Tips Motivasi

Focusing on Happiness

Kategori: komunikasi & persuasi

Teori Demotivasi Karyawan

Orang yang kreatif termotivasi oleh keinginan untuk mencapai kesuksesan, tapi bukan keinginan untuk sekedar mengalahkan orang lain. -Ayn Rand

Banyak hal yang disadari perusahaan dapat mendemotivasi karyawannya, menjatuhkan semangat kerja para pegawai. Misalnya seperti bayaran atau gaji yang dirasa kurang, atau tunjangan dan fasilitas yang tidak mencukupi.

Dan, ada juga beberapa hal yang tidak diketahui oleh perusahaan tapi bisa juga menurunkan motivasi karyawan untuk bekerjanya maksimal. Contohnya hal-hal yang bersifat pribadi, seperti sakit, jenuh atau kebosanan, rasa keterpaksaan karena pekerjaannya tidak sesuai dengan minatnya, ada masalah rumah tangga dengan pasangannya atau salah satu anggota keluarganya ada yang meninggal, dan seterusnya.

Namun, ada juga hal-hal yang bisa menjadi sumber demotivasi yang sebaiknya dikelola oleh perusahaan lewat manajemennya. Budaya kerja dan interaksi sosial sesama rekan kerja atau antar atasan-bawahan bisa berpotensi menimbulkan demotivasi karyawan yang seharusnya bisa diperbaiki. Dan banyak hal lainnya yang kurang disadari oleh manajemen bisa menimbulkan rasa demotivasi bagi para karyawan.

Baca entri selengkapnya »

Mengelola Karyawan Superstars

Hirarki seringkali disalahartikan di masa kini padahal hirarki cenderung bekerja dengan baik di dalam suatu lingkungan yang stabil. -Mary Douglas

Andi, seorang karyawan dalam divisi liabilitas pada sebuah bank, merasa ada yang kurang dalam tim kerjanya. Dinamika kelompok yang ada rawan konflik dan kurang kompak dalam bekerja sama, sehingga kinerja tim secara keseluruhan kurang maksimal. Padahal kelompoknya terdiri dari para lulusan terbaik dengan tingkat kecerdasan yang tinggi. Namun tim ini kalah produktif dengan tim kerja dari divisi lain.

Budi, seorang karyawan yang berasal dari divisi kredit pada bank yang sama tempat Andi bekerja, memiliki sebuah tim kerja yang sangat produktif meski para anggota kelompoknya berasal dari beragam tingkat kecerdasan. Maka dari itu, dibuatlah hirarki kekuasaan dengan struktur birokrasi yang berjenjang untuk mengkoordinasikan keberagaman kemampuan dari para anggota tim ini. Ada yang berperan sebagai pemimpin kelompok, pengawas, dan seterusnya hingga pelaksana. Interaksi di dalam grup berjalan harmonis dan sinergis dengan adanya pembagian wewenang yang jelas dan bertingkat. Kerja sama antar anggota kelompok berjalan dengan baik.

Sementara dalam kelompok yang terdiri dari para bintang (superstars), mereka menuntut kesetaraan dan persamaan derajat karena merasa sama-sama memiliki keahlian yang tinggi. Susunan batasan kekuasaan menjadi kabur dan akhirnya sering terjadi benturan ego yang menimbulkan pertentangan dan konflik. Penyelesaian perselisihan memakan banyak waktu dan menghabiskan energi tim sehingga tim ini bekerja secara tidak optimal.

Riset psikologi terbaru oleh Adam Galinsky dari Universitas Northwestern telah mengkonfirmasi bahwa hirarki dibutuhkan dalam sebuah tim khususnya yang terdiri dari para bintang (superstars) atau anggota kelompok yang berkemampuan tinggi. Penelitian sebelumnya pada para pemain bintang di beberapa tim basket NBA juga mengungkapkan peningkatan kinerja, koordinasi, dan kerja sama di dalam tim terbangun berkat struktur hirarki yang ada dalam kelompok.

