Tips Motivasi

Focusing on Happiness

Kategori: pemasaran & penjualan

Kiat Sukses Manajemen Zappos

Zappos adalah perusahaan penjual sepatu dan pakaian online terbesar yang berdiri sejak tahun 1999. Pada tahun 2009 diakuisisi oleh Amazon, perusahaan multinasional tersukses dan retailer terbesar di internet. Zappos dibeli dengan deal saham senilai 1,2 milyar dollar!

Pertumbuhan penjualan tahunan Zappos sangatlah pesat. Pada tahun 2001, prestasi penjualan mencapai empat kali lipat dari tahun sebelumnya dengan biaya iklan yang minimal. Pada tahun 2008, Zappos berhasil mencapai 1 milyar dollar dalam penjualan tahunan dan menduduki posisi ketiga di dalam 100 perusahaan pilihan teratas menurut survei Fortune.

Zappos menjadi legenda karena budaya perusahaan dan pelayanan kepada pelanggannya yang luar biasa. Tujuan perusahaan dalam menciptakan budaya yang berfokus pada kepuasan karyawan membuat Zappos menjadi tempat bekerja idaman. Kiat manajemennya adalah menetapkan nilai-nilai yang memotivasi secara internal untuk meningkatkan kepuasan karyawan melebihi sekedar urusan gaji semata.

Manajemennya bahkan menawarkan para karyawan barunya dengan uang 2000 dollar untuk berhenti setelah seminggu bekerja. Ini dilakukan untuk memastikan bahwa karyawannya bekerja bukan hanya untuk uang dalam jangka pendek. Manajemen Zappos mengerti bahwa motivasi eksternal seperti uang dan status memang dibutuhkan, namun faktor-faktor intrinsiklah yang mendorong karyawan untuk terus termotivasi secara internal dan berkomitmen dalam jangka panjang.

Tony Hsieh, sang pemimpin Zappos, menyatakan bahwa; jika perusahaan mengutamakan budaya perusahaan dan nilai-nilai inti secara baik, maka segalanya termasuk pelayanan pelanggan akan beres. Sasaran Zappos adalah untuk menawarkan pelayanan yang terbaik di dalam industrinya.

Bentuk-bentuk promosi yang diberikan oleh Zappos adalah: gratis pengiriman, 365 hari jaminan uang kembali, dan call-center yang ramah selama 24 jam sehari 7 hari seminggu. Rekruitmen para karyawannya selain tes standar profesi, juga tes kepribadian yang unik dan harus menjalani 4 minggu pelatihan loyalitas pelanggan dengan 2 minggu melayani pelanggan di call center.

Setelah training tersebut, karyawan baru ditawari uang sebesar 2000 dollar untuk berhenti. Biasanya 97 persen tetap bertahan dan mereka adalah para karyawan yang telah teruji kesetiannya. Dan manajemen Zappos pun sangat mempedulikan kesejahteraan para karyawan ini.

Semua karyawan di Zappos mendapatkan makan siang gratis, fasilitas kesehatan, snack, ruang istirahat, kebebasan mendekorasi kantor dengan beragam tema, parade, permainan, dan sebagainya.

Zappos memiliki sepuluh nilai inti yang menentukan budaya, brand, dan strategi bisnisnya. Nilai-nilai ini mendorong para karyawan untuk memberikan layanan yang luar biasa, berani dengan perubahan, bergembira, aneh dan kreatif dengan berpikiran terbuka, berkembang dengan terus belajar, terbuka dan membangun hubungan dengan tim lewat komunikasi yang positif serta kekeluargaan, fokus, bersemangat tapi tetap bersahaja.

Manajemen Zappos sangat mengutamakan pelayanan pelanggan. Bagi Zappos; kepuasan pelanggan akan membawa kepada konsumen yang loyal, yang pada akhirnya akan memberikan tingkat penjualan dan keuntungan yang tinggi. Dan peningkatan profit margins ini dimulai dari pelatihan dan pengembangan karyawan.

Upaya dalam menciptakan budaya perusahaan dengan berinvestasi dalam memilih dan melatih karyawan adalah kiat sukses manajemen yang perlu dilakukan perusahaan manapun yang ingin berhasil menghasilkan laba dan bertahan dalam jangka panjang.

