Taktik Motivasi Kelompok: Musuh Bersama

by @rezawismail

Kenali diri dan musuh, seribu pertarungan seribu kemenangan. -Sun Tzu

Suatu kelompok, entah itu tim kerja atau grup karyawan dalam sebuah perusahaan, selain membutuhkan tujuan dan pemimpin yang mengarahkan kepada pencapaian tujuan tersebut; juga membutuhkan satu bentuk musuh bersama.

Bentuk dari musuh bersama ini tidak mesti berupa orang lain. Bisa juga berupa sebuah konsep negatif yang sifatnya mendesak, seperti krisis atau masalah yang mengancam. Ketakutan yang sama yang dirasakan oleh sebuah kelompok akan menguatkan rasa kebersamaan dan saling ketergantungan.

Musuh bersama akan memaksa para anggota kelompok untuk bersatu menghadapi ancaman. Ketakutan yang ditebar sang musuh kepada semua anggota kelompok, akan semakin menguatkan sinergi dari sebuah kelompok.

Lihat saja, dua orang yang tidak saling kenal bisa cepat akrab jika mereka membicarakan musuh bersama. Para supporter klub bola yang kompak mengejek tim lawan misalnya, atau ibu-ibu yang dengan semangat berbarengan mengeluhkan kenaikan harga. Bahkan dua orang yang berbeda agama bisa sepakat berdebat melawan orang yang ateis.

Dan jika tidak memiliki musuh yang signifikan, seseorang dengan tipe kepribadian yang cenderung berhati-hati dan mudah cemas akan mencari-cari satu bentuk musuh sebagai wujud paranoia-nya. Seseorang tidak akan mudah puas begitu saja, beberapa waktu kemudian dia akan waspada dan mencari potensi bahaya atau ancaman dari satu bentuk musuh.

Misalnya para karyawan yang merasa hidupnya datar-datar saja dan tidak memiliki urgensi terhadap sesuatu yang mengancam, akan cenderung mencari-cari musuh yang tidak terlalu menakutkan tetapi yang membuatnya kesal; rekan kerja atau bahkan atasannya sendiri. Akhirnya, konsentrasi dia pada pekerjaan utamanya malah menjadi kurang optimal.

Banyak karyawan yang berkelompok dan kompak membenci atasannya. Ada juga satu kelompok karyawan yang membenci kelompok lainnya. Contohnya: departemen penjualan dengan divisi administrasi. Ini semua terjadi karena konsep musuh bersama tidak disiapkan secara seksama oleh sang atasan.

Maka dari itu, seorang pemimpin yang efektif selain menetapkan tujuan dan mengarahkan orang-orang yang dipimpinnya untuk mencapai tujuan tersebut; perlu juga mempererat kekompakkan dari kelompoknya dengan mengingatkan ancaman dari satu bentuk musuh bersama.

Jadi, manajemen perusahaan bisa saja mengingatkan akan suatu bahaya yang bukan berasal dari dalam perusahaan. Bisa berupa ancaman dari pesaing yang bisa menggagalkan usaha bersama, atau bahkan krisis keuangan yang akan dihadapi jika dipecat karena kinerja yang buruk.

Ingat, alihkan fokus musuh bersama dari sang atasan dengan membuat karyawan merasa bertanggung jawab kalau dia diberhentikan karena tidak produktif. Jangan sampai sang bawahan menyalahkan orang yang memecatnya, buatlah sistem penilaian yang adil sehingga dia akan memusuhi ketakutannya bukan atasannya.

Selanjutnya, ingatkan selalu akan potensi penggantian dirinya dengan banyak orang lain di luar sana yang akan bekerja lebih keras. Ini akan semakin menguatkan motivasi kompetitif yang ada secara internal di dalam diri semua orang. Hasrat untuk unggul dalam kompetisi yang sudah tertanam semenjak kita dalam bentuk sperma.

Kekurangan dari metode ini adalah tidak bisa digunakan secara terus menerus dalam jangka panjang. Makanya saya menyebutnya sebagai taktik bukan strategi. Jika terlalu berlebihan malah akan membuat para anggota kelompok menjadi apatis, pesimis, dan menghancurkan mental berkelompok dari dalam.

Sehingga, taktik musuh bersama ini harus diimbangi dengan pemberian harapan dalam mencapai tujuan dan mengajak untuk tidak lupa melihat peluang-peluang yang ada. Seorang pemimpin kelompok memiliki tantangan untuk mampu mengelola kekuatan dan kelemahan kelompoknya dalam mencapai tujuan bersama dan menghadapi ancaman yang potensial; melawan sebentuk musuh bersama.

Akhir kata, dinamika kelompok yang efektif untuk meraih sasaran-sasarannya, membutuhkan ancaman potensial dari satu bentuk musuh bersama sebagai penguat kebersamaan dalam bersinergi. Ketakutan yang sama-sama dirasakan oleh setiap anggota kelompok adalah perekat yang akan mempererat keharmonisan dalam berkelompok. Dan memotivasi kelompok tersebut untuk bergerak maju dengan semangat berkompetisi.

Baca juga:
2 Kata Kunci Kesuksesan Kepemimpinan
Teknik Motivasi: Teori Kebutuhan McClelland
Perusahaan Demotivator
Agar Termotivasi