Ketika Pikiran Menjadi Rintangan

by @rezawismail

Berkaryalah tanpa pamrih..

Terkadang pikiran kita bisa menjadi rintangan dalam melakukan sesuatu. Membuat blog ini misalnya, kebanyakan berpikir ini-itu, menjadi tidak produktif dan yang ada hanya penundaan.

Berkarya tanpa pamrih bukan berarti kita mau bekerja tanpa digaji.

Seringkali yang membuat kita malas bekerja dan terdemotivasi mencapai sesuatu adalah pikiran kita sendiri. Sedangkan pekerjaan atau targetnya, bisa jadi tidak sesusah yang kita pikirkan. Niat untuk berolahraga misalnya, bisa menjadi tertunda karena kebanyakan berpikir. Menginginkan hasil yang cepat, atau takut gagal akan sasaran dalam menurunkan berat badan. Padahal sederhana saja, just do it, lari sajalah!

Sama halnya dengan mencuci piring, menyapu, membereskan rumah, merapikan tugas-tugas bisa lebih berat di dalam pikiran daripada ketika dikerjakan. Pikiran yang memberatkan adalah pikiran yang terlalu melekat. Melekat pada keinginan, ketakutan, penyesalan, kenangan, ekspektasi diri atau orang lain, masalah-masalah lainnya, dan sebagainya.

Bahkan saat kita sudah mulai melakukan sesuatu, pikiran kita tidak mau diam. Mengerjakan sesuatu yang rutin membuat pikiran jadi kurang stimulasi. Pikiran yang tidak terstimulasi menjadi jenuh dan kebosanan juga salah satu sumber demotivator yang membuat kita malas bekerja.

Maka dari itu, kurangi fokus pada pikiran sendiri dan mulailah memikirkan orang lain. Peduli pada sekitar, tidak hanya pada diri sendiri. Misalnya, berlari itu lebih mudah jika ada temannya dan ada pemandangannya. Dalam pekerjaan, pikirkanlah perasaan pelanggan, rekan, atasan, dan bawahan. Pikirkan dampak pekerjaan kita bagi masyarakat. Turut berkontribusi membangun negeri sekecil apapun pekerjaan kita, asal legal 😉

Dan kalau masih banyak pikiran, terutama angka-angka target, hitunglah secara sederhana. Misalnya seberapa banyak kita bisa menelpon prospek bukan seberapa persen sudah mencapai target. Atau lupakanlah target sepenuhnya dan alihkan penghitungan kepada nafas sepenuhnya juga. Satu, dua, tiga, dan seterusnya sambil tetap bekerja. Fokuskan pikiran pada nafas saja, dan lakukan pekerjaan tanpa banyak pikiran. Jika pikiran mulai melantur lagi dan kehilangan hitungan, mulailah dari angka satu lagi seraya terus berkarya. Rasakanlah kekinian dan bekerjalah tanpa pamrih.

Dan rasakan senangnya kejutan saat sedang asyik-asyiknya bekerja tahu-tahu sudah waktunya gajian!