Tips Motivasi

Focusing on Happiness

Kategori: sukses & kekayaan

Rahasia Sukses

Saya pernah menanyakan seorang penulis sukses apa rahasia sukses dia.

Katanya; rahasianya adalah banyak membaca.

Selama ini, saya mengira penulis yang baik itu yang rajin menulis. Tapi katanya itu biasa. Dan seorang penulis memang senang menulis.

Yang berat adalah membaca sebanyak-banyaknya.

Penulis yang baik harus membaca banyak data untuk riset kepenulisannya. Jaman dulu, seorang penulis mesti mengubek-ubek perpustakaan. Membuka kliping koran dan majalah. Membeli banyak buku.

Jaman sekarang bagusnya sudah ada internet. Internet mempermudah riset kepenulisan. Namun, membaca sebanyak-banyaknya tetap harus dilakukan.

Membaca beragam hal untuk memperluas wawasannya. Padahal belum tentu semua yang sebaiknya dibaca, enak untuk dibaca. Meski ada banyak hal yang kurang diminati, tetap harus dibaca.

Membaca karya penulis lain yang lebih sukses. Atau yang gagal. Walau egonya malas-malasan membaca tulisan orang lain. Atau gengsi mengakui kehebatan penulis lainnya.

Menulis satu buku yang sukses, teman saya ini telah membaca ribuan buku dan beragam tulisan.

Inilah yang disebut persiapan. Mungkin persiapan terasa berat, tapi sangatlah penting. Kita harus mampu mendisiplinkan diri dalam persiapan sukses kita.

Banyak orang menginginkan kesuksesan yang instan. Tanpa melalui fase persiapan yang mungkin tidak menarik. Tapi persiapan menentukan kesuksesan.

Maukah kita berdisiplin; kerja keras untuk menyiapkan kesuksesan diri kita?

Agar Termotivasi

Pada tulisan sebelumnya, saya mengungkapkan bagaimana caranya untuk menemukan ide-ide dalam meningkatkan motivasi.

Berikut beberapa ide sederhana untuk menguatkan motivasi yang kendor. Agar termotivasi, kita membutuhkan beberapa hal sebagai berikut:

1. Fokus pada tujuan utama.

Seringkali kita lupa apa tujuan utama kita ketika sedang sibuk menjalani aktivitas sehari-hari. Ingatkan kembali diri kita akan tujuan utama kita serta evaluasi nilai-nilai yang kita anggap penting.

Kuatkan kembali prinsip-prinsip yang kita pegang yang membuat kita kuat untuk terus berjalan.

2. Membuat strategi dengan sejelas-jelasnya.

Seringkali ketika sedang berusaha mengerjakan sesuatu untuk mencapai tujuan, kita kehilangan arah.

Kebingungan terhadap situasi tertentu atau tak tahu mesti bagaimana ketika menghadapai suatu hambatan.

Agar terus termotivasi, kita harus menyusun strategi yang jelas langkah demi langkah untuk mencapai tujuan, lengkap dengan antisipasi masalah yang mungkin muncul.

3. Melepaskan beberapa distraksi.

Saat kita sedang bekerja, ada saja beberapa hal yang urgent yang mendadak mesti dilakukan secepatnya padahal belum tentu penting untuk pencapaian tujuan kita.

Kita harus bisa menciptakan prioritas dan mengklasifikasi tugas-tugas.

Tugas yang tidak terlalu penting sebaiknya didelegasikan kepada orang lain atau ditunda demi mengerjakan tugas yang penting sesuai prioritas kita.

4. Meningkatkan keyakinan diri.

Dengan memiliki tingkat kepercayaan diri yang cukup, kita akan termotivasi selalu dalam menghadapi segala tantangan yang sesuai dengan kompetensi kita.

Maka dari itu, tingkatkanlah kompetensi diri kita dengan selalu belajar dan berlatih. Jangan lupa juga untuk selalu mensyukuri keahlian-keahlian yang kita miliki.

Lalu, selalu kerjakan tugas yang cukup menantang dan agak sulit, tapi jangan terlalu sulit.

5. Menghilangkan stres yang tak perlu.

Stres yang baik bisa memacu motivasi, seperti mengerjakan sesuatu yang menantang dan agak sulit.

