Krisis Ekonomi, Regulasi, dan Keserakahan Manusiawi

by @rezawismail

Krisis ekonomi melanda dunia pada tahun 1930-an. Krisis ini berasal dari Amerika dan istilah yang digunakan adalah: The Great Depression.

The Great Depression adalah krisis ekonomi terbesar di abad ke-20. Dan di abad ke-21 ini, Amerika kembali memulai krisis ekonomi yang juga berdampak global.

Seharusnya manusia belajar dari sejarah.

Badai krisis ekonomi melanda pasar saham hingga anjlok, industri runtuh, perusahaan bangkrut, hutang dan pengangguran meningkat, serta orang miskin bertambah banyak.

Beberapa negara bahkan belum pulih dari hantaman The Great Depression ini sampai terjadi perang dunia kedua.

Perekonomian Amerika mulai membaik setelah perang dunia kedua. Regulasi di bidang keuangan diterapkan secara ketat setelah belajar dari kejadian The Great Depression ini. Krisis ekonomi tidak terjadi lagi sampai tiba masanya perang dingin.

Lalu terjadilah perang dingin tersebut, Amerika melawan Soviet dan negara komunis lainnya. Para ilmuwan, ahli fisika dan matematika di Amerika bekerja demi negara dalam perang dingin ini. Para pakar ini sibuk berinovasi, menciptakan teknologi dan ideologi/metodelogi agar lebih unggul dari negara musuh. Maka, Amerika menang perang dingin melawan Soviet yang terpecah dan mengecil menjadi satu negara Rusia.

Selanjutnya, para pakar ini menjadi tenaga pendorong kemajuan ekonomi Amerika. Mereka berkontribusi dalam perkembangan industri, teknologi informasi, dan sebagainya. Tapi yang perlu kita amati adalah para pakar yang menjadi regulator dan inovator di bidang keuangan.

Para pakar inilah yang bertanggung jawab dalam krisis ekonomi global di abad 21 ini. Bersama-sama dengan sifat serakah manusia.

Mereka menciptakan produk keuangan derivatif yang rumit dan membebaskannya dari regulasi yang ketat. Mereka mengajarkan liberalisasi dan membiarkan bank komersil berspekulasi dengan dana nasabahnya serta merestui bank/perusahaan investasi meraksasa secara sistemik.

Keserakahan membuat para akademisi tidak independen lagi dan memiliki kepentingan bisnis daripada masyarakat umum. Penelitian dan pendidikan diarahkan untuk kepentingan bisnis. Para profesor di kampus-kampus turut menjadi direktur atau konsultan yang bergaji besar untuk beragam perusahaan di bidang keuangan dan bisnis investasi. Dimana-mana mereka mengajarkan liberalisasi dan pelonggaran regulasi. Independensi akademisi menjadi sesuatu yang langka di abad ke-21 ini.

Regulator juga ikut terpengaruh oleh lobi-lobi politik milyaran dolar yang memihak kepentingan bisnis daripada masyarakat umum. Pemerintah dan otoritas yang berwenang dalam mengatur industri keuangan menjadi lemah. Regulasi dalam bidang keuangan menjadi tidak seketat dulu. Pengawasan perbankan dan pengaturan lembaga keuangan menjadi longgar.

Keserakahan menaruh kepentingan bisnis berada di atas kepentingan publik. Keuntungan segelintir kelompok, kerugian orang banyak. Rakyat yang menderita. Akibat keserakahan.

Inilah pelajaran dari krisis di awal milenium ketiga.

Di awal milenium, Amerika menstimulasi pertumbuhan ekonominya lewat suku bunga yang rendah. Pinjaman terasa murah. Banyak orang berhutang dan memiliki rumah secara kredit. Orang kurang mampu tapi serakah nekat mengambil kredit rumah. Ini disebut sub-prime mortgage; salah satu faktor penyebab krisis ekonomi Amerika dan akhirnya dunia.

Lalu para pakar menciptakan suatu produk keuangan yang canggih, derivatif dari pinjaman kredit kepemilikan rumah ini. CDO dan CDS; Collateral Debt Obligations dan Credit Default Swaps. Yang karena keserakahan pula, tidak diatur secara ketat.