Baca entri selengkapnya »

Teori NLP: Program Motivasi Karyawan

Pembelajaran sejati berarti turut juga mempelajari cara-cara lain selain dari cara-cara yang telah kita bisa lakukan. -John Seymour

NLP atau Neuro Linguistic Programming adalah ilmu yang dikembangkan oleh Dr. Richard Bandler dan Prof. Dr. John Grinder untuk memodel bentuk komunikasi kepada diri dan orang lain, mengembangkan diri, dan suatu bentuk psikoterapi sejak tahun 1970.

Secara ringkas NLP adalah sebuah prosedur yang dapat dilakukan oleh siapapun yang mau mempelajarinya untuk mendapatkan satu hasil tertentu sesuai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. NLP berusaha menciptakan program-progam kognitif dari memodel orang lain dengan meniru dan memodifikasi profil psikologis dari teladan tersebut.

Terapi NLP mengamati koneksi antar proses neurologis dengan bahasa dan pola perilaku yang bisa dipelajari serta diprogram untuk mencapai satu tujuan tertentu. Selain sebagai sebuah metode terapi, NLP biasanya digunakan sebagai sebuah studi komunikasi; wawasan untuk mengembangkan potensi manusia.

Struktur yang digunakan dalam wawasan NLP biasanya berupa penjangkaran emosi (anchoring), pembingkaian ulang perspektif (reframing), paradigma non-verbal (submodalities), posisi persepsi, dan sistem representasi seperti preferensi sensorik. Beragam teknik NLP dapat digunakan di dalam sebuah interaksi seperti membangun keakraban (rapport) lewat penyelarasan (pacing), penyamaan (matching), dan pengarahan (leading), serta intervensi jalan saraf lewat visualisasi dan metaprogamming.

Baca entri selengkapnya »

Taktik Motivasi Kelompok: Musuh Bersama

Kenali diri dan musuh, seribu pertarungan seribu kemenangan. -Sun Tzu

Suatu kelompok, entah itu tim kerja atau grup karyawan dalam sebuah perusahaan, selain membutuhkan tujuan dan pemimpin yang mengarahkan kepada pencapaian tujuan tersebut; juga membutuhkan satu bentuk musuh bersama.

Bentuk dari musuh bersama ini tidak mesti berupa orang lain. Bisa juga berupa sebuah konsep negatif yang sifatnya mendesak, seperti krisis atau masalah yang mengancam. Ketakutan yang sama yang dirasakan oleh sebuah kelompok akan menguatkan rasa kebersamaan dan saling ketergantungan.

Musuh bersama akan memaksa para anggota kelompok untuk bersatu menghadapi ancaman. Ketakutan yang ditebar sang musuh kepada semua anggota kelompok, akan semakin menguatkan sinergi dari sebuah kelompok.

Lihat saja, dua orang yang tidak saling kenal bisa cepat akrab jika mereka membicarakan musuh bersama. Para supporter klub bola yang kompak mengejek tim lawan misalnya, atau ibu-ibu yang dengan semangat berbarengan mengeluhkan kenaikan harga. Bahkan dua orang yang berbeda agama bisa sepakat berdebat melawan orang yang ateis.

Baca entri selengkapnya »

Memotivasi Kepatuhan: Eksperimen Milgram

Kinerja yang bagus merupakan kombinasi dari kepatuhan dan keleluasaan.  -Nadia Boulanger

Dalam eksperimennya yang terkenal di bidang psikologi, Stanley Milgram mengungkapkan betapa kuatnya pengaruh kepatuhan terhadap perilaku seseorang. Seseorang bisa dengan amat patuh menjalankan perintah meski itu bertentangan dengan akal sehat dan nurani.

