Tips Motivasi

Focusing on Happiness

Kategori: motivasi

Ilmu Bahagia

Ilmu Bahagia atau ‘Kawruh Begja’ alias ‘Kawruh Jiwa’ adalah pemahaman kehidupan untuk mengolah jiwa/rasa yang diajarkan oleh Ki Ageng Suryomentaram (KAS).

KAS adalah seorang pangeran, putra Raja Hamengkubuwono VII yang keluar dari kehidupan istana di keraton menjadi rakyat jelata dan mencari pencerahan dalam hidup.

Kebahagian didapatnya walau melepaskan kekuasaan, kekayaan, dan ketenaran karena bahagia itu soal rasa bukan keadaan/status.

Rasa senang dan susah tidak ada yang abadi, hanya sementara dan datang silih berganti. Tidak ada kesenangan yang selamanya seperti tidak mungkin susah terus dan kepuasan itu tidak ada habisnya.

Kepuasan bisa terus mengembang bisa mengecil, tergantung keinginan dan rasa kecukupan, adalah semu untuk menganggap bisa bahagia selamanya jika mencapai yang diinginkan atau menderita terus menerus kalau tidak mendapatkan keinginan atau menghindari situasi yang ingin ditolak.

Tidak ada di dunia ini yang layak untuk dikejar sampai mengorbankan segalanya atau sesuatu harus dijauhi tidak boleh terkena sama sekali, itu tak perlu dirisaukan.

Janganlah khawatir dengan masa depan, merancang boleh, cemas jangan. Dan jangan menyesali yang sudah terjadi, percuma kecewa oleh masa lalu, jadikan kenangan atau pelajaran namun harus ‘move on’.

Juga tak perlu iri karena kita tidaklah kalah secara absolut pada siapapun serta tidak ada menang mutlak jadi tak usah sombong.

Jadilah orang yang serba kecukupan, menerima dan bersyukur akan yang ada di masa sekarang, saat ini, bagaimanapun kondisinya dijalankan dengan ikhlas.

Pasrah itu bukan berarti tidak berusaha, justru terus berusaha mencari kebenaran, khususnya dengan mengolah rasa dengan memperdalam lapisan diri ini, melewati beragam catatan/memori/program yang sudah menjadi ciri/karakter sampai tiba pada satu diri sejati yang tanpa ciri.

Diri yang menjadi pengamat, pemerhati abadi dari perilaku sehari-hari, pemikiran ego yang dipengaruhi keinginan-keinginan tanpa henti.

Berkarya atau bekerja bisa lebih rasional, dengan keyakinan yang kuat karena sudah mengetahui yang kekal, jadi tidak mudah goyah dengan hasrat atau emosi sesaat.

Cobalah belajar olah rasa dengan mengamati jiwa binatang, lalu berlatih dengan memperhatikan anak-anak, hingga lawan bicara orang dewasa siapapun itu.

Pada akhirnya, bisa memiliki jarak untuk melihat kejiwaan diri sendiri secara jernih, secara obyektif dapat kuat berdiri tegak, tabah menghadapi apapun di dunia fana ini.

Tidak masuk ke neraka dunia, kegelisahan sampai depresi, tapi bisa merasa tenteram bebas dari ketakutan dan kegalauan akibat terombang ambing dari gelombang kejadian yang jadi pengalaman pribadi, tetap tenang.

Setelah ketenangan, muncullah pilihan untuk selalu bahagia. Itulah Begja yang sempurna!

*KAS juga menjadi pengajar/penceramah, yang dihormati oleh Ki Hajar Dewantara, KAS juga menjadi murid dari pendiri Muhammadiyah K.H. Ahmad Dahlan serta berguru kepada pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari. KAS turut menggagas ide kemerdekaan dan tentara di Indonesia diberi ‘Jimat Perang’ yang menginspirasi Presiden pertama Ir. Soekarno, maka KAS juga sempat memberikan wejangan/nasehat kepada Bung Karno dari masalah kenegaraan/kebangsaan hingga isu pernikahan/rumah tangga.

Mindfulness

Penelitian membuktikan pelatihan ‘Mindfulness’ dalam beberapa minggu saja bisa membantu mengatasi masalah psikologis seperti stres, kecemasan, hingga depresi.

Mulailah dengan kesadaran akan arah perhatian Anda, bagaimana cara kerja pikiran dalam mempengaruhi suasana hati,

Coba mulai dari melatih konsentrasi saat rileksasi, lalu mulai menyadari segalanya yang ada di momen masa kini, melepaskan fokus dari masa lalu atau masa depan.

Biarkan bayangan atau angan itu datang dan pergi dalam kesadaran tanpa diberikan perhatian khusus,

Jadikan nafas atau satu obyek di depan mata sebagai jangkar jika perhatian larut pada sesuatu produk batiniah dan kesadaran mulai pudar.

Pada akhirnya, kita semua akan meraih suatu perasaan yang damai, ketenangan yang terasa mendalam.

Walau di tengah-tengah problematika kehidupan, kita bisa tetap tenang untuk mengambil keputusan yang terbaik dan bersikap tanpa gegabah.

