Tips Motivasi

Tips-Tips Motivasi by Reza Wahyu

Tag: prioritas

Sukses dengan Pareto: Prinsip 80 20

Efisiensi berarti melakukan hal-hal secara tepat, keefektifan adalah melakukan hal-hal yang tepat. -Peter Drucker

Beberapa konsultan strategi manajemen memberikan panduan untuk perusahaan-perusahaan meraih kesuksesan dengan memanfaatkan hukum Pareto: rasio 80/20 yang pada awalnya tampak tidak logis.

Rasio ini menggambarkan secara kasar bahwa mayoritas hasil (digambarkan sebagai 80 persen meski tidak selalu tepat segitu), didapatkan dari minoritas upaya (sekitar 20 persen) yang dilakukan. Rasio ini bisa juga berbentuk distribusi 80-10 atau 80-30. Intinya adalah sebagian besar akibat dihasilkan oleh sebagian kecil penyebab.

Hukum ini pada awalnya dikemukakan oleh seorang konsultan bisnis: Joseph M. Juran sebagai hukum Pareto setelah menemukan kisah seorang ekonom Itali, Vilfredo Pareto di tahun 1906 mengamati bahwa kira-kira 80 persen tanah di Itali dimiliki oleh sekitar 20 persen penduduk saja.

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Menetapkan Prioritas Training Karyawan

Para pimpinan perusahaan perlu mengevaluasi kesempatan-kesempatan untuk pengembangan diri yang diberikan kepada para karyawannya agar memberikan hasil yang terbaik bagi kedua belah pihak. Bagi perusahaan dan juga untuk para karyawannya.

Di era globalisasi ini, persaingan semakin ketat. Semua perusahaan berusaha menjadi lebih kuat dengan mengejar teknologi terkini, inovasi baru, dan perkembangan keahlian karyawan sehingga tak tertinggal dari para pesaingnya.

Dengan memberikan pelatihan-pelatihan, perusahaan memiliki peluang untuk mentransformasikan sumber daya manusianya untuk mencapai tujuan organisasi. Pencapaian tujuan ini diperoleh perusahaan seiring dengan kemajuan para karyawannya hasil dari training yang diberikan.

Pertanyaannya adalah: bagaimana para manajer memberikan penilaian dan menetapkan prioritas training yang seperti apa yang akan diberikan kepada para karyawannya?

Dan ini bukan hanya masalah efisiensi saja karena banyak perusahaan telah menghabiskan jutaan untuk pelatihan dan pendidikan para karyawannya. Training yang diberikan haruslah juga efektif dan mengoptimalkan segala potensi yang ada di dalam diri karyawan.

Solusi yang tepat agar training mengembalikan investasi yang telah dibayarkan oleh perusahaan dengan peningkatan mutu sumber daya manusia yang ada adalah dengan memaksimalkan pengetahuan, kemampuan, dan pengalaman kerja karyawan dengan penguatan bakat serta kelebihan yang dimiliki karyawan tersebut.

Jika perusahaan hanya fokus pada pelatihan yang menutupi kekurangan karyawan, maka para karyawannya hanya akan menjadi karyawan yang standar dengan kekurangan yang sudah diminimalisasi. Akan tetapi ini bukan berarti perusahaan tidak boleh memberikan training yang mengatasi kelemahan pegawai, hanya saja; perusahaan perlu memprioritaskan training yang berfokus pada penguatan kelebihan masing-masing pekerja.

Dan jika perusahaan memprioritaskan pemberian training yang berfokus pada usaha pengembangan bakat dan kelebihan yang dimiliki oleh para karyawannya, maka para karyawan ini akan menjadi spesialis. Para pekerja ahli yang memiliki kemampuan khusus yang unggul dalam persaingan. Pegawai unggulan dengan keahlian yang maksimal.

Training yang berfokus pada peningkatan kekuatan yang dimiliki oleh masing-masing karyawan akan menciptakan suatu organisasi yang efektif yang dipenuhi oleh individu-individu unggulan. Perusahaan akan mampu berjalan, bahkan berlari secara optimal dan meninggalkan para pesaingnya dengan sumber daya manusia yang terfokus.

Riset kepada 65 ribu karyawan serta 500 unis bisnis oleh Gallup, konsultan manajemen terkemuka, mengungkapkan jika para karyawan memahami dan memanfaatkan kelebihannya di dalam pekerjaannya akan meningkatkan kinerjanya di dalam perusahaan secara drastis. Perusahaan menjadi lebih produktif dan tingkat loyalitas pegawai meningkat.