Pengembangan dan training karyawan adalah inisiatif yang diperlukan dalam meningkatkan kompetensi dan kepuasan karyawan. Para karyawan akan menjadi termotivasi dalam memberikan pelayanan pelanggan yang terbaik. Sehingga hal ini akan menciptakan loyalitas konsumen, melonjakkan penjualan, dan keuntungan bagi perusahaan.

Maka dari itu, perusahaan dapat menginvestasikan ulang sebagian keuntungan yang didapat untuk pengembangan karyawan sehingga membuat suatu siklus yang sempurna. Siklus bisnis yang membawa kesetiaan karyawan dan pelanggan dengan menyisihkan laba untuk training karyawan agar melayani konsumen dengan kompeten. Konsumen menjadi setia, penjualan meningkat, dan memberikan keuntungan yang berkelanjutan bagi perusahaan.

Begitulah siklusnya. Model bisnis yang berdasarkan siklus kepuasan karyawan dan pelanggan. Inilah kiat sukses manajemen untuk memajukan perusahaan dengan budaya yang bernilaikan kesetiaan, yang memperhatikan motivasi internal karyawan. Seperti yang Zappos lakukan.

Baca juga:
Kunci Sukses Manajemen dari Steve Jobs
Inspirasi Sukses Ford (Kisah Kepemimpinan Alan Mulally)
Meningkatkan Kepuasan Kerja untuk Motivasi Karyawan
Motivasi Karyawan: Pendekatan Tradisional dan Modern
Cara Melampaui Target Hingga 3000%: Service with Care

Tehnik Motivasi Sales Call

Kadangkala, sebagai seorang tenaga penjual kita mengalami kemalasan dalam menelpon prospek baru. Kita merasakan keengganan dan perasaan kita menjadi sangat berat bahkan untuk mengangkat gagang telpon saja.

Kita menyibukkan diri dengan membuat rencana, menyiapkan pipeline atau daftar prospek, memikirkan skrip kalimat atau menyusun skenario dari sales call ini. Tapi tetap, kita tidak juga melakukannya. Kita terus menunda-nunda.

Memang, perencanaan itu penting. Bayangkan berapa besar kerugian jika kita mau membangun komplek perumahan tanpa rencana yang matang? Kita memerlukan blueprint, cetak biru untuk segalanya, analisis lingkungan, sanitasi, perencanaan fasum-fasos, isu legal-tehnikal-finansial dan seterusnya untuk pengembangan sebuah real estate.

Properti yang bernilai ratusan milyar bahkan trilyunan memang membutuhkan rencana yang terperinci dan mendetail agar tidak menciptakan biaya yang kelewat besar bahkan membawa kerugian nantinya.

Tapi seberapa besar biayanya untuk menelpon? Pulsa tak seberapa. Tenaga apalagi. Penolakan? Masih banyak calon pembeli lainnya yang mengantri di daftar calon pelanggan kita. Biaya untuk melakukan sales call amatlah kecil.

Masalahnya adalah, kita terlalu sibuk berencana dan terlalu tertekan oleh emosi. Mungkin emosi ketakutan akan penolakan dan kegagalan. Mungkin perasaan kecemasan yang menciptakan kemalasan dan beragam alasan untuk menunda.

Tapi yang pasti, masalahnya ada pada perasaan yang tidak logis. Kita perlu mengembalikan pikiran kita yang rasional. Maka dari itu, buatlah perbandingan secara logis antara untung dan rugi dalam membuat sales call. Seberapa banyak kerugian akan diketahui secara jelas bukan hanya sekedar perasaan saja.

Dan ketika kita mulai menuliskan keuntungan apa saja yang bisa kita dapatkan dari sales call, kita akan termotivasi untuk melakukannya. Buat dua kolom: kerugian dan keuntungan. Bandingkan saja, biaya pulsa yang tak seberapa dengan keuntungan atau komisi penjualan yang bisa jadi ribuan kali lipat besarnya dari biaya pulsa yang dikeluarkan untuk menelpon.

