Tips Motivasi

Tips-Tips Motivasi dari dan untuk Reza Wahyu

Tag: efisiensi

Memaksimalkan Produktivitas

Produktivitas bisa dirumuskan sebagai: nilai yang dihasilkan dibandingkan waktu dan sumber daya yang digunakan.

Maka untuk memaksimalkan produktivitas, kuncinya ada di efisiensi waktu atau efektivitas penggunaan sumber daya dan inovasi yang mampu meningkatkan nilai yang dihasilkan baik secara kuantitas maupun kualitasnya.

Contohnya; jika seorang pekerja ingin memaksimalkan produktivitasnya, maka yang dapat dia lakukan adalah sebagai berikut:

1. Optimalisasi waktu dan sumber daya.

Seorang karyawan yang produktif harus tahu sasaran-sasaran kinerjanya. Tugas-tugas yang menjadi sarana dalam pencapaian target utamanya harus dia prioritaskan.

Dengan menetapkan prioritas, seseorang menjadi lebih efektif dalam memfokuskan pekerjaannya. Penggunaan sumber daya yang efektif dan efisiensi waktu yang dihasilkan dari penetapan prioritas ini pada akhirnya akan meningkatkan produktivitas.

Tanpa prioritas, seseorang bisa jadi melakukan banyak hal hingga tampak sibuk tapi sebenarnya tidak produktif. Sedangkan untuk hal-hal lain harus bisa didelegasikan kepada orang lain.

Jangan sampai malah kita mengerjakan pekerjaan yang bisa dikerjakan oleh orang lain. Hindari juga penundaan, rapat-rapat perencanaan yang berulang-ulang. Segerakan eksekusi!

Sumber daya yang ada juga perlu dihemat. Dalam hal ini, waktu juga bisa dibilang sebagai suatu sumber daya juga. Maka, optimalkan penggunaannya dengan memilih pemakaian sumber daya yang bermanfaat dan produktif.

Buanglah kegiatan-kegiatan yang sekiranya hanya membuang-buang waktu dan sumber daya. Misalnya: menggosip, makan siang atau merokok terlalu lama, dan sebagainya.

Tips tambahan: bangunlah lebih pagi agar menambah waktu dan mengurangi kemalasan.

2. Inovasi untuk peningkatan nilai yang dihasilkan.

Perbanyak volume yang bisa dihasilkan atau tambahkan fitur dan manfaat dari hasil yang diproduksi. Peningkatan nilai yang dihasilkan bisa berupa penambahan kuantitas dan kualitas dengan sumber daya yang terbatas.

Strategi berinovasi ini lebih baik dari hanya sekedar efisiensi belaka. Silahkan baca tulisan saya: inovasi vs efisiensi. Malah, ada inovasi yang bisa menambahkan jumlah sumber daya yang ada. Carilah tambahan sumber daya serta waktu untuk berproduksi.

Salah satu sarana untuk meningkatkan nilai yang dihasilkan dari penggunaan waktu dan sumber daya adalah: teknologi. Perusahaan harus memanfaatkan teknologi dan mengikuti perkembangannya jika ingin menang dari persaingan.

Selain teknologi, ilmu pengetahuan dan informasi menjadi sarana lain untuk peningkatan nilai produksi. Pertajamlah keahlian dan kompetensi dengan selalu belajar serta berlatih. Asahlah gergaji.

Perbaikan kualitas secara konsisten juga merupakan salah satu strategi untuk peningkatan nilai produksi. Taktiknya bisa berupa Kaizen, TQM (Total Quality Management), atau program continuous improvement lainnya.

Jika ada kualitas yang cacat atau kesalahan produksi harus bisa diantisipasi dengan cepat dan baik, karena hal ini bisa meruntuhkan nilai dari keseluruhan produksi. Misalnya pada kasus merek mobil yang di recall.

Maka, bisa disimpulkan bahwa untuk memaksimalkan produktivitas; kita harus memanfaatkan sumber daya secara efektif seoptimal mungkin dan berinovasi meningkatkan kuantitas serta kualitas nilai yang dihasilkan dalam proses bekerja atau berproduksi.