Namun, stres yang berlebihan akan melemahkan kekuatan kita untuk berdisiplin dengan melemahkan otak serta kehendak. Beristirahatlah dengan cukup dan hiburlah diri sewajarnya.

Nikmati seni dan luangkan waktu untuk hobi yang diminati. Cari waktu untuk sendiri dan rileksasi. Asah Gergaji

Visualisasi Negatif

Melanjutkan tulisan sebelumnya, saya akan membahas salah satu tehnik dari filosofi Yunani; Stoik. Tehnik yang bisa digunakan untuk memotivasi diri ini disebut Visualisasi Negatif.

Visualisasi seringkali menjadi tehnik yang disarankan oleh banyak motivator. Kita didorong untuk menggunakan imajinasi kita untuk membayangkan impian yang kita inginkan terjadi. Bahkan ada yang disebut sebagai hukum ketertarikan yaitu kita akan mendapatkan apa yang kita pikirkan. Dan salah satu tehniknya adalah visualisasi.

Para atlit juga banyak berlatih dengan tehnik visualisasi ini dan terbukti tampil lebih baik dalam pertandingan. Tapi ini lebih lazim disebut sebagai pemahatan pikiran yang bukan sekedar visualisasi biasa.

Biasanya visualisasi adalah membayangkan hasil yang diinginkan. Namun untuk para atlit yang sukses menggunakan imajinasi untuk membayangkan prosesnya. Proses ketika sang atlit tampil dengan semua indera bukan hanya visual. Sang atlit harus membayangkan suasananya, mendengarkan suara-suara, dan merasakan otot-otot mana yang sedang digunakan secara detail. Inilah yang disebut sebagai pemahatan pikiran.

Namun, visualisasi positif yang biasa; yang membayangkan hasil akhir seperti sedang berangan-angan saja. Kita sebut saja jenis visualisasi ini sebagai fantasi. Penelitian terbaru membuktikan bahwa fantasi bisa berbahaya kalau tidak sesuai ekspektasi.

Riset oleh Oettingen and Mayer (2002) menunjukkan orang-orang yang berfantasi (visualisasi positif) tentang masa depannya malah kurang berhasil mencapai tujuannya dibandingkan mereka yang tidak berfantasi.

Fantasi atau visualisasi positif ini bisa menurunkan motivasi karena otak dibuat terbiasa dan tidak penasaran lagi. Orang yang berfantasi juga menjadi kurang berkonsentrasi pada detail dalam proses pencapaian tujuannya.

Sehingga banyak yang salah perhitungan dan menemukan banyak kesulitan yang tidak diantisipasi sebelumnya. Jadi, kita perlu berhati-hati dalam berfantasi atau memvisualisasikan tujuan-tujuan kita. Jangan terlalu berangan-angan.

Buatlah tujuan secara realistis dengan mempertimbangkan sejarah sebelumnya. Ciptakan rencana kerja untuk pencapaian tujuan yang detail dalam proses pengerjaannya. Siapkan antisipasi untuk tantangan atau kesulitan yang mungkin muncul.

Pahatlah pikiran secara detail dalam proses pengerjaan dan antisipasi tantangan yang ada seperti para atlit hebat dalam contoh sebelumnya.

Dan terakhir, lakukan visualisasi negatif.

Apa itu visualisasi negatif? Dalam filsafat Stoicisme; visualisasi negatif berarti membayangkan kejadian yang tidak diinginkan terjadi di masa depan. Visualisasi negatif adalah kebalikan dari fantasi yang positif.

Kita malah disarankan membayang hal yang buruk yang terjadi. Tapi, tehnik ini bisa membawa kebahagiaan dan motivasi tinggi.

Sebagai contoh, kita bisa menggunakan visualisasi negatif ini kepada orang-orang yang kita sayangi. Kita bayangkan mereka akan sakit atau bahkan meninggalkan kita. Kita juga bisa bayangkan benda-benda yang kita miliki menjadi rusak atau hilang.

Dampaknya justru kita akan menjadi bersyukur dan menjaga mereka dengan sebaik-baiknya. Menikmati setiap momen bersama. Berbahagia.

Dan jika kita gunakan tehnik ini pada pencapaian tujuan, kita akan semakin termotivasi. Sebenarnya memang ada dua jenis motivasi; motivasi mengejar dan motivasi menghindar.

Sebagai contoh: orang yang bangun pagi karena bersemangat ingin mendapatkan lebih banyak peluang usaha disebut orang dengan motivasi jenis pengejar. Sedangkan orang yang baranjak dari kasurnya karena takut dimarahi atasan adalah orang yang motivasinya bersifat penghindar.

Kebanyakan dari kita masuk ke dalam kategori motivasi menghindar. Kalau kamu adalah tipe pengejar, kamu tidak membutuhkan motivator dan membaca tulisan-tulisan seperti di blog ini. Orang yang memiliki motivasi mengejar selalu termotivasi tinggi untuk mendapatkan tujuannya, meski peluangnya kecil. Sedangkan orang dengan motivasi penghindar lebih termotivasi tinggi karena ketakutannya pada resiko yang bisa dihadapi.

Beberapa orang yang mengaku memiliki jenis motivasi pengejar sebenarnya adalah penghindar. Dia termotivasi karena ingin menghindari kerugian akan kehilangan kesempatan yang besar. Biasanya kalau peluangnya cukup besar untuk mendapatkan sesuatu, ketakutan akan penyesalan karena tidak mendapatkannya lebih mendominasi. Ini tetap disebut motivasi penghindar karena takut rugi besar.

Kalau yang motivasi pengejar, besar ataupun kecil tetap akan dikejar. Motivasi penghindar tidak akan terlalu bersemangat jika peluang berhasilnya rendah, dia akan termotivasi kalau kesempatan berhasilnya besar. Dan dia didorong oleh motivasi menghindari penyesalan, kerugian karena tidak mendapatkan peluang yang cukup tinggi tersebut.

Visualisasi negatif sangat cocok untuk orang-orang dengan tipe motivasi penghindar ini. Dan saya katakan bahwa banyak dari kita lebih dominan memiliki motivasi dengan tipe menghindar.

Visualisasi negatif akan mengingatkan orang dengan tipe motivasi penghindar untuk menghindari konsekuensi negatif yang bisa timbul jika gagal. Bayangan akan kegagalan akan menghantui kita dan akhirnya kita akan termotivasi tinggi untuk sukses.

Tapi ingat, visualisasi negatif ini bukan berarti berpikir negatif tanpa pertimbangan logis. Kita hanya membayangkan dan mengingatkan diri pada kemungkinan buruk yang mungkin terjadi. Jangan menjadi paranoid sehingga terlalu overprotektif atau malah lumpuh tak bergerak sama sekali.

Visualisasi negatif digunakan untuk berkontemplasi, berpikir dengan rasional bukan larut dengan perasaan negatif yang emosional. Jika sukses dilakukan, kita malah akan semakin menghargai setiap orang, setiap kesempatan, dan setiap momen yang ada. Kita akan lebih berhati-hati dan penuh perhitungan dalam menghadapai segala resiko yang ada.

Kita akan semakin termotivasi karena ingin menghindari kegagalan yang telah dibayangkan. Oleh karena, motivasi penghindar lebih besar kekuatannya daripada motivasi pengejar. Begitulah semua mahluk hidup di bumi yang tidak punah masih tetap sukses bertahan hidup. Bertahan dan menang!

Internalisasi Kesuksesan

Epictetus adalah seorang yang terlahir sebagai budak. Lalu dia berhasil mendirikan sekolah filsafat di Yunani. Dia menjadi filsuf yang amat dihormati.

Banyak orang besar seperti Kaisar Hadrian menemuinya untuk meminta nasehat. Kaisar Roma di masa selanjutnya, Marcus Aurelius juga banyak terinspirasi olehnya, seperti juga banyak penulis, pemikir, dll. yang hidup di jaman modern.

Salah satunya adalah penemu cabang psikoterapi modern, RBT dan CBT; Albert Ellis. Salah satu perangkat psikologis yang paling berguna dalam tehnik motivasi yang akan saya paparkan, adalah: internalisasi tujuan.

Epictetus pernah berkata bahwa dari segala sesuatunya, ada hal-hal yang diluar kontrol kita. Seperti juga ada beberapa hal yang berada dalam kendali kita. Sepertinya, anak kecil juga tahu, tapi implikasi kalau kita meresapi filosofi ini, kita akan bebas dari stres yang tak perlu dan akan mampu termotivasi selalu.