Tehnik ini membuang emosi yang tak perlu yang membebani dan menciptakan kemalasan, serta penundaan. Analisis untung-rugi yang logis mengembalikan akal sehat kita untuk menguatkan motivasi diri. Jangan terlalu lama berencana, segera laksanakan sales call itu dan merevisi rencana seiring implementasinya. Segera eksekusi!

Baca juga:
Cara Melampaui Target Hingga 3000%: Service with Care
Taktik Presentasi Sales agar Sukses
Tehnik Sales Semi Hipnotis
Training Sales Persuasif
Langkah Sales Menjadi Sukses

Cara Melampaui Target Hingga 3000%: Service with Care

Di awal karir, saya bekerja pada salah satu bank terbesar. Personal banker adalah jabatan saya dan saya ditempatkan di salah satu kantor cabang pembantu. Saya menjalani pekerjaan saya sebagai bankir di tempat itu dengan cukup baik. Lalu, pada suatu waktu saya dipindahkan ke salah satu cabang utama menggantikan rekan saya yang resign.

Di tempat baru tersebut, saya menerima situasi yang ditinggalkan rekan saya: target yang tertinggal jauh, kekurangan beberapa milyar rupiah. Saya sempat down, tapi tidak sampai berputus asa. Saya mencoba menjawab tantangan dari atasan saya yang baru itu untuk mencapai target yang tinggi dengan cara; bekerja semaksimal yang saya mampu.

Going to the extra miles.

Saya turun dari meja saya di lantai atas ke banking hall di lantai bawah. Saya membantu pekerjaan customer service yang saat itu tampak sibuk sekali dengan banyaknya nasabah yang mengantri. Saya dekati salah satu orang tua yang sedang menunggu antrian, dan ternyata dia belum menjadi nasabah bank kami. Orang tua ini memiliki banyak pertanyaan dan saya berusaha memberikan pelayanan sebaik-baiknya yang saya bisa.

Pelayanan dengan kepedulian.

Saya menyadari, sebagai seorang personal banker, saya adalah seorang sales: penjual produk dan jasa perbankan. Mungkin semua fitur yang ada di lini produk dan jasa kami tidak jauh berbeda dengan bank-bank lainnya. Bank-bank pesaing yang bersebelahan dan menghimpit cabang kami. Saya mencoba membuat suatu perbedaan, keunggulan dari produk dan jasa yang bukan hanya pada fitur-fiturnya.
Tapi pada orang, sales person, pelayanannya. Dan bukan hanya sekedar pelayananan, tapi juga kepedulian. Menjalin hubungan baik yang bertahan dalam waktu yang lama. Memberikan perhatian dan kepuasan yang lebih dari yang diharapkan, diluar dugaan si nasabah atau ekspektasi sang pelanggan.

Memanusiakan pelanggan, bukan hanya mengeksploitasinya dengan meningkatkan sales volume dan cross-sell dari kegiatan penjualan kita. Pada akhirnya, bukan hanya service excellence yang menjadi tujuan dari pelayanan kita melainkan juga wonderful experience yang didapatkan oleh konsumen.

Sehingga saya bisa mencapai target bahkan melebihinya. Hingga 3000 persen!!! Saya akui, saya memang beruntung bisa meraih hasil yang setinggi itu. Tapi keberuntungan memang memihak pada orang yang berupaya tanpa menyerah dengan penuh kesungguhan. Sungguh merupakan prestasi yang membanggakan, dan memberikan pelajaran yang berharga.

Bahwa perusahaan yang berorientasi pada hospitality business bukan hanya memberikan solusi namun juga harus memberikan sensasi kepada para pelanggannya. Menciptakan suatu value atau nilai tambah dalam marketing strategy dan taktik pemasaran yang dijalankan oleh perusahaan.

Dari customer solution ke customer sensation. Inilah konsep inti dari pelayanan pelanggan dengan kepedulian, membawa keunggulan bersaing perusahaan. Dengan cara mengutamakan customer satisfaction.

Lalu, bagaimana implementasinya dalam kegiatan operasional sehari-hari? Faktor-faktor apa saja yang menentukan tingkat layanan yang harus diberikan perusahaan kepada para pelanggannya?

Mulailah dengan reliability. Berikan janji yang bisa diandalkan. Sesuaikan positioning, fitur, dan manfaat yang dijanjikan dalam suatu produk atau jasa dengan ketepatan. Jagalah kualitas dari produk dan jasa secara total. Kasih pelayanan yang penuh kasih.

