Tips Motivasi

Tips-Tips Motivasi by Reza Wahyu

Tag: budaya

Budaya Kerja yang Produktif

Mengelola budaya organisasi di dalam suatu perusahaan mungkin tidak sekongkrit menyusun anggaran atau menganalisa program pemasaran. Namun, budaya kerja dari para karyawan akan terus muncul sebagai penentu bagi produktivitas secara keseluruhan.

Apakah sebuah perusahaan terus berkembang secara suistainable berkat para karyawannya yang bekerja secara produktif dan mendukung kesuksesan bisnis perusahaan, itu semua tergantung keberhasilan implementasi budaya kerjanya.

Hindari budaya kerja yang hanya menunjukkan kesibukan dan menganggapnya sudah berhasil. Seorang karyawan harus mengetahui secara pasti sasaran kerjanya dan perannya dalam memberikan kontribusi yang berarti. Sehingga kinerja bisa diterjemahkan pada hasil yang tampak, bukan sekedar sibuk tapi tidak efisien.

Baca entri selengkapnya »

Iklan

Kisah Motivasi: Cerita Tiga Perusahaan dalam Perubahan

Berubahlah sebelum terpaksa. -Jack Welch (CEO General Electric 1981-2001)

Di tahun 1985, Steve Jobs keluar dari Apple dan mendirikan perusahaan NeXT yang nantinya menjadi pondasi dari kesuksesan sistem operasi Mac OS yang dipakai di dalam komputer-komputer Apple. Steve Jobs juga sukses membangun Pixar dari satu divisi di Lucasfilm menjadi perusahaan animasi yang terbaik sampai dibeli oleh Disney.

Ketika Apple hampir bangkrut di tahun 1996, Steve Jobs kembali untuk membawa perubahan sebagai CEO. Steve Jobs mengembangkan produk dan layanan yang sangat menguntungkan seperti iMac, iTunes, iPod, iPhone, iPad, Retail and App Store. Dan Apple pun sukses menjadi perusahaan publik yang paling bernilai di tahun 2011.

Sementara itu, Nokia adalah pelopor teknologi GSM pada banyak mobile phones atau telpon genggam di seluruh dunia. Berawal dari perusahaan karet menjadi perusahaan teknologi dan di tahun 1980-an memulai bisnisnya di bidang telpon genggam. Nokia menjadi produsen telpon genggam terbesar sejak tahun 1998.

Sampai tahun 2011. Baca entri selengkapnya »

Cara Disiplin dalam Bekerja

Setiap keunggulan sumber daya manusia berasal dari: ilmu pengetahuan, sikap, dan disiplin.

Ilmu pengetahuan memberikan keunggulan dengan inovasi dan efisiensi. Sikap memberikan keunggulan dalam kompetensi dan kepemimpinan. Disiplin memberikan keunggulan yang konsisten dan tahan lama.

Ilmu pengetahuan di era informasi ini relatif lebih mudah dicari dan dipelajari. Sikap biasanya sulit diubah karena sudah tercetak dalam karakter yang ditentukan oleh genetika dan faktor lingkungan pembentuk kepribadian seseorang.

Sedangkan, yang sulit dibentuk pada awalnya namun menjadi mudah dan menguntungkan pada akhirnya adalah kedisiplinan. Disiplin yang sukses akan menjadi kebiasaan seseorang atau budaya di dalam perusahaan bahkan negara.

Jika ilmu pengetahuan berarti meningkatkan kapasitas otak dan sikap adalah kecerdasan emosi seseorang, maka kebiasaan dari disiplin berasal dari pembentukan jalan saraf.

Semakin sering dilakukan dan dipraktekkan, suatu perbuatan akan menjadi semakin mudah. Jalan sarafnya akan semakin terbentuk kuat dan cepat untuk dilakukan.

Contohnya seperti belajar bersepeda atau mengemudi. Awalnya terasa sangat sulit namun lama-kelamaan akan menjadi mudah. Disiplin yang berhasil adalah disiplin yang menjadi kebiasaan.

Memang, seringkali untuk berdiplin itu pertama-tama memang susah. Dan pada awalnya untuk berdisiplin seseorang harus dipaksa dulu dan merasa terpaksa barulah bisa serta terbiasa. Inilah fase disiplin yang sulit, lalu setelah bisa dan terbiasa: disiplin menjadi mudah. Disiplin telah bertransformasi menjadi kebiasaan, bahkan budaya.

Pemerintah Singapura menerapkan denda yang tinggi jika membuang sampah sembarangan. Pada awalnya, warga Singapura merasa terpaksa untuk hidup bersih. Kini, mereka telah terbiasa dan menjaga kebersihan sudah menjadi budaya negara.

Disiplin harus diterapkan karyawan dalam beberapa aspek: disiplin waktu agar selalu tepat, disiplin kerja untuk menjalankan proses yang konsisten, disiplin menjaga kualitas, disiplin dalam berkomunikasi dan mempererat hubungan di kantor, dan akhirnya disiplin untuk memberikan hasil yang terbaik.

Perusahaan manufaktur Jepang menerapkan budaya disiplin dengan sangat keras, tapi hasilnya bisa sukses mengalahkan perusahaan-perusahaan Amerika dalam waktu yang tidak lama. Kini, kerja keras telah menjadi budaya bagi orang Jepang.

Disiplin memang harus dipaksakan pada awalnya. Maka dari itu, disiplin membutuhkan kekuatan untuk berinisiatif. Motivasi dari tindakan berdisiplin. Alasan untuk melakukan suatu perbuatan secara terus-menerus. Ini adalah soal penanaman nilai.

Contohnya; jika seorang anak ingin dilatih agar terbiasa menggosok gigi maka tehnik pertama dalam disiplin adalah penanaman nilai kesehatan gigi. Dengan adanya alasan untuk menjaga kesehatan gigi, fase pertama disiplin bisa dimulai.

Paksa, bisa, lalu terbiasa. Mungkin pada awalnya anak ini akan merasa susah, kesulitan menggosok gigi. Lalu, setelah bisa dia harus mengulang-ulang kegiatan menggosok gigi ini sampai menjadi suatu ritual. Akhirnya, anak ini setelah dewasa akan terbiasa menggosok gigi sebagai ritual, budaya hidupnya. Tanpa merasa sulit lagi seperti waktu awalnya dipaksa menggosok gigi. Menggosok gigi menjadi suatu kegiatan yang otomatis tanpa kesulitan yang berarti.

Jadi, untuk berdisplin itu awalnya memang sulit. Tapi seiring waktu akan menjadi mudah karena terbiasa. Jalan sarafnya akan terbentuk dan semakin kuat serta cepat. Tips-nya adalah paksakan saja! Perusahaan yang ingin memiliki karyawan yang disiplin harus berani memaksa. Tapi jangan lupa, tanamkan nilai serta beri motivasi/alasan kuat untuk berdisiplin.

Selanjutnya, silahkan baca tulisan saya sebelumnya tentang meng-install kedisiplinan lewat membangun kebiasaan yang sukses dalam 21 hari.