Banyak hal memang di luar kendali kita. Beberapa orang menyebutnya nasib. Contohnya:

1. Kita tak bisa memilih dimana kita dilahirkan dan gen apa yang diwariskan,

2. Kita tidak bisa menentukan siapa orang tua kita dan karakter keluarga/suku kita,

3. Kita tidak bisa mengendalikan bagaimana gaya dan metode orang lain mendidik kita,

4. Kita tidak berwenang untuk mengontrol cuaca, pikiran orang lain, dan kejadian alamiah lainnya secara absolut,

5. Dan segala kejadian eksternal yang bisa terjadi tanpa kita harapkan atau kita duga secara akurat akan terjadi diluar kuasa kita.

Misalnya seperti; mengapa bencana terjadi, atau tiba-tiba kemujuran muncul bagitu saja. Bagaimana orang lain bersikap kepada kita, dll. Memang kita bisa mencoba mempengaruhi hal-hal tersebut.

Namun, kita bisa belajar mengubah nasib dengan mengerjakan hal-hal yang di dalam kendali kita secara optimal.

Contohnya; kita ingin memenangi suatu pertandingan. Sepak bola misalnya. Tujuan ini bisa disebut keberhasilan yang eksternal, di luar kendali kita.

Kita tidak bisa mengontrol bagaimana orang lain bersikap:

-Mungkin saja rekan se-tim kita ada yang cedera atau tertimpa musibah.
-Bisa jadi tim lawan lebih jago dari kita atau malah berbuat curang.
-Kompetensi dan kreativitas para pelatih yang bertanding.
-Atau para wasit yang memihak sebelah.
-Dan cuaca yang tidak mendukung, dll.

Kita bisa katakan, kemenangan adalah nasib. Dengan tujuan ingin memenangi pertandingan. Kita bisa sukses, bisa gagal.

Namun bagaimana kalau kita menerapkan filosofi Epictetus (Stoik)? Kita bisa menginternalisasikan tujuan kesuksesan kita.

Sukses didefinisikan oleh hal-hal yang di dalam kendali kita.

Seperti apa tujuan yang diinternalisasi itu?

Dalam contoh pertandingan bola ini, kita ubah tujuan kita: dari ingin memenangi pertandingan menjadi bertanding semaksimal mungkin.

Menyuguhkan kerja tim dan individu yang optimal.

Berjuang sekuat tenaga dengan keahlian kita.

Memberikan yang terbaik!

Dengan tujuan kesuksesan ini, kita akan sangat fokus:

-Berlatih dengan sebaik-baiknya dengan persiapan yang matang.
-Tidak terganggu oleh stres yang tak perlu saat menganalisa kekuatan lawan.
-Atau memikirkan ulasan para komentator dan media serta orang lain yang pesimis.

Kita hanya berkonsentrasi oleh:

1. Apa kata pelatih dan menjalankan instruksinya sebaik-baiknya
2. Menjaga dan membangun kekompakan tim secara sinergis
3. Dan memberikan kinerja yang sebaik-baiknya

Dalam pertandingan, kita tidak akan mudah menyerah dan terus mencari strategi serta taktik yang terunggul. Menghargai teman, lawan, wasit, pelatih, dll. karena melihat upaya mereka. Seperti kita juga, yang sama-sama berupaya secara maksimal.

Kita akan menjadi pemain bola yang paling sportif dan memiliki determinasi untuk memberikan yang terbaik.

Bagusnya, hal ini justru yang mendekatkan diri pada kemenangan. Meningkatkan peluang untuk mengalahkan lawan. Kita menjadi berpotensi besar menang dalam pertandingan tersebut.

Tapi kita tak bertujuan kesitu, kesuksesan kita hanya diukur dari dalam: seberapa maksimal kita berkontribusi.

Inilah yang dimaksud dengan internalisasi kesuksesan.

Dengan model kesuksesan seperti ini, dijamin kita tidak akan pernah gagal.

Kita gagal kalau kita sama sekali tidak mau berusaha secara optimal.