Jadilah pelayan yang cepat tanggap serta penuh empati. Buatlah kemudahan dalam proses pembelian dan penggunaan produk/jasa. Sederhanakan kondisi yang memperumit dan memancing emosi sang buyer. Pahamilah jalan pikiran pembeli dan rasakan emosinya. Kembangkan intuisi, olah rasa di hati. Pelajari cara tersenyum yang baik.

Kenalilah pelanggan lebih dekat, lebih dalam. Jalin pengertian dengan membangun hubungan yang awet dalam jangka panjang. Tunjukkan perhatian, ketertarikan, dan kepedulian secara tulus tanpa kepura-puraan atau dibuat-buat. Yakinkan pembeli dengan meyakini produk/jasa yang kita jual.

Lalu, ciptakan kredibilitas dengan memberikan kepastian, konsistensi, dan gambaran yang jelas dari apa yang bisa diharapkan oleh para pelanggan. Penuhi harapan tersebut secara luar biasa. Berikan lebih.

Lakukan kebalikan dari: over promise under deliver. Lakukanlah; Service with Care. Inilah prinsip bisnis yang utama. Ini kisah nyata…

Baca juga:
Mata Uang Utama dalam Bisnis
Tujuan dan Motivasi
Internalisasi Kesuksesan
5 Tehnik Pencapaian Tujuan yang Efektif dan 5 Tehnik yang Tidak Efektif

Taktik Presentasi Sales agar Sukses

Salah satu langkah terpenting dari seorang sales dalam proses penjualan adalah presentasi.

Proses penjualan yang dilakukan oleh para sales pada umumnya. adalah:

1. Menjaring dan menyaring prospek dengan Cold Call atau membuat janji temu lewat telpon kepada suspect (calon prospek) dari database atau daftar referal.

2. Meeting pertama/pertemuan awal dengan prospek untuk perkenalan (basa-basi) dan memaparkan informasi profil perusahaan atau pengetahuan produk secara singkat.

4. Mencari tahu lebih lanjut tentang prospek dengan tanya-jawab/wawancara (biasanya secara informal seperti acara ngobrol-ngobrol biasa) untuk menganalisa kebutuhan/keinginan, cara konsumsi produk/jasa, dan kemampuan membeli dari sang prospek.

5. Menyusun proposal dan memberikan presentasi kepada prospek dengan penawaran yang sesuai hasil analisa yang telah dilakukan setelah sesi tanya-jawab di langkah keempat.

6. Closing atau meminta prospek untuk memberikan keputusan untuk membeli, menolak, atau menunda pembelian. Silahkan baca beberapa tehniknya disini.

7. Meminta referal, evaluasi untuk presentasi yang selanjutnya, dan jika berhasil menjadi pembeli; memberikan layanan after sales service yang baik seperti penanganan komplain serta cross-selling agar konsumen menjadi pelanggan yang loyal.

Dari kesemua langkah di atas, langkah yang paling krusial adalah presentasi. Disinilah inti dari taktik sales berada. Poin yang menentukan keberhasilan dari keseluruhan proses penjualan yang dilakukan sales.

Ketika sales memberikan presentasi, disinilah tahap dimana taktik penjualan dilaksanakan. Taktik adalah implementasi dari strategi yang telah dibuat. Jika strategi penjualan berasal dari aktivitas marketing di tingkat konsep maka taktik penjualan adalah aktivitas pada tingkat operasional di dalam segmen market yang ditargetkan.

Strategi pemasaran yang biasanya disusun oleh perusahaan kepada produknya, diawali dari pencitraan yang ingin ditanamkan di benak pembeli potensialnya. Ini disebut positioning.

Penanaman citra atau positioning produk ini berupa penawaran atau janji-janji yang dikomunikasi lewat iklan, aktivitas humas, dll. Maka, taktik adalah penerjemahan dari strategi pemasaran seperti positioning yang dipromosikan tersebut.