Secara sederhana, CDO adalah produk investasi yang dijual berdasarkan pinjaman atau kredit perumahan. Kalau secara tradisional sang peminjam membayar kepada bank pemberi kredit, maka CDO memberikan keuntungan kepada investor dari pembayaran cicilan sang peminjam ini. Bank merasa tidak beresiko dalam menyalurkan pinjaman. Kredit kepemilikan rumah dikucurkan deras, sektor properti pun mengalami booming. Bank menjadi kurang berhati-hati karena merasa bisa mengalihkan resiko kredit kepada produk investasi yang bisa diasuransikan; CDO dan CDS.

Dan CDO yang paling laku adalah yang berbunga tinggi, yang berasal dari peminjam yang beresiko tinggi pula; sub-prime mortage.

Agar resiko tinggi yang dikandung CDO ini bisa diatasi, diciptakanlah CDS; sebuah produk asuransi kalau-kalau CDO-nya merugi. Parahnya lagi, CDS bisa dibeli oleh siapa saja bahkan oleh mereka yang tidak memiliki CDO. Ini menyebabkan potensi kerugian perusahaan asuransi menjadi membesar tidak terbatas oleh status kepemilikan CDO yang diasuransikan oleh para nasabahnya.

Analoginya; semua orang bisa membeli asuransi rumah yang kita miliki padahal mereka bukan pemilik rumah kita. Kalau rumah kita terbakar, banyak orang yang juga bisa mendapatkan klaim ganti rugi dari perusahaan asuransi padahal bukan rumahnya yang terbakar. Aneh bukan? Mengapa bisa terjadi? Keserakahan manusiawi lagi-lagi jawabnya.

Mereka yang menjual CDO dan CDS mendapatkan bonus besar. Para eksekutif menikmati jutaan dolar dari booming-nya produk investasi derivatif ini. Bank investasi, perusahaan sekuritas dan pengelola dana pensiun bertransaksi secara masif serta berani berhutang demi menikmati bisnis CDO dan CDS yang tidak diregulasi secara ketat ini. Keuntungan yang dihasilkan dalam jangka pendek berlipat ganda.

Mereka berani karena lembaga-lembaga pemeringkat atau pemberi rating menilai tinggi CDO dan CDS sebagai investasi selayaknya berinvestasi di surat hutang negara! Banyak perusahaan investasi percaya diri membeli CDO karena ratingnya yang tinggi; investment grade bahkan hingga triple A (AAA). Bahkan bank investasi penerbit CDO diberikan peringkat double A (AA) ke atas padahal sedang menuju kebangkrutan. Namun, lembaga pemberi rating tidak mau disalahkan dan mengelak dari tanggung jawab karena peringkat yang diberikan hanyalah opini semata.

Opini yang sangat subyektif (yang dibayar tinggi) akibat dari, sekali lagi, keserakahan.

Akhirnya gelembung pun pecah. Dunia mengalami krisis energi dan harga minyak melambung tinggi. Inflasi membuat banyak orang tidak mampu membayar hutang. Termasuk yang meminjam untuk kredit rumah. Seperti sub-prime mortgage. Padahal pinjaman ini menjadi dasar produk investasi; CDO. Yang merupakan jaminan produk asuransi; CDS. Kehancuran pasar investasi dari CDO dan klaim besar-besaran untuk CDS inilah yang membawa kerugian secara masif dan sistemik.

Beberapa bank investasi raksasa dan perusahaan asuransi terbesar mengalami kebangkrutan. Hancur total dan menyeret banyak perusahaan lainnya, seperti; perusahaan-perusahaan di industri otomotif, dll. Ada yang dibantu pemerintah, ada yang dijual murah, ada yang tutup setelah memiliki sejarah panjang berdiri. Parahnya, perusahaan yang dibantu pemerintah tetap boros dengan memberikan bonus yang besar kepada para eksekutifnya.

Uang pemerintah juga diboroskan untuk membayar klaim asuransi CDS kepada perusahaan spekulan yang serakah. Perusahaan yang menjual CDO beresiko tinggi kepada nasabahnya tapi malah membeli CDS sebagai pertaruhannya. Spekulasi yang disebabkan oleh: keserakahan.

Dan karena keserakahan pula, Amerika banyak mengimpor. Pabrik-pabrik manufaktur produk untuk Amerika ada banyak di China dan negara lain yang upah buruhnya murah. Begitu ada lonjakan kenaikan harga bbm, pecahnya bubble industri dot com di Amerika, dan hancurnya properti serta bangkrutnya banyak bank investasi yang raksasa; menyebabkan krisis keuangan yang sistemik. Krisis ekonomi yang mendunia akibat keserakahan. Krisis yang membawa penderitaan bagi orang banyak.

Jangan serakah; jika tidak ingin menderita!