Milgram terinspirasi oleh seorang penjahat perang dunia kedua yang bisa dengan keji membunuh jutaan manusia dengan alasan hanya menjalankan perintah atasan saja. Milgram membuktikan lewat sebuah riset, mayoritas partisipan di dalam penelitiannya menjalankan instruksi dengan patuh meski punya keinginan untuk menentang.

Para peserta dalam percobaan Milgram direkrut lewat iklan koran untuk mengikuti sebuah studi tentang daya ingat (padahal tentang kepatuhan). Partisipan dibayar dan dipilih secara acak untuk berperan sebagai sang murid atau sang guru. Risetnya diinformasikan seakan-akan bertujuan untuk menghubungkan kekuatan memori seseorang dengan setruman listrik yang dialirkan peserta yang berperan sebagai sang guru.

Tingkat setruman diatur melalui beberapa tombol dengan label “setruman kecil,” “setruman moderat” dan “bahaya: setruman parah.” Dua tombol terakhir berlabel “XXX.” Masing-masing memiliki daya listrik yang semakin besar mulai dari 15 volt hingga 300 volt.

Setiap peserta yang berperan seorang “guru” akan menekan tombol untuk menyetrum “murid” jika sang murid menjawab salah dari pertanyaan-pertanyaan yang dibacakan sang guru berdasarkan tulisan yang harus diingat-ingat sebelumnya. Perlu diketahui, sebenarnya peranan guru atau murid tampak acak padahal peran sang murid dimainkan oleh seorang aktor yang berpura-pura kesakitan karena disetrum (dan tidak ada listrik yang menyetrum di mesinnya).

Para partisipan yang menjadi subyek penelitian Milgram ini ditempatkan diruangan yang terpisah sehingga hanya bisa mendengar suara dari sang murid untuk menjawab pertanyaannya. Suara keluhan, jeritan, dan permintaan tolong untuk menghentikan setruman juga bisa terdengar di ruangan sang guru alias orang yang diteliti. Di ruangan tersebut juga hadir seorang peneliti sebagai figur otoritas yang menekankan kepatuhan jika peserta menjadi ragu-ragu untuk menjalankan tugasnya dalam membacakan soal dan khususnya dalam menekan tombol setruman.

Selama percobaan berlangsung, peserta akan mendengar sang murid yang memohon ingin dilepaskan atau mengeluh tentang kondisi jantungnya yang kurang fit. Setelah tingkat setruman sebesar 300-volt dicapai, sang murid (yang merupakan seorang aktor yang berpura-pura kesakitan) menggedor-gedor dinding dan berteriak minta untuk dibebaskan. Di titik ini, peserta biasanya mulai ragu-ragu untuk menekan tombol setruman sebagai hukuman dari jawaban yang salah.

Di dalam ruangan yang sama dengan partisipan yang berperan sebagai sang guru, terdapat seorang peneliti yang berperan sebagai seorang ilmuwan berjas putih sebagai seorang figur otoritas. Sang ilmuwan ini mengatakan kalimat-kalimat yang penuh ketegasan untuk menyuruh peserta agar terus memberikan kejutan listrik di saat peserta mulai ragu-ragu dalam menekan tombol setruman.

Bahkan ketika sudah tidak terdengar suara dan peserta mulai was-was apakah sang murid pingsan atau terkena serangan jantung, sang peneliti sebagai figur otoritas tetap meminta peserta untuk mematuhi perintahnya dan kembali menyetrum dengan menekan tombol. Hasilnya, mayoritas peserta taat menjalankan perintah meski akal sehat dan hati nuraninya menentang.

Saat Milgram mensurvey mahasiswa Universitas Yale, dia memprediksikan bahwa tidak lebih dari 3 dari 100 peserta akan tega memberikan tingkat setruman tertinggi. Pada kenyataannya, ketika dilakukan uji coba yang sebenarnya; hasil eksperimen Milgram mengungkapkan mayoritas peserta (65-75%) dalam risetnya patuh melaksanakan tugas hingga tingkat setruman maksimum. Baca entri selengkapnya »