Dan kekalahan hanya akan menjadi cambuk untuk berlatih lebih keras lagi. Kemenangan akan memberikan motivasi untuk selalu memberikan yang terbaik.

Menang-kalah, kita tetap beruntung karena mendapatkan pelajaran yang berharga untuk berkembang lebih baik lagi. Tetap bersemangat dengan motivasi internal.

Menang pertandingan bukan tujuan, tapi sebagai insentif pendorong saja. Tujuan kita adalah berusaha semaksimal mungkin. Memberikan upaya dalam kewenangan kita sebaik-baiknya.

Menjadi diri sendiri sehebat yang kita mampu sampai titik darah penghabisan tanpa perduli menang atau kalah.

Kekalahan tidak akan membuat kita sedih atau kecewa. Kemenangan tidak akan menjadikan kita sombong atau jumawa. Kita akan memiliki mental juara. Hati yang tenang dan damai.

Konsentrasi pikiran yang terfokus pada kesuksesan internal. Mindset pemenang yang selalu berjuang sekuat tenaga tanpa pusing memikirkan hasilnya.

Sehingga menang atau kalah tidak menjadi masalah. Kita puas telah berjuang dengan sekuat tenaga. Berupaya memaksimalkan kemampuan kita. Melakukan yang terbaik.

Jangan sampai menyesal dan penasaran karena tidak melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan. Ayo internalisasikan semua tujuan kesuksesan kita sekarang juga!

Kepemimpinan yang Kreatif seperti Steve Jobs

Steve Jobs telah meninggalkan kita semua, namun kepemimpinannya yang kreatif dan visioner terus dikenang dunia. Karya-karyanya di barisan produk teknologi Apple dan sentuhannya di perusahaan animasi Pixar telah memberikan kesuksesan yang fenomenal. Kini, iPod, iPhone, iPad dan beragam komputer Mac telah menjadi tren global dan dikenal sebagai merek yang sangat berkualitas.

Inovasinya tidak hanya hebat, tapi melegenda. Steve Jobs berhasil membawa perusahaan Apple menuju puncak kejayaan dengan kreativitasnya. Bagaimana Steve Jobs menjadi begitu visioner dan kreatif?

Mari kita baca beberapa pemikiran Steve Jobs dari kata-katanya sendiri!

Dalam pidatonya di Universitas Stanford, Steve Jobs berkata: “Pekerjaanmu akan mengisi sebagian besar hidupmu, dan satu-satunya cara untuk benar-benar puas adalah dengan melakukan apa yang kamu yakini sebagai mahakarya. Dan satu-catunya cara menciptakan mahakarya adalah dengan mencintai pekerjaanmu. Jika kamu belum menemukannya, teruslah mencari. Jangan diam saja. Dengan sepenuh hati, kamu akan tahu ketika kamu telah menemukannya.” Sesuai dengan tema blog ini, Steve Jobs menginspirasi kita dengan mengungkapkan motivasi yang sejati, datang dari hati.

Ketika diwawancarai oleh MSNBC/Newsweek, Steve Jobs berkata: “kita mencoba untuk membuat sesuatu yang lebih menyeluruh dan sederhana. Saat kamu pertama kali mencoba memecahkan masalah, solusi yang pertama muncul yang kamu dapat pikirkan adalah yang sangat rumit dan kebanyakan orang berhenti disitu. Namun, kalau kamu terus berjuang, dan menantang permasalahannya serta mengupas lapisan demi lapisan bawangnya, kamu akan sering sampai kepada solusi yang sangat elegan dan sederhana.” Sungguh Steve Jobs merupakan teladan yang baik, di tengah-tengah perjuangannya melawan penyakit kanker ganas, dia tidak pernah menyerah dan terus menciptakan banyak produk yang inovatif. Kepemimpinannya telah membawa Apple sebagai perusahaan yang tangguh yang mampu melewati krisis.

Ada kata-katanya yang kocak tapi bermakna dalam di majalah Fortune: “Kita menggambarkan tombol-tombol di layar sebegitu menggiurkannya sehingga kamu ingin menjilatnya.” Betapa Steve Jobs menekankan keindahan pada produk-produk teknologinya. Sungguh kreatif ciptaannya, lihat saja icon-icon di layar iPhone, iPad, iPod, dan beragam komputer Mac. Kreativitas yang baik akan menciptakan keindahan pada produk. Namun, keindahan produk bukan satu-satunya yang penting bagi Steve Jobs, seperti kata-katanya tentang desain di bawah ini.