Laku ‘Mindfulness’ yang konsisten akan menyelamatkan hidup Anda.

Referensi: Alice Malpass, Kate Binnie, Lauren Robson. Medical Students’ Experience of Mindfulness Training in the UK: Well-Being, Coping Reserve, and Professional Development. Education Research International, 2019; 2019: 1 DOI: 10.1155/2019/4021729

Berteman Bikin Bahagia

Epicurus sang filsuf Yunani pernah mengajarkan bahwa salah satu hal yang membawa kebahagian adalah pertemanan..
.
Jangan selalu memikirkan nanti mau makan apa, tetapi mau makan dengan siapa? Itulah kunci kesehatan badan.
.
Sahabat yang terbaik adalah yang memberikan kekayaan batin kita, selera humor yang memicu tawa, empati yang menguatkan jiwa.
.
Dan siapapun bisa kita perlakukan seperti kawan lama, tak mesti yang sudah kenal dekat seperti keluarga, tapi juga rekan kerja bahkan dengan siapapun kita berinteraksi sehari-hari.
.
Selalu terbuka potensi untuk memiliki pengalaman keakraban yang mampu membuka pintu kebahagian itu! #tipsmotivasi #positivedoing

Bunuh Diri Bukan Sekedar Ingin Mati Saja

Tidak semua orang yang berpikir tentang bunuh diri ingin benar-benar mati secara mekanikal.
.
Mati dalam arti fisik; jantung berhenti memompa, otak berhenti beraktivitas, nafas berhenti mengalir.
.
Kebanyakan yang ingin mati bunuh diri karena putus asa itu merasakan suatu emosi yang sangat menekan.
.
Ingin mati karena merasakan beban berat kehidupan, patah hati karena cinta, kesedihan yang tak tertahankan, kehilangan tanpa harapan, rasa buntu, dan beragam perasaan emosional lainnya.
.
Yang ingin dimatikan sebenarnya adalah perasaan yang sangat menyesakkan ini.
.
Dan banyak contoh emosi ini akan lama-lama layu lalu mati sendiri.
.
Misal ingin bunuh diri karena tidak tahan perasaan sakit hati dan cemburu karena seseorang.
.
Namun seiring waktu, jika belum bunuh diri, kekuatan tekanan dari emosi itu berkurang sendiri.
.
Seperti orang yang diputusin pacarnya waktu muda dulu, rasanya ingin mati, tapi setelah tua, perasaan itu sudah mati, dan keinginan bunuh diri hilang.
.
Jadi yang ingin dibunuh bukanlah diri ini, bukanlah ingin menghentikan gerakan jantung, aktivitas otak atau paru-paru, tapi ingin perasaan yang membuat putus asa itu yang mati.
.
Matikan perasaan itu, beri waktu untuk emosi itu memudar, kalau perlu minta bantuan, minimal cari teman.
.
Jangan sendirian, karena kehidupan bukan untuk dihabiskan di dalam ruang isolasi tanpa orang lain.
.
Dunia ini penuh dengan keberadaan, coba bersosialisasi saja, cari interaksi, dan semoga mendapatkan arti.
.
Dengan memiliki arti, hidup jadi lebih berharga untuk dijalani.
.
Dengan memegang makna, semangat untuk terus bertahan dan melanjutkan kehidupan akan semakin dikuatkan.
.
Kebahagian bisa datang dari melupakan diri, merasakan ketakutan tapi tetap terus bergerak dan tidak. berhenti berkomunikasi.
.
Khususnya dengan mereka yang kita cintai dan peduli dengan masalah kita juga, walau mereka sendiri bermasalah.
.
Bersama-sama, kita mampu membunuh emosi yang menghantui itu.
.
Jangan pernah berhenti berharap!

(SOLUSI) Ekonomi dari Anarki Kapitalisme

"The economic anarchy of capitalist society [is] the real source of the evil" -Albert Einstein.

~ Aku yakin hanya ada satu cara untuk menghilangkan kejahatan (‘evil’) ini, yaitu melalui pembentukan ekonomi sosialis, disertai dengan sistem pendidikan yang akan berorientasi pada tujuan sosial. Dalam ekonomi seperti itu, alat-alat produksi dimiliki oleh masyarakat itu sendiri dan digunakan secara terencana. Ekonomi terencana, yang menyesuaikan produksi dengan kebutuhan masyarakat, akan mendistribusikan pekerjaan yang harus dilakukan di antara semua yang mampu bekerja dan akan menjamin mata pencaharian bagi setiap pria, wanita, dan menafkahi anak-anak. Pendidikan ini, selain meningkatkan kapabilitas diri, akan juga bisa mengembangkan rasa tanggung jawab terhadap sesama sebagai pengganti dari pemujaan kekuasaan dan kesuksesan dalam masyarakat kita di jaman edan ini. ~

Tapi kini, itu hanyalah mimpi, mungkin terjadi hanyalah di semesta yang lain yang paralel (parallel universe)
Referensi: James Lavin 2010.