Pada saat presentasi inilah, seorang sales bisa menjalankan suatu taktik yang mengeksekusi klaim positioning produknya. Delivery dari janji atau citra yang ditebarkan. Taktik yang kongkrit yang bisa membawa sales kepada kesuksesan dari proses penjualan yang dilakukan.

Taktik sales yang berhasil ini harus mampu memberikan keunggulan kepada produk atau perusahaan dari para pesaingnya. Taktik penjualan ini biasa disebut diferensiasi. Inilah taktik yang memberikan perbedaan demi kemenangan dalam persaingan. Saya pernah menuliskan tips marketing sapi ungu sebagai tehnik diferensiasi yang sukses disini.

Seorang sales yang ingin menerapkan taktik diferensiasinya dengan sukses haruslah mengetahui perbedaan produk yang dijualnya terhadap para kompetitornya. Jadi, selain memiliki product knowledge, sales juga harus mempunyai competitor knowledge.

Presentasi yang standar biasanya hanya berisi product knowledge saja, seperti pemaparan fitur-fitur dan benefit atau manfaat dari produk yang dipresentasikan. Presentasi yang unggul haruslah menawarkan solusi khusus kepada konsumen sebagai bagian dari diferensiasi yang menarik. Diferensiasi inilah yang membuat produk yang ditawarkan menjadi menonjol di antara para pesaingnya.

Diferensiasi yang menarik ini harus benar-benar unik agar selalu diingat oleh para pelanggan dan sulit ditiru oleh para kompetitor. Perusahaan dan sales harus mampu memberikan kemasan, isi, dan/atau infrastruktur pendukung (seperti teknologi, fasilitas, serta sikap pelayanan dari karyawan) yang benar-benar membawa perbedaan.

Sales yang ingin berhasil harus mampu membuat pelanggan menyadari dan merasakan sendiri diferensiasi yang memukau, yang berbeda dari para pesaing walau mereka telah berusaha untuk menyerupai produk yang ditawarkan. Orisinilitas dan otentisitas mesti dijaga sebagai kredibilitas penyokong taktik penjualan ini. Diferensiasi yang berpengaruh adalah diferensiasi yang kredibel dan persuasif, serta penuh kepedulian.

Silahkan baca beberapa tips membujuk dengan persuasi disini dan trik menggunakan psikologi persuasif disini. Untuk membangun kredibilitas dan kepedulian, seorang sales harus menyusun taktik diferensiasi bukan hanya pada fitur dan manfaat/benefit yang bisa ditawarkan oleh produknya, namun juga menawarkan solusi bagi pelanggannya dalam suatu kerja sama yang awet.

Sales yang sukses adalah sales yang telah bertransformasi menjadi seorang commercial trader dan juga sebagai seorang relationship manager. Sebagai seorang commercial trader; sales mampu memberikan keuntungan kepada kedua belah pihak lewat solusi yang ditawarkannya. Win-win solution istilahnya. Solusi yang sama-sama menguntungkan bagi perusahaan dan pelanggan.

Kalau sebagai seorang relationship manager berarti seorang sales mampu menjaga dan meningkatkan kualitas hubungannya dengan pelanggan dalam jangka panjang. Pelanggan dianggap sebagai mitra yang setara. Hal ini dilakukan dengan konsisten berkomunikasi secara terbuka, terpercaya, dan penuh kepedulian.

Dengan menjadikan pelanggan sebagai mitra, seorang sales akan memiliki pembeli yang setia, berulang-ulang, dan memberikan referal bahkan turut membujuk orang lain untuk ikut membeli produk yang ditawarkan sang sales. Dan akhirnya akan membawa kesuksesan kepada sang penjual secara terus-menerus, yang diawali dari presentasi dengan taktik sales yang berhasil: yaitu diferensiasi.

Krisis Ekonomi, Regulasi, dan Keserakahan Manusiawi

Krisis ekonomi melanda dunia pada tahun 1930-an. Krisis ini berasal dari Amerika dan istilah yang digunakan adalah: The Great Depression.

The Great Depression adalah krisis ekonomi terbesar di abad ke-20. Dan di abad ke-21 ini, Amerika kembali memulai krisis ekonomi yang juga berdampak global.

Seharusnya manusia belajar dari sejarah.