Berikut kutipan kata-kata Steve Jobs di Wired: “Desain adalah sebuah kata yang lucu, beberapa orang berpikir bahwa desain berarti tentang bagaimana tampilannya. Tapi tentu saja, kalau kamu gali lebih dalam, itu adalah tentang bagaimana kinerjanya. Desain Mac bukanlah hanya tentang penampilannya, meski itu adalah bagian darinya. Yang paling utama, adalah bagaimana kinerjanya.” Seringkali kita berpikir bahwa desain adalah soal penampilan, penampakan luar. Namun untuk menciptakan produk yang fenomenal seperti Mac, desain harus mencakup kinerja yang berkualitas tinggi. Sebagai pekerja, kita jangan hanya mementingkan agar kita selalu tampak bagus, tapi juga memberikan kinerja yang baik.

Dan kritiknya kepada konsep pemasaran berdasarkan survey kelompok terfokus, dipaparkan Steve Jobs di majalah Business Week sebagai berikut: “sesungguhanya sulit untuk mendesain produk dengan mengambil masukan dari kelompok terfokus. Seringkali, orang-orang tidak tahu apa yang mereka inginkan sampai kamu tunjukkan kepada mereka.” Ini menunjukkan kepercayaan dirinya yang dibuktikan dengan menciptakan produk-produk inovatif yang tak terpikirkan oleh para pesaing dan diminati oleh jutaan konsumen.

Dia tidak malu berinovasi dari ide-ide orang lain, Steve Jobs ingat perkataan Picasso seorang maestro pelukis dunia dalam kutipannya berikut: “Picasso berkata bahwa artis yang baik itu meniru, artis yang hebat mencuri. Dan kami selalu berani mengambil ide-ide besar dan saya pikir bagian yang membuat Macintosh menjadi hebat adalah orang-orang yang berkontribusi padanya merupakan musisi, pujangga dan seniman, zoologis serta ahli sejarah, yang kebetulan juga merupakan ilmuwan komputer terbaik di dunia.” Dia memang pernah menyinggung Bill Gates bahwa Windows ciptaan Bill Gates menyontek karyanya, tapi Steve Jobs disadari oleh perkataan Bill Gates bahwa mereka sama-sama berniat mencuri dari Xerox. Jangan takut untuk belajar dengan cara meniru dan memodifikasi. Inspirasi kebanyakan datang dari orang lain.

Ditulis oleh Wall Street Journal, Steve Jobs pernah berkata: “Orang-orang dari teknologi tidak memahami proses kreatif yang membuat perusahaan menjalankan produksinya, dan mereka tidak menghargai betapa beratnya. Serta perusahaan-perusahaan yang kreatif tidak menghargai seberapa kreatifnya teknologi itu; mereka pikir itu hanya sesuatu yang kamu beli. Dan disitulah jurang pemisah yang lebar untuk pemahaman di antara keduanya.” Disini Steve Jobs menekankan bahwa setiap perusahaan harus menghargai nilai kreativitas meski perusahaan itu merupakan perusahaan dengan produk berteknologi canggih.

Terakhir, saya akan mengutip kata-kata Steve Jobs ketika diwawancarai oleh majalah Playboy: “Sangatlah jarang kamu melihat seniman di usia 30-an dan 40-an mampu memberikan kontribusi yang memukau.” Dan di usia 50-an, Steve Jobs mengajarkan kita bahwa usia tidak menjadi alasan untuk bisa sepertinya. Tua atau muda, kita harus bisa berkarya. Kepemimpinan Steve Jobs yang kreatif, telah berkontribusi pada kesuksesan inovasi produk-produk digitalnya meski dia tidak semuda dulu lagi.

Steve Jobs memang telah tiada, tapi kepemimpinannya telah mengajarkan kita cara-cara untuk meraih keberhasilan lewat visi yang jelas dan inovasi yang berkualitas. Silahkan renungkan pemikiran-pemikirannya.

Mari jadikan kehidupan kita juga akan dikenang sebagai pribadi yang memberi inspirasi…