Perusahaan yang ingin meningkatkan produktivitas dan profitabilitasnya harus membantu para karyawannya dalam memaksimalkan potensi diri dengan menguatkan kelebihan alami yang dimiliki oleh karyawan tersebut.

Para manajer perlu menggunakan pendekatan evaluasi berdasarkan kekuatan yang ada di dalam diri karyawan untuk optimalisasi kinerja karyawan tersebut. Ini berarti, setiap karyawan harus turut berpartisipasi dalam proses penilaian kekuatannya dan proaktif menunjukkan bakat serta keahliannya yang paling menonjol dalam menjalankan pekerjaannya.

Komunikasi menjadi faktor kunci dalam mengumpulkan input dan memberikan umpan balik yang tepat agar perusahaan dan karyawan saling memahami kebutuhan pendidikan training yang terpenting bagi keduanya.

Tantangannya disini adalah; para manajer harus bisa memberikan pengarahan yang jelas agar karyawan benar-benar mengerti dalam pelaksaan tugas-tugas yang menjadi prioritasnya.

Sumber daya manusia, rintangan-rintangan yang ada, serta sarana komunikasi mesti dikelola dan diatasi agar tercipta channel-channel komunikasi baik yang formal dan informal sehingga karyawan merasa nyaman berbicara dan mengungkapkan opininya. Peran aktif karyawan akan sangat berarti dalam menentukan training berdasarkan kekuatan yang sesuai dengan masing-masing karakter yang dimiliki oleh para karyawan itu sendiri.

Perusahaan yang berhasil menjalankan strategi yang mengintegrasikan perencanaan dan implementasi ketepatan bakat serta keahlian karyawan kepada peran kerjanya, akan menikmati keunggulan dalam bersaing serta menjadi perusahaan yang suistainable. Bertahan melewati krisis karena disokong oleh karyawan-karyawan yang lebih baik.

Karyawan menjadi pekerja yang lebih baik, lebih cepat, dan unggul dengan peningkatan keahlian yang berfokus pada kelebihan dan bakatnya. Produktivitas kinerja akan meningkat, daya saing usaha akan lebih unggul, sehingga perusahaan dan karyawan akan menikmati keuntungan yang lebih secara bersama-sama.

Baca juga:
Training Sales Persuasif
Faktor X Pada Motivasi Pegawai
Memaksimalkan Produktivitas

Sibuk Tapi Tidak Produktif

Seorang suami yang baru pulang dari kantor ditanya istrinya: bagaimana hari ini?

Dia menjawab: sibuk sekali seharian ini. Istrinya merespon: sibuk mengerjakan hal-hal yang penting atau tidak?

Seringkali kita lupa, sibuk itu belum tentu produktif. Kita bisa saja sangat sibuk tapi tidak produktif.

Banyak hal-hal yang kurang penting malah menyibukkan kita. Beberapa hal terasa mendesak dan harus segera dikerjakan. Walau ternyata tidak terlalu penting.

Kita bisa sibuk terbuai dengan internet. Mengurus email yang banyak. Sibuk meladeni obrolan atasan. Tiba-tiba rekan kerja minta bantuan. Mendengarkan klien lama yang rewel. Makan siang bersama bawahan yang terlalu menghabiskan waktu. Menyiapkan acara sosial kantor. Mengerjakan urusan-urusan yang mendadak. Dan seterusnya.

Ingat-ingatlah ini setiap pagi; apakah yang terpenting yang harus kita prioritaskan untuk dikerjakan hari ini?

Ambil pulpen, tulis prioritas kita dan simpan catatannya di kantong kita. Evaluasi setiap pilihan kita sepanjang hari berdasarkan catatan tersebut.

Batasi waktu berbincang-bincang ringan dengan atasan dan bawahan. Rapihkan email dan hapus yang tak penting. Atur berkas-berkas agar mudah dicari. Delegasikan pekerjaan mendengarkan komplain klien. Tunda memberikan bantuan kepada rekan. Kerjakan hal-hal yang penting terlebih dahulu. Lihat catatan prioritasnya.

Sekali lagi: sibuk belum tentu produktif.

Tanyakan pada diri sendiri; apakah yang saya kerjakan ini penting dalam kemajuan bisnis/karir/usaha/perusahaan saya?