Badai krisis ekonomi melanda pasar saham hingga anjlok, industri runtuh, perusahaan bangkrut, hutang dan pengangguran meningkat, serta orang miskin bertambah banyak.

Beberapa negara bahkan belum pulih dari hantaman The Great Depression ini sampai terjadi perang dunia kedua.

Perekonomian Amerika mulai membaik setelah perang dunia kedua. Regulasi di bidang keuangan diterapkan secara ketat setelah belajar dari kejadian The Great Depression ini. Krisis ekonomi tidak terjadi lagi sampai tiba masanya perang dingin.

Lalu terjadilah perang dingin tersebut, Amerika melawan Soviet dan negara komunis lainnya. Para ilmuwan, ahli fisika dan matematika di Amerika bekerja demi negara dalam perang dingin ini. Para pakar ini sibuk berinovasi, menciptakan teknologi dan ideologi/metodelogi agar lebih unggul dari negara musuh. Maka, Amerika menang perang dingin melawan Soviet yang terpecah dan mengecil menjadi satu negara Rusia.

Selanjutnya, para pakar ini menjadi tenaga pendorong kemajuan ekonomi Amerika. Mereka berkontribusi dalam perkembangan industri, teknologi informasi, dan sebagainya. Tapi yang perlu kita amati adalah para pakar yang menjadi regulator dan inovator di bidang keuangan.

Para pakar inilah yang bertanggung jawab dalam krisis ekonomi global di abad 21 ini. Bersama-sama dengan sifat serakah manusia.

Mereka menciptakan produk keuangan derivatif yang rumit dan membebaskannya dari regulasi yang ketat. Mereka mengajarkan liberalisasi dan membiarkan bank komersil berspekulasi dengan dana nasabahnya serta merestui bank/perusahaan investasi meraksasa secara sistemik.

Keserakahan membuat para akademisi tidak independen lagi dan memiliki kepentingan bisnis daripada masyarakat umum. Penelitian dan pendidikan diarahkan untuk kepentingan bisnis. Para profesor di kampus-kampus turut menjadi direktur atau konsultan yang bergaji besar untuk beragam perusahaan di bidang keuangan dan bisnis investasi. Dimana-mana mereka mengajarkan liberalisasi dan pelonggaran regulasi. Independensi akademisi menjadi sesuatu yang langka di abad ke-21 ini.

Regulator juga ikut terpengaruh oleh lobi-lobi politik milyaran dolar yang memihak kepentingan bisnis daripada masyarakat umum. Pemerintah dan otoritas yang berwenang dalam mengatur industri keuangan menjadi lemah. Regulasi dalam bidang keuangan menjadi tidak seketat dulu. Pengawasan perbankan dan pengaturan lembaga keuangan menjadi longgar.

Keserakahan menaruh kepentingan bisnis berada di atas kepentingan publik. Keuntungan segelintir kelompok, kerugian orang banyak. Rakyat yang menderita. Akibat keserakahan.

Inilah pelajaran dari krisis di awal milenium ketiga.

Di awal milenium, Amerika menstimulasi pertumbuhan ekonominya lewat suku bunga yang rendah. Pinjaman terasa murah. Banyak orang berhutang dan memiliki rumah secara kredit. Orang kurang mampu tapi serakah nekat mengambil kredit rumah. Ini disebut sub-prime mortgage; salah satu faktor penyebab krisis ekonomi Amerika dan akhirnya dunia.

Lalu para pakar menciptakan suatu produk keuangan yang canggih, derivatif dari pinjaman kredit kepemilikan rumah ini. CDO dan CDS; Collateral Debt Obligations dan Credit Default Swaps. Yang karena keserakahan pula, tidak diatur secara ketat.

Secara sederhana, CDO adalah produk investasi yang dijual berdasarkan pinjaman atau kredit perumahan. Kalau secara tradisional sang peminjam membayar kepada bank pemberi kredit, maka CDO memberikan keuntungan kepada investor dari pembayaran cicilan sang peminjam ini. Bank merasa tidak beresiko dalam menyalurkan pinjaman. Kredit kepemilikan rumah dikucurkan deras, sektor properti pun mengalami booming. Bank menjadi kurang berhati-hati karena merasa bisa mengalihkan resiko kredit kepada produk investasi yang bisa diasuransikan; CDO dan CDS.