Sekilas formula ini terlihat sederhana, namun inilah kunci untuk keberlangsungan suatu usaha. Perusahaan yang produktif akan terus bertumbuh untuk menyerap permintan pasar dan bertahan untuk terus unggul dalam menghadapi persaingan. Ini adalah persoalan yang rumit, yang membutuhkan perhatian khusus dan mendetail.

Silahkan evaluasi produktivitas dengan mengidentifikasi faktor-faktor yang ada di dalam kedua aspek yang telah saya sebutkan di atas!

Kisah Efisiensi vs Inovasi

Pada suatu ketika* terdapat dua perusahaan yang bergerak di industri otomotif.

Mereka memproduksi mobil. Kita sebut saja mereka perusahaan E dan I.

Kedua perusahaan ini telah menikmati masa kejayaan mereka. Produksi minyak untuk BBM melimpah. Daya beli pasar yang tinggi. Pesaing yang masih sedikit, dst.

Lalu, datanglah krisis..

Produksi minyak mulai berkurang. Perekonomian masyarakat melemah. Persaingan meningkat. Peraturan mengetat dan isu lingkungan mencuat.

Dan banyak hal lagi yang membuat dua perusahaan ini mulai goyah.

Bagaimana mereka memecahkan masalah ini?

Perusahaan E melakukan efisiensi. Karyawannya dikurangi. Biaya-biaya yang bisa ditekan; ditekan, bahkan dibuang kalau bisa.

Fokus manajemennya ada pada efisiensi. Dan perusahaan E bisa survive melewati krisis kali ini.

Lalu krisis kedua datang lagi. Ketiga. Keempat. Kelima. Dst. Minyak bumi pun makin habis. Masyarakat makin berhemat. Produsen mobil lain makin banyak.

Dan banyak tantangan lain yang timbul yang mengurangi keuntungan dari penjualan mobil.

Perusahaan E terus mengencangkan pinggang terus mengutamakan efisiensi. Laju produksi diturunkan. Banyak karyawannya yang dikeluarkan dan akhirnya keluar dengan sendirinya. Teknologi mobil buatannya kurang inovatif, boros bensin dan dianggap kemahalan.

Lalu perusahaan E mulai kehilangan banyak pelanggan. Pendapatannya menyusut. Hutang menjadi tertunggak.

Pada akhirnya perusahaan E pun kolaps. Harus di bail-out pemerintah atau bangkrut. Binasa.

Lain ceritanya dengan perusahaan I. Ketika krisis, meski harus melakukan efisiensi. Perusahaan I tidak berfokus kesitu. Perusahaan I berfokus pada inovasi.

Inovasi dengan riset dan pengembangan meski biayanya tidak efisien. Memperbaiki proses produksi dengan peralatan yang baru. Mencari dan memelihara SDM yang ahli meski biayanya tinggi.

Yang terpenting adalah inovasi.

Perusahaan I mencoba menciptakan mesin baru. Yang irit dan membutuhkan sedikit BBM. Mesin hybrid. Mesin listrik. Mesin hidrogen. Mesin berteknologi canggih.

Mesin yang akhirnya tidak terlalu terpengaruh oleh penurunan produksi minyak karena kecanggihannya.

Lalu perusahaan I membuat lini produksi baru. Mobil-mobil jenis baru yang peduli lingkungan dan didukung masyarakat serta disubsidi pemerintah.

Mobil canggih yang dijual murah tapi dengan mesin berteknologi baru yang berkualitas. Mobil jenis baru kala itu. Perusahaan I membuka segmen pasar baru yang masih sepi pesaing.

Seiring waktu, pasar baru ini mulai banyak pesaingnya. Mobil canggih dan murah mulai diproduksi pabrik mobil lainnya. Namun para konsumen percaya dengan pengalaman panjang perusahaan I sebagai pelopor yang terbukti terus mengutamakan inovasi.

Posisi perusahaan I aman untuk jangka waktu yang lama. Selama fokusnya pada inovasi, bukan efisiensi.

(*) berdasarkan kisah nyata yang sedikit dimodifikasi

%d blogger menyukai ini: