak.

9. Bingkai pesan rayuannya dengan kalimat yang positif.

Berikan bayangan di masa depan yang baik dan positif. Janjikan yang indah-indah tapi jangan sampai ketahuan kalau niat awalnya ingin merayu. Jangan sampai terlalu mencolok dan ketahuan mau membujuk.

Samarkan bujukan dan jangan membujuk secara langsung. Kasih pujian dan penghargaan yang pantas serta beralasan. Lemahkan antisipasi dengan pendekatan yang samar-samar. Bungkus konten dengan konteks yang bagus.

10. Minta perhatian penuh jika argumentasinya kuat.

Hidangkan kopi dan tayangkan video. Ingatkan prinsip-prinsip seperti keadilan, kejujuran, kebaikan bersama. Tingkatkan konsentrasi dari audiens agar fokus memperhatikan argumen.

Tapi, alihkan perhatian jika argumennya lemah. Suguhkan makanan dan putar musik. Ceritakan kisah-kisah seperti analogi, kesuksesan di masa lalu, keberhasilan orang lain. Sesuaikan narasi dan kondisi tergantung kekuatan argumentasinya.

Demikian 10 tips yang didukung riset yang ilmiah dalam ilmu psikologi persuasi. Seni merayu tanpa gombal. Membujuk secara halus tanpa memaksa.

Semoga berguna dan jangan digunakan untuk maksud yang tidak baik!

Tips Meredakan Stres

Stres sebenarnya diperlukan, dalam kadar yang tepat. Stres memacu kinerja, memotivasi diri untuk beraksi.

Stres yang wajar hanya berlangsung selama beberapa saat saja dan memacu semangat bekerja. Stres dibutuhkan untuk mengubah rintangan menjadi tantangan. Mencari solusi dari masalah.

Akan tetapi, stres yang berlebihan hanya akan merugikan kita. Menurunkan motivasi bahkan melumpuhkan. Mengurangi vitalitas dan buruk bagi kesehatan. Mengendurkan semangat.

Stres yang tinggi dan dalam jangka waktu yang lama akan merusak hubungan sosial, tidak baik untuk kemajuan karir atau bisnis, buruk bagi tubuh dan mental/pikiran atau kejiwaan, dan bahkan bisa menyebabkan peyakit jantung serta kematian.

Maka, stres perlu dikelola.. diredakan jika terasa berlebihan.

Untuk meredakan stres yang berlebihan, berikut beberapa tips yang sederhana:

1. Berdiam

Dan berpikir. Menghadapi stres dan tatap ketakutan. Bayangkan skenario terburuk dan ciptakan beragam rencana antisipasi. Cari solusi bagi masalah yang ada.

Berdiam diri dan menyepi. Meditasi dan mengheningkan pikiran. Menjauh dari keramaian dan pikirkan satu hal saja. Bernafas tenang dan relaksasi diri. Gali intuisi.

2. Bersuara

Bersenandung atau bersiul. Mainkan alat musik yang ceria. Lalu bernyanyi sesuka hati. Bersama teman-teman. Berbagi beban dan ceritakan segalanya ke teman. Biar lega dan siapa tahu mendapatkan ide baru.

Tuliskan semuanya. Perasaan, pemikiran, atau apapun. Buat kisah fiksi atau puisi. Telpon atau chatting. Pergi ke psikolog. Meminta nasehat pada yang ahli. Menangis sekedarnya. Berteriaklah kalau perlu.

3. Bekerja

Lakukan satu hal yang bisa dilakukan sekarang juga. Minta bantuan orang lain. Kerjakan bersama-sama. Mohon pertolongan atasan. Bertindaklah berdasarkan kata hati saja.

Bergeraklah. Berjalan kaki atau berolahraga. Pergi ke gym atau lampiaskan ke sansak. Aktiflah lalu minta dipijat. Lepaskan ketegangan yang tersisa di otot.

4. Berlari

Menjauhlah dari masalah kalau bisa. Ambil cuti dan berliburlah. Pergi menonton film atau pertunjukan. Bermain saja bersama teman lama atau anak-anak. Menari dan tertawa bareng.

Beralih ke hobi. Berkebun dan lupakan dulu pekerjaan. Cari hiburan dan segarkan pikiran. Pandanglah yang indah-indah. Dengarkan melodi yang riang. Cium aroma yang harum. Rasakan makanan yang nikmat. Berendam di air hangat. Tidur. Siesta.

5. Berserah diri

Pasrah dan ikhlaskan semua. Ke tempat ibadah dan akui keterbatasan manusiawi kita. Terima takdir yang tak bisa diubah dan nasib yang tak bisa ditolak seperti musibah misalnya. Bersujud pada-Nya.

Lepaskan segala keinginan dan jadilah kebal dari kekecewaan. Jangan terlalu berharap terus melangkah dengan upaya yang terbaik sebisanya. Nikmati saja segala kesulitan dan bertindak proaktif semampunya. Lalu, serahkan hasil akhirnya pada Sang Maha Kuasa.

Sekian. Semoga bermanfaat dan silahkan dipraktekkan. Stres berkurang, produktivitas bertambah. Sukses jadinya!