Dan CDO yang paling laku adalah yang berbunga tinggi, yang berasal dari peminjam yang beresiko tinggi pula; sub-prime mortage.

Agar resiko tinggi yang dikandung CDO ini bisa diatasi, diciptakanlah CDS; sebuah produk asuransi kalau-kalau CDO-nya merugi. Parahnya lagi, CDS bisa dibeli oleh siapa saja bahkan oleh mereka yang tidak memiliki CDO. Ini menyebabkan potensi kerugian perusahaan asuransi menjadi membesar tidak terbatas oleh status kepemilikan CDO yang diasuransikan oleh para nasabahnya.

Analoginya; semua orang bisa membeli asuransi rumah yang kita miliki padahal mereka bukan pemilik rumah kita. Kalau rumah kita terbakar, banyak orang yang juga bisa mendapatkan klaim ganti rugi dari perusahaan asuransi padahal bukan rumahnya yang terbakar. Aneh bukan? Mengapa bisa terjadi? Keserakahan manusiawi lagi-lagi jawabnya.

Mereka yang menjual CDO dan CDS mendapatkan bonus besar. Para eksekutif menikmati jutaan dolar dari booming-nya produk investasi derivatif ini. Bank investasi, perusahaan sekuritas dan pengelola dana pensiun bertransaksi secara masif serta berani berhutang demi menikmati bisnis CDO dan CDS yang tidak diregulasi secara ketat ini. Keuntungan yang dihasilkan dalam jangka pendek berlipat ganda.

Mereka berani karena lembaga-lembaga pemeringkat atau pemberi rating menilai tinggi CDO dan CDS sebagai investasi selayaknya berinvestasi di surat hutang negara! Banyak perusahaan investasi percaya diri membeli CDO karena ratingnya yang tinggi; investment grade bahkan hingga triple A (AAA). Bahkan bank investasi penerbit CDO diberikan peringkat double A (AA) ke atas padahal sedang menuju kebangkrutan. Namun, lembaga pemberi rating tidak mau disalahkan dan mengelak dari tanggung jawab karena peringkat yang diberikan hanyalah opini semata.

Opini yang sangat subyektif (yang dibayar tinggi) akibat dari, sekali lagi, keserakahan.

Akhirnya gelembung pun pecah. Dunia mengalami krisis energi dan harga minyak melambung tinggi. Inflasi membuat banyak orang tidak mampu membayar hutang. Termasuk yang meminjam untuk kredit rumah. Seperti sub-prime mortgage. Padahal pinjaman ini menjadi dasar produk investasi; CDO. Yang merupakan jaminan produk asuransi; CDS. Kehancuran pasar investasi dari CDO dan klaim besar-besaran untuk CDS inilah yang membawa kerugian secara masif dan sistemik.

Beberapa bank investasi raksasa dan perusahaan asuransi terbesar mengalami kebangkrutan. Hancur total dan menyeret banyak perusahaan lainnya, seperti; perusahaan-perusahaan di industri otomotif, dll. Ada yang dibantu pemerintah, ada yang dijual murah, ada yang tutup setelah memiliki sejarah panjang berdiri. Parahnya, perusahaan yang dibantu pemerintah tetap boros dengan memberikan bonus yang besar kepada para eksekutifnya.

Uang pemerintah juga diboroskan untuk membayar klaim asuransi CDS kepada perusahaan spekulan yang serakah. Perusahaan yang menjual CDO beresiko tinggi kepada nasabahnya tapi malah membeli CDS sebagai pertaruhannya. Spekulasi yang disebabkan oleh: keserakahan.

Dan karena keserakahan pula, Amerika banyak mengimpor. Pabrik-pabrik manufaktur produk untuk Amerika ada banyak di China dan negara lain yang upah buruhnya murah. Begitu ada lonjakan kenaikan harga bbm, pecahnya bubble industri dot com di Amerika, dan hancurnya properti serta bangkrutnya banyak bank investasi yang raksasa; menyebabkan krisis keuangan yang sistemik. Krisis ekonomi yang mendunia akibat keserakahan. Krisis yang membawa penderitaan bagi orang banyak.

Jangan serakah; jika tidak